DAPATKAN BUKU & CD TARALAMSYAH SARAGIH

DAPATKAN BUKU & CD TARALAMSYAH SARAGIH
KLIK BENNER UNTUK SELENGKAPNYA

MENUJU WALIKOTA SIANTAR 2015

MENUJU WALIKOTA SIANTAR 2015
MOHON DUKUNGAN

Trending Topic

Latest Post

BERBUAT DARI APA YANG KITA BISA (Dukung Sapna Sitopu di Mamamia Indosiar)

Written By Berita Simalungun on Jumat, 28 November 2014 | 17.35

Foto Oleh Sultan Saragih II
"Mar lereng (sepeda) ma au ambia marlajar pakon hasoman ase hu botoh mar-flut, mar-piano, sonai age mar-arkodian" (Taralamsyah)
Sembari membaca buku dan mengenang salah seorang maestro seni simalungun, Taralamsyah, aku juga melihat perjuangan seorang perempuan simalungun.
Aku akan berusaha sesuai dengan kemampuan ku, untuk terus mendukung Sapna Sitopu dalam upaya melestarikan "Inggou Simalungun". Senin lalu (24/11) ia baru saja wisuda S2 dari fak. etnomusikologi USU dengan thesis tentang Inggou turi turian simalungun, dalam keyakinan nya ia akan tetap berusaha menempuh S3. Sebagai dosen etnomusikologi, ia mencurahkan pengabdian di bidang penelitian akademis.
Bulan Mei, aku mengunjungi penyanyi lama simalungun yang masih memiliki kekuatan inggou, yaitu Lina Damanik di Sondi Raya. Ia mengalami masa keemasan sebagai artis penyanyi hingga menghasilkan 6 album, lalu berakhir tahun 1978.
Ia mendengar lagu Taralamsyah yang dibawakan generasi muda sekarang sudah jauh dari keaslian "inggou sapari" sehingga kehilangan karakter lagu. Mereka membuat kreasi terhadap lagu Taralamsyah, tapi tidak mencermati khas "inggou sapari" yang menurutnya sangat berpengaruh pada penyampaian makna. Generasi muda penyanyi dan pencipta lagu simalungun, sebaiknya mereka mau kembali menelusuri dan mempelajari inggou simalungun.
Taralamsyah mengalami masa surut, ia kehilangan ekspresi simalungun nya (vakum) pada masa revolusi 1945 - 1950, juga 20 tahun meninggalkan ekspresi simalungun nya karena harus bekerja dan pindah ke Jambi. Salah satu kenangan terbaiknya adalah Orkes Na Laingan dan banyak arsip lagu simalungun dan 20 an tor tor simalungun.
Kini siapa kah yang akan melanjutkan kekuatan "Inggou Simalungun" milik nenek moyang kita simalungun ini ? Sudahkah saat nya hilang dari kehidupan masyarakat kita ?
Dengan rendah hati, Sapna Sitopu melakukan manuver dengan mengikuti Mamamia Indosiar, kini berhasil memasuki tahap 6 BESAR. Dalam visi kami, ini adalah bagian dari menyusun kekuatan untuk mendapatkan "branding", tenaga penopang untuk mengangkat kembali "inggou simalungun".
Berbuat apa yang kita bisa, 
mohon bantuan
Jumat, 28 Nov pukul 18.00 di Indosiar 
Dukung dengan ketik MAMAMIA OCHA ke 7288

Terima kasih atas dukungan visi bersama.

Monang Saragih SH "Orasi Ilmiah" Mengenai Sarjana yang Sujana

St Monang Saragih SH (paling kiri)


[Foto Atas] 27/11-2014, Presdir Radio Mora FM Nusantara St Monang Saragih SH sedang memberikan ceramah "Orasi Ilmiah" mengenai Sarjana yang Sujana kepada Wisudawan/i Sarjana & Ahli Madya STIMIK-IM & STIE STAN-IM Tahun Akademik 2013/2014 di Balai Sartika (Bikasoga), Kota Bandung

[Foto Bawah] 27/11-2014, Sesi penyerahan Penghargaan dari Ketua Yayasan Indonesia Mandiri, Ferdian Ritonga, SE., M.Ak kepada Direktur Utama PT. Radio Mora Parna Karsa (Monang Saragih, SH) dan General Manager Yayasan Mora Peduli (Erwien Permadhie) di Gedung Bikasoga, Balai Sartika, Kota Bandung

Line Interaktif Radio Mora 88.50 FM Jabar: 022-87242765
SMS On Air: 022-87242765
Twitter: @radiomorafm
Streaming: www.radiomora.com
"The Law and Jurstice Station". (Radio MORA 88.50 FM Bandung)

Getolnya "Warung Dana GKPS Samosir" dalam Pencarian Dana Pembangunan GKPS Samosir

Ephorus GKPS Pdt Jaharianson Saragih.

BERITASIMALUNGUN.COM, Pematangsiantar-Ada suasana lain saat pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Seksi Bapa GKPS Se Indonesia di Balai Bolon GKPS Siantar, Sabtu-Minggu 22-23 November 2014 lalu. Tampak sebuah warung dadakan sebelah kanan Balai Bolon ramai dikunjungi peserta Pesparawi. Warung itu adalah milik Panitia GKPS Samosir yang getol mencari dana dengan kreatifitas dagangan dan penjualan kalender.

Mereka tak henti-hentinya berusaha dengan kreatifitas dalam mencari dana dengan memanfaatkan momen Pesparawi Seksi Bapa se GKPS. Perjuangan mereka patut diteladani karena dengan gigih dalam pencarian dana untuk pembangunan gereja tersebut. Ephorus GKPS Pdt Jaharianson Saragih juga mengapresiasi dan singgah di warung "Dana GKPS Samosir" tersebut.

Warung Dana GKPS Samosir tersebut cukup membantu para peserta dalam mengisi perut. Karena mereka menyediakan mulai dari Nasi Sanksank B1, Teh Manis, Talas (Suhat), Lappet, dan berbagai panagan lainnya.

FOTO SERBI PESPARAWI SEKSI BAPA GKPS SE INDONESIA


Warung "Dana GKPS Samosir"


SEJARAH BERDIRINYA GKPS PERSIAPAN SAMOSIR


Oleh Pdt Krosbin Saragih 



(Dalam Rangka Pesta Sukacita Pembangunan GKPS Pers. Samosir)
Bagian I
Suatu saat di suatu tempat di Parapat pada bulan Juni 2008 Panitia Pesta Perak GKPS Parapat bertemu dengan warga Simalungun (Martuah Sumbayak) yang berdomisili di Ambarita Samosir. Panitia Pesta Perak GKPS Parapat pun mengudang mereka untuk hadir pada perayaan Pesta Perak Tersebut. Pada saat Pesta Perak GKPS Parapat warga Simalungun yang berasal dari Ambarita diberikan kesempatan untuk kata sambutan. Pada kesempatan itu bapak Martuahman Sumbayak mengungkapkan kerinduan (sura-sura) mereka, “Supaya suatu Saat di suatu tempat di Pulau Samosir ada Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS)”.


Kebersamaan orang Simalungun melalui Pesta Perak GKPS Parapat menginspirasi Martuahman Sumbayak dan kawan-kawan (Jahod Diaman Purba, SE, pakon Pand Laya Sumbayak, ST.) untuk membentuk suatu komunitas orang Simalungun di Samosir. Hingga pada tahun 2009 penjajakan mereka terhadap warga-warga Simalungun di daerah Samosir pun dilakukan. Hubungan dengan GKPS Parapat tetap berlangsung, dan GKPS Parapat sebagai penghubung ke GKPS Resort Tiga Dolok. Setelah di rembukkan bersama maka Keputusan pun diambil untuk memulai komunitas warga Simalungun di Samosir.

Komunitas tersebut ditandai dengan membentuk Arisan. Didirikanlah Arisan/Kelompok Warga Simalungun yang bernama “TUMPUAN SAPANGAHAPAN SIMALUNGUN” SE-Kecamatan Simanindo. Arisan ini diresmikan pada hari Sabtu, 29 Desember 2009, di Sosor Galung – Tuk-tuk di Rumah Pa Purnama Siallagan.

Peresmian Arisan ini dihadiri oleh Pdt. Jhon Hermansyah Damanik,MM; Penginjil R br Purba dan rombongannya, dari GKPS Resort Tiga Dolok. Pengurus Komunitas Arisan “TUMPUAN SAPANGAHAPAN SIMALUNGUN” ini pun akhirnya dipilih, Ketua: bp Martuahman Sumbayak ; Sekretaris: Pa Arif Purba; Bendahara: Asni Sirait. Semua anggota pada waktu itu berjumlah 15 KK yang berbeda latar belakang gereja.

Sepanjang tahun 2010 sampai dengan tahun 2011 arisan “TUMPUAN SAPANGAHAPAN SIMALUNGUN” ini berjalan dengan baik yang dilaksanakan satu kali satu bulan.

Di pihak yang sama dalam rangka perluasan peta pelayanan GKPS ke pulau Samosir, maka Pimpinan Pusat GKPS menugaskan Penginjil Drs. Krisman Sipayung yang akrab disapa dengan Evangelis, untuk melayani warga Simalungun yang ada di Ambarita. Maka pada Tanggal, 03 Agustus 2011 Evangelis ini datang berkunjung ke Samosir dan sejak saat itu Arisan TUMPUAN SAPANGAHAPAN SIMALUNGUN” ini melaksanakan Kebaktian Minggu berbahasa Simalungun setiap bulan dipimpin oleh Pengijil Drs. Krisman Sipayung.

Kurang lebih dua tahun setelah, “TUMPUAN SAPANGAHAPAN SIMALUNGUN” ini terbentuk, keanggotaan telah bertambah menjadi 25 KK. Atas dasar kebersamaan komunitas maka direncanakanlah Pesta Sukacita perdana, Marsombuh Sihol warga Simalungun se-Kabupaten Samosir. Di HOTEL SIBIGO milik Pa Dyta Sidabutar/br Malau yang selama ini dijadikan tempat setiap kali ada Rapat tentang Marsombuh sihol ini.
Pesta Marsombuh sihol tersebut dapat berlangsung dengan baik, pada tanggal 08 Desember 2011, yang dihadiri oleh warga Simalungun yang berada di sembilan (9) Kecamatan se-Kabupaten Samosir. juga hadir Pimpinan Daerah yakni Bupati Samosir, Kapolres beserta jajaranya. Demikian juga Jemaat GKPS se-Resort Tiga Dolok yang berpartisipasi aktif pada acara tersebut. Tujuan utama kegiatan ini dilaksanakan adalah sebagai wacana untuk membangun “Parmingguan” GKPS di Samosir.

PANITIA PESTA MARSOMBUH SIHOL WARGA SIMALUNGUN SE-KABUPATEN SAMOSIR ketika itu adalah:
Ketua Umum : Ayong Purba,Msi
Sekretaris Umum : Agnes Br.Tamba
Bendahara Umum : dr.Nimpan Karokaro
Ketua Pelaksana : Marikan Purba
Sekretaris Pelaksana : Jahod Diaman Purba
Bendahara Pelaksana : Asni Br. Sirait
Setelah Pesta Marsombuh Sihol, warga Simalungun se-Kabupaten Samosir, belum dapat mewujudkan kerinduan untuk melaksanakan Parmingguon seperti harapan semula. Tetapi “TUMPUAN SAPANGAHAPAN SIMALUNGUN” tetap berjalan sekali sebulan seperti sedia kala.

Percaya bahwa ada Tuhan yang mengendalikan sejarah, maka tidak secara kebetulan jika pada tanggal 10 Juni 2012 Panitia Sudirman Cup bertemu dengan Ketua Tumpuan Sapangahapan Simalungun di Hotel King- Ambarita kecamatan Simanindo. Rombongan Panitia Sudirman Cup yang adalah panitia pertandingan Sepakbola, Volly, dalam rangka kegiatan seksi bapa GKPS untuk Siantar dan sekitarnya dibawah naungan seksi Bapa GKPS jl. Jend. Sudirman Pematang Siantar. 

Dalam pertemuan tersebut tercetus kembali harapan dan kerinduan warga Simalungun yang ada di pulau Samosir untuk mengadakan Parmingguan GKPS. Maka rombongan Sudirman Cup memberi respon positif, dan dengan spontan langsung memberikan seperangkat sarana ibadah, antara lain: Agenda bahasa Simalungun, Bibel dan buku Doding Simalungun dan juga uang tunai peruntukan kas tumpuan, sebagai dukungan nyata atas kerinduan warga Simalungun tersebut.

Panitia Sudirman Cup segera menindaklanjuti pertemuan dengan Warga Simalungun di Samosir dengan melaporkannya kepada Pengurus Seksi Bapa GKPS Sudirman. Maka pada tanggal 21 Juli 2012 pertemuan kembali dilakukan antara seksi bapa GKPS jln Sudirman Pematang Siantar bersama dengan Panitia Sudirman Cup bertemu dengan Bp M. Sumbayak sebagai Ketua “Tumpuan Sapangahapan Simalungun”. Rombongan seksi bapa Sudirman, yang terdiri dari Ketua seksi bapa yakni Bp St Bistok Saragih dengan St. Drs. Krisman Girsang sebgai Wkl. Ketua, St. Jan Riduan Sumbayak, SH Bendahara., St. Drs. AD. Damanik (Pembimbing), St. Ridwan Sipayung (Ketua Sektor-VIII), St. Dharma Purba, SH (Ketua Panitia), Sy. Jonner Damanik, SP (Sek.Panitia). 

Pada pertemuan kali ini mereka mengutarakan dan sangat mengharapkan agar seksi bapa GKPS Sudirman bersedia hadir ke Samosir untuk memberi masukan-masukan, penguatan/semangat kepada warga Simalungun yang berada di Pulau Samosir. Maka disepakatilah agar dilakukan pertemuan formal melalui kunjungan seksi Bapa GKPS Sudirman dengan seluruh anggota Tumpuan Sapangahapan Simalungun yang berada di Pulau Samosir pada tanggal 04 Agustus 2012 bertempat di Hotel Sibigo Tuktuk.

Sesuai dengan kesepakatan tersebut maka pada tanggal 04 Agustus 2012, Seksi bapa GKPS Sudirman berangkat ke Samosir. Berbekal dengan Surat permohonan dari Pengurus “TUMPUAN SAPANGAHAPAN SIMALUNGUN” dan Surat Tugas dari Pimpinan Majelis Jemaat GKPS Sudirman, maka rombongan berangkat dari GKPS Sudirman jam 14.00 wib dengan terlebih dahulu berdoa di depan gedung gereja GKPS Sudirman. Rombongan seksi bapa GKPS Sudirman disambut dengan sangat antusias oleh warga Simalungun Samosir dengan hadirnya beberapa keluarga di dermaga/pelabuhan Hotel Sibigo Tuktuk Samosir.

Sekitar pukul 18.30 wib, dilaksanakan ibadah perenungan malam, yang di pimpin oleh Pdt Enida Girsang. Melalui ibadah ini seluruh jemaat dibawa untuk menghayati arti: Kebersamaan”, yang didasari melalui Teks Alkitab dari Matius 12: 46-50, yang menekankan bahwa setiap orang yang melakukan kehendak Tuhan adalah “Ibu” dan “Saudara” Yesus. Jadi keberadaan dan status semua orang percaya ntah dimanapun berada adalah “Bersaudara” . Semua adalah merupakan “keluarga Allah” yakni ibu dan saudara Yesus. Demikian jugalah persekutuan antara seksi bapa Sudirman dengan Keluarga Simalungun yang ada di pulau Samosir ini adalah satu dalam ikatan persaudaraan keluarga Tuhan.

Setelah selesai ibadah perenungan malam, maka acara diteruskan dengan jamuan makan malam bersama. Setelah selesai makan malam acara pun diteruskan dengan mengadakan diskusi/sharing dari hati ke hati, yang di pandu oleh bp St. Drs Krisman Girsang (Wkl Ketua seksi Bapa Sudirman). Melalui acara diskusi ini sangat terasa kerinduan yang begitu dalam dari keluarga Simalungun yang ada di Samosir akan adanya Kebaktian Minggu berbahasa Simalungun yang pada akhirnya nanti adanya gereja GKPS di Pulau Samosir.

Melalui diskusi ini juga terkesan akan adanya “kegelisahan” keluarga Simalungun karena dari segi jarak, Samosir tidak jauh dari kabupaten Simalungun dan kota Pematang siantar sebagai tempat kantor Pusat GKPS tetapi tidak ada satu pun gereja GKPS berada di Samosir, sementara di pulau Bali, Kalimantan yang nota bene sangat jauh dari Simalungun bisa berdiri gereja GKPS.

Satu harapan mereka juga bahwa dengan hadirnya GKPS maka bahasa Simalungun serta adat istiadatnya tidak akan hilang dari keluarga dan keturunan warga Simalungun yang ada di pulau Samosir ini.

Keprihatinan juga lahir dari Pembimbing seksi bapa GKPS Sudirman St Drs Alex Djunia Damanik serta salah satu anggota seksi bapa yakni St Darma Purba, SH melihat kenyataan bahwa pulau Samosir seolah tertinggal dari perhatian pelayanan GKPS, padahal tempat ini seolah sejajar dengan gambaran firman Tuhan yang menyatakan bahwa padi telah menguning tetapi tenaga pelayan untuk menuai tidak/belum ada.

Ditengah berjalannya diskusi peserta seolah tersentak “dibangunkan dari tidurnya”, seolah semua disadarkan bahwa memang pulau Samosir adalah tempat pelayanan yang harus segera dilaksanakan. Maka dengan tegas dan spontan ketua seksi bapa GKPS Sudirman Bp St Bistok Saragih menekankan agar esok harinya Minggu 05 Agustus 2012 dilaksanakan kebaktian minggu berbahasa Simalungun, sebagai wujud kebulatan tekad untuk bersama-sama berjuang mewujudkan kehadiran GKPS di Pulau Samosir.

Maka acara diskusi ditutup dengan tekad:
“Kebaktian Minggu berbahasa Simalungun akan dimulai sejak hari Minggu tanggal 05 Agustus 2012”.

Merealisasikan tekad tersebut, maka esok harinya, yakni minggu tanggal 05 Agustus 2012 dilaksanakanlah kebaktian Minggu berbahasa Simalungun, bertempat di ruang Lobby Hotel Sibigo Tuktuk Samosir, dimulai dengan penyerahan satu set peralatan ibadah, yakni Agenda bahasa Simalungun, Parmahan na madear, dan Bibel bahasa Simalungun, yang diserahkan kepada Bp Martuahman Sumbayak sebagai Ketua Tumpuan Simalungun Samosir. Juga dilaksanakan pembagian Bibel bahasa simalungun kepada 17 KK sebagai sumbangan buah nazar dari rombongan seksi bapa Sudirman.

Penyerahan Bibel dengan resmi secara bergilir oleh : Pdt. Enida Girsang, MTh, PMJ GKPS Sudirman St. Elisna Zakir br. Sinaga (Bendahara Jemaat GKPS Sudirman)., Pembimbing Seksi Bapa St. Drs. Alex Djunia Damanik., Ketua Seksi Bapa St. Bistok Saragih., Ketua Panitia Sudirman Cup-2 2012 Bapa St. Darma Purba, SH. Setelah selesai acara penyerahan, dilanjutkan dengan acara Kebaktian Minggu.

Ketika ibadah berlangsug, seksi bapa Sudirman mempersembahkan Koor dan Vokal Group; sementara Pdt Enida Girsang menekankan dalam kotbahnya bahwa “Yesus adalah Roti kehidupan” yang didasari melalui firman Tuhan dalam Yohanes 6: 24-35.
Sukacita yang sangat mendalam sangat terasa melalui respon jemaat, secara khusus keluarga Simalungun yang berada di Samosir yang kebetulan saat itu adalah juga merupakan pesta Olob-olob kuria bagi GKPS.

Usai ibadah minggu, diteruskan dengan jamuan makan bersama seluruh jemaat yang ikut beribadah, yang disediakan dan dijamu oleh keluarga Tumpuan Simalungun yang berada di samosir. Sukacita persekutuan begitu terasa indah, maka selesai acara makan tidak ada jemaat yang ingin pulang tetapi justru melaksanakan diskusi dan sharing kembali untuk menindaklanjuti pelayanan kedepan, agar ibadah bahasa Simalungun terus bisa dilaksanakan. Maka disepakatilah bahwa kedepan setiap hari Minggu akan diadakan ibadah Minggu berbahasa Simalungun secara rutin. 

Dan dengan spontan ada banyak keluarga yang bersedia memberikan rumah mereka sebagai tempat beribadah setiap minggunya, karena belum ada gedung atau tempat yang khusus yang dapat dipakai untuk tempat beribadah. Maka pada saat itu secara spontan disepakati untuk membentuk: Pengurus Pos Kebaktian GKPS Samosir. Dengan susunan kepengurusan: Bp. Martuahman Sumbayak (Ketua)., Japen Sidauruk (Wkl. Ketua)., Jahod Diaman Purba, SE (Sekretaris). Bendahara : Asni Sirait (sementara hingga ada pengganti, karena inang ini Bendahara Tuppuan).

Semenjak hari itu, berkumandanglah Nyanyian, Pujian, Kabar Baik (Evagelium) dalam bahasa Simalungun setiap Minggunya di Pulau Samosir. Dan diputuskan juga bahwa untuk kebaktian Minggu Setiap Minggunya akan diadakan di Rumah Bapak Jahod Diaman Purba, di Garoga-Ambarita, Pukul 10.30 WIB. Dan tanggal ini jugalah yang dijadikan menjadi sejarah berdirinya GKPS di Samosir. Seiring dengan hal itu, Pimpinan Pusat GKPS Menyampaikan Surat ke Pengurus GKPS Resort Tiga Dolok tentang pendirian Pos Kebaktian GKPS di Pulau Samosir, dan menghunjuk GKPS Parapat sebagai na manjumatangani [No. 1012/3-PP/2012, tertanggal 27 September 2012] .

Disepakatinya Kebaktian Minggu ini, menjadikan Penginjil Drs. Krisman Sipayung menetap di Samosir untuk menindaklanjuti Pendirian Pos Kebaktian ini. Selama Pelayanan di Pos Kebaktian Penginjil Drs. Krisman Sipayung dengan semangat penginjilanya menunjukkan ke-aktif-anya untuk mempersiapkan Pos Kebaktian GKPS menjadi GKPS yang definif. Warga Jemat dibekali dengan pemahaman-pemahaman tentang GKPS, Aturan-peraturan, hingga mengkader warga Simalungun yang ada di Pos Kebaktian untuk menjadi Majelis Jemaat.

Seiring berjalannya waktu, warga Simalungun yang ada di sekitar Ambarita mulai mendengar bahwa sudah ada Kebaktian berbahasa Simalungun di Ambarita. Riduan Sidauruk, seorang yang bekerja sebagai PNS di Tebing Tinggi tetapi karena Istrinya PNS di Tuk-tuk maka setiap minggunya berkebaktian di Tuk-tuk. Mendengar adanya kebaktian berbahasa Simalungun Riduan Sidauruk ikut bergabung di Pos Kebaktian, dan bersedia menjadi menjadi Bendahara karena selama ini, bendahara Pos Kebaktian belum ada, masih di rangkap oleh bendahara TUMPUAN SAPANGAHAPAN SIMALUNGUN. 


Setelah ± 2 tahun bergabung di Pos Kebaktian, Bulan Februari 2014 Istri dari bapak Riduan Sidauruk dipindahtugaskan ke Pematangsiantar. Tetapi hal ini tidak membuat mereka sekeluarga pindah dari Pos Kebaktian Samosir, sebab Riduan dan Keluarga memiliki tekad, tidak akan Pindah dari POS KEBAKTIAN sebelum GKPS berdiri di Samosir. Suatu Semangat yang luar biasa dari seorang warga Simalungun [bekerja di Tebing Tinggi, bertempat tinggal di Siantar, BerGereja di Samosir]. Dan semangat seperti inilah yang dibutuhkan untuk berdirinya GKPS di Samosir.

Tanggal 6 Desember 2012 bertempat di Gedung Serbaguna HKBP, Pos Kebaktian merayakan Natal pertama. Pada Natal tersebut khotbah disampaikan oleh Ephorus GKPS Pdt. Jaharianson Saragih, S.Th., M.Sc., PH.d. Pada saat itu jugalah dilakukan pengangkatan Syamas dan Sintua dan pelantikan Pengurus Pos Kebaktian yang telah dipilih sebelumnya oleh Pimpinan Majelis Parapat diketahui oleh Pendeta GKPS Resort Tiga Dolok, Pdt. Fride Mandes Saragih. Mereka yang diangkat menjadi sintua dan syamas adalah:
- St. Martuahman Sumbayak (Ketua)
- St. Japen Sidauruk (Wakil Ketua)
- St. Jahod Diaman Purba (Sekretaris)
- St. Ridwan Sidauruk (Bendahara)
- Sy. Edina Tampubolon
- Sy. Asni Sirait
- Sy. Lasmaria Sidauruk.

Kegiatan ini dihadiri oleh Pendeta Resort, Pdt. Fride Mandes Saragih, Penginjil Sinta Marni br. Purba, Pdt. Enida Girsang., M.Th, pengurus GKPS Resort Tiga Dolok, GKPS Parapat, Seksi Bapa GKPS Sudirman, Pemuda Tambun Raya dan Parbatuan.
Kegiatan Ibadah Kebaktian Minggu berbahasa Simalungun terus berlangsung setiap Miggunya, di bawah pelayanan/jumatanganan GKPS Parapat. Hal kelihatan dari kunjungan GKPS Parapat ke Samosir. Kunjungan Seksi Bapa dan Kunjungan Sektor dari GKPS Parapat. Demikian juga Majelis Jemaat dari GKPS Parapat selalu melaksanakan jadwal yang telah disepakti bersama di GKPS Parapat untuk melaksanakan pelayanan ke Pos Kebaktian Samosir.

Di tingkat Distrik Pelayanan Ke Pos Kebaktian ini mendapat respon dari Fulltimer Distrik I. Hal ini terbukti Pelayanan ke Pos Kebaktian menjadi salah satu Program TIM PELAYANAN DISTRIK. Itulah sebabnya melalui Rapat Koordinasi Distrik I Bulan Nopember 2013, ditetapkan bahwa Kunjungan Pelayanan Distrik I ke Pos Pelayanan dilakukan 2 Kali dalam Tahun 2014.

Dan sampai dengan saat ini Kebaktian Minggu berbahasa Simalungun tetap berjalan dengan baik, bak pepatah mengatakan: Sekali layar terkembang, surut kita berpantang. Sekali Tuhan berkenan pasti sepanjang sejarah tak akan surut.


Bagian II



Peristiwa dan Perjuangan Pengadaan Lahan sepanjang Tahun 2014

Di samping Pelayanan/Jumatanganan GKPS Parapat, Kerja sama Pelayanan dengan Seksi Bapa GKPS Sudirman tetap berlangsung di Pos Kebaktian Samosir melalui surat Pengurus GKPS Resort Tiga Dolok bernomor No. 02/22-I/2014, tertanggal, 27 Januari 2014. Dengan adanya surat ini, perkambangan di Pos Kebaktian Samosir menjadi lebih nyata; karena baik GKPS Parapat dan Pengurus GKPS Resort Tiga Dolok bersama dengan Seksi Bapa Sudirman menjadi saling membantu, bahu membahu dalam pelayanan ini. 

Pada Sinode GKPS Resort Tiga pada Maret 2014, Pembangunan GKPS Pers. Samosir menjadi salah satu Agenda Kerja GKPS Resort Tiga Dolok yang harus dilaksanakan pada Tahun 2014. 
Untuk merealisasikan Keputusan Sinode tersebut dan memenuhi kebutuhan warga GKPS yang ada di pulau Samosir, maka Pengurus GKPS Resort Tiga Dolok, Seksi Bapa GKPS Sudirman, dan GKPS Parapat duduk bersama untuk menindaklanjuti Pembangunan Rumah ibadah/Gereja di Pulau Samosir. Dan Rapat ini memutuskan supaya diadakan segera Rapat Pemilihan Panitia Pengadaan dan Pembangunan GKPS di Pulau Samosir. 

Dalam upaya Pengadaan tanah dan Pembangunan GKPS Samosir, maka Seksi Bapa GKPS Sudirman mencoba untuk melihat, meninjau, lahan manakah gerangan yang dapat dipakai nantinya sebagai tempat/pertapakan gereja? Ada beberapa tempat yang telah di tinjau untuk dijadikan bahan diskusi. Dari beberapa tempat yang telah di tinjau maka ada usulan untuk GKPS Persiapan Samosir untuk membeli lahan di pinggir jalan raya Tuktuk seluas 400 meter. Tetapi pembelian lahan yang telah tersedia tidak terlaksana karena tidak adanya dana, karena dana yang dibutuhkan pada waktu itu sebesar 200 juta, dan kemampuan untuk uang sebesar itu tidak mencukupi.


Keadaan dan pergumulan yang dialami oleh GKPS Persiapan Samosir ini disampaikan St. Darma Purba kepada St. Edwin Purba, salah satu anggota seksi Bapak dari GKPS Cikoko- Jakarta. Beliau minta agar Seksi Bapak GKPS Cikoko mendukung program ini dengan memasukkan rencana ini kedalam program dalam kunjungan Seksi Bapak GKPS Cikoko tahun 2014. Usulan inipun diteruskan St. Edwin Purba kepada pengurus Seksi Bapak GKPS Cikoko, yaitu Bapak St. Jani Rudi Damanik, ketua Seksi Bapak GKPS Cikoko. 

Dan Pada saat itu langsung diadakan pembicaraan lewat handphone, dan disepakati bahwa program Seksi Bapak GKPS Cikoko untuk tahun 2014 ini mengadakan kunjungan ke Pos kebaktian Samosir. Maka pada tanggal 7 Maret 2014, rombongan seksi bapa GKPS Cikoko yang terdiri dari: St. Edwin Purba, St. Jani Rudi damanik, St. Wahidin Purba, Sy. Gendo Saragih dan Bapak Derman Purba, bersama dengan St Darma Purba dari GKPS Sudirman mengadakan kunjungan langsung ke GKPS Persiapan Samosir dan bertemu dengan pengurus Pos Kebaktian Samosir. 

Dalam pertemuan tersebut, Ketua Pos Kebaktian Persiapan GKPS Samosir yaitu Bapak St. Martuahman Sumbayak menceritakan bahwa sebenarnya lahan sudah pernah didapat yang lokasinya di pinggir Jalan Raya Tuktuk, dan Ephorus GKPS pun sudah pernah ke lahan tersebut yang ditawarkan seharga 200 juta seluas 400 meter. Tetapi karena pada saat itu uang GKPS tidak ada, maka lahan tersebut tidak jadi dibeli. 

Mendapat cerita ini membuat hati rombongan yang berkunjung merasa miris, dan sedikit emosional St. Edwin Purba berbicara kepada St. Martuahman Sumbayak didepan rekan-rekan yang lain yang berkunjung agar pada hari itu juga lahan yang serupa dicari sebelum rombongan dari Jakarta kembali. Pada saat itu Ketua Pos pelayanan Samosir berkata, bahwa “Lang adong tanoh i Samosir on na strategis untuk tempat ibadah. Sulit do tanoh ijon.” Lalu St. Edwin Purba mengatakan,” Tidak begitu bp St nami, coba hubungin siapa saja yang bisa menginformasikan soal tanah. Kita harus menemukan tanah tempat ibadah sebelum kami pulang naik feri malam ini.”

Mendengar perkataan St. Edwin Purba, St. Martuahman Sumbayak berusaha menghubungi jemaatnya. Tidak berapa lama, seorang Inang boru Bakkara yang merupakan anggota jemaat GKPS Persiapan Samosir menginformasikan supaya datang melihat tanah. “Roh ma nasiam hujon.” Nini. Akhirnya rombongan menuju tempat yang dikatakan Inang br Bakkara tersebut, tetapi ternyata kurang cocok.

Tidak berapa lama sampailah rombongan ke tempat lahan/tanah yang ditunjukan (tanah yang sekarang), dimana ternyata letaknya persis disamping lahan yang sebelumnya tidak jadi dibeli karena tidak adanya dana 200 juta. Ketika melihat tanah tersebut hampir semua rombongan setuju karena tanah tersebut sangat strategis letaknya.
St. Edwin Purba langsung bicara kepada Inang br Bakkara. “Inang, tempat ini bagus dan cocok untuk Gereja, dilehon hamu do on Inang untuk Gereja ?.” Jawab Inang Bakkara,”Kalau untuk Gereja kami keluarga setuju.”

Luas tanah kira-kira 1300 meter, dimana kelurga membuka harga 700 juta, terjadilah tawar menawar sampai akhirnya turun sampai harga 550 juta. Mendengar angka ini rombongan pun mengusulkan lahan untuk dibagi agar terjangkau harganya, tetapi pihak keluarga tidak setuju kalau lahan dibagi karena takut lahan sebelahnya tidak laku di jual.

Berbekal niat luhur dan perjuangan berat maka akhirnya pembelian tanah dapat disepakati yakni dengan luas tanah ± 1200 M dengan harga Rp.400.000.000,- bertempat di Lumban Bakkara, Kelurahan Tuktuk, Kec. Simanindo, Kab. Samosir. Proses pembelian tanah dilakukan dengan usulan dibayarkan panjar sebesar Rp 200 juta dan sisanya akan dicicil selama 1 (satu) tahun. Pemilik tanah pun bersedia menerima tawaran tersebut karena lahan diperuntukkan untuk pembanguan gereja, maka pihak pembeli dalam hal ini GKPS secara resmi melakukan ikatan secara hukum dan adat dengan Keluarga Bakkara sebagai pemilik tanah. Dan ketika kesepakatan dilakukan pihak pembeli yakni GKPS memberikan/manurdukhon “dayok nabinatur” sebagaimana adat Simalungun, yang diberikan kepada keluarga sebagai tanda terimakasih karena menjual tanahnya dengan harga yang murah untuk peruntukan gereja dan sekaligus mohon doa restu dari keluarga besar Bakkara.

Keluarga Bakkara mengusulkan agar hari itu langsung dibuat “ikatan” resmi, dengan memberikan uang tanda jadi atau DP Rp 9 (sembilan) juta dan rombongan menyetujui dan menyanggupi hal tersebut, sekaligus meminta waktu 1 bulan untuk membayarkan 200 juta untuk pembayaran cicilan pertama. Tetapi hal itu menuntut pergumulan dan perjuangan yang berat, karena uang Rp 200 juta tidak tau di dapat dari mana. Berbekal iman dan doa, maka Tuhan membuka jalan melalui kehadiran seorang good Samaritan seorang bapak (yang tidak mau disebutkan namanya) ia adalah seorang Pimpinan Majelis Jemaat GKPS Tanjung Rejo Resort Polonia Medan, yang berkenan mendahulukan uangnya untuk kepentingan pembelian tanah/lahan tersebut. 

Maka pada hari Sabtu tanggal 7 (tujuh) Juni 2014 dibuatlah surat perjanjian akta Jual-Beli antara GKPS (Pdt. Krosbin Saragih) dan Keluarga Bakkara (Inang Ormina br Rumahorbo dan anak-anaknya: Kenri Bakkara; Kasmin Bakkara; Mangara Tua Bakkara). Penandatangan akta jual-beli ini disaksikan oleh St. Bistok Saragih, St. Dharma Purba, St.Martuahman Sumbayak dan anggota Seksi Bapa GKPS Sudirman yang hadir pada saat itu. Setelah akta jual-beli dilakukan maka kemudian dilakukan juga pengukuran dan pembenahan tanah/lahan tersebut.

Panitia Pengadaan tanah dan Pembanguan GKPS Samosir telah bekerja sebelum dilantik ini adalah menunjukkan bagaimana sulitnya mendapatkan lahan di pulau samosir. Panitia dilantik pada hari Minggu 27 Juli 2014 di GKPS Parapat, yang dilaksanakan oleh Pendeta GKPS Resort Tiga Dolok Pdt Krosbin M Saragih (Nama-nama Panitia terlampir) dan panitia mempunyai kerinduan bahwa bangunan gereja GKPS di Samosir dibangun semegah mungkin dan untuk jangka panjang disekitar gereja akan dibangun juga rumah healing ministry dan tempat retreat, agar siapa saja keluarga, warga GKPS atau diluar GKPS dapat memanfaatkan tempat ini untuk rekreasi rohani dan retreat keluarga. 
Demikianlah Sejarah perjalanan mewujudkan impian akan berdirinya Rumah Tuhan melalui nama GKPS di persada bumi Samosir nan indah yang dapat kami tuliskan. 

Terpujilah Allah Bapa dan Puteranya Yesus Kristus Tuhan Kita dan Persekutuan dengan Roh Kudus. Amen!
Salam dan Doa kami
Panitia Pengadaan tanah dan Pembangunan GKPS Samosir.

PETUGAS WARUNG DANA GKPS SAMOSIR

PETUGAS WARUNG DANA GKPS SAMOSIR
PETUGAS WARUNG DANA GKPS SAMOSIR

Menyimak PESPARAWI SEKSI BAPA GKPS SE DUNIA

GKPS SALEMBA DISTRIK VII

BERITASIMALUNGUN.COM, Pematangsiantar-Pesta Padua Suara Gerejawi (Pesparawi) Seksi Bapa GKPS Se Indonesia yang dilaksanakan Sabtu-Minggu 22-23 November 2014 usai sudah. Banyak yang memuji suksesnya terlaksana kegiatan yang diikuti 40 kontingen se Indonesia tersebut. Baik Paduan Suara (Koor), Vokal Group dan Katekhisasi). Namun tak sedikit pula yang mengkritisi pelaksanaan kegiatan itu secara mendalam. Berikut tulisan Agust Juvenly Purba, Pelatih sekaligus Konduktor Paduan Suara GKPS Cililitan yang dikutip dari FBnya.



Agust Juvenly Purba


KLIK INILAH PENAMPILAN GKPS CILILITAN

5 MENIT TERBAIK (CATATAN PRIBADI MENGIKUTI PESPARAWI SEKSI BAPA SEDUNIA)

Sebagai pelatih dan sekaligus Dirijen, saya selalu katakan dan dengung-dengungkan kepada anggota Tim Paduan Suara Seksi Bapa GKPS Cililitan sebelum bertanding dalam Pesparawi Seksi Bapa GKPS kali ini: "Berikan 5 Menit Terbaik yang bisa kita berikan". Mulai dari pesparawi Tingkat Resort, Pra Distrik (pemanasan menjelang Pesparawi Distrik dengan beberapa Jemaat yang lain), Tingkat Distrik VII, dan lebih-lebih yang terakhir Tingkat GKPS Sedunia. Betapa tidak, kesempatan tidak selalu ada, dan ketika kesempatan itu ada, sebaiknya dipakai dengan sebaik-baiknya. 

Kali ini kesempatan itu datang, inilah kesempatan pertama yang Tuhan berikan untuk memimpin Paduan Suara untuk mengikuti Pesparawi se-GKPS (kebetulan untuk kategori Male Choir atau dalam GKPS khusus untuk seksi Bapa). Mengapa 5 Menit? Karena lagu yang dibawakan berdurasi lima menit. Proses latihan kurang lebih 5 bulan (terhitung mulai dari pesparawi tingkat resort sampai tingkat GKPS Sedunia) jika saya hitung-hitung sekitar 40 kali pertemuan latihan yang berdurasi 3 jam setiap latihan. Hati saya mengatakan "sudah luar biasa persiapan ini". 

Mungkin tim lain juga saya percaya melakukan hal yang kurang lebih sama bahkan mungkin lebih. Hidup di Jakarta dengan  tempat tinggal anggota yang kebanyakan jauh dari lokasi Gereja sebagai tempat latihan, proses latihan ini tidaklah gampang, butuh energi ekstra untuk sampai di tempat latihan dengan segala tantangannya (macet, letih, kesibukan keluarga, pekerjaan, dll). 

Ternyata tidak cukup sampai di situ, kemampuan bernyanyi (membaca notasi, membunyikan choral sound /suara paduan suara, interpretasi, dinamika, pitching atau ketepatan nada) sangat membutuhkan waktu dan perhatian khusus berhubung tidak semua memiliki kemampuan yang memadai bahkan kebanyakan anggota tim tidak memiliki kemampuan dasar untuk ber"paduan suara". Singkatnya, demi menghasilkan yang terbaik, semua proses latihan harus dilalui demi memberikan yang terbaik, dengan segala tantangannya (ketidakdisiplinan anggota untuk hadir, hadir tepat waktu, dll), dan semuanya itu ditampilkan hanya dalam waktu kurang lebih 5 MENIT. 

Sungguh bagi saya prosesnya luar biasa. Dan lebih luar biasa ketika saya membayangkan ratusan tim dari jemaat (mungkin resort) di seluruh GKPS melakukan hal yang sama dalam kurun waktu yang sama pula,meskipun pada akhirnya hanya 40 tim yang berhak (setelah proses seleksi di tingkat resort atau distrik) untuk tampil pada acara puncak se GKPS. 

Kata-kata "luar biasa" terus terucap ketika saya membayangkan tim-tim yang lain khususnya di daerah-daerah yang bukan perkotaan (setidaknya bukanlah kota besar), dalam pikiran saya muncul nama nama tim dari  daerah seperti Haranggaol, Raya, Raya Kahean, Tiga Runggu,  Batam, Bulu Raya, Raya Huluan, dan sangat banyak lagi GKPS yang tersebar di daerah khususnya Simalungun. 

Mungkin dari anggota paduan suara mereka ada yang pulang dari ladang, habis mengajar, habis berjualan, dan lain-lain untuk berbondong-bondong untuk untuk berlatih di tempat masing-masing untuk 1 lagu yang dipertandingkan dalam pesparawi kali ini. Sekali Lagi LUAR BIASA. Gaung dan demam atau spirit  Pesparawi Bapa ini sungguh terasa, setidaknya dirasakan setiap pribadi yang terlibat di dalamnya baik sebagai peserta maupun sebagai pelatih. 

Perasaan ini tentunya tidak sama dengan orang di luar seksi Bapa atau Seksi Bapa tetapi tidak ikut ambil bagian. Akhirnya semua berkumpul di BALAI BOLON GKPS PEMATANG SIANTAR TANGGAL 22-23 NOPEMBER 2014 sebanyak 40 tim. Setidaknya yang hadir ke lokasi sekitar 2000 orang dengan hitungan sederhana saya, 40 x 40 orang setiap tim ditambah penonton sekitar 400 orang.

APA YANG TERJADI????

Sungguh di luar dugaan saya. Sungguh di luar ekspektasi saya. Sungguh jauh dari apa yang saya bayangkan. 

1. Juri

Ada 5 Dewan Juri, hanya 1 yang termemori di benak saya TARIDA HUTAURUK, yang meskipun seorang penyanyi tetapi setidaknya beliau juga punya basic atau latar belakang dalam urusan Paduan Suara, legitimasinya sudah lebih dari cukup sebagai juri Paduan Suara karena saya pernah membaca CV nya. Beliau sudah sering juri di berbagai ajang Festival Paduan Suara di Indonesia ini. Empat yang lain, saya bahkan tidak pernah mendengar namanya (entah saya yang kurang wawasan atau pengetahuan). 

Peserta juga tidak diinfokan dengan baik dan jelas CV mereka ketika mereka disebut sebagai juri. Point-nya peserta tidak "well informed" dengan juri yang menilai mereka dalam Festival ini. Harapan saya, meskipun juri tidak saya kenal, setidaknya saya (sebagai pelatih dan peserta) tau apa saja kontribusi mereka sehingga mereka "layak" menilai suatu perlombaan paduan suara"

2. Panggung

Bernyanyi dengan mic untuk paduan suara baru kali inilah saya mengalaminya dari puluhan festival paduan suara yang pernah saya ikuti sepanjang hidup saya baik standard lokal maupun internasional. Terlepas dari bagus tidaknya sound sistem atau mic balancing, atau ketidak acoustic nya gedung yang digunakan,  yang jelas dalam pengetahuan saya dalam  lomba paduan suara, hal ini tidaklah dibenarkan. Kenapa kali ini ada? Bukannya saya khawatir dengan tim saya akan "jelek" dengan menggunakan mic, tetapi hal ini tidaklah dibenarkan karena memang mic bisa saya membuat suara alami bernyanyi menjadi tidak "murni" menjadi choral sound sebagai produksi suara yang dinilai dalam lomba paduan suara.

3. MC

Setahu saya MC fungsinya membawakan acara dari awal hingga akhir dengan konsep acara yang sudah matang bisa 1 atau lebih. Yang terjadi terdapat MC-MC tambahan yang tidak jelas keberadaannya yang sangat mengganggu dan annoying. Kadang tampil kadang ga, ga jelas konsepnya. Informasi dari MC juga tidak konsisten. Seperti contoh: MC (yang ditunjuk) mengatakan bahwa "break" akan diadakan setelah 8 peserta tampil. 

Si MC dadakan katakan bahwa  "break" diadakan tepat pukul 13.10. Yang terjadi break pada jam 13.20 dan setelah nomor undi 10. Hahahahahaha.....saya lagi-lagi geleng-geleng......Tim saya (GKPS) Cililitan adalah nomor 16, dan informasi ini sangat mengganggu saya ketika hendak memimpin tim, ketika informasi seperti ini berubah-berubah, ini tentunya akan mempengaruhi mood dan konsentrasi peserta yang akan bersiap-siap. Memberikan pujian terbaik??? sudah pasti hal ini membuyarkan tujuan itu. Bagi yang pernah menjadi Dirijen dalam festival atau peserta, tentunya hal ini sangat mengganggu, bagi yang tidak pernah jadi Dirijen atau peserta, hal ini tentunya dianggap "no big deal".

4. LO/Usher/Flower

Tidak ada panitia yang menginformasikan kepada peserta untuk bersiap-siap di Siaga 2 dan Siaga 3. Panitia kurang banyak??? Hellloooowwww......ini ajang se GKPS, maaf......festival di resort saya aja ga seperti ini. Kalau saya analisa hal ini bukanlah karena panitia tidak ada....tapi panitia "meremehkan" keberadaan usher pada posisi ini. Hal ini juga setidaknya mengganggu untuk konsep "memberikan yang terbaik". 

Bagaimana memberikan yang terbaik kalau peserta tidak diakomodasi dengan baik untuk hal-hal menjelang penampilan "5 menit" setelah latihan selama 5 bulan??? Peserta sudah latihan keras dengan cara masing-masing selama 5 bulan tetapi tidak diakomodasi dengan baik oleh panitia di menit-menit terakhir yang mana kegugupan mulai muncul, adrenalin meningkat, para dirijen mulai tegang. 

Meskipun ini, terus terang,  tidak lagi mempengaruhi saya karena sudah terbiasa memimpin paduan suara di festival, tapi saya membayangkan peserta atau dirijen yang mungkin ini penampilan perdananya yang akan bisa merusak penampilan (sekali lagi sudah latihan berbulan-bulan) entah salah  menarik nada saking groginya atau lupa hormat dulu atau tarik nada dulu...hahahahaha..... Karena saya juga pernah mengalaminya ketika belum terbiasa memimpin paduan suara, saya juga pernah gugup dan grogi. Kondisi ini sebaiknya tidak diperparah oleh panitia dengan menambah beban pada peserta karena informasi  dari usher tidak ada.

5. Penentuan Kejuaraan

Hal ini tidak pernah disampaikan kepada peserta lomba. Kejuaraannya seperti apa, baru disampaikan pada hari H...hellowwwww ? Saya menganggap pesparawi ini bukanlah pesparawi abal-abal tetapi Pesparawi se-GKPS yang "marwahnya" lebih besar dan gengsinya lebih tinggi dengan tingkat resort dan Distrik, akan tetapi sistem kejuaraannya membuat saya geleng-geleng kepala. 

4 kategori emas, 4 kategori perak, 4 kategori perunggu. Alasannya "kesetiakawanan" dan kebersamaan. Haahhhhhh ???? sistem dari mana ini? Saya cukup mengerti ketika panitia memiliki otoritas terhadap segala sesuatunya, tetapi poinnya harus jelas dan belajar dari sistem yang sedang berkembang di ajang lokal maupun internasional. Setahu saya penilaian GOLD ketika peserta mampu mencapai nilai tertentu, misalnya nilai 80 ke atas, Peserta yang mampu mencapainya, mereka meraih GOLD, tak perduli berapa banyak peserta yang bisa mencapainya, begitu juga dengan perak dan perunggu, ada range nilainya. 

Nah dari medali GOLD siapa yang paling tinggi itulah Championnya atau bisa juga diurut sampai juara 3 atau harapan 3...terserah panitia.Semua nilainya diumumkan. Konsep tidak mengumumkan nilainya berapa, merupakan sistem yang menurut saya mengada-ada dan absurd....suka-suka...dan ngarang-ngarang.....sialnya lagi disampaikan pada hari H. Siapa yang ga BETE.......???? Sekali lagi latihan 5 bulan hanya disuguhi sistem ga jelas ini...wahhhhhh TERLALU

6. Technical Meeting?

EMANG ADA YA..........??????????? KOK SAYA GA TAU?????????? OK, mungkin karena se GKPS susah mengadakan pertemuan......bukankah panitia sudah mengumumkan bakalan ada TM sebelum perlombaan....sialnya saya tunggu-tunggu tidak ada.....atau pas saya MANDI kali di MESS PELPEM ya????Hahahahaha


7. BERNYANYI BUKAN UNTUK KEJUARAAN TAPI MEMUJI TUHAN..........Ahhhhhhh

Kata-kata ini sangat populer dan terdengar ditelinga saya sepanjang Pesparawi berlangsung. SAYA SETUJU ONE MILLION PERCENT. Tapi COME ON!!!!!! Don't be so naive dan munafik. Saya pikir tidak ada peserta yang tidak mengharapkan juara. Kalaupun tidak mengharapkan juara, saya pikir itu hanya bahasa halus "tidak dapat bersaing" atau sudah menyerah dalam kompetisi sehingga muncul kata-kata "yang penting berpartisipasi dan memuji Tuhan". Menurut saya tidak, kita belum berusaha maksimal. TITIK.

 Tuhan itu bertahta di atas puji-pujian dengan standard TUHAN. Menjadi juara 1 pun belum tentu memenuhi standard Tuhan, atau sebaliknya, karena STANDARD TUHAN sangat tinggi, tapi setidaknya berusaha menjadi juara itulah usaha kita "memberikan dan mengejar yang terbaik" menurut akal budi dan pengetahuan yang Tuhan berikan pada kita dan melalui juri-juri yang menilai. 

Kata-kata "asal kita memuji dengan hati" juga sering kali bias, bagaimana kita memuji dengan hati ketika kita bernyanyi dengan not yang salah, atau interpretasi yang sembarangan melalui tuntutan Pencipta lagu yang Tuhan pakai untuk memuji Dia. Sekali lagi Nonsense. Kita belum bekerja keras dan belum memberikan yang terbaik yang kita punya. Ketika Tim GKPS Cililitan mengikuti pesparawi  Distrik VII saya sudah merasa itu sudah yang terbaik yang sudah kami persembahkan, setelah bernyanyi di Pesparawi se GKPS kemarin, saya merasa bahwa kali ini kami tampil lebih baik lagi dari Pesparawi Distrik VII sebelumnya.  

Poin yang saya rasakan, terbaik adalah ketika kita sudah merasa memberikan seluruh yang kita punya sebisa kita (waktu, pengetahuan, tenaga dan lain-lain) di waktu yang Tuhan ijinkan.......

8. PENGUMUMAN PEMENANG

Baru kali ini Pesparawi Pemenangnya diumumkan yang bukan Dewan Juri. Saya bisa maklum kalau Jurinya karena sesuatu hal, tidak dapat mengumumkan hasil keputusan juri karena harus pulang sebelum acara pemumuman karena alasan tertentu yang sangat mendesak dengan hasil keputusan juri yang disegel dalam map atau amplop. 

Saya tidak habis pikir saja.....Juri masih berada di tempat tetapi yang mengumumkan orang lain. Maksudnya apa? Tujuannya Apa? Katakanlah yang diumumkan itu benar adanya seperti hasil keputusan juri tapi apakah kita tiba-tiba menjadi "bukan orang Simalungun yang baik" ketika kita menuntut harus juri yang mengumumkan? Apakah dalam pertanggungjawaban keuangaan Jemaat kita hanya mengangguk setuju saja dengan  tanpa adanya verifikasi mengenai keuangan tersebut hanya karena Pimpinan Majelis semua bergelar Sintua yang didampingi oleh seorang Pendeta. tentu tidak bukan? Kita juga mengharapkan tuntutan legalitas yang sewajarnya. Pengumuman oleh Dewan Juri menurut saya Legalitas dari penilaian itu sendiri, di luar itu mengada-ada dan absurd.


***

Susah memang mengerti bagaimana mengakomodasi kebutuhan suatu festival paduan suara kalau kita tidak pernah terlibat di dalam paduan suara itu sendiri baik sebagai peserta atau pelatih. Karena saya percaya kalau sering atau pernah mengikuti pesparawi pasti akan tau dan mengerti hal-hal detail yang sering terabaikan dalam festival internal GKPS, termasuk pelaksanaan kali ini yang menurut saya aneh dan mengecewakan.

 Sorry to say, sekali lagi bukanlah semata-mata mengenai juaranya, tetapi ketika saya membayangkan kembali persiapan tim-tim seluruh GKPS dari berbagai penjuru dengan usaha yang luar biasa, baik dana maupun daya, waktu dan pengorbanan lainnya yang sudah SANGATSANGAT LUAR BIASA hanya disuguhkan dengan pelaksanaan yang jauh dari harapan saya dengan aturan dan usaha yang cenderung "suka-suka" tanpa mengindahkan standard dan ketentuan yang sering dan berlaku saat ini. 

Terus terang mood saya juga berobah ketika banyak mengetahui hal-hal yang tidak saya bayangkan dalam pelaksanaan festival ini, kemudian saya berusaha menyemangati diri sendiri dan memurnikan motivasi sesaat sebelum penampilan. Saya hanya ingin memberikan 5 menit terbaik dari 5 bulan proses yang kami lalui dan saya juga menularkannya kepada teman-teman, dan saya bisa mersakan dari awal lagu sampai akhir lagu baik ekspresi, suara, dinamika, interpretasi, merupakan 5 menit terbaik yang saya rasakan dalam seluruh latihan dan penampilan kami selama ini.

Pesparawi sudah berlalu. Banyak harapan saya sebelumnya, GKPS Cililitan meraih GOLD untuk Paduan Suara. Saya sangat-sangat puas dengan penampilan tim, dan saya juga merasa tidak memiliki kesalahan dalam memimpin lagu. Apresiasi penonton juga terdengar tulus di dalam gedung, dan "katanya" di luar gedung juga banyak bertepuk tangan. Semoga mereka terberkati dengan penampilan kami.  Hanya saja, secara jujur baru kali ini saya tidak bangga mengangkat pialanya, ada kegetiran dalam hati mengingat ini sudah tahun 2014, GKPS sudah puluhan kali melaksanakan event-event sejenis, pelaksanaannya kok jadi aneh bin ajaib begini.(Lee)


HONDA SELALU TANGGUH

HONDA SELALU TANGGUH
KLIK GAMBAR

SORTAMAN SARAGIH MENUJU WALIKOTA SIANTAR

SORTAMAN SARAGIH MENUJU WALIKOTA SIANTAR
Profile Klik Gambar

KEDAI KOPI ENAK DI HARANGGAOL, KARYA RIMBA TEMPATNYA

KEDAI KOPI ENAK DI HARANGGAOL, KARYA RIMBA TEMPATNYA
KLIK GAMBAR UNTUK INFORMASI SELENGKAPNYA

RUMAH MAKAN KHAS SIMALUNGUN

RUMAH MAKAN KHAS SIMALUNGUN
DI JALAN SUTOMO SARIBUDOLOK (KLIK GAMBAR)

Bona Petrus Purba Bakal Maju di Pilkada Simalungun

Bona Petrus Purba Bakal Maju di Pilkada Simalungun
KLIK GAMBAR

“Bagod & Tambuls” Tempat Tongkrongan Bersahaja

“Bagod & Tambuls” Tempat Tongkrongan Bersahaja
Alamat di Jalan Gereja No. 21A, Simpang Empat, Pematangsiantar. (Selengkapnya Klik Gambar)

BPJS KESEHATAN

BPJS KESEHATAN
WAJIB DAN BERMANFAAT (INFO SELENGKAPNYA KLIK GAMBAR)

SIMPEDES BRI

SIMPEDES BRI
Simpedes adalah simpanan masyarakat dalam bentuk tabungan yang dilayani di BRI Unit, yang penyetorannya dapat dilakukan setiap saat dan frekuensi serta jumlah pengambilan tidak dibatasi sepanjang saldonya mencukupi.(SELENGKAPNYA KLIK GAMBAR)
 
Support : Redaksi | Contac Us | Pedoman Media
Copyright © 2011. BERITA SIMALUNGUN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Admin Simalungun
Proudly powered by Blogger