Info Terkini

10/recent/ticker-posts

KOMPONIS DARI LINGKUNGAN KERAJAAN

Menna Purba Sigumonrong, salah satu personel Group Nalaingan.FT IST

Taralamsyah tergolong orang beruntung walau ia mungkin tidak tahu siapa saja saudara saudari kandungnya. Dia lahir dari lingkungan Kerajaan Raya dimana para raja memiliki banyak putra-putra dari sejumlah istri resmi.

Raja Rondahaim (1831 – 1889), bernama asli Tuan Namabisang, adalah kakek kandungnya yang merupakan salah satu raja terkenal di Simalungun. Dia adalah salah satu raja di Simalungun yang paling banyak dibicarakan. Konon, dia pernah
menaklukkan pasukan Sisingamangaraja XII.

Rondahaim yang berkuasa sebagai raja periode 1857 – 1889 memiliki sebanyak 54 putra dan putri. Penerus kekuasaan Rondahaim adalah putra tertuanya, Tuan Sumayan (1859 – 1932), bernama asli Tuan Hapoltakan. Dialah ayah kandung Taralamsyah.

Dari sebanyak 60 istri, Tuan Sumayan yang berkuasa periode 1889 – 1932, memiliki 40 putra putri.
Tuan Sumayan menurunkan Tuan Gomok (1879 – 1940) yang menggantikannya sebagai Raja Raya, abang kandung Taralamsyah. Di urutan ke-10 anak Tuan Sumayah adalah Tuan Jan Kaduk, yang menurunkan Bill Saragih, seorang penyanyi jazz terkenal dekade 1980-an dan 1990-an.

Tuan Kaduk menjadi Raja Raya setelah abangnya Tuan Gomok wafat tahun 1940.
Tuan Taralamsyah, demikian dia dipanggil karena merupakan keturunan raja, ada di urutan ke-24 sebagai anak Tuan Sumayan. Taralamsyah kelahiran Pematangraya, 18 Agustus 1918, benar-benar mengenal kental dan menjadi saksi dari dalam lingkungan kerajaan itu sendiri.

Sebelum wafat pada 1 Maret 1993 di Jambi, karena dia hijrah – suami dari Siti Mayun Siregar ini menuliskan sendiri riwayat hidupnya dengan mesin ketik. Dia menuliskan nama tiga putra dan Sembilan putrinya.

Dia juga meninggalkan catatan lain. “Sebagai anak seorang raja, diharuskan menguasai permainan musik Simalungun di Istana Raya dan dididik secara tradisi bidang senimusik Simalungun,” demikian Taralamsyah yang menuliskan sendiri kisahnya.

Belajar musik adalah salah satu kewajiban di kerajaan, yang memiliki kebiasaan rutin mengajarkan seni di lingkungan sendiri. Hal ini juga menjadi kebiasaan umum di berbagai lingkungan kerjaaan walau secara otodidak rakyat biasa juga mendalaminya. Ini disebabkan setiap acara kerajaan tidak pernah luput dari acara-acara musikal.

Akan tetapi Taralamsyah sedikit beruntung dengan lingkungannya itu. Bakat alamiah sudah ada pada dirinya. “Muncul istilah di kerajaan, begitu terlahir ke bumi ini keturunan raja sudah bisa benyanyi,” demikian Edy Taralamsyah memberi perumpamaan tentang musik yang menjadi salah satu tradisi utama di kerajaan.

Penajaman kemampuan musikal juga dimungkinkan karena selalu ada guru yang pintar untuk mengajari. Menurut Taralamsyah, dia belajar musik khususnya permainan biola dari guru musik bernama J.K Saragih, singkatan dari Jan Kaduk Saragih.

Jan Kaduk ini adalah abang kandungnya sendiri dengan beda usia 19 tahun. Jan Kaduk adalah juga pemangku jabatan Raja Raya dan meninggal di usia 47 tahun saat tewas di tangan pasukan revolusioner pada 3 Maret 1946, sebagaimana dituliskan di blog pribadi Saridin Purba, menantu kandung Jan Kaduk.
Ada banyak kader-kader musik yang dibina di lingkungan kerajaan. Jan Kaduk adalah guru yang disiplin soal musik. “Jika kita malas-malasan, kita bisa dicambuk,” kata Enna Saragih Garingging, adek kandung Bill Saragih.

Berita Lainnya

Post a Comment

0 Comments