Junimart Girsang: Masa Remaja di Antara Bola, Parit, dan Kenakalan yang Membentuk Diri

Foto IST

Di Sidikalang yang dingin dan berkabut, masa kecil Junimart Girsang tidak diisi dengan kemewahan. Ia lahir di Medan pada 3 Juni 1963. Namun rumah masa kecilnya bukan di sana. Baru berusia 3 minggu, bayi mungil itu sudah dibawa orangtuanya pindah tugas dari Medan ke Sidikalang.

Di kota pegunungan Dairi itulah ia tumbuh besar, ditempa oleh disiplin dan kesederhanaan. Halaman Gedung Nasional menjadi lapangan bolanya. Parit-parit kota menjadi kolam mandinya.

Setiap sore, ia bersama abangnya, Juniver Girsang yang kini dikenal sebagai pengacara tersohor, melakukan “manghallung”. Mereka mengais sisa nasi dan limbah dari rumah makan untuk pakan babi peliharaan keluarga. Dari hal-hal kecil itulah Junimart belajar arti kerja dan tanggung jawab sejak dini.


Namun di balik bocah pekerja keras itu, ada jiwa yang bergejolak. Junimart kecil mengaku dirinya bandel. Ia sering berkelahi dengan teman sebaya. Ia juga cerdik, terlalu cerdik untuk ukuran anak seusianya. Ibunya, Rosdiana Tamuhur boru Munthe bergelar Ompu Margareth, adalah seorang bidan.
Baca: Junimart Girsang Terima Penganugerahan Guru Besar dan Pengukuhan Gelar Profesor 

Suatu kali Junimart diam-diam membuat tanda di buku pasien ibunya. Lalu ia menarik tagihan ke beberapa toko di Sidikalang tanpa sepengetahuan sang ibu. Keluarga pasien mengklaim sudah membayar kepada “anak yang botak itu”, padahal pengobatan belum tuntas.

Kejadian itu membuat sang ibu pusing dan menjadi pelajaran mahal bagi Junimart. Kenakalan itu beberapa kali mengundang hukuman. Junimart pernah dihukum dan memilih kabur dari rumah.

Ada pula cerita tentang uang abangnya Juniver yang sering hilang dari lemari. Awalnya semua curiga. Sampai suatu hari, “serpet” atau kain lap milik Juniver tertinggal di laci berisi uang. Rahasia pun terbongkar.

Ironisnya, dari tiga bersaudara, Junimart justru yang paling lihai soal uang. Juniver dikenal paling rajin. Sementara abang tertua mereka, Dr. Waldensius Girsang, tumbuh paling lembut.

Waldensius kecil dimanja karena rajin belajar. Kebaikannya terbukti saat berkarir sebagai dokter mata. Ia bahkan sering melayani pasien tanpa pamrih sambil diiringi nyanyian rohani.

Sejak duduk di bangku SD Teladan Sidikalang, Junimart sudah menunjukkan bakatnya di atas panggung. Suaranya lantang dan penghayatannya kuat. Ia sering dipercaya tampil berduet dengan sahabatnya, Pargaulan Marbun.

Keduanya kerap mengisi acara menyambut 17 Agustusan di lingkungan sekolah dan masyarakat. Dari panggung sederhana itulah keberanian Junimart tampil di depan umum pertama kali ditempa. Mental itu kelak mengantarnya berbicara di mimbar hukum, di gedung parlemen, hingga di forum diplomatik internasional.

Hingga kini ia masih menyukai menyanyi. “Hobby politisi, profesi menyanyi,” kerap ia bercanda. Jejak pendidikannya berlanjut ke SMP Negeri 1 Sidikalang. Di dua sekolah itulah ia belajar bukan dari kemewahan, tetapi dari kerja keras. Masa SD dan SMP di Sidikalang menjadi fondasi karakternya: sederhana, mandiri, dan berani.

Junimart berbeda dengan saudara-saudaranya. “Kalau saya, berantem aja,” katanya kemudian dengan tawa getir. Namun di balik kenakalan itu ada keberanian yang tidak dimiliki abang-abangnya. Keberanian untuk bertahan dan mencari jalan sendiri.

Di usia 14 tahun, ia memutuskan merantau ke Bandung. Kota kembang itu menjadi sekolah jalanan pertamanya. Untuk bertahan hidup, ia mengamen dari satu sudut ke sudut lain. Ia juga menjadi penyanyi pengganti di salah satu restoran papan atas di kawasan Dago. Dago saat itu adalah pusat anak muda Bandung.

Tak berhenti di situ, ia pernah bekerja sebagai kenek Honda, sebutan untuk angkot. Ia mengangkat penumpang dan berteriak menawarkan jurusan.

Dari aspal, ia belajar kerasnya hidup. Dari panggung restoran hingga jok belakang angkot, mentalnya ditempa. Di Bandung ia melanjutkan SMA di Lembaga Pendidikan Sekolah Kristen, LPSK, Jalan Ambon.

Masa remajanya tidak selalu mulus. Karena sikapnya yang keras dan berani melawan guru serta direktur sekolah, ia dikeluarkan setelah sebelas bulan.

Junimart Girsang masa muda. (IST)

Bagi sebagian anak, dikeluarkan adalah stigma. Bagi Junimart, itu pelajaran pertama tentang konsekuensi. Ia kemudian melanjutkan ke SMAK BPPK Jalan Kebonjati Bandung dan berhasil menamatkan sekolahnya.

Dari peristiwa itu ia belajar bahwa keberanian tanpa arah bisa menjatuhkan, tetapi keberanian yang ditempa disiplin bisa mengangkat. Setelah lulus SMA, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Unpar.

Di usia remaja, ayahnya telah tiada. Tapi nasihat tentang kemandirian melekat kuat. Kini perjalanan itu membawanya jauh: dari pengacara, menjadi anggota DPR, hingga dipercaya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Italia, Malta, San Marino, dan Siprus, plus empat organisasi internasional.

Hidupnya bertumpu pada tiga kata: “Komitmen, Konsisten, Konsekuen.” Ia juga berpegang pada dua ayat, Ulangan 28:13 dan Ulangan 31:8, serta falsafah Batak “Namora na boi daion” dan “Otik alai tonggi”.

Kenakalan Junimart di Sidikalang dulu adalah bara. Dan bara itulah yang kemudian menyalakan api pengabdian yang panjang, dari parit-parit Sidikalang hingga meja diplomasi dunia. (FB-Hojot Marluga) 

0 Komentar

 





 


 



https://linktr.ee/asenkleesaragih