}); March 2012 | BeritaSimalungun

Berita Terkini

INDEKS BERITA

Seribu Hektar Lahan di Simalungun Dijadikan Produksi Kopi Arabika

Written By GKPS JAMBI on Friday, 30 March 2012 | 23:46


 

MEDAN - Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara, Aspan Sofian mengungkapkan, kawasan Simalungun akan dijadikan intensifikasi lahan kopi arabika pada tahun 2012 ini. Hal itu dikemukakannya saat disambangi Tribun di kantornya Jalan Williem Iskandar (Pancing) Medan, Kamis (29/3/2012).

Dijelaskannya, intensifikasi kopi nanti akan diakomidir oleh 1.000 hektar lahan. Dipilihnya kawasan Simalungun ketimbang kawasan lain, ia sebut karena potensi produksi kopi arabika di Simalungun kian menunjukkan perkembangan positif selain Langkat, Humban, Tapanuli Utara dan Dairi.

 "Kalau ini berhasil kami berharap per hektarnya bisa menyumbang 1,2 ton produksi atau dengan kata lain 1200 ton bisa terproduksi di sana. Pengerjaannya sendiri sudah dimulai dari sekarang dan pada bulan Juni-Juli tahun ini pemerintah pusat akan mulai mendistribusikan pupuk, bahan untuk memberpaiki kualitas tanah, pemberantas hama, dan gunting pangkas," ujarnya.(tribunmedan.com)

DEMAM BERTANAM KOPI ARABIKA

Jatuhnya harga kopi di tingkat dunia dari sekitar Rp 15.000,- per kg. menjadi hanya Rp 3.000,- per kg; ternyata tidak membuat jera para petani untuk bertanam kopi. Hanya saja, sekarang yang mereka kembangkan kopi jenis arabika. Sebab meskipun harganya juga ikut jatuh dari tingkat Rp 60.000,- per kg. menjadi hanya Rp 16.000,- per kg, namun harga tersebut masih cukup menguntungkan bagi para petani.

Berita yang baru-baru ini tersiar adalah, berkembangnya areal kopi arabika di pegunungan Jaya Wijaya di Papua. Saat ini, kawasan yang bisa ditanami kopi arabika hanyalah yang berketinggian di atas 1.000 m. dpl. Padahal dulunya hampir seluruh perkebunan kopi di Jawa ditanami kopi arabika. Hingga kopi Java Arabica sampai saat ini masih sangat terkenal di negara-negara peminum kopi.

Setelah penyakit karat daun menyerang jenis kopi ini, maka  areal yang tersisa hanyalah di pegunungan Ijen di Jawa Timur. Perkebunan kopi arabika Kalisat Jampit, milik PTPN inilah satu-satunya perkebunan kopi arabika yang masih tersisa di pulau Jawa. Sementara di luar Jawa, kebun kopi arabika hanya terdapat di Takengon (Nangroe Aceh Darusalam), Sidikalang (Sumut) dan Toraja (Sulsel). Hingga kabar tentang berkembangnya kopi arabika di Kab. Wamena, Papua, sangat menggembirakan bagi dunia perkopian di Indonesia.

Secara fisik, kopi arabika mudah dibedakan dengan kopi rubusta yang saat ini paling banyak ditanam di dunia. Batang kopi arabika lebih ramping, lebih kecil dan lebih pendek dibanding rubusta. Cabangnya lebih banyak, dengan daun yang juga lebih kecil serta lebih ramping.

Namun sebaliknya, buah kopi arabika lebih besar, dengan kulit lebih tebal. Produktivitas buah lebih rendah dibanding rubusta. Kelebihan arabika dibanding robusta adalah, kadar kafeinnya lebih rendah, tetapi aromanya lebih kuat. Selain produktivitasnya yang lebih rendah, kelemahan lain arabika adalah adanya rasa masam yang dominan, yang tidak pernah terdapat pada robusta. Namun rasa masam ini bisa diatasi dengan cara blendid (dicampur) dengan robusta, exelsa maupun liberika.

Dengan pencampuran demikian, akan diperoleh kopi dengan citarasa sempurna. Sebenarnya tanpa pencampuran pun, citarasa arabika tetap lebih unggul dibanding jenis kopi lain. Adanya rasa masam itu, bagi para penikmat kopi sejati justru dijadikan acuan, bahwa kopi yang diminumnya benar-benar arabika asli. Bukan campuran.
 
Sebab dibandingkan dengan keunggulan aromanya, rasa masam arabika itu masih bisa ditolerir oleh penggemarnya. hanya karena produktivitasnya yang rendah, maka permintaan pasar tidak pernah bisa diimbangi oleh pasokan. Itulah yang menyebabkan harga biji kopi arabika selalu lebih tinggi dibanding robusta atau jenis kopi lainnya.

Vietnam, sebagai negara pendatang baru penghasil kopi, konon telah berhasil mengebangkan arabika pada ketinggian 300 m. dpl. Keberhasilan Vietnam ini, terutama karena didukung oleh faktor agroklimat. Negara ini terketak pada 10 sd. 20 ° lintang utara. Sementara posisi Indonesia yang tepat di equator berada kurang dari 10 ° lintang utara maupun selatan.

Hingga iklim di Vietnam relatif kering dibanding dengan Indonesia pada umumnya. Habitat asli kopi yang asal-usulnya dari sekitar Somalia, memang antara 0 sd. 10 ° lintang utara. Tetapi varietas arabika yang berkembang di bagian selatan jazirah Arab, posisinya terletak pada 10 sd. 20 ° lintang utara yang juga sangat kering. Kondisi serupa juga terdapat di Brasil. Hingga secara agroklimat, kita memang tidak mungkin bersaing dengan Vietnam maupun Brasil.

 Arabika yang dicoba dikembangkan pada ketinggian 700 m. dpl, hasilnya tetap sangat jelek. Pengembangannya di Cisarua, kab. Bogor misalnya, mendapatkan gangguan karat daun yang cukup serius. Sementara di perkebunan Kaliklatak di Banyuwangi, arabika sulit untuk berbuah optimal pada ketinggian 700 m. dpl. Meskipun tanaman dapat tumbuh subur dengan daun yang sangat lebat, sementara intensitas serangan karat daun sangat terbatas.

Pengembangan kopi arabika di pegunungan Jaya Wijaya merupakan fenomena yang sangat menarik, mengingat ketinggian kawasan ini mencapai 4.000 m. dpl.  Di kawasan tropis, lahan dengan ketinggian 4.000 meter termasuk katagori iklim alpina. Vegetasi tanaman keras  yang bisa tumbuh hanyalah santigi gunung, rododendron, gaultheria dan perdu lainnya yang cenderung kerdil mirip bonsai.


Varietas arabika modern yang banyak dikembangkan oleh negara-negara penghasil kopi memang cenderung kerdil. Misalnya Katimor dan Andungsari. Ketinggian optimal hanya sekitar 2 m. tanpa toping (pemangkasan pucuk). Pada umur 2 tahun saat pertamakali berbuah, ketinggiannya kurang dari 1 m. Beda dengan arabika klasik seperti varietas USDA yang ketinggiannya bisa mencapai lebih dari 3 m.

Kekerdilan varietas arabika modern ini memang disengaja untuk memudahkan pemanenan tanpa harus terus-menerus melakukan pemangkasan. Di Jaya Wijaya, ketinggian kopi arabika ini kurang dari 0,5 m. Bahkan ketika pertamakali ditanam dari biji, ketinggiannya kurang dari 30 cm, dengan jumlah buah kurang dari 10 butir dalam satu tanaman.

Namun pengembangan secara terus-menerus melalui perbanyakan generatif, telah menghasilkan varietas asli yang mampu mencapai ketinggian di atas 0,5 m, dengan tingkat produktivitas yang layak untuk dikembangkan secara komersial. Varietas asli yang dihasilkan oleh Kab. Wamena ini layak untuk diteliti dan dikembangkan lebih lanjut. Sebab daya tahan serta adaptasinya terhadap iklim yang ekstrem tinggi sudah terbukti. Kalau benih yang akan dikembangkan di sana didatangkan dari kawasan yang lebih rendah, masih memerlukan adaptasi dengan suhu yang ekstrem tersebut. Yang jelas, di kawasan ini penyakit karat daun dijamin sulit untuk menjadi ganjalan.


Varietas Katimor saat ini masih sangat populer di masyarakat. Terutama di kalangan pemerintah daerah. Tercatat misalnya Kab. Temanggung yang menanamnya secara besar-besaran di lereng gunung Sindoro, bekerjasama dengan PT Perhutani. Kab. Boyolali juga mengembangkannya di celah antara gunung Merbabu dengan Merapi. Mereka menanam ratusan ribu bahkan jutaan batang benih Katimor. Padahal varietas ini telah ditarik kembali oleh Menteri Pertanian.

Sebagai gantinya telah dilepas varietas baru yakni Andongsari 1 dan 2 yang lebih unggul dibanding Katimor. Varietas Katimor terpaksa ditarik lagi oleh Mentari Pertanian karena mengalami hiper produksi pada sekitar tahun kelima setelah tanam. Hiper produksi ini terutama akan terjadi apabila naungan dan bahan organik dalam tanah kurang. Akibatnya pada tahun-tahun berikutnya produktivitas akan menurun bahkan terhenti sama sekali. Tanaman juga akan tumbuh kerdil.

Selain itu, daya tahan Katimor terhadap penyakit karat daun juga tidak sebaik pada proses penelitian dan aklimatisasi. Meskipun telah ditarik oleh Menteri Pertanian, bukan berarti Katimor tidak boleh dikembangkan. Sebab apabila naungan dan bahan organik cukup, Katimor tidak akan mengalami hiper produksi pada tahun-tahun awalnya. Hingga produktivitasnya akan terus baik, pertumbuhan tanaman pun berjalan normal.

Di Kusuma Agrowisata, Batu; Katimor yang mendapatkan naungan serta bahan organik cukup, produktivitasnya normal meskipun tetap tinggi. Sebaliknya di lokasi yang naungan serta bahan organiknya kurang, beberapa tanaman menjadi hiper produksi.
   
Pengembangan Katimor yang dilakukan oleh beberapa Pemkab. dengan PT Perhutani, akan berhasil cukup baik apabila disertai dengan pemberian tanaman peneduh seperti kaliandra, akasia serta albisia gunung. Selain berfungsi sebagai tanaman pelindung, kaliandra, akasia serta albisia gunung ini akan menghasilkan bahan organik yang cukup bagi tanaman kopi.

 Hingga bahaya hiper produksi akan dapat dihindari. Kalau Katimor ditanam di areal terbuka, kemungkinan hiper produksi akan tinggi. Atau tanaman justru akan tumbuh kerdil semenjak awal. Di kawasan Junggo, Kab. Malang misalnya, Katimor ditanam di areal terbuka bekas tanaman kentang tanpa naungan. Hasilnya, kopi tersebut tumbuh kerdil dan sulit berbuah.

Pertumbuhan daun yang terlalu lebat pada kopi arabika di perkebunan Kaliklatak, masih belum diketahui penyebabnya. Sebab di lokasi tersebut, naungannya cukup, bahan organiknya juga kaya. Diduga ketinggian yang hanya sekitar 700 m. dpl. yang telah menjadi penyebabnya. Sebab kebun-kebun arabika yang selama ini mengembangkan Katimor, ketinggiannya selalu di atas 1.000 m. dpl. Baik di Takengon, Sidikalang, Ijen maupun Toraja. Di lokasi-lokasi ini, Katimor yang memperoleh naungan serta bahan organik cukup, kondisi pertumbuhan serta produktivitasnya cukup baik.

Di perkebunan Kalisat Jampit, varietas USDA yang sebelumnya telah diremajakan dan disambung Katimor, akan dikembalikan lagi ke USDA. Hingga batang bawah yang sudah cukup tua dan produktiv itu akan tetap bisa dipakai. Meskipun produktivitas USDA tidak sehebat Katimor maupun Andongsari, namun varietas ini relatif stabil pertumbuhan maupun produktivitasnya. Daya tahannya terhadap karat daun juga sudah terbukti lama.

Sebenarnya sudah sejak tahun 1980an, pemerintah melalui Direktorat Jenderar Perkebunan, Departemen Pertanian (Ditjenbun Deptan) maupun melalui Dinas-dinas perkebunan di tingkat provinsi maupun kabupaten menganjurkan pengembangan kopi hanya jenis arabika.

 Bukan robusta atau jenis-jenis lain. Sebab pasar arabikalah yang selama ini masih cukup longgar persaingannya. Beda dengan jenis robusta, arabika merupakan jenis kopi dengan pasar khusus, dengan konsumen khusus pula. Itulah sebabnya harga arabika selalu lebih tinggi dibanding rubusta. Namun himbauan pemerintah ini kurang bergaung di masyarakat.

Hingga yang dikembangkan tetap saja jenis robusta. Kendala utama pengembangan arabika adalah faktor lahan yang terbatas. Di Indonesia, terutama di Jawa, lahan dengan ketinggian di atas 1.000 m. dpl. kebanyakan dikelola olah Perhutani atau PTPN. Hingga pengembangan arabika oleh beberapa Pemkab, dilakukan bekerjasama dengan Perhutani. (R) * * *(http://foragri.blogsome.com/demam-bertanam-kopi-arabika)
 


Bupati Simalungun Ingatkan Pejabat Pemkab Simalungun Soal Penggunaan Mobil Dinas

SIMALUNGUN– Bupati Simalungun Jopinus Ramli (JR) Saragih meminta penggunaan mobil dinas dan operasional Pemkab Simalungun dibatasi dan hanya digunakan untuk kepentingan kedinasan serta sesuai kebutuhannya.

Dia menjelaskan, hal itu dilakukan untuk menghemat anggaran bahan bakar minyak (BBM)mobildinaspejabatdan operasional Pemkab Simalungun yang dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2012 sebesar total Rp400 juta.“Saya berharap dengan kenaikan harga BBM, para pejabat membatasi penggunaan mobil dinasnya.   

 Dengan demikian, alokasi anggaran untuk BBM yang sudah tertampung di APBD cukup untuk satu tahun anggaran,” ujar JR, kemarin. JR berharap mobil dinas tidak lagi digunakan untuk hal-hal di luar tugas kedinasan, seperti menjemput dan mengantar anak pulang sekolah atau mengantar istri belanja.

Secara khusus dia berharap kepada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk menegur kepada pengguna mobil dinas Pemkab Simalungun yang dipakai bukan untuk kepentingan dinas.    

Sementara itu, Direktur Studi Politik dan Hukum (SOLU) Armada Purba mendukung instruksi Bupati Simalungun JR Saragih agar penggunaan mobil dinas sesuai dengan peruntukkannya.

 “Selama ini bukan rahasia lagi banyakpejabat di jajaran Pemkab Simalungun yang menggunakanmobildinasyang bukan untuk kepentingan kedinasan, seperti mengantar istri belanja dan antar-jemput anak ke sekolah.

Padahal anggaran pengadaan bahan bakar minyak( BBM)-nya menggunakan uang rakyat,”ujarArmada. Armada mengharapkan adanya pembatasan penggunaan mobil dinas oleh para pejabat. Selama ini banyak pejabat memiliki lebih dari satu mobil dinas. (WASPADA ONLINE)

Radio MORA 88.50 FM Bandung

Radio Mora Sumut 91.30 FM

Radio Mora Sumut 91.30 FM

Streaming RADIO MORA SUMUT 91.30 FM-listen.pls

Menghitung Asset Pemkab Simalungun yang Hilang dan Terbuang

Oleh Ramlo Hutabarat
 Saya menduga dan mudah-mudahan dugaan saya ini salah. Apa ? Sudah banyak sekali asset Pemkab Simalungun yang tercecer, hilang, dihilangkan, dilupakan, leong, raib, golap dan terbuang. 

Ada juga asset Pemkab Simalungun yang kabur, dikaburkan, bahkan ada yang kelabu sampai abu-abu. Kenapa sampai begitu ? Jawabnya gampang dan cespleng, Pemkab Simalungun lalai sekaligus anggap enteng. Juga, karena banyaknya staf Pemkab Simalungun yang tak mau ambil peduli, bahkan tidak profesional ketika menjalankan tugasnya. Terutama, tentu, mereka yang bertugas secara khusus untuk mengurusi masalah
asset ini.

Untuk mengetahui apa saja asset Pemkab Simalungun yang sudah hilang dan terbuang, tentunya harus dimulai dengan menginventarisasinya secara menyeluruh. Dan saya pikir, ini merupakan tugas pihak Dinas
Pendapatan dan Pengelola Asset Daerah yang sekarang dipimpin Gideon Purba. Dulu, sebelum zaman otonomi daerah, soal asset berada dalam ruang lingkup Bagian Umum pada Sekretariat Daerah. Tobana Sianipar pernah lama sekali memimpin Bagian Umum ini di masa itu, selain Manson Sirait dan Jhonny Siahaan.

Yang pasti, Pemkab Simalungun tidak saja memiliki asset di Kabupaten Simalungun melulu. Ada asset itu yang berada di Kota Pematangsiantar, seperti gedung TK Jonaha di Jalan Kapten MH Sitorus,gedung eks Dinas Pertanian di Jalan Simbolon, gedung eks Kantor Ketahanan Pangan dan gedung eks Dinas Koperasi di Jalan Maluku. Juga, kalau tak salah, satu unit rumah di Jalan Maluku yang pernah ditempat Robinson
Sitinjak, mantan Pimpro Penghijauan Simalungun di zaman almarhum JP Silitonga sebagai Bupati Simalungun. Rumah ini pun, pernah ditempati Piliaman Simarmata mantan anggota DPRD Simalungun yang saya tidak tahu dikontraknya dari siapa.

Gedung eks kantor Bawasda Simalungun di Jalan Merdeka Pematangsiantar, pun saya pikir merupakan bagian dari asset Pemkab Simalungun. Termasuk, sebuah gedung di Jalan Ade Irma Suryani Nasution yang dulu pernah digunakan sebagai Kantor Dinas Pendidikan ketika dipimpin oleh Sihotang sampai Munawardy. Juga, sebuah bangunan di Simarimbun arah jalan ke Sidamanik, gedung di kawasan Pamatang
yang sempat digunakan untuk Kantor Catatan Sipil.

Sementara, gedung-gedung yang berada di kawasan Simarito di depan Lapangan H Adam Malik, kayaknya sudah dilego kepada Pemko Pematangsiantar di zaman Jhon Hugo Silalahi menjadi Bupati Simalungun.
Bekas Rumah Dinas Bupati Simalungun di Jalan Perintis Kemerdekaan di depan Lapangan H Adam Malik, jelas dan pasti adalah bahagian asset Pemkab Simalungun. Yang tidak jelas bagi saya adalah soal Gedung
uang di Jalan Merdeka.

Kenapa tidak jelas, sebab dulu gedung ini pernah dipihakketigakan oleh alamarhum JP Silitonga kepada almarhum Gatot Sihombing, warga Jalan Patuan Anggi Pematangsiantar. Tapi belakangan, setahu saya gedung ini justru dikontrakkan pihak Kodim Simalungun kepada penguasa Siantar Hotel sampai sekarang. Inilah yang membuat saya mengatakan, tak jelas dan tak pasti Gedung Juang itu milik siapa. Apalagi, ada yang bilang sebenarnya gedung itu adalah milik Partuha Maujana Simalungun.

Di kecamatan yang menyebar, asset Pemkab Simalungun juga banyak yang tercecer karena sudah terlalu lama tak diurus. Ada sebahagian yang tak jelas asset Pemkab Simalungun atau tidak, seperti yang saya
sebutkan sebelumnya, abu-abu. Misalnya, sebidang tanah di Saribudolog arah ke Saranpadang, sebidang tanah di jantung kota Panei Tongah,  sebidang tanah di Pondok Bulu Kecamatan Dolog Panribuan yang pernah dikelola untuk lokasi PRPTE (Proyek Rehabilitasi Pengembangan Tanaman Eksport), juga sebidang tanah di Kecamatan Purba yang pernah dijadikan lokasi pembibitan.

 Selanjutnya, banyak lokasi tanah di beberapa kecamatan yang dulunya disebut-sebut milik Dinas PU Simalungun, bekas lokasi pembibitan di sekitar Kantor Camat Siantar di Nagori Dolog Marlawan, sebidang tanah di bekas areal perkebunan Bah Lias yang sekarang berada di sekitar Terminal Perdagangan, termasuk di sekitar RSUD Perdagangan yang disebut-sebut sekarang milik TP Manik seorang warga Perdagangan dan mantan anggota DPRD Simalungun. Lantas, ada lagi tanah bekas tanah lapang di Perdagangan, bekas Lapangan Golf Parapat, tanah di Kampung Melayu Kecamatan Tanahjawa. Debora Hutasoit yang sekarang Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan, barangkali tahu sekali soal yang satu ini. Juga, tanah milik Pemkab Simalungun yang berada di sekitar Hotel Niagara Parapat.


Pekan Tanahjawa yang dibangun dengan dana miliaran rupiah di masa pemerintahan Hugo, merupakan asset Pemkab Simalungun yang terbuang sia-sia. Juga, Lumbung Padi Modren di Hutabayu Raya. Gedung Pusat
Dokumentasi Pariwisata di Sipolha, juga asset Pemkab Simalungun yang terbilang terbuang, selain GOR Radjamin Purba di Batu VIII Kecamatan Siantar. Dan barangkali, suatu masa pun Balai Benih Ikan di Rambung Merah dan Jawa Tongah bisa menjadi asset Pemkab Simalungun yang akan terbuang sia-sia.

Puluhan GLK (Gudang, Lantai, Kios) KUD (Koperasi Unit Desa) yang jumlahnya puluhan juga merupakan bahagian asset Pemkab Simalungun yang dibangun percuma. Termasuk, beberapa gedung di berbagai
kecamatan yang dulunya dibangun oleh PIS (Proyek Irigasi Sumatera Utara) seperti yang di Tanjung Pasir Tanahjawa, Sidamanik, Jorlang Hataran, Panei Tongah, termasuk gedung yang disebut WMTC di arah
belakang bekas Kangtor DPRD di dekat rumah kediaman Rajisten Sitorus, anggota DPRD Simalungun.

 Lantas, di Kecamatan Siantar banyak sekali gedung milik Pemkab Simalungun yang sekarang terlantar seperti tak ada pemiliknya. Dulunya, gedung-gedung itu adalah kantor-kantor pemerintahan sebelum
ibukota Kabupaten Simalungun pindah ke Sondi Raya. Belakangan, kabarnya, semua gedung-gedung itu telah diserahkan Pemkab Simalungun untuk dikelola PD Agromadear. Dan untuk tahap awal, PD Agromadear telah mengontrakkan salah satu di antaranya kepada Paartai Golkar

Simalungun yakni yang dulunya Kantor BKKBN."Bekas kantor Panwas Pemilu di Jalan Asahan, sekarang sudah dikontrak KONI Simalungun", kata Ulamatuah Saragih, Sekretaris KONI Simalungun.

 Yang paling anyar, beberapa asset Pemkab Simalungun di kawasan perkantoran di Batu VI Jalan Asahan arah Perdagangan, sekarang sudah mulai golap dan tak jolas. Misalnya, yang dulunya merupakan jalan
pemisah Kantor Dinas PUD dengan salah satu kantor lainnya, di atasnya sekarang sudah berdiri sebuah bangunan berbentuk ruko. Kabarnya, bangunan berbentuk ruko itu, merupakan milik Tumpak Silitonga yang
sekarang Ketua PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) Simalungun.

Tak jelas bagaimana, Tumpak bisa membangun ruko di atas jalan milik Pemkab Simalungun itu. Sementara Bresman, Pangulu Sitalasari mengelak untuk memberi penjelasan dengan alasan ketika dia belum menjadi
pangulu, ruko milik Tumpak Silitonga itu sudah berdiri kokoh.

Kabar kabur menyebut, PD Agromadear yang sudah menerima penyerahan  berbagai asset Pemkab Simalungun di Kecamatan Siantar, sekarang sudah membuat berbagai program. Bekas Kantor DPRD di Jalan Asahan, kabarnya akan dijadidkan pusat hiburan dengan mengundang investor dari Pulau
Batam yang kabarnya Samuel Purba. Disana kelak akan dibuatkan arena futsal, karaoke, dan pusat jajanan, sekaligus penginapan. Suatu kabar yang masih kurang jelas, tapi berasal dari sumber yang layak
dipercaya.

 Saya pikir, agaknya, Bupati Simalungun JR Saragih harus cerdas dan cekatan untuk mengintruksikan semua stafnya yang mengurus soal asset agar menata sekaligus menginventarisasi semua asset Pemkab
Simalungun. Jangan ada lagi yang hilang dan terbuang bah. Sayang.

Seperti tanah di sebelah Kantor Camat Siantar yang sekarang sudah dibangun ruko oleh pihak ketiga, juga bahagian tanah Gedung Juang di Jalan WR Soepratman yang juga sudah dibangun pihak lain sekarang ini.(Sumber Catatan Ramlo Hutabarat di FBnya).

Sambutan Pengawas pada Deklarasi LEMBAGA EHAMSI


DPP EHAMSI SAAT BERKUNJUNG KE REDAKSI SIB



Kita patut bersykur, kemajuan teknologi di bidang media informasi telah memberikan sumbang sih yg tak terhingga bagi peradaban umat manusia. Dunia maya Face Book darimana terlahir Lembaga EHAMSI yg kita deklarasikan hari ini, tidak hanya menjadi sesuatu yg fenomenal sebagai sebuah jejaring social, tapi khusus bagi masyarakat Simalungun yg tergabung dalam group Ehamsi, Face Book telah mengukir sejarah bagaimana sebuah group diskusi dunia maya telah melahirkan sebuah lembaga ke dunia nyata.


Rasa solidaritas di dunia maya telah terwujud jadi tindakan nyata. Ini menjadi sesuatu yg luar biasa mengingat dunia maya terkadang dapat dikatakan identik dengan “alam liar”. Kita tdk saling kenal, bahkan identitaspun sering (sengaja?) tersamar. Tidak ada ikatan komitment di sana utk melakukan sesuatu atau utk tdk melakukan sesuatu, apalagi bicara tindakan nyata di alam nyata sebagai sebuah kegiatan kolektif, bukanlah perkara yg mudah.

Kita patut bangga dan bersyukur, ideology komunal Simalungun, HABONARAN DO BONA dan SAPANGAMBEI MANOKTOK HITEI, yg sering didengungkan dalam setiap diskusi di Face Book, ternyata bukan hanya slogan dan kata2 indah penghias status (postingan), namun dirasakan masih sangat kuat membangun solidaritas meskipun kita belum pantas berpuas diri karna masih jauh dari makna yg sesungguhnya.

Sikap optimis dan pesimis terhadap Lembaga Ehamsi ini kita rasakan sering berlomba merebut tempat di hati setiap kita yang larut dalam diskusi di dunia maya Face Book. Barisan panjang organisasi yg berbau Simalungun yg datang dan pergi turut menambah rasa galau akan kehadiran Lembaga ini. Akankah Lembaga ini akan menyusul teman-temannya menambah panjang barisan organisasi yg gagal dan tinggal papan nama? Ataukah anggapan itu menjadi sebuah mitos karena Lembaga ini berhasil menepisnya dan menjadikan diri sesuatu yg berbeda?

Memang, dibanding organisasi lain, ada satu hal yg menjadi pilar semangat dan yg memberi kita rasa percaya diri, bahwa KITA BERBUAT DULU BARU KEMUDIAN BERBENTUK, bukan BERBENTUK DULU, BARU KEMUDIAN BERBUAT. Jauh sebelum deklarasi ini, Group Ehamsi (ibu kandung Lembaga Ehamsi) telah berbuat utk Simalungun. Meskipun dalam skala kecil namun gaungnya membawa pesan yg sangat jelas, KITA HARUS BERBUAT! Jangan hanya menangisi kegelapan, padahal sepotong lilin yg ada ditangan tdk kita nyalakan.

Bahasa menunjukkan bangsa.

Tutur kata walaupun di dunia maya, memberi gambaran cukup jelas siapa dan seperti apa diri kita. Prinsip “Apa yg dapat saya berikan utk Simalungun melalui Ehamsi, bukan apa yg sya dapatkan dari Ehamsi” telah dgn jelas mewarnai sikap dan tindakan teman2 yg benar2 tulus ikhlas membangun Simalungun melalui organisasi ini. Appresiasi saya yg sangat tinggi atas dedikasi yg luar biasa yg telah ditunjukkan teman2 terutama yg berada di DPP Lembaga Ehamsi ini. Tidak ternilai waktu dan energy bahkan materi yg mereka curahkan utk Lembaga ini.

Mereka bukanlah org2 yg berkelimpahan dalam hal materi sehingga mau memberi, bukan tuan dari waktu sehingga bisa mengurus organisasi ini kapanpun mereka mau, namun panggilan rasa tanggung jawab utk membangun Simalungun, itulah yg menggerakkan mereka. SIPARUTANG DO AHU BANI SIMALUNGUN kata Pdt J. Wismar Saragih, motto itu selalu segar di sanubari kita, dan kita menyadari hutang itu tidak akan pernah lunas karena kita telah menerima lebih dari yg dapat kita berikan utk Simalungun.

Saudara2ku yg punya ahap atau ikatan emosional dgn Simalungun, Etah Ham Mambangun Simalungun! Lembaga Ehamsi bekerja berlandaskan KASIH, bahasa Universal yag menembus semua sekat2 dan perbedaan yg ada diantara kita. Marilah bergandengan tangan membangun Simalungun utk kita dan generasi yg akan datang. Sekecil apa pun hal baik yg dapat kita lakukan, perbuatlah! Orang2 mungkin akan melupakan kita dan hal baik yg pernah kita lakukan, namun waktu akan mencatat semua jejak2 indah yg kita tinggalkan.Semoga !(Jalpen Sipayung)

Kopi, Produk Andalan Petani Simalungun

Mangiring Sihaloho sedang memetik kopi; Paulina Sihaloho sedang bergaya dengan tudung-kepalanya. (Tulisan dan Foto oleh: Limantina br Sihaloho).Foto kanan Limantina br Sihaloho.
“Wah Ring, panjang umur dong orang kalau metik kopi kayak gini”,  kata saya pada adek saya yang paling kecil di Simarbangsi, ladang pertanian kami, dalam bahasa Simalungun.

“Sudah jelas dong!” jawab adek saya dalam bahasa Simalungun.

Tanpa saya sadari, saya kira pertanyaan saya macam itu pada adek saya ini tak lepas dari pengalaman sebelumnya. Saya sempat kecewa pada adek saya ini karena meninggalkan Fakultas Kedokteran di salah satu universitas negeri di Medan beberapa tahun yang lalu.

Dia waktu itu lulus lewat jalur UMPTN. Bagi saya tindakannya meninggalkan fakultas yang konon bergengsi itu benar-benar sebuah tindakan yang sulit saya mengerti apalagi terima. Orang-orang begitu ingin masuk di fakultas kedokteran walaupun harus membayar ratusan juta. Ini, kok dia yang lulus test tanpa bayar untuk masuk malah meninggalkannnya?

Salah satu salah kaprah pendidikan di Indonesia menurut saya adalah mengajarkan orang untuk tidak cinta pada tanah dan tumbuh-tumbuhan secara langsung; kalau bisa kerja kantoranlah atau pabrik menjadi buruh, yang penting jangan kena-kena tanah atau lumpur. Walau setiap hari harus makan makanan dari hasil pertanian: beras, sayur-mayur, buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan lainnya. Kalau bisa jangan bau-abu amis atau kena angin hujan dan apalagi badai macam nelayan. Kalau bisa langsung makan sajalah.


Dengan geli saya bertanya dalam hati: “Mana lebih baik? Menjadi seperti adek saya ini yang mengatakan bahwa berada di ladang seperti ladang kopi ini bisa bikin orang panjang umur dan senang atau menjadi seorang dokter?”

Saya sempat bilang padanya, “…apalagi dokter-dokter di Indonesia ini? Sebagian mereka itu mana beres kan? Itu sebab orang-orang pergi ke Penang atau Singapura untuk berobat.”

Sepanjang kami memetik kopi, kami membicarakan macam-macam hal tentang matematika dan fisika. Adek saya ini dulu selalu juara kelas ketika SD dan SMP. Dia SMA di salah satu SMA Negeri di Jogjakarta. Anak paling kecil dari kami semua kakak-beradik.

Saya sendiri pun dalam waktu lama terhegemoni oleh konsep yang salah dari sekolah bahwa bertani itu adalah pekerjaan yang kurang baik, hanya bagi mereka yang bodoh dan tidak punya pendidikan.

Sekarang saya menyadari betapa konyol indoktrinasi macam itu. Banyak lulusan sarjana kita, sekitar 20% lebih menganggur karena tak punya keterampilan. Kami beruntung karena sejak kecil sudah biasa berinteraksi dengan tanah dan tumbuhan jadi tak ada masalah untuk bertani.

Tentu perlu keterampilan yang bagus untuk bisa menghasilkan produk kopi sebagus seperti dalam gambar ini. Lulusan sarjana pertanian pun belum tentu bisa menghasilkan produk sebagus ini kan? Mungkin lulusan ini bisa tahu secara teoritis tetapi mempraktekkannya? Padahal kan, yang paling sulit adalah yang terakhir ini: melakukan; percuma orang tahu teorinya tapi tak becus melakukannya.

Secara umum, di Simalungun, orang bisa menghasilkan produk kopi sebagus ini kualitasnya. Kata kuncinya adalah kemauan untuk bekerja dan merawat. Keterampilan bertani.




Lebih dari 60% generani muda Simalungun ada di perantauan. Lebih dari 50% generasi muda perantau ini bekerja menjadi buruh di pabrik-pabrik seperti di Batam dan berbagai kota lainnya.

Apa enaknya menjadi buruh? Jauh lebih bermartabat mengolah tanah di kampung sendiri kalau masih ada. Petani di Sumatra beda dengan petani di Jawa. Di Sumatra, masih banyak petani yang memiliki lahan sendiri.

Perkembangan yang terjadi adalah para perantau dari daerah Toba berdatangan ke Simalungun. Mereka bekerja dan menyewa tanah orang-orang Simalungun yang semakin kehilangan generasi mudanya mengolah lahan sebab sudah 90% lebih berada di rantau.

Kemampuan orang-orang Toba ini terbatas sebab status mereka sebagai penyewa. Kemajuan mereka lambat tapi secara umum pasti karena mereka gigih bekerja.***(http://ekonomi.kompasiana.com)

Fander Manurung Diharapkan Pertahankan Gelar Juara "Marhonong" di PDT 2012

PARAPAT - Fander Manurung asal Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara yang meraih juara pertama Lomba "marhonong" (menyelam) pada pada Pesta Danau Toba (PDT) (27-30 Des) tahun  2011 lalau dengan catatan waktu 1:43 menit, dapat dipertahankan pada PDT 2012 yang akan dilaksanakan Juni-Juli 2012 mendatang.

"Kegiatan lomba marhonong itu, dengan penilaian yang paling lama menyelam di dasar Danau Toba, diikuti sebanyak 24 peserta dari kabupaten/kota di Sumatera Utara," kata Ketua Pelaksana Lomba Marhonong PDT 2011, James Sinaga di Parapat.

Menurut dia, penyelam bermarga Manurung itu, sudah berhasil menunjukkan prestasinya, namun sayangnya dia belum dapat memecahkan rekor diciptakan A.Gultom dari Sigapiton, Kabupaten Toba Samosir pada PDT 2010 dengan catatan waktu 3: 02 menit.

James menjelaskan, "marhonong" merupakan olahraga rakyat yang sangat populer di sekitar Danau Toba, berbasis survival skill di danau, yakni ketahanan dan keahlian menyelam serta pengaturan nafas sehingga yang mampu bertahan lama menyelam di dalam air dianggap sebagai pemenangnya.


Para peserta lomba tersebut berasal dari Kabupaten Simalungun, Samosir, Humbang Hasundutan, Toba Samosir dan Kota Pematang Siantar.

Dikatakannya, pelaksanaan lomba dilakukan melalui beberapa tahapan, dan setiap tahap diikuti peserta sebanyak enam orang sekali menyelam ke dasar danau, kemudian disisihkan sebanyak tiga orang penyelam dengan waktu paling lama.

Selanjutnya, kata James, pemenang penyelam terlama kembali mengikuti perlombaan berikutnya, hingga sejumlah 12 peserta masuk ke babak semifinal.

Kemudian pesertanya disisakan lagi sebanyak empat orang sebagai finalis pada perlombaan yang digelar Kamis (29/12).

Sehingga juara pertama diraih Fander Manurung (Kabupaten Simalungun), juara kedua Aldrianus (Kabupaten Samosir)) juara III dan IV masing-masing Dohan Manalu (Humbang Hasundutan) dan Febriadi Sidabutar (Kota Pematang Siantar).

James menjelaskan, setiap peserta yang akan mengikuti lomba, sebelumnya harus melalui tes medis dan menanda tangani surat perjanjian serta berusia di atas 15 tahun.

"Untuk memantau para penyelam selama berlomba di dasar danau, panitia pelaksana menurunkan dua orang penyelam bersertifikat (Scuba Diving) sebagai antisipasi terjadinya hal-hal tidak diinginkan," katanya.(waspada.co.id)

Penyandang Cacat di Simalungun Dapat Santunan Bulanan Rp 300.000

RAYA – Para penyandang cacat permanen akan menerima bantuan sebesar Rp300.000 setiap bulannya. Pemberian bantuan itu merupakan program Pemerintah Pusat sehingga sumber anggarannya dari APBN dan dapat diambil di kantor Pos. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Sosial Pemkab Simalungun, Asimar Dongoran SSos, saat ditemui Simantab, di ruang kerjanya, Rabu pekan lalu.

Dijelaskan Asimar, disebut penyandang cacat permanen karena kehidupan mereka sepenuhnya bergantung kepada pihak ketiga dalam menjalankan aktifitasnya sehari-hari. Sehingga tanpa pihak ketiga, mustahil mereka mampu melakukan kegiatan, minimal untuk dirinya sendiri.

Sebagaimana data yang ada di Dinas Sosial pada tahun 2011, ada sebanyak 264 orang penyandang cacat permanen telah terdaftar untuk menerima bantuan tersebut. “Apabila ada diketahui penyandang cacat permanen yang belum terdata agar segera dilaporkan kepada para Pangulu Nagori agar langsung ditindak lanjuti,”ujarnya.

Masih menurut Asimar, karena hal ini merupakan program Pemerintah Pusat dalam rangka memberikan kesejahteraan khususnya kepada para penyandang cacat permanen, sebagaimana tertuang dalam Undang-undang nomor 11 tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial, dimana salah satu poinnya berbunyi, “yang dimaksud dengan bantuan berkelanjutan, adalah bantuan yang diberikan untuk mempertahankan tentang kesejahteraan sosial dalam upaya untuk mengembangkan kemandirian.

Berdasarkan Undang-undang tersebut, bisa dipastikan bantuan kepada para penyandang cacat permanen akan tetap diberikan dan sudah berjalan beberapa tahun ini. Sehingga dalam pelaksanaannya di lapangan, pihak Dinas Sosial tetap melakukan monitoring, dan setiap saat memberikan laporan secara rutin kepada Pemerintah Pusat melalui Kementerian Sosial.

Hal ini dilakukan demi akurasi data para penerima bantuan tersebut, dimana data yang telah dilaporkan sebelumnya bisa mengalami pengurangan, disebabkan karena mungkin para penyandang cacat permanen meninggal dunia, demikian juga terhadap data baru.(parmadi/c)(simantab.com)

Pohon Tua di Mess Pemprovsu Haranggaol Mengancam Keselamatan

HARANGGAOL-Pohon yang diduga sudah tua berdiri kokoh di halaman Mess Pemprovsu Haranggaol, Kecamatan Haranggaol Horisan, Kabupaten Simalungun membahayakan. Sebab, pohon tersebut disamping sudah tua, terancan ambruk.

Pantauan Simantab, Senin pekan lalu kondisi kayu sangat memprihatinkan. Dahan (ranting) kayu sebagian sudah lapuk dan berada di samping jalan besar Haranggaol dan di halaman mess tersebut. Selain itu, dahan kayu tersebut mengenai kabel PLN. Sehingga apabila datang angin kencang dahan-dahan pohon tersebut terancam ambruk karena kondisinya sudah lapuk.

Menurut informasi dari masyarakat bahwa dahan pohon tersebut sudah pernah ambruk beberapa waktu yang lalu. Ketika itu megenai mobil yang sedang parkir. Ambruknya dahan pohon karena angin kencang dan kondisi kayu sudah tua atau sudah lapuk.

“Apabila ranting pohon jatuh, kabel PLN diterpanya. Sehingga salah satu penyebab yang mengakibatkan sering lampu padam di daerah ini. Oleh karenanya, diharapkan agar pohon tersebut segera ditebang sebelum memakan korban. Sebab kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan”, kata warga sekitar Rajoki Girsang. (simantab.com)

Mabuk Berat, Warga Nagori Perdagangan Nyebur Dan Hanyut di Bahbolon

Kronologis KejadianKronologis KejadianPERDAGANGAN-Suyetno (25), warga Dusun Sedotani I Perlanaan, Nagori Perdagangan II, Kecamatan Bandar, hanyut ditelan Bah Bolon, Selasa (27/3) sekira pukul 23.20 WIB.

Peristiwa ini terjadi saat korban bersama temannya Nanda (24) sedang mabuk berat menyeberangi jembatan rel kereta api di Nagori Bahlias. Diduga korban terpeleset dan jatuh ke sungai.

Ditemui METRO di Polsek Perdagangan, Rabu (28/3) sekira pukul 14.00 WIB, teman korban Nanda menceritakan kejadian yang mereka alami. Menurut Nanda, awalnya mereka berlima, Dika (23), Tumiran (24), Anto (25), korban dan dia, berangkat bersama-sama ke Lapo Tuak milik Pakmin di Nagori Bahlias dengan mengendarai sepeda motor masing masing.

Korban berboncengan dengan Nanda mengendarai Honda Mega Pro BK 6853 TAG. Kelimanya berangkat ke lapo tuak tersebut sekira pukul 20.00 WIB. Setelah asik minum selama dua jam dan menghabiskan lima teko tuak, Dika, Tumiran dan Anto pulang lebih dulu.

Sementara korban dan Nanda memilih tetap tinggal dan tetap melanjutkan minum tuak hingga pukul 23.00 WIB. “Kami memesan dua teko tuak lagi setelah Dika, Tumiran dan Anto pulang,” jelasnya.

Setelah menghabiskan dua teko ini, keduanya pun memilih pulang. Dalam perjalanan, menurut penuturan Nanda, Yetno sudah mabuk berat dengan mata memerah dan tertidur diboncengan.

Sekira pukul 23.20 WIB, Nanda dan korban tiba di Jembatan Bah Bolon untuk kereta api di Nagori Bahlias. Karena jembatan tersebut hanya dilapisi dua papan, Nanda meminta korban untuk turun dari boncengan.

Dengan keadaan mabuk berat, korban pun turun dan Nanda sempat meminta kepada korban untuk menyeberang lebih dulu. Tetapi permintaan Nanda ini di tolak korban, justru sebaliknya korban meminta agar Nanda menyeberang lebih dulu.

Setelah sepakat, akhirnya Nanda menyeberang lebih dulu. Sesampainya Nanda diujung jembatan, sewaktu melihat kebelakang, korban sudah tidak terlihat lagi. Bahkan Nanda yang saat itu masih mabuk tidak melihat korban jatuh dan hanyut di sungai.

”Aku sempat mendengar suara Yetno minta tolong, tapi begitu aku lihat ke bawah, dia sudah tidak ada lagi dan langsung kukejar ketepi sungai, tetapi tidak ketemu,” ujar Nanda.

Sejurus kemudian Nanda pergi ke rumah tiga kawannya yang ikut minum tuak tersebut dan memberitahukan korban telah hanyut. Lalu mereka berempat mengabari sanak keluarga korban yang lain. Puluhan warga pun melalukan pencairan dipinggir sungai hingga pukul 05.00 WIB.

Kelurga Histeris Ketika di temui di Polsek Perdagangan, puluhan anggota keluarga korban ini tampak menangis mengadukan kejadian yang dialami putranya, Rabu (28/3) sekira pukul 13.20 WIB. Mereka meminta agar petugas segera turun mencari anak mereka.

Tuning (51) ibu korban ini tampak menangis histeris, Tuning mengaku awalnya korban pergi dari rumahnya dengan mengenakan celana jeans pendek dan memakai kaos hjitam. Permisi pergi bersama dengan teman- temannya.

 ”Dia pergi pakai celana pendek dan kaos hitam katanya ada kawannya baru pulang merantau, jadi mareka mau buat acara. Saya sudah larang jangan pergi karena ada firasat yang tidak enak tapi dia tetap pergi juga,” katanya sembari menangis.

Disekitar lokasi hanyutnya korban, tampak puluhan warga menelusuri sungai dengan berenang bersama petugas kepolisian dan tim penyelamat. Ada juga Tim yang mencari menggunakan sampan dayung. Sementara di tepi sungai terlihat ratusan warga berkerumun ingin melihat lokasi hanyutnya korban.

Kapolsek Perdagangan AKP TP Butar- butar ketika di temui METRO sekira pukul 14.00 WIB membenarkan kejadian tersebut. Saat ini pihaknya tengah mengupayakan pencarian terhadap korban. Sementara rekan korban Nanda sedang mereka periksa untuk kepentingan penyelidikan. ”Kita masih melakukan pencarian dibantu warga sekitar lokasi,” katanya.(mag-02/ral)(metrosiantar.com)

Bus Parisma Seruduk Mobil Camat Ajibata

PARAPAT- Bus Parisma F 7933 FA menabrak mobil Ambulans BK 1070 T milik RSU Parapat di Jalan Sisingamangaraja Simpang Terminal, Rabu (28/3) sekira pukul 17.00 WIB.

Tak hanya itu, mobil dinas Camat Ajibata Robert Gono jenis Toyota Kijang BK 34 E ikut diseser. Akibat kejadian, seorang pegawai Pemkab Tobasa mengalami luka serius dan kini di larikan ke rumah sakit di Kota Pematangsiantar.

Korban adalah Jackson Tampubolon (40), yang disebut-sebut sedang non job di Pemkab Tobasa. Semula korban menumpang di mobil dinas bersama Camat Ajibata Robert Gono dan supir D Sianipar. Pasca kejadian, korban mengalami luka pada kedua kakinya.

Untuk lebih memastikan dan mencek luka dalam lainnya, tim medis RSU Parapat yang sempat merawatnya, merujuk korban ke rumah sakit yang ada di Pematangsiantar. Sedangkan camat dan supir tidak mengalami luka sedikitpun. Informasi dihimpun METRO, awalnya Bus Parisma datang dari arah Porsea menuju Siantar.

Setibanya di lokasi kejadian, tiba-tiba supir kehilangan kendali dan menyenggol mobil ambulans, dikemudikan Jhon Harris yang melaju di depannya. Akibatnya ambulans terpental ke bahu jalan. Usai menabrak mobil dinas RSU Parapat ini, Bus tetap melaju dan menghantam mobil dinas Camat Ajibata yang semula melaju di depan ambulans.

Begitu dihantam pada bagian belakang, mobil dinas pun berputar 180 derajat dan ringsek berat. Usai kejadian, supir bus yang belum diketahui identitasnya itu kabur dari lokasi. Pria itu tampak menumpang bus yang melintas menuju Kota Siantar.

Menurut keterangan warga sekitar, sebelum melarikan diri, supir beralasan akan melayat keluarganya yang meninggal dunia di Pematangsiantar. Sedangkan Bus Parisma yang juga terlihat ringsek diniarkannya begitu saja terjerembab di parit, depan Gudang Bus Sejahtera Transindo.

”Begitu Bus menyenggol, saya langsung sigap dan memutar ke kiri untuk menghindari keadaan yang lebih parah,” kata supir ambulans Jhon Harris. Hal senada dialami oleh supir mobil dinas Camat Ajibata D Sianipar. Katanya, semula ia membawa camat dan Jackson dari Balige.

Namun saat di lokasi kejadian, mobilnya ditabrak dari belakang. Untuk memastikan keberadaan supir Bus Parisma, Kaposlantas Parapat Aiptu H Nainggolan yang dihubungi via selulernya mengaku sudah menghubungi pemilik bus.(Rait/hez)(metrosiantar.com)

Pondok Mesum di Karang Anyer Dibongkar Paksa

KARANG ANYER–Sejumlah pondok esek-esek di lokasi wisata Karang Anyer, dibongkar paksa petugas Satpol PP Simalungun bersama petugas di Kecamatan Gunung Maligas, Rabu (28/3) sekira pukul 12.00 WIB.

Aksi pembongkaran disaksikan Kapolsek Bangun AKP Hitler Sihombing dan beberapa anggota Babinkamtibmas. Pihak kecamatan menyatakan, puluhan pengelola pondok tersebut tidak memiliki surat izin, sehingga harus ditertibkan dan dibongkar.

Camat Gunung Maligas Jawansen Damanik mengaku, tindakan bongkar-paksa sengaja dilakukan karena sebelumnya sejumlah pedagang yang menggelar pondok di tepi aliran sungai, telah diperingati agar membongkar lapak mereka.

”Para pedagang ini sudah kita peringati agar mereka membongkar lapak dagangnya, terutama pondok–pondok tertutup,” ujarnya.

Sementara, sepuluh personel Satpol PP yang membawa linggis dan besi panjang langsung membongkar bangunan yang terbuat dari bahan bambu dan beratap tenda biru. Puing–puing kayu pondok tampak berserakan di tepi sungai.

Pembongkaran dimulai dari warung milik Heni (34), warga Nagori Karang sari, Kecamatan Gunung Maligas Simalungun yang membangun Pondok – pondok di atas kawasan objek wisata Karang anyer ini, lalu petugas kembali membongkar 15 unit pondok esek–esek lain milik PakMin hingga ke kawasan objek wisata. Dalam pembongkaran kemarin, tercatat 24 pondok yang berhasil dibongkar petugas, namun beberapa pondok milik Nelman Damanik tidak dibongkar.

Menurut petugas Satpol PP, larangan pembongkaran pondok milik Nelman berasal dari camat. ”Kami hanya diperintah dan pondok ini jangan dibongkar dulu,” ujar petugas.

Camat Jawansen Damanik tampak menemui pemilik warung terlebih dahulu, sementara puluhan petugas Satpol PP tampak bersiap membongkar bangunan yang disinyalir warga kerap dijadikan tempat mesum.

Setelah bicara dengan pemilik, Camat menemui petugas Satpol PP dan petugas kepolisian dan mengatakan pembongaran selesai. Ditanya kenapa tidak dibongkar, Jawansen Damanik mengaku pihaknya memberikan tenggat waktu satu minggu untuk pengusaha membongkar sendiri bangunannya.

“Pondok ini tidak saya bongkar dulu karena kita tunggu dulu satu minggu agar mereka membongkar sendiri bangunannya,” ujar Jawansen tersenyum menuju mobilnya.

Pedagang Menangis Sejumlah pedagang yang tidak terima warungnya dibongkar, tampak menangis histeris sambil membenahi puing–puing bangunan pondoknya. Darni (35), salah seorang pemilik warung, mengaku sangat kecewa dengan sikap petugas Satpol PP ini.

 ”Kami jelas kecewa sekali mereka membongkar warung kami, tidak pakai perasaan. Padahal yang menyediakan layanan esek–esek itu, justru hotel-hotel itu,” katanya sembari menangis.

 Sejumlah pedagang juga menyampaikan kekecewaan karena beberapa pondok milik Nelman Damanik tidak dibongkar, padahal pondok itu lebih terpencil dari kerumunan pengunjung.

”Kami kecewa kenapa pondoknya Nelman Damanik tidak dibongkar. Padahal pondok miliknya itu lokasinya lebih jauh dari kerumunan pengunjung. Jadi kalau pengunjung mau berbuat mesum, jelas akan lebih mudah. Harusnya pondoknya itu juga dibongkar, kenapa hanya pondok kami?” ujar pedagang. (mag–02)

Pemkab Simalungun Terima Dump Truk dari Otorita Asahan

FOTO BERSAMA- 
Asisten II Pemkab Simalungun bersama pimpinan Otorita Asahan usai 
penyerahan dump truk dan peralatan lain di Pamatang Raya, Rabu (28/3). 
(Foto: Ikrar Lubis).FOTO BERSAMA- Asisten II Pemkab Simalungun bersama pimpinan Otorita Asahan usai penyerahan dump truk dan peralatan lain di Pamatang Raya, Rabu (28/3). (Foto: Ikrar Lubis).RAYA- Pemkab Simalungun menerima satu unit dump truk, dua unit mesin pencacah sampah dan 19 unit gerobak sampah dari Otorita Asahan.
Penyerahan berlangsung di ruang Harungguan Pemkab, Rabu (28/3). Bantuan diberikan Sekretaris Otorita Asahan Azwar Aziz dan diterima Asisten II Antonius Damanik.

Sekretaris Otorita Asahan Azwar Aziz dalam sambutannya menyebutkan, bantuan kepada Pemkab Simalungun ini merupakan bagian dari Program Bidang Konservasi Pembangunan Sarana Kebersihan Otorita Asahan. Total nilai bantuan yang diberikan Rp457.370.000.

“Tujuan pemberian bantuan untuk meningkatkan pengembangan sarana lingkungan dan kebersihan dalam rangka meningkatkan mutu lingkungan terutama di sekitar Danau Toba,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, selain Pemkab Simalungun, bantuan dari Otorita Asahan juga diberikan ke kabupaten/kota lain di sekitar Danau Toba seperti Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Samosir, Simalungun, Karo, Dairi, Asahan, Batubara dan Kota Tanjung Balai.

“Tentu kita ingin melestarikan Danau Toba dan meningkatkan kesejahteraan warga di sekitar kawasan,” ujarnya lagi.

Selama ini, menurut pengakuan Aziz, Otorita Asahan juga telah memberikan bantuan ke Pemkab Simalungun. Bantuan penanaman kopi untuk 51 kelompok masyarakat sebesar Rp1,15 miliar, rehabilitasi pelabuhan Tiga Raja dan Tigaras dengan dana Rp810 juta, pemberian 23 unit handtracktor untuk 23 kelompok masyarakat dengan dana Rp685 juta.

“Walaupun bantuan saat ini tidak seberapa, mudah-mudahan masyarakat Simalungun merasakan manfaatnya,” ujarnya.

Bupati Simalungun JR Saragih dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten II Antonius Damanik menyebutkan, sesuai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pemkab telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga lingkungan hidup, mendorong kesejahteraan masyarakat dan perkembangan industri.

“Di kawasan Danau Toba, Pemkab Simalungun telah melakukan berbagai upaya konservasi lingkungan di daerah tangkapan air sekitar Danau yang merupakan wilayah Kabupaten Simalungun,” katanya.
Bupati menyampaikan, bantuan yang diberikan Otorita Asahan ini merupakan bukti nyata dari kesepakatan yang telah dibuat pada 2011 lalu.

Di mana sesuai dengan nota kesepakatan nomor: 17/K-00/NK/XI/2011 dan nomor: 660/5528-BLH/2011, Otorita Asahan berkewajiban memberikan bantuan konservasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat dan pembangunan infrastruktur pedesaan.

“Untuk tahun 2012, inilah bukti Otorita Asahan memberikan bantuan ke Pemkab Simalungun berupa dump truk, mesin pencacah sampah dan gerobak sampah roda dua,” jelasnya. (ral/ara)(metrosiantar.com)

Batas Gratis Rakam Data E-KTP di Simalungun 25 April

RAYA- Pelaksanaan pelayanan KTP elektronik secara gratis di Simalungun akan dilaksanakan hingga 25 April 2012. Sesudah tanggal ini, setiap warga yang akan mengurus KTP elektronik (e-KTP) akan dikenakan biaya.

Kepada setiap warga wajib KTP di Simalungun diharapkan segera mengurus KTP secepatnya. Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Pemkab Simalungun Albert Sinaga di Gedung DPRD Rabu (28/3) siang menyebutkan, hingga saat ini jumlah warga yang sudah direkam untuk KTP elektronik sudah mencapai 82,16 persen atau sekitar 449.736 orang.

Sementara yang belum melakukan perekaman sebanyak 17,84 persen atau sekitar 97.685 orang lagi. Dia mengatakan, saat ini jumlah wajib KTP di Simalungun sebanyak 547.421 orang. Sementara jumlah penduduk Kabupaten Simalungun sudah mencapai 887.000 orang. Warga yang termasuk wajib KTP merupakan warga yang berusia 17 tahun ke atas atau berusia di bawah 17 tahun namun sudah pernah menikah.

“Kita berharap kepada warga yang belum melakukan rekaman untuk pembuatan KTP elektronik supaya mendatangi kantor camat atau Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil di Jalan Asahan sebelum 25 April. Sebab sesudah 25 April nanti semua pembuatan KTP akan dikenakan biaya, tidak lagi gratis seperti sekarang,” terangnya.

 Lebih lanjut ia menerangkan, warga yang belum ikut perekaman KTP elektronik ini tersebar di 31 kecamatan yang ada di Simalungun. Kecamatan tertinggi yang belum melakukan perekaman adalah Kecamatan Dolok Panribuan. Baru sekitar 65,14 persen warga di sana yang melakukan perekaman.

“Sementara kecamatan tertinggi yang sudah melakukan perekaman yaitu Kecamatan Bandar, di mana sekitar 94,6 persen warga sudah melakukan perekaman pembuatan KTP elektronik,” jelasnya lagi.

Menurut Sinaga, kendala sebagian warga hingga kini belum ikut perekaman karena yang bersangkutan sedang sibuk, kemudian kesadaran memang minim untuk mendapatkan KTP yang berlaku secara nasional ini. Dia menyangkal, kendala dari Dinas Dukcapil adalah penyebab belum tuntasnya e-KTP di Kabupaten Simalungun.

“Begitupun, sekarang kita sedang giat-giatnya melakukan kunjungan ke kecamatan-kecamatan. Kita surati camat bahwa kita sedang melakukan pelayanan KTP elektronik keliling menggunakan mobil,” katanya lagi. Sinaga mengimbau agar warga mendatangi kantor camat dan juga Dinas Dukcapil di Jalan Asahan sebelum 25 April. (ral/ara)(metrosiantar.com)

Harga Kol di Simalungun Naik Rp 400 per Kilo Gram

HAMPARAN KOL- Inilah
 hamparan tanaman kol milik warga yang akan memasuki masa panen, di 
Simpang Hinalang, Kecamatan Purba. Foto dijepret Kamis (29/3). 
(FOTO:SENDI PURBA) HAMPARAN KOL- Inilah hamparan tanaman kol milik warga yang akan memasuki masa panen, di Simpang Hinalang, Kecamatan Purba. Foto dijepret Kamis (29/3). (FOTO:SENDI PURBA)
SIMALUNGUN- Seminggu belakangan, harga kol di tingkat petani naik menjadi Rp700 per kg, yang sebelumnya sempat anjlok sampai Rp300 per kg.

Beberapa pengumpul dan pedagang kol di kawasan Simalungun Atas yang ditanyai METRO mengatakan, naiknya harga kol saat ini disebabkan kurang tertutupinya permintaan pasar karena keberadaan kol yang siap panen di petani kurang. Namun ada juga petani yang menyampaikan hal berbeda.

 Girsang, seorang pengumpul kol di Silimakuta menerangkan, saat ini kol di Simalungun Atas rata-rata berumur 2 bulan lebih, atau dengan kata lain masa panen diperkirakan berada di minggu ketiga April. Girsang berprediksi, gejolak kenaikan harga kol ini diperkirakan akan berlangsung sekitar lebih kurang 3 minggu, dan nanti minggu ketiga April atau akhir April harga kol diperkirakan akan kembali anjlok karena akan terjadi panen raya.

Sementara, Munthe yang berada di Purba mengatakan, saat ini permintaan kol dari luar negeri semakin meningkat. Karenanya, harga dengan sendirinya semakin tinggi. Menurut Munthe, kalau ternyata nanti permintaan kiriman barang keluar negeri, seperti Singapura, Hongkong dan lain-lain semakin tinggi, tidak menutup kemungkinan harga kol ini akan semakin memuncak.

Menanggapi hal ini, pengamat pertanian Umum Tarigan mengatakan, saat ini produk hortikultura Simalungun mulai dilirik negara luar, seperti Singapura, Thailand, Hongkong dan Malaysia. Katanya, hal ini sebagai bukti dan buah kerja berbagai pihak, khususnya dinas pertanian yang tahun-tahun terakhir begitu serius melakukan pembinaan terhadap petani.

Katanya, PEmkab Simalungun melalui dinas pertanian dengan serius melakukan pembinaan agar petani menerapkan standar operasional produksi terhadap tanaman hortikultura, sehingga hasil pertanian tersebut layak konsumsi dan bebas dari residu pestisida. Umum Tarigan berharap kepada pemerintah, agar ke depannya bisa menolak pemasokan barang pertanian dari luar. (sp/ara)(metrosiantar.com)

Bertahun-tahun Jalan Rusak di Sidamanik Tak Diperbaiki

RUSAK- Kerusakan 
jalan sangat parah terlihat di Pasar Sarimatondang Kecamatan Sidamanik, 
Kamis (29/3). (Foto: Ikrar Lubis). RUSAK- Kerusakan jalan sangat parah terlihat di Pasar Sarimatondang Kecamatan Sidamanik, Kamis (29/3). (Foto: Ikrar Lubis). SIDAMANIK- Jalan rusak di Siantar-Sidamanik yang telah bertahun-tahun berlangsung hingga kini belum diperbaiki Dinas PU dan Bina Marga Pemkab Simalungun. Kerusakan jalan terjadi mulai perbatasan Pematangsiantar hingga Pasar Sarimatondang, Kecamatan Sidamanik.

Warga berharap jalan rusak tersebut segera diperbaiki. M Saragih (64) warga Pasar Sarimatondang ditemui Kamis (29/3) menyebutkan, perbaikan jalan terakhir kali dilakukan pada tahun 1990-an.

“Lebih 10 tahun jalan ke Sidamanik tidak pernah diperbaiki lagi. Sudah banyak lubang besar di tengah jalan. Kalau pengendara sepedamotor atau mobil yang baru pertama kali datang kemari, pasti akan terjerembab ke dalam lubang,” ujarnya.

 Mereka berharap, agar Jalan Siantar-Sidamanik segera diperbaiki. Mengingat jalan ini merupakan akses utama warga dari Siantar atau Medan menuju perkebunan teh Sidamanik. Selama ini kebun teh Sidamanik merupakan tujuan wisata agro bagi warga Sumatera Utara, bahkan dari luar provinsi.

“Sesudah sampai di Pasar Sarimatondang, pengunjung biasanya mengeluhkan kondisi jalan yang banyak berlubang. Terkadang mereka harus mengerem mendadak karena masuk lubang,” jelasnaya.

Mulai dari perbatasan Kota Siantar, jalan rusak akan ditemui sepanjang jalan hingga ke Pasar Sarimatondang. Mulai dari lubang kecil hingga lubang besar yang tidak ada aspal lagi. Namun sebagian jalan terlihat sudah diperbaiki masyarakat sekitar dengan menutupnya dengan tanah.

Kerusakan jalan terparah ada di beberapa titik, yakni sesudah perbatasan Kota Siantar, sebelum dan sesudah Pekan Tiga Bolon, kemudian sekitar 200 meter mendekati Pasar Sarimatondang.

Sebelumnya, Kadis PU dan Bina Marga Jhon Sabiden Purba mengatakan, saat ini panjang jalan di Simalungun sekitar 2.500 km. Kondisi jalan yang bagus 15 persen, rusak sedang 50 persen dan rusak berat 35 persen.

Disebabkan keterbatasan dana, pihaknya terpaksa menetapkan skala prioritas. Tidak semua jalan kecamatan dan kabupaten bisa mereka benahi tahun ini. “Jalan yang kita utamakan segera kita perbaiki, yakni jalan kabupaten dan kecamatan yang merupakan jalan strategis. Jalan Siantar-Sidamanik sepertinya belum termasuk tahun ini,” ujarnya lagi.

Dia menyebutkan, jalan yang menjadi skala prioritas itu antara lain Simpang Raya-Tiga Ras sepanjang 20 km, Simpang Baru Ujung Padang menuju Kecamatan Bosar Maligas sepanjang 40 km, jalan kabupaten Simpang Kerasaan menuju Serbelawan sepanjang 20 km, serta jalan kecamatan Sondi Raya menuju Sindar Raya di Kecamatan Raya sepanjang 5 km.

Jalan di Karang Anyer Rusak Berat Sejumlah warga Jalan Handayani, Nagori Karang Anyer, Kecamatan Gunung Maligas, mengeluhkan kerusakan jalan yang cukup parah di daerah mereka. Kata warga, kerusakan ini sudah berlangsung selama lima tahun dan tidak pernah diperbaiki. Kepada METRO, Rabu (29/3) Ramli Siregar (41) warga sekitar mengatakan, dirinya bersama warga lainnya sudah pernah mendatangi kecamatan untuk mengadukan permasalahan ini.

Tetapi mereka hanya meminta agar warga bersabar menerima kondisi jalan ini, padahal menurut perkiraan mereka, sudah banyak pengendara sepedamotor yang jatuih karena lubang-lubang tersebut. Agus, warga yang lain menambahkan, jika turun hujan, jalan yang berlubang ini akan tergenang air dan makin menusahkan pengendara untuk melintas. Kata Agus, banyaknya truk pengangkut sawit merupakan salah satu penyebab utama kerusakan jalan. (ral/mag-02/ara)(metrosiantar.com)

Baru Lahir, KPLH Simalungun Raih Penghargaan International

Written By GKPS JAMBI on Wednesday, 28 March 2012 | 19:39

SIMALUNGUN - Komunitas Peduli Lingkungan Hidup Simalungun (KPLHS), memang baru seumur jagung. Didirkan 5 Januari 2011. Namun prestasikan tak bisa dipandang sebelah mata. Pasalnya, komunitas independen yang terdiri dari masyarakat sadar lingkungan ini sudah menerima dua penghargaan.
 
Pertama, penghargaan dari lembaga internasional, Environment Online (ENO). Yakni penghargaan Life-Link Care For Nature Award yang diserahkan langsung oleh Life-Link Chairman Hans Levander di Kuala Lumpur, Malaysia beberapa waktu lalu.

Penghargaan kedua berasal dari Kepala Daerah Simalungun, JR Saragih. Kedua penghargaan tersebut lahir karena aktifitas KPLHS dalam melakukan penghijauan dan penyadaran tentang lingkungan kepada masyarakat.

Bayangkan saja, dalam kurun waktu tiga bulan, Komunitas yang baru seumur jagung ini sudah melakukan penanaman lebih dari 20 Ribu bibit pohon. Penanaman bibit pohon tersebut di fokuskan di tujuh kecamatan di Simalungun yang dekat dari Danau Toba. Yakni Kecamatan Sidamanik, Pamatang Sidamanik, Dolok Pardamean, Raya, Panombean Pane, Gunung Malela, dan Dolok Panribuan.

Ialah Suaibah Saragih tokoh yang ada dibalik kesuksesan KPLHS hingga mampu menyabet dua penghargaan. Ia pendiri sekaligus Ketua KPLHS. Berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi lingkungan, khususnya di Simalungun, akhirnya wanita yang berprofesi sebagai guru ini pun mendirikan Komunitas Peduli Lingkungan Hidup di Simalungun.

Dua penghargaan tak membuatnya berpuas diri. Hingga beberapa bulan ke depan, jadwal penghijauan dan aktifitas lainnya sudah Ia persiapkan. Tujuan tak muluk-muluk, yakni kampanye untuk membangkitkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Penulis : Arifin Al Alamudi
Editor : Budi
Sumber : Tribun Medan

Sejarah Berdirinya EHAMSI Lebih Facebook


Berawal Berawal dari jalinan komunikasi di dunia maya (facebook), beberapa warga yang mempunyai kepedulian (ahap) terhadap Simalungun sepakat untuk mendirikan Lembaga Etah Ham Mambangun Simalungun (Etaham).
 
Lebih dari sebuah lembaga yang berbadan hukum, Etaham kini hadir sebagai lembaga bagi masyarakat Simalungun untuk dapat berkarya bagi pembangunan Simalungun di segala lini yang dapat diapresiasikan bagi seluruh masyarakat Simalungun di manapun berada.

''Ehamsi menghimpun seluruh potensi-potensi yang ada untuk dapat disalurkan bagi perkembangan masyarakat Simalungun sesuai dengan kebutuhannya. Dan yang pasti, lembaga ini bukan bermaksud untuk memekarkan Simalungun," kata Ketua DPP Lembaga Ehamsi, Sarmulia Sinaga dalam diskusi bersama redaksi Tribun, Senin (19/3).

Turut hadir dalam diskusi ini pengurus DPP lainnya seperti Joefrizer Sipayung, Rebekka Girsang, Rawelson Situmorang, Eddy Rusman, Edisman Purba, dan Edwin Sipayung.

Sarmulia menjelaskan, anggota yang bergabung di komunitas Facebook sudah mencapai lebih dari 3.000 orang. Sebagian besar dari anggota di Facebook ini, kata Sarmulia yang menggagas hadirnya Ehamsi sebagai lembaga berbadan hukum dan aktif melaksanakan berbagai kegiatan yang memberdayakan masyarakat dan daerah Simalungun.

"Untuk kepengurusan DPP, diputuskan berada di Medan. Sedangkan untuk DPD sudah ada satu kepengurusan di wilayah Jabodetabek. Ke depan, akan dibentuk DPD-DPD lain di Simalungun, Binjai dan lain-lain," kata Sarmulia.

Sekretaris DPP Ehamsi, Joefrizer Sipayung menjelaskan, berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan Ehamsi antara lain: try out  pra UAS di SD Negeri 096779 yang dipusatkan di Desa Janggar Leto Kecamatan Panombean Panei, melakukan penyemaian bibit (kecambah) tanaman penghijauan trembesi dan sengon yang direncanakan dibagikan  gratis kepada masyarakat tani di Kabupaten Simalungun dan melaksanakan penghijauan di Dolok Sipiso-piso Tongging bekerjasama dengan Forhidos.

Joefrizer mengatakan, keanggotaan Lembaga Ehamsi terbuka bagi siapapun juga tanpa memperhatikan latarbelakang agama, marga ataupun profesi. Syarat terpenting, kata Joefrizer adalah mempunyai kepedulian untuk membangun Simalungun. Bagi masyarakat yang ingin bergabung, bisa mendaftarkan diri ke sekretariat DPP Lembaga Ehamsi, Jl. Sei Bengawan No. 73 Medan.

"Tanggal 24 Maret mendatang, kita akan mendeklarasikan berdirinya Lembaga Ehamsi ini di Restoran Kenanga Medan mulai pukul 16.00 WIB. Kami undang siapapun masyarakat yang ingin berpartisipasi dan bergabung untuk menjadi anggota Lembaga Ehamsi untuk menghadirinya," ajak Joefrizer.(ari)
Penulis : M Azhari Tanjung
Editor : Boris
Sumber : Tribun Medan

Pesta Danau Toba Tahun 2012 Dilaksanakan 30 Juni Hingga 14 Juli 2012

Plt Gubsu H Gatot Pujonugroho ST Setujui PDT Dilaksanakan 30 Juni S/D 14 Juli 2012


Bupati Simalungun dan Panitia PDT Tahun 2012  Temui Plt Gubsu
Plt Gubsu H Gatot Pujonugroho ST Setujui PDT Dilaksanakan 30 Juni – 14 Juli 2012


Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) H Gatot Pujonugroho ST, menyetujui pelaksanaan Pesta Danau Toba (PDT) tahun 2012 digelar pada tanggal 30 Juli – 14 Juli 2012 mendatang dan Kabupaten Simalungun sebagai tuan rumah.

“Saya setuju itu, PDT dilaksanakan pada tanggal 30 Juni – 14 Juli 2012, apalagi bersamaan dengan libur anak sekolah, sehingga mereka dapat menikmati liburan sekaligus turut menyemarakkan pelaksanaan PDT nantinya”, kata Plt Gubsu saat mendengar penyampaian Bupati Simalungun DR JR Saragih SH MM tentang jadwal pelaksanaan PDT, ketika melakukan silahturrahmi sekaligus audiensi di rumah dinas Gubsu, Jum’at malam, 16/03/2012, seusai membuka Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-41 tahun 2012 yang digelar di kompleks Tapian Daya Medan.

Gatot Pujonugroho juga memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan do’a yang dipimpin oleh para tokoh dari berbagai agama pada saat pembukaan PDT tahun lalu. ”Pelaksanaan do’a yang dilakukan oleh para tokoh agama pada pembukaan PDT tahun 2011 yang lalu itu sangat baik, dan ini dalam PDT nantinya juga harus seperti itu, karena ini menunjukkan bahwa di sini kerukunan antar umat beragama tercipta dengan baik”, tandasnya.

Selain itu, Plt Gubsu saat menerima silahturrahmi Bupati Simalungun bersama Panitia PDT didampingi Sekda Provsu, menyarankan kepada panitia PDT yang kebetulan Bupati Simalungun selaku ketua umum pada PDT mendatang, agar diadakan kapal pesiar yang setiap saat berlayar selama pelaksanaan PDT, dan di kapal tersebut disediakan makan dan hiburan.

 Menyinggung tentang Surat Keputusan (SK) tentang kepanitiaan PDT, Sekda Provsu Nurdin Lubis mengatakan bahwa, SK tentang kepanitiaan PDT, sudah diajukan ke Plt Gubsu dan dalam waktu dekat akan segera ditandatangani.

 Disamping menyampaikan jadwal pelaksanaan PDT, Bupati Simalungun DR JR Saragih SH MM, dalam kesempatan tersebut juga mengatakan bahwa, untuk menyukseskan pelaksanaan PDT mendatang, Pemkab Simalungun telah melakukan kunjungan ke daerah-daerah yang ada dikawasan Danau Toba (DT) dalam rangka menjalin kerjasama dan telah melakukan rapat-rapat koordinasi dalam rangka pembentukan panitia dan penyusunan program kerja yang akan dilaksanakan.

“Pelaksanaan PDT mendatang melibat 7 kabupaten yang ada dikawasan DT, mereka ada dalam kepanitiaan, oleh karena itu, pembukaan PDT dilaksanaan di Kota Parapat Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun, namun berbagai kegiatan-kegiatan PDT selain di Kabupaten Simalungun juga dilaksanakan di 7 Kabupaten kawasan DT dan bersamaan dengan itu, daerah-daerah ini juga melaksanaan kegiatan seni budaya dan olahraga tradisional sesuai dengan budayanya, seperti Kabupaten Simalungun melaksanakan Pesta Rondang Bittang (PRB), Karo melaksanakan pesta buah demikian juga daerah-daerah lainnya”, kata Bupati Simalungun.

Menyahuti saran Plt Gubsu agar pada PDT mendatang ada kapal yang setiap saat berlayar selama PDT, Bupati Simalungun yang didampingi Bupati Samosir, Wakil Bupati Humbang Hasundutan, Wakil Bupati Toba Samosir, Wakil Bupati Tapanuli Utara dan bersama penitia PDT lainnya seperti Ketua Pelaksanan Asisiten Adimistrasi dan Umum Ir Jan Wanner saragih MSi, Kadis Pendapatan Drs Gidion Purba, Kabag Umum dan Perlengkapan Imman Nainggolan SSos MSi dan Kabag Hukum Sudiahman Saragih SH, mengatakan bahwa hal tersebut memang sudag masuk dalam agenda kepanitiaan, sehingga para pengunjung juga dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang ada di daerah lainnya.   Bupati DR JR Saragih SH MM juga berharap agar pada pembukaan PDT nantinya Plt Gubsu turut hadir dan juga mendampingi panitia PDT untuk beraudiensi dengan pemerintah pusat.

Turut serta dalam silahturrahmi tersebut, kepala Inspektorat Kabupaten Simalungun, Kabag Humas Pimpinan dan Keprotokolan Kabupaten Simalungun Mixnon Andreas Simamora SIP, Kabag Orta Sarimuda Purba SSos MSi dan beberapa pejabat daerah 7 daerah kawasan DT. Acara silahturrahmi sekaligus audiensi tersebut terlihat penuh dengan keakraban dan kekeluargaan antara Plt Gubsu, juga membicarakan bandara Silangit sebagai akses bagi DT dalam meningkatkan arus wisatawan.(http://www.simalungunkab.go.id)

Siswi Kelas II SD di Siantar Tangkap Dua Tuyul

TUYUL: Rindi, Siswi SD Kelas Dua yang menangkap dua sosok tuyul dan dimasukkan kedalam botol yang ditangkap di rumah Adi di Jalan Pattimura Ujung, Senin (26/3). (Foto: Pra evasi Haloho)TUYUL: Rindi, Siswi SD Kelas Dua yang menangkap dua sosok tuyul dan dimasukkan kedalam botol yang ditangkap di rumah Adi di Jalan Pattimura Ujung, Senin (26/3). (Foto: Pra evasi Haloho)SIANTAR– Puluhan warga berdatangan ke rumah Adi (45) di Jalan Pattimura, Kelurahan Tomuan Sianta karena penasaran ingin melihat dua tuyul yang ditangkap Arindiani (8).

Murid kelas 2 SD itu menangkap tuyul tersebut, Senin (26/3) pukul 15.00 WIB. Tidak hanya warga setempat, bahkan pengendara sepedamotor yang sedang melintas juga berdatangan setelah mendengar penemuan tuyul tersebut.

Dua tuyul yang sudah dimasukkan ke botol berwarna putih ditutup rapat dengan plastik dan ditimpa dengan jeruk purut diletakan di atas meja halaman rumah Adi. Hampir semua warga yang memiliki HP berebut mengabadikan foto dua botol yang dikelilingi butiran garam itu. Namun tidak sedikit warga yang kecewa karena tidak dapat melihat langsung wujud tuyul tersebut.

Akan tetapi, kekecewaan tersebut buyar ketika beberapa warga yang memotret lewat HP mendapat hasil yang meyakinkan bahwa tuyul tersebut nyata. Ada yang mendapat sosok tuyul tersebut memiliki rambut dan ada juga bayangan yang dengan tubuh mungil dan berkepala botak. Dengan bayangan berbagai bentuk yang difoto oleh warga sudah membuat warga percaya bahwa tuyul tersebut benar ada di botol tersebut. Ada juga seorang ibu-ibu warga setempat yang geram terhadap tuyul tersebut, ia meraih satu botol berisi tuyul dan menggoyang-goyangnya.

 “Kita goyang, biar mampus situ tuyulnya,” katanya. Arindiani atau biasa disapa Rindi yang masih kelas dua SD yang menangkap tuyul tersebut menerangkan, kedatangannya ke rumah Adi hanyalah untuk menangkap tuyul tersebut. “Aku disuruh ke sini, karena dibilang ada tuyul yang sering mencari uang,” kata Rindi anak kedua dari empat bersaudara yang tinggal bersama kakeknya di Jalan Pattimura ini.

Rindi menceritakan, sebelumnya pada Minggu (25/3) sekitar pukul 15.00 WIB ia sudah datang ke rumah Adi dan berhasil menangkap satu tuyul dari kamar Adi. Tepatnya di samping lemari tuyul tersebut sedang berdiam diri dengan sosok sebesar jari kelingking yang hanya menggunakan celana pendek saja. Kemudian Rindi menaburkan garam ke arah tuyul tersebut dan selanjutnya Rindi menangkapnya dengan cara mencengkram selanjutnya dimasukkan ke botol. Esoknya Senin (26/3) sekitar pukul 15.15 WIB Rindi kembali datang ke rumah Adi dan berhasil menemukan tuyul yang sedang berada di kamar mandi.

Dengan cara yang sama, tuyul tersebut pun kembali dimasukkan ke dalam botol yang berbeda. “Mereka tidak melawan karena sudah kita taburi dengan garam,” katanya. Kata Rindi, dia tidak dapat berkomunikasi dengan tuyul tersebut. Ia hanya bisa melihat dan menangkapnya. Soal siapa empunya tuyul tersebut, kata Rindi tidak mengetahui siapa.

Sementara, saat ditanya dikemanakan nantinya tuyul tersebut Rindi mengatakan, sesuai kesepakatan dengan Adi kalau mau dibuang ke hutan atau ke sungai. Rindi mengaku sejak kecil ia sudah bisa melihat mahluk dunia lain itu, walaupun demikian ia mengaku tidak takut jika melihat sosok mahluk gaib tersebut. Sementara itu, Adi selaku pemilik rumah tempat di mana ditemukan dua sosok tuyul tersebut membenarkan bahwa ia meminta bantuan kepada Rindi untuk mencari keberadaan mahluk gaib dalam rumahnya.

“Beberapa hari terakhir ini aku sering kehilangan uang, bahkan dalam satu minggu mau lima kali. Kemarin baru saja aku pulang mengambil uang dari bank. Dan aku ingat betul jumlah uang yang berada dalam dompetku. Namun tidak beberapa lama tiba di rumah, aku melihat uang di dalam dompetku sudah berkurang,” kata Adi yang juga Kepala Lingkungan I Jalan Pattimura Ujung itu. Lelaki yang memiliki usaha warung kelontong di rumahnya ini menceritakan, selain uang di dompet , dalam kamar juga sering hilang.

Padahal menurut dia penghuni rumahnya hanya tiga orang. Sehingga ia tidak habis pikir atas kehilangan uang dan bila dijumlahkan keselurahnnya mencapai jutaan rupiah. Akibatnya ia curiga ada mahluk lain, seperti tuyul berada di rumahnya. Selanjutnya ia bertemu dengan seorang warganya bernama Eko dan menceritakan atas apa yang dialaminya. Eko yang mengetahui bahwa familinya bernama Rindi bisa melihat dan mendengar pernah menangkap tuyul, selanjutnya menyarakan kepada Adi supaya meminta bantuan Rindi.

Akhirnya Rindi datang ke rumahnya menangkap tuyul tersebut. Walau saat itu hujan turun, tidak membuat orang yang mendengar kabar tersebut berdatangan menerobos hujan hanya untuk melihat tuyul yang berada di dalam botol berwana putih sebesar botol bir tersebut. Akan tetapi bagi warga yang belakangan datang, harus menahan rasa penasarannya, sebab botol tersebut sudah disimpan dan tidak ditunjukkan lagi.

Sementara warga yang masih bertahan di lokasi berganti-gantian melihat tuyul dan difoto menggunakan ponsel. Salah seorang warga Dina Purba (28) warga setempat yang mendapat foto bayangan tuyul tersebut kepada METRO mengatakan, awalnya ia tidak percaya atas apa yang dibicarakan warga. “Tadi pas aku keluar sama Mama belanja, kami mendengar tuyul ditangkap. Makanya kami langsung kemari,” ujarnya.

Sambil menunjukan bayangan tuyul hasil foto lewat ponsel kepada warga yang berdatangan, Dina mengatakan bahwa ia percaya atas keberadaan mahluk gaib tersebut dan tidak takut. Lokasi rumah Adi berangsur-angsur mulai sepi karena warga sudah berpulangan. Sementara itu Adi mengaku berterima kasih setelah tuyul yang berada di dalam rumahnya sudah ditangkap. (mag-1)

Pemkab Simalungun Tambah Pasar Tradisional di Sondi Raya

Wilson ManihurukWilson ManihurukRAYA- Tahun ini, Pemkab Simalungun akan membangun pasar tradisional baru di Nagori Sondiraya Kecamatan Raya. Di Sondiraya Pasar akan dibangun 20 unit kios dan dua los dengan total biaya Rp800 juta. Dana pembangunan berasal dari Kementerian Koperasi dan UKM.

Sekretaris Dinas Koperasi Pemkab Simalungun Magdalena br Purba di ruangannya, Selasa (27/3), menyebutkan, di Nagori Sondiraya Kecamatan Raya tahun ini akan dibangun pasar tradisional. Dana pembanguan sebesar Rp800 juta berasal dari Kementerian Koperasi dan UKM.

Dia mengatakan, mulanya sesuai rencana dari Kementerian Koperasi dan UKM, dana Rp800 juta ini direncanakan membangun pasar tradisional di Pasar Saribu Dolok Kecamatan Silimakuta. Lokasi pembangunan di lokasi Sub Terminal Agrobisnis (STA) Saribu Dolok. Namun sesuai rencana Bappeda Simalungun, di lokasi ini akan dibangun pasar tradisional yang lebih moderen.

“STA Saribu Dolok mau diruislag atau tukar guling, disana mau dibangun pasar tradisional yang lebih moderen, informasinya dari Bappeda. Itulah alasan pemindahan dari Saribu Dolok ke Sondi Raya,” jelasnya lagi.

Magdalena mengatakan, lokasi pembangunan pasar tradisional direncanakan di eks Kantor Pangulu Sondi Raya atau berada persis di depan Masjid Ilham Nagori Sondi Raya. Sebagai bukti keseriusan, Minggu lalu, mereka telah melengkapi semua berkas yang diperlukan dan telah dikirimkan ke Kementerian Koperasi dan UKM di Jakarta.

“Berkas administrasi permintaan pemindahan pasar telah dikirim lagi ke Kementerian Koperasi dan UKM. Memang sampai sekarang, belum kita terima balasannya,” jelasnnya lagi. Pengakuan Magdalena, sebelum surat permintaan pemindahan dikirim, tim survei dari Dinas Koperasi dan UKM Pempropsu serta Asisten Deputi Kementerian Koperasi Urusan Sarana Prasarana serta Pemasaran, telah berkunjung ke Nagori Sondi Raya, Rabu (21/3) lalu. “Mereka bilang, pasar tradisional layak dibangun di Sondi Raya,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, dana Rp800 juta, sebenarnya tidak besar, masih tergolong kecil. Diantara kabupaten/kota di Sumatera Utara yang mengajukan bantuan ke pemerintah pusat, hanya Kabupaten Simalungun yang diakomodir. Magdalena menambahkan, dana Rp800 juta ini akan digunakan membangun 20 kios ukuran 3x3 meter serta dua unit los ukuran 10x20 meter. “Tahun ini pasti dibangun, uangnya sudah ada. Kalau kapan dikerjakan, belum bisa dipastikan. Tergantung keputusan Kementerian Koperasi dan UKM,” jelasnya. (ral)http://www.metrosiantar.com

Pemekaran Simalungun Masih Dievaluasi Gubsu

RAYA-Berkas asli pemekaran Kabupaten Simalungun masih dievaluasi Plt Gubernur Gatot Pujo Nugroho. Seminggu lalu, berkas asli pemekaran telah dikirimkan Bagian Pemerintahan ke Gubernur dan Biro Otda Sumatera Utara.

Kabag Tata Pemerintahan, Rizal AP Saragih, Senin (26/3) menyebutkan, hingga hari ini belum ada pemberitahuan Pemprovsu ke Pemkab terkait persetujuan Gubernur untuk pemekaran Kabupaten Simalungun. Berkas pemekaran masih dievaluasi Plt Gubernur Gatot Pujo Nugroho.

“Kita terus koordinasi dengan Ajudan Gubernur dan Biro Otda Sumut. Mungkin masih dievaluasi sama Gubernur. Bundelan berkas asli pemekaran sudah kita kirimkan ke Gubsu melalui Ajudan. Tembusan ke Biro Otda Sumut juga sudah kita berikan minggu lalu,” jelasnya.

Menurut Rizal, sesuai PP 78 Tahun 2007 tentang Pemekaran Daerah, jika persetujuan pemekaran Kabupaten Simalungun sudah disetujui Gubsu, maka Gubsu akan berkoordinasi dengan DPRD Sumatera Utara melaksanakan rapat paripurna. Selanjutnya, hasil rapat paripurna akan disampaikan Gubsu ke Kementerian Dalam Negeri dan Komisi II DPR RI di Jakarta. Kapasitas pemkab dalam hal ini, menerima tembusan atau pemberitahuan dari Pemprovsu.

 “Selama ini berkas yang banyak kurang itu kan dari Pemprovsu. Kalau kita yang kurang hanya dua, kajian daerah dan peta wilayah. Kedua berkas yang kurang sudah kita lengkapi dan berikan ke Pemprovsu. Kalau pemkab sudah tidak ada masalah lagi,” katanya lagi. Tambah Rizal, kekurangan berkas dari dua lembaga ini, antara lain persetujuan nama kabupaten pemekaran, biaya dua tahun berturut-turut untuk kabupaten pemekaran, biaya pilkada pertama kali, serta pengalihan PNS Pemprovsu yang berkantor di Simalungun kepada kabupaten pemekaran.(ral)(http://www.metrosiantar.com)

Ucapan Deklarasi EHAMSI

Foto-foto Dari FB EHAMSI

Deklarasi EHAMSI Menuju Perubahan Simalungun


Bertempat di Restoran Kenanga Jl. Jamin Ginting Medan (24/3/12), dihadiri oleh ratusan orang warga masyarakat Simalungun, Lembaga Ehamsi yang pada awalnya hanyalah sebuah komunitas dunia maya dalam grup facebook secara resmi Dideklarasikan menjadi sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang akan bergerak dalam melakukan pendampingan masyarakat khususnya masyarakat Simalungun, melalui pemberdayaan SDM yang dimiliki oleh masyarakat Simalungun untuk ikut serta dalam menunjang Pembangunan Nasional utamanya Pembangunan Daerah Simalungun.

Jalpen Sipayung mewakili Badan Pengawas dan Badan Penasehat Lembaga Ehamsi dalam pidato sambutan Deklarasi yang dibacakan oleh Jhon Sari Haloho, SH, MM, menyatakan bahwa Komunitas Facebook Ehamsi yang selama ini mendengungkan ideologi komunal Simalungun “Habonaron Do Bona serta Sapangambei Manoktok Hitei” ternyata bukan hanaya slogan dan kata-kata indah penghias status (postingan), namun dirasakan masih sangat kuat untuk membangun solidaritas meskipun kita belum pantas berpuas diri, karena masih jauh dari makna yang sesungguhnya.

Namun untuk merealisasikan segalanya beberapa orang anggota komunitas facebook Ehamsi yang mempunyai nilai Ahap Simalungun telah membangun berdirinya satu Lembaga Ehamsi yang kita Deklarasikan pada hari ini dimana nantinya kita harapkan dapat menyalurkan minat sebagaiman motto “Siparutang Do Ahu Bani Simalungun”. Untuk itu saya berpesan “Untuk Pembangunan Simalungun agar Sekecil apapun bhakti nyata, maka Ehamsi haruslah berbuat.

Ketua Umum DPP.Lembaga Ehamsi Sarmulia Sinaga, ST, MT dalam pidato sambutannya manegaskan bahwa melalui Lembaga Ehamsi maka Simalungun kedepan menjadi milik mereka-mereka yang memiliki “Ahap Simalungun” yang jauh dari sekat-sekat pemisah yang dapat merugikan kita secara pribadi maupun secara bersama.

Sekretaris Jendral DPP.Lembaga Ehamsi Joe Frizer Sipayung pada saat menyampaikan pemaparan sejarah berdirinya Ehamsi menguraikan bahwa adapun grup Ehamsi ini awalnya terbentuk pada Maret 2010, dengan dibukanya Facebook Grup Ehamsi oleh Nosa Turnip seorang warga masyarakat Simalungun yang berdomisili di Surabaya, hingga akhirnya atas dukungan seluruh anggota facebook Ehamsi maka pada tanggal 1Februari 2012 secara resmi terbentuklah Lembaga Ehamsi berwujud LSM dengan legal standing yang berbadan hukum dalam Akte Notaris.

Turut memberikan Kata sambutan pada acara Deklarasi Lembaga Ehamsi antara lain Santra Girsang mewakili undangan dari komunitas Forhidos (Forum Hijau Dolok Sipiso-piso) serta Badan Penasehat Lembaga Ehamsi lainnya seperti Karel Girsang Tokoh Masyarakat Simalungun yang berdomisili di New York yang meluangkan waktu jauh-jauh dating ke kota Medan untuk mengahdiri acara Deklarasi Lembaga Ehamsi.

Dihadapan segenap jajaran pengurus DPP. Lembaga Ehamsi yang juga dihadiri oleh Ketua dan Wakil Ketua DPD.Lembaga Ehamsi Jabodetabek yakni Ditan Samosir, dan Juniardi Saragih , pada puncak acara Deklarasi tersebut diantara undangan yang hadir adalah anggota DPRD Simalungun Edi Irianto Sipayung, S.Pd yang didaulat untuk memberikan Bendera pataka Lembaga Ehamsi yang diterima oleh Sarmulia Sinaga, ST, MT sebagai Ketua Umum Lembaga Ehamsi, dan dirangkai dengan penyematan Logo/PIN Lembaga Ehamsi secara simbolis kepada jajaran pimpnan DPP.Lembaga Ehamsi ditambah DPD.Lembaga Ehamsi Jabodetabek yang disematkan secara bergantian oleh Karel Girsang, Jhon Sari Haloho, Edi Irianto Sipayung, S.Pd, dan Santra Girsang (Forhidos).

Acara Deklarasi Lembaga Ehamsi disiapkan oleh jajaran Panitia yang diketuai oleh Eddy Rusman Girasang, S.Sos ditampilkan dengan dipandu secara protokoler oleh Pdt.Paruhum Tampubolon, M.Th, M.Mis dan Rio Dani Damanik , menghasilkan acara yang sangat hikmad didahuli dengan Lagu kebangsaan Indonesia Raya Nasional yang dibawakan oleh paduan Suara Pemuda GKPS menteng dan juga diisi dengan hiburan yang menampilkan tor-tor somba yang dibawakan oleh penari dari Ikatan Mahasiswa USU, Pada selal-sela acara tampil juga artis – artis Simalungun diantaranya Jhon Elyaman Saragih, Jhon Kardo Purba dan Prawika Purba yang dapat menghibur para undangan dengan lagu-lagu Pop Simalungun.

Adapun jajaran pengurus DPP. Lembaga Ehamsi yang telah terbentuk adalah ;Sarmulia Sinaga, ST, MT (Ketua), Edisman Purba, SH, IR.Rawelson Situmorang, Andi Purba Sidadolog, SE (Wakil Ketua), Joe Frizer Sipayung, SE (Sekjend), Hendry Damanik, S.Pd (Wasekjend), Rebekka Ratna Heriani Purba (Bendahara), Idha Mastharia Sumbayak, SKM (Wakil Bendahara), Eddy Rusman Girsang, S.Sos (Dir.Eksekutif/Ka.Ops), Biston Haloho, SH (Dept.Advokasi Hukum).

ST (Dept.Hub.Lembaga), Edwin J. Putra Sipayung, A.Md (Humas), Pdt.Paruhuman Tampubolon (Div.Bid.Pemb.Kristen), Abdul Rizal Saragih (Div.Bid.Pemb.Islam), Rio F Girsang, SH (Div.Hukum & HAM), Cahaya Purba, SE (Div.Parawisata), Rio Dani Damanik (Div.Seni Budaya), Karsima Sipayung, SE (Div.Perlindungan Perempuan & Anak) Mulia Aman Purba, SE (Div.Ekonomi), Prianti Purba, S.Pd, Arie Jackson Sinaga, SKM (Div.Pendidikan), Ricardo Saragih (Div.Pemuda), Guntur Sipayung (Div.Mahasiswa).
Medan, 24 Maret 2012.DPP. Lembag Ehamsi;Dto,Sarmulia Sinaga , ST, MT.(Ketua Umum)Dto,Joe Frizer Sipayung, SE.(Sekretaris Jenderal). (http://www.sipituhuta.com)

Fotofoto Facebook EHAMSI

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba
Sakit Bertahun Tanpa Pelayanan Medis

Sapu Bersih Rencana Gubsu Soal Wisata Halal Syariah di Kawasan Danau Toba

Sapu Bersih Rencana Gubsu Soal Wisata Halal Syariah di Kawasan Danau Toba
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Andaliman, Rempah Batak Yang Mendunia

Andaliman, Rempah Batak Yang Mendunia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

St Adriani Heriaty Sinaga SH MH (Srikandi Simalungun) Itu Purna Bakti

St Adriani Heriaty Sinaga SH MH (Srikandi Simalungun) Itu Purna Bakti
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya


MIRACLE "TINUKTUK" SAMBAL REMPAH KHAS SIMALUNGUN

MIRACLE "TINUKTUK" SAMBAL REMPAH KHAS SIMALUNGUN
PESAN: MIRACLE'TINUKTUK WA: 081269275555

Catatan Paska Konser Jhon Eliaman Saragih

Catatan Paska Konser Jhon Eliaman Saragih
TMII Jakarta Sabtu 4 November 2017.KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Berita Lainnya

.

.
.