Trending Topic

Latest Post

DI JAMBI DIA BERKIBAR • Simalungun Pun Terhentak

Written By Berita Simalungun on Selasa, 02 September 2014 | 08.34

Sri Sultan Saragih-(Putri Ke 11 Bp Taralamsyah Saragih) dan Suhu Muhar Omtatok.Foto Asenk Lee Saragih
(DRAF INI BELUM FINAL) 


BERITASIMALUNGUN.COM, Jika untuk sebuah kesenangan Taralamsyah pasti tidak akan pergi ke Jambi. Dia berangkat terpaksa dan dengan lara. Dia berangkat dengan mata yang sudah mengering karena air matanya sudah tak ada lagi.

Dia meninggalkan Simalungun yang bertahun-tahun dia layani, meninggalkan Sumatera Utara (Sumut) yang sudah bertahun-tahun dia hibur. Karena dia bukan saja menghibur Simalungun saat berada di Sumut. Bukan luarnya saja dia dekorasikan tetapi roh Simalungun lewat budayanya pun telah dia tumbuh kembangkan.

Namun semua itu tidak cukup mampu mengerlingkan mata Simalungun, yang seharusnya mencegahnya pergi. Jangankan mencegah, dia telah diabaikan, dilupakan. Dia seniman seperti sepah, yang dibuang setelah manisnya hilang. Padahal manisnya masih ada.

Dia seperti kelapa yang semakin tua semakin berminyak. Akan tetapi dia adalah kelapa budaya yang dinisbikan puaknya. Dan dia pun kecewa. Ini tergambar dari kalimat yang terlontar pada pertemuan dengan penyanyi gaek Simalungun, Sarudin Saragih.

"Ambia Sarudin, sai unang ma nean ho ambia mangalami na songon na hualami on. Andohar ma i masam holi, irasahon ho panghargaan ni Simalungun pakon pamarentah ni," demikian kutipan kalimat almarhum Taralamsyah kepada Sarudin Saragih.

Artinya, “Sarudin, semoga kau tidak mengalami seperti yang saya alami. Semoga di era mu kau dapatkan penghargaan dari Simalungun dan pemerintahnya,” kata Taralamsyah.

Sarudin pernah menemuinya ke Jambi pada dekade 1970-an saat Trio Spansel, sebuah grup trio penyanyi Simalungun, sedang jaya-jayanya. Saat itu Sarudin ingin bertemu seniornya itu.

Tidak disebutkan eksplisit alasan kekecewaan itu. Apakah karena honor yang kurang, atau karena piagam tidak didapat. Jambi jelas memberi dia semua itu.

Rasanya kekecewaan Taralamsyah lebih dari itu. Dia tampaknya kecewa karena apresiasi Simalungun pada budayanya kurang. “Seng ihargai Simalungun budaya ni Simalungun,” demikian lanjutan kalimatnya.

Ya, karena itu pergilah dia merantau ke tanah jauh mengarungi jalan yang jauh dari mulus dan melewati hutan belantara. Dia serasa pergi lagi dengan mengulangi perjalanan payah seperti yang dulu pernah dia alami saat mengungsi. Perjalanan ini pasti ngeri-ngeri sedap walau tidak berjalan kaki.


Pada tahun 1983 saja jalanan antar-lintas Sumatera masih penuh kubangan di banyak lokasi. Bayangkan bagaimana kondisi jalan pada tahun 1971 lalu itu. “Bapak naik Sibual-Buali dengan naik rakit. Soalnya kan harus melewati empat sungai,” kata putrinya Rondang Setiawati yang tinggal di Jambi.

Saat itu negara masih terbelakang dan tidak ada jembatan untuk melalui sungai berukuran besar antara lain Sungai Batang Hari, Batang Tebo, Tembesi, dan Bulian.

Dia membawa istri dan 10 anak karena dua orang tinggal di Medan karena sedang bersekolah. Setiba di Jambi keluarga tinggal dekat di rumah dinas Gubernur Jambi kemudian disediakan rumah dan semua kebutuhan ditanggung Pemda Jambi.

Apa yang dilakukan Taralamsyah di Jambi? Rangkaian acara yang dia pimpin menunjukkan secara implisit bahwa dia berterima dan bereputasi. Pada tahun 1973 misalnya dua kali Taralamsyah membawa rombongan kesenian Jambi ke Jakarta untuk mengikuti Festival Kesenian Mahasiswa se-Indonesia dan meramaikan pameran Visuil Pembangunan Indonesia.

Di tahun 1974 dia membawa rombongan kesenian Jambi ke Singapura untuk acara kebudayaan Melayu.

Seni musik, seni tari, tradisi (adat) Jambi menjadi lahan yang dia dalami.
Prestasinya menghentak elite asal Sumatera Utara ketika pada 1975 Taralamsyah membawa rombongan kesenian Jambi ke Jakarta untuk pembukaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Delegasi kesenian Jambi memukau dengan penilaian yang berada di atas Sumatera Utara. “Jambi tampil sebagai juara,” kata Edy Taralamsyah.

Sumatara Utara seperti terhentak. Para elite dan pengamat seni budaya asal Sumatera Utara bangga karena ada orang Simalungun yang memiliki kinerja bagus walau untuk Provinsi Jambai. Karena itu dicobalah upaya untuk “memulangkan” Taralamsyah dari Jambi. (Baca: Simalungun Gagal Mengembalikan Taralamsyah.

Prestasi Taralamsyah rupanya sangat memuaskan. Walau dia bukan asli Jambi, dia menguasai betul kesenian Jambi secara cepat. Dia dipandang cocok sebagai pemimpin di bidang seni di daerah rantau.

Pada tahun 1978 Gubernur Jambi Jamaluddin Tambunan menginstruksikan penelitian dan pencatatan seni musik dan tari daerah Jambi. Instruksi langsung ditujukan kepada Taralamsyah Saragih sebagai ketua tim dengan anggota Surya Dharma, Tamjid Widjaya, OK Hundrick, Marzuki Lazim dan M. Syafei Ade. Hasilnya adalah sebuah buku berjudul “Ensiklopedi Musik dan Tari Daerah Jambi”.

Penunjukan ini memperlihatkan dia adalah master dari para maestro budaya Jambi. Dia membawahi para maestro. Tamjid Widjaya adalah tokoh budayawan kondang Jambi di bidang seni musik, persisnya penyanyi dan pencipta lagu. OK Hundrick ahli koreografi untuk tarian tradisional Jambi.

Taralamsyah betah dan nyaman dengan lahan barunya. Gubernur Tambunan kebetulan sangat memberi perhatian pada seni budaya. H Djamaluddin Tambunan SH beristrikan almarhum Lettu Hj Nurbanun Siregar.

Pengamat seni M Muhar Omtatok mengutip situs Taman Budaya Jambi yang bertuliskan, “Kehadiran (Taralamsyah) di Jambi sejak pertengahan tahun 1971 atas permintaan Gubernur RM Noor Atma Dibrata pada waktu itu telah menambah khasanah dunia kesenian Jambi.”

“Menurut H Tamdjid Widjaya, salah seorang sahabat dan murid terdekat Taralamsyah, Taralamsyah seumpama besi berani, mengumpulkan dan menyatukan serbuk-serbuk besi yang berserakan di sekitarnya. Beliau juga merupakan figur guru dan sekaligus bapak yang mampu meletakkan porsinya dalam mendidik murid-muridnya. Mereka semua dianggap seperti anak sendiri. Jadi dia tidak hanya mengajarkan ilmu kesenian tapi juga memberi bekal hidup bagi saya pribadi,” kenang H. Tamjid Widjaya seorang musisi dan pencipta lagu-lagu Jambi ini.

Amati kalimat Tamdjid Wijaya yang menyatakan, “Beliau (Taralamsyah seumpama besi berani, mengumpulkan dan menyatukan serbuk-serbuk besi.. …”

Kalimat ini memperkuat pernyataan Edy Taralamsyah yang menyebutkan Taralamsyah dan tim pernah berminggu-minggu memasuki hutan. Mereka membawa tembakau untuk perlengkapan merokok, garam dan keperluan warga Suku Kubu dan Suku Anak Dalam di pedalaman.

Tujuannya agar para warga itu bersedia menyanyikan lagu-lagu tradisional mereka. Taralamsyah dan tim langsung mencatat syair dan melakukan notasi pada lagu-lagu suku primitif itu. Hal serupa juga dilakukan terhadap warga Suku Kerinci. Semua lagu-lagu suku-suku ini dicatatkan.

Demikian juga tarian-tarian mereka, dan kebiasaan dalam adat istiadat dicatatkan. Hal itu didapat lengkap dan menjadi buku terlengkap dalam kesenian Jambi. Kini Jambi adalah salah satu provinsi yang memiliki dokumentasi seni budaya paling lengkap di Indonesia. Ini amat berguna dalam perjalanan seni budaya Jambi untuk selanjutnya.

Simalungun dalam pandangan Taralamsyah sendiri tidak lagi memiliki dokumentasi seni budaya tradisional sejak habis terbakar di saat revolusi sosial. Ini melemahkan Simalungun dalam menggali potensi kekayaan seni budayanya ke depan.

Musik Jambi Bangkit

Taralamsyah amat berguna bagi Jambi secara langsung maupun tidak langsung. Ini jelas terlihat dari pernyataan Ketua Dewan Kesenian Jambi Azwan Zahari seperti dikutip Lembaga Kantor Berita ANTARA pada 28 Desember 2012. Saat itu berbicara menjelang pemberian “Anugerah Budaya” pada Tamdjid.

Budayawan Jambi Jaffar Rasuh saat itu juga memberi komentar menjelang pemberian penghargaan.
Azwan mengatakan, “Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi Dewan Kesenian Jambi atas dedikasi seniman Jambi yang telah memberikan kontribusi bagi perkembangan seni dan budaya daerah itu. Kami akan memberi “Anugerah Budaya” bagi seniman Jambi. Yang sudah pasti adalah Tamdjid Wijaya. Beliau adalah penyanyi, pencipta, komposer dan pelesatari lagu-lagu daerah Jambi," katanya.

Almarhum Tamdjid Wijaya meninggal dunia pada 29 Juli 2010 akibat tumor nasofaring yang menyerang tenggorokkan di usia 65 tahun. Dia meninggalkan begitu banyak karya. Ratusan lagu daerah Jambi dia ciptakan.

Jaffar Rasuh menambahkan, “Tamdjid Wijaya adalah orang yang kukuh, konsisten dan memiliki dedikasi yang luar biasa bagi seni musik dan pekembangan lagu-lagu daerah Jambi. Dedikasi Tamdjid bagi tanah ini terletak pada keseriusan dan upaya beliau membangkitkan musik Jambi. Dia tidak saja menyany tetapi juga mencipta dan menggubah lagu-lagu yang berkembang sebelumnya di Jambi.”

"Setahu saya, sebelum itu semua lagu-lagu daerah Jambi sedang berada di ambang keterpurukan. Lagu-lagu daerah Jambi tidak sepopuler lagu-lagu daerah lain, seperti lagu Minang, Melayu Riau, Dangdut dan sebagainya."

Lagu-lagu daerah Jambi nyaris tidak dikenal oleh masyarakat Jambi sendiri. Namun, berkat kepedualian Tamdjid, lagu-lagu daerah Jambi kemudian dikenal oleh masyarakat luas.

Akan tetapi siapa gurunya atau siapa di balik itu? Dia adalah Taralamsyah. Dikutip ulang di sini. “Taralamsyah adalah figur guru sekaligus bapak yang mampu meletakkan porsinya dalam mendidik murid-muridnya, … Dia mengajarkan ilmu keseniannya,” kata Tamdjid tentang Taralamsyah.
Taralamsyah adalah pendidiknya. Pola pendidikannya sama seperti yang pernah dia lakukan di Sumatera Utara. Dia displin. Namun Taralamsyah juga melanjutkan karaktekter guru dan seorang bapak bagi muridnya.

TerciptalahTamdjid seorang musisi dan pencipta lagu yang menaikkan pamor musik Jambi. Pengamat budaya Jambi mengatakan kemudian bahwa pamor Tamdjid semakin dikenal karena dia memulihkan nada asli musik Jambi. Melodi, legato, liukan musik Jambi dikembalikan ke asalnya. Ini bertujuan mengembalikan jati diri musik Jambi ke warna asli. Kini karena Tamdjid musisi Jambi terus berkarya dengan mempertahankan nada asli.


Kalimat ini menunjukkan karakter Taralamsyah yang sering menekankan bahwa musik boleh dimodifikasi tetapi warna asli jangan pernah hilang.

Menurut Butet, seorang putrinya, Taralamsyah sebenarnya ayahnya ini bukan saja mendidik. Taralamsyah pun turut menciptakan lagu-lagu Jambi dan menciptakan tarian Jambi, yang sebagian mirip sentuhan tarian Simalungun.


Itulah Taralamsyah, telah berkibar di Jambi dan menaikkan pamor budaya Jambi. Hal ini dipatrikan dengan pemberian penghargaan pada Taralamsyah dari Pemda Jambi dengan kategori “tokoh penting Jambi di bidang kesenian.

Nama Taralamsyah juga disebut di pelajaran muatan lokal sebagai salah satu tokoh penting dalam pengembangan budaya.

Jambi juga menjadi tempatnya berkarya dengan iklim yang baik karena pernah Lily Syarif, istri seorang Gubernur Jambi, juga merupakan seorang penyanyi. Lily turut memberi dukungan pada kesenian Jambi.(Simon Saragih)

(DRAF FINAL) RINGKASAN BIOGRAFI TARALAMSYAH

Taralamsyah Saragih
BERITASIMALUNGUN.COM, Jakarta-Niat Simon Saragih dan rekan untuk menulis Buku Biografi Taralamsyah Saragih sebentar lagi bakal terwujud. Sejumlah Draf Tulisan sudah final seperti dipublis di Group Facebook (Penyusunan Buku Tentang Taralamsyah). DRAF FINAL

Nama: Taralamsyah Saragih
Lahir/Tempat: 18 Agustus 1918, di rumah bolon Pematang Raya, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara
Pendidikan: Sekolah Dasar a. 1929 – Tiga tahun
b. 1935 – Lima tahun di Pematang Raya


Pengalaman di bidang seni musik Simalungun dan lain-lain
1926 – 1930: Sebagai seorang anak raja di Raya (anak ke-40), diharuskan menguasai permainan musik Simalungun. Ini didikan berdasarkan kebiasaan di Istana tentang seni musik Simalungun

1930 – 1933: Belajar biola, membaca not pada guru musik Jan Kaduk Saragih. Berusaha menotasi lagu-lagu Simalungun, baik lagu-lagu tradisional dan untuk tujuan hiburan
1934 – 1936: Membentuk kumpulan seni musik modern dan sandiwara di Pematang Raya untuk menambah pengalaman

1937 – 1941: Membina seni musik Simalungun di Pematang Siantar dengan hasil:
A. Membentuk perkumpulan Siantar Hawaian Band
B. Membentuk koor rumah sakit di Pematang Siantar
C. Merekam lagu-lagu Simalungun pada piringan hitam ODEON di Medan (dua piringan hitam) yakni di tahun 1938. Pada tahun 1940 merekam lagi lagu-lagu Simalungun pada empat piringan hitam dengan iringan orkes moderen


1942 – 1947: Membentuk kumpulan seni musik (termasuk keroncong) dan kegiatan sandiwara di zaman Jepang bernama “Siantar Gekidan”
1947 – 1951: Dalam pengungsian ke Bukit Tinggi dan ke Kutaraja, Aceh. Ini adalah masa revolusi sosial, agresi militer Belanda yang memunculkan kekacauan sosial politik dengan risiko nyawa di Simalungun.
1949 – 1951: Membantu pelatihan musik untuk para tentara di Kutaraja selama dua tahun terakhir pengungsiannya. Ini setelah Taralamsyah dan keluarga kembali dari Bukit Tinggi dengan mengarungi Samudera India lewat Padang menuju Kutaraja. Dia terancam sebagai ningrat Simalungun di era revolusi sosial dan juga terancam oleh kedatangan kembali Belanda dalam statusnya sebagai pegawai pemerintah.

1952: Setelah aman dia berangkat dari Kutaraja, Aceh ke Medan dan membina kesenian Simalungun di Medan (musik dan tari) yang berlangsung sampai 1970. Sambil membina kesenian Simalungun, dia membantu M. Sauti menyusun tari-tarian Melayu seperti “Kuala Deli”, “Mainang”, “Tanjung Katung” dan lainnya sampai 1953.

1954: Mengikuti misi tur kesenian dalam rangka pertukaran Budaya dan Kesenian Indonesia ke Beijing, Tiongkok. Rombongan mempersembahkan tarian “Sitalasari” dan “Pamuhunan”. Setahun setelah mengikuti misi kesenian RI pertama ke Tiongkok ini, dia juga melanjutkan peran sebagai pelatih tari Melayu dan tari-tarian dari daerah lain di Sumatera Utara dengan lokasi di Medan. 

Masih dalam rangka perannya di bidang seni Simalungun, Taralamsyah mengadakan siaran berkala khusus untuk lagu-lagu daerah Simalungun di RRI Medan


1959: Merekam lagi lagu-lagu Simalungun di empat piringan hitam di studio RRI Medan untuk keperluan LOKANANTA, perusahaan di bidang rekaman milik Departemen Penerangan yang bermarkas di Solo. Rekaman ini merupakan kelanjutan dan hasil kinerja buah dari pendirian Orkes Nalaingan bersama Djawalim Saragih dan Saridin Purba pada tahun 1959. Orkes ini khusus untuk musik Simalungun walau sesekali mereka memainkan juga lagu-lagu non-Simalungun.

Pendirian Orkes Nalaingan ini merupakan sambutan atas reaksi pemirsa RRI yang menikmati siaran-siaran lagu Simalungun. Masa kejayaan Nalaingan berlangsung hingga 1965 yang membuat para personel sering bepergian ke luar kota karena diminta tampil untuk menghibur.

1963: Memimpin rombongan Sabang-Merauke untuk menampilkan tarian “Haroan Bolon” pada pembukaan Ganefo (Game of New Emerging Forces) di Jakarta. 

Dia juga menjadi koreografer untuk tarian “Tembakau” khusus bagi siswa kebidanan di Rumah Sakit PPN Tembakau, Medan.

1968 – 1970: Dosen Sastra Sejarah di Universitas Sumatera Utara
1969: Turut membidani pendirian Sekolah Menengah Musik yang berdiri pada 25 November 1969 dan kini menjadi SMK Negeri 11 Medan

1970: Membawa misi kesenian ke Johor Malaysia (Mahasiswa USU Medan) dengan menampilkan tarian “Makkail” dan “Haroan Bolon”

1971: Berangkat untuk berkarya dan menetap di Jambi

1973: Dua kali membawa rombongan kesenian Jambi ke Jakarta untuk mengikuti Festival Kesenian Mahasiswa se-Indonesia dan meramaikan pameran Visuil Pembangunan Indonesia
1974: Membawa rombongan kesenian Jambi ke Singapura

1975: Membawa rombongan kesenian Jambi ke Jakarta untuk pembukaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
1978: Gubernur Jambi Jamaluddin Tambunan menginstruksikan penelitian dan pencatatan seni musik dan tari daerah Jambi. Instruksi langsung kepada Taralamsyah Saragih sebagai ketua tim dengan anggota Surya Dharma, Tamjid Widjaya, OK. Hundrick, Marzuki Llazim dan M. Syafei Ade. Hasilnya adalah sebuah buku berjudul “Ensiklopedi Musik dan Tari Daerah Jambi”.

Di Jambi dia tidak melupakan Simalungun dan tetap mendalami seni musik dan budaya Simalungun. Dari Jambi dia melayani korespondensi dengan Arlen Dietrich Jansen untuk mendapatkan gelar doktor (PhD) di State University of Washington (1980) dengan tema disertasi musik gonrang Simalungun.

Di Jambi dia juga melakukan penyusunan “Kamus Bahasa Simalungun” dan “Sejarah Garingging”
1993: Wafat dan dimakamkan di Jambi. (Simon Saragih)

(DRAF FINAL) Dari Jambi, Dia Rindu Simalungun

Taralamsyah Saragih Garingging
"OOH.... DJAHODIM, MASIH ADA NGAK KAU"
Oleh: Taralamsyah Saragih

"PERNAH ketemu Prof DR Bungaran Saragih, yang dosen IPB itu?" demikian Taralamsyah Saragih pada putranya Eddy Edy Taralamsyah Saragih Garingging dalam sebuah wawancara pada 16 Februari 1991, atau dua tahun sebelum Taralamsyah wafat.

Ini adalah sebuah kesempatan perbincangan bapak-anak, dimana Edy tampak keteter saat berdiskusi soal seni budaya karena Edy tidak tahu banyak soal Simalungun.

Akan tetapi Edy tanpa sadar telah melakukan tugasnya sebagai Simalungun dengan mencoba mengungkit bagian terpenting dari sejarah Simalungun. Edy merekam percakapan yang sedikitnya membuka tentang siapa sesungguhnya Taralamsyah.

Ini sebuah perbincangan dengan seseorang pakar budaya Simalungun, dengan bakat yang tidak bisa ditandingi oleh siapapun sampai sekarang di Simalungun. Ini perbincangan di rekaman itu adalah tentang seseorang yang konstan bermimpi melestarikan budaya.

Namun ada yang unik dari wawancara itu. Menambah nuansa, ada kerinduannya yang ternyata tidak pernah pudar dari Taralamsyah pada tano hasusurannya (asalnya), Pematang Raya. Walau sudah 20 tahun dia tinggalkan, dia tetap ingat segala hal yang indah tentang lingkungan di masa kecilnya.

Dalam wawancara itu dia bertanya pada Edy, tentang keadaan orang-orang yang telah dia tinggalkan sejak pergi ke Jambi tahun 1971.

Hingga tahun 1991 bisa dikatakan dia seperti hampir putus kontak dengan kampung halaman dan relasi lama. Maklum, teknologi komunikasi tidak selancar sekarang.


Muncul pertanyaannya pada Edy, yang sengaja datang dari Jakarta menjenguk ayah yang sudah di usia lampu merah. "Pernahkah engkau bertemu Bungaran?"

Putranya bingung nama yang dia sebut. Maklum, Edy mengatakan dia sendiri pun pernah seperti ikut terputus akibat kisah bapaknya yang membawanya juga sempat jauh dari akarnya. Saat itu Prof DR Bungaran belum terkenal seperti sekang. Mereka ini masih keluarga dari trah Saragih Garingging.

"Dia (Bungaran) itu, cucu saya. Dia anaknya Djahodim. Oh… Djahodim masih ada ngak kau," demikian Taralamsyah seperti terasuki kerinduan mendalam.

Dia seperti meringis sedih dan amat rindu pada Djahodim, teman akrabnya di masa kecil. DR Bungaran mengatakan nama lengkap ayahnya adalah Djahodim Waldensius Saragih.

"Saya suka takenang akan kampung halaman dan masa kecil di Raya. Enak, dan indah masa lalu itu. Kalian sekarang enak, sangat mudah cari uang. Kami dulu uang itu tidak perlu," kata Taralamsyah yang kadang berkomunikasi dengan campuran dalam bahasa Jambi pada putranya.

Taralamsyah berbincang-bincang setelah dia kaget sedang direkam oleh Edy. "Aduh, ngapain pula kau lakukan itu, miskin kalilah bapakmu, demikianlah nanti kata orang jika melihat saya begini di rekaman videomu. Bajunya pun begitu, demikian nanti kata orang," kata Taralamsyah.

Taralamsyah memang tidak kaya. Akan tetapi dia tidak melarang direkam. Dia ingin orang-orang tahu dia secara apa adanya.

Dia terus diam-diam direkam sembari melanjutkan penulisan ensiklopedia Simalungun, dengan mata yang harus dekat dan hanya berjarak tiga sentimeter. Dia memang hanya berpakaian kaus oblong.

Taralamsyah menyebut lagi beberapa nama lain yang masih dia kenang. "Jika nanti kau kasih rekaman video, seperti kepada Menna, pasti dia akan bilang, ‘Oh masih hidup Tulang saya itu. Demikian juga Lenny, pasti bilang masih hidup rupanya bapakku itu."

Menna adalah keponakannya karena ibu Menna adalah saudari Taralamsyah. Lenny adalah keponakannya juga karena Jan Kaduk adalah saudara Taralamsyah.

Dalam lanjutan wawancara itu Taralamsyah terus bertanya tentang banyak orang.

"Si itu gimana kabarnya, istri si Djawamen, kalau jumpa dengan saya pasti menangis dia itu," demikian Taralamsyah mengingat nama-nama lama yang selalu menyanyanginya tetapi sayangnya mereka telah terpisah oleh waktu dan lokasi.
Taralamsyah memang jelas dirindukan banyak orang sebagaimana dia pun tetap rindu pada Simalungun. Bahasa Simalungun pun tak pernah dia lupakan.(Simon Saragih)

DRAF FINAL Simalungun Gagal “Mengembalikan” Taralamsyah

KINERJA Taralamsyah yang mendongkrak budaya Jambi sontak membuka mata dan pikiran para elite Simalungun dekade 1970-an. Lalu muncullah diskusi di antara para elite. Intinya, ada niat mendatangkan Taralamsyah. 

Rencana dekade 1970-an ini dimotori salah satunya oleh DR Cosmas Batubara, saat menjabat sebagai Menteri Negara untuk urusan pembangunan perumahan rakyat.
Dia bersama beberapa orang Simalungun pernah berniat memanggil almarhum Taralamsyah untuk berkarya di Jakarta demi pengembangan budaya Simalungun.

Tujuannya adalah mengembangkan budaya Simalungun dengan markas di Jakarta. Ini dipicu keberadaan anjungan Sumut di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Di dalamnya ada rumah khusus untuk aktivitas budaya Simalungun.

DR Cosmas pun memanggil Taralamsyah ke Jakarta. "Ai mase lang seni Simalungun-lah ibahen hita maju, anggo boi do hita maju, mase ikkon seni ni halak ipamaju?" demikianlah kurang lebih isi perbincangan antara DR Cosmas (saat itu Menteri Perumahan) dan Taralamsyah di Jakarta, dekade 1970-an lalu.
Untuk rencana ini dilakukalah serangkaian rapat di Markas Polisi di Jalan MT Haryono Jakarta. Taralamsyah pun pernah turut hadir dalam beberapa rapat. Intinya dirancanglah upaya mendatangkan Taralamsyah.

Namun niat ini tak jadi diwujudkan.
“Menna, ai lang saut au na hu Jakarta ai da nang,” demikian isi korespondensi bernada curahan hati antara Taralamsyah dengan Menna Purba. Artinya, “Menna, saya gak jadi ya ke Jakarta.”

Taralamsyah adalah Tulang kandungnya Menna karena merupakan saudara dari Ibundanya Menna. Taralamsyah dan Menna pernah eksis di Orkes Nalaingan bersama para personel lainnya. Walau mereka sudah beda lokasi, Taralamsyah di Jambi dan Menna di Jakarta, hubungan kekeluargaan tak pernah putus.

Mengapa Taralamsyah dulu tidak jadi ke Jakarta demi Simalungun?
Terdengar, rencana itu karena karena Taralamsyah dihambat.

Menurut Lenny Garingging Haloho, yang juga ikut rapat, kegagalan itu bukan karena Taralamsyah dijegal. “Ya begitulah kita Simalungun ini, memang kuranglah... Tidak ada yang mau berkorban untuk merealisasikan kedatangan dan perpindahannya ke Jakarta.”

“Dan saya sendiri memang berkata pada Bapanggian Taralamsyah. Panggi, tidak usahlah ke sini, ke Jakarta. Kasian aku nanti lihat Panggi. Di Jambi kan Panggi sudah dapat rumah dan dapat honor dari Pemda Jambi. Kalau panggi lepas dukungan Pemda Jambi, 
sementara dukungan di Jakarta belum pasti, nanti panggi pasti kecewa. Jika panggi ke Jakarta dan dukungan belum pasti, akan sulit pula panggi kembali ke Jambi karena sudah melepas dan sudah kehilangan dukungan Pemda Jambi.”
Hubungan Taralamnsyah dengan Lenny juga tetap dekat hingga menjelang akhir hayat Taralamsyah.
Pernyataan Lenny kurang lebih senada dengan jawaban Cosmas. "Hita Simalungun kurang mau berkorban bersama. Hal yang ada adalah mate-mate sada."
Cosmas tidak merinci lebih jauh.
Mungkin hal yang terjadi adalah sebagai berikut ini. Ketika membicarakan sesuatu, selalu ada antusiasme. Namun ketika tiba pada tuntutan pengorbanan, katakanlah pengeluaran uang, itu relative sulit diwujudkan. 

Dalam pertemuan di MT Haryono itu, semua mendadak diam ketika tiba pada pertanyaan, "Sadia han bam, han hanima, han ho?"

Artinya, berapa kesanggupan para hadirin untuk mendukung kehidupan Taralamsyah di Jakarta.
Tampaknya saat-saat seperti itu, suasana senyap. Gagallah Taralamsyah hijrah ke Jakarta.
Terdengar Taralamsyah menuntut banyak hal. “Bapak saya hanya minta disediakan tempat tinggal biasa dan nafkah demi dapur ngebul saja. Tuntutan bapak tidak berlebihan,” kata Edy Taralamsyah.(Simon Saragih)


Taralamsyah Saragih

Pendirian Tower Areal Padat Penduduk Mengancam Hak Hidup Warga Bahkapul

Written By Berita Simalungun on Senin, 01 September 2014 | 23.22

Menampilkan 20140809_112536.jpg
Warga menahan Pihak perusahaan memasukkan bahan matrial.
BERITASIMALUNGUN.COM, Siantar-Rencana pembangunan menara telekomunikasi di lahan kosong padat penduduk diantara rumah warga Kompleks Perumahan Rindam Kelapa Dua Kelurahan Bahkapul Kecamatan Siantar Sitalasari berdampak penolakan dari warga. Surat persetujuan yang dimiliki pelaksana penbangunan tower dan pemerintah setempat untuk mengurus rekomendasi IMB - HO tidak diakui keabsahanya oleh warga.

Konon ceriteranya warga mengetahui rencana pendirian tower akhir September 2013 silam. Ketua RT001 Wakijan didampingi RT 002 L.Hutauruk mendatangi warga secara Door to Door guna mengumpul KTP dan tanda tangan dengan alasan adanya bantuan pemerintah dan alasan lainya akan adanya pembangunan tower tetapi tidak disebutkan dimana lokasi tepatnya dan bukan dilokasi yang saat ini sedang dibersihkan, jalan komando 32 Kelapa Dua.

Pembohongan oknum 2 Orang Ketua RT yang diduga telah mendapat segepok uang ataupun sudah diimingi upah jasa akan peresetujuan pendirian tower  kepada warga berbuntut protes dan ketidak percaya. Malah informasi didapat dalam surat persetujuan yang dimiliki PT. Padi Mekatel bukan merupakan tanda tangan warga setempat dan anehnya ada tanda tangan warga yang sudah meninggal

R.Sinaga warga setempat yang rumahnya tepat dibelakang lahan kosong tempat rencana pembangunan tower sangat menolak pembangunan tower mengingat akan dampak gangguan yang dihasilkan gelombang elektromaknetik yang fatal mengancam kesehatan warga khususnya anak dibawah usia 16tahun, selain resah akan ancaman keselamatan hidup warga setempat apabila pondasi tower tidak mampu menahan konstruksi baja tower bila sewaktu waktu akan tumbang

"Rencana pendirian tower setinggi 42meter ini pertama saya tau setelah pulang kerja dimana orang tua perempuan saya, Ibu Dewi (58) pagi hari didatangi oleh 2 orang yang tidak asing merupakan ketua RT 001 dan 002 sekitar awal bulan januari 2014 silam, dimana kedua Ketua RT meminta tanda tangan maupun foto copy KTP dengan alasan akan adanya bantuan dari pemerintah" tuturnya

"Sorenya saya dengar dari tetangga rumah maupun warga lainya akan ada rencana pendirian tower tetapi belum tau pasti dimana lokasi tepatnya, sehingga saya dan bebrapa orang warga mencari tau dan mendatangi ketua RT 002 Bapak L.Hutauruk alhasil saya dapat informasi akan ada pembangunan tower dibelakang rumah kami dengan tegas saya langsung mengeluarkan sikap menolak rencana tersebut  malah L.hutauruk dan keluarganya  mengusir kedatangan kami" ujarnya

"Dengan adanya opini keluarga Ketua RT bahwa kedatangan kami membuat keributan, kami langsung menuju kediaman Ketua RT 001 Bapak Wakijan dengan alasan untuk mengembalikan uang yang dibagi bagi sebesar Rp. 500.000.- karena kamu tau kedua ketua RT ini yang memberikan uangnya" tegasnya

"Anehnya dalam surat persetujuan yang dipegang rekanan atas tanda tangan persetujuan 80% bukan warga berdomisi di Kelapa Dua ini tetapi ada yang di Balata, Batam, Naga Huta bahkan ada yang sudah meninggal, kan tidak jelas itu surat persetujuan. Anehnya Ibu Bukit (65) warga sini yang rumahnya langsung berhampiran sebelah kanan dengan lahan kosong rencana pendirian tower tidak tau menau akan adanya pendirian tower tersebut" tutubnya

Sebelumnya R.Sinaga, R.Simbolon, Agustinus Sitanggang mendatangi rumah dua RT yang diduga menjadi kaki penghubung dipercayakan oleh Perusahaan pelaksana pendiri tower tanggal 31 mei 2014 silam untuk audiens tentang keberatan warga ternyata Wakijan terkejut melihat hasil tanda tangan yang 80% bukan warga yang berdomisili di Kelapa Dua Bahkapul. Malah Wakijan waktu penanda tanganan surat pengantar persetujuan hanya diberikan kertas kosong untuk ditanda tangani menggunakan Kop Surat PT. Padi Mekatel dengan tegas dihadapan warga secara pribadi Ketua RT mencabut kembali tanda tangan persetujuan.

Gontino Lubis (36) warga setempat ditempat yang sama, minggu (31/8) pukul 16.31wib menjelaskan  sangat menentang rencana pendirian tower yang belakangan ini diketahui pelaksana bermarga Simanjuntak berdomisili di jakarta, malah dirinya pernah diancam akan dibunuh oleh Alan Ginting selaku Kepercayaan PT. Padi Mekatel

Dengan adanya pengancaman pembunuhan Gontino langsung menyambangi kantor Polsek Siantar Martoba guna melakukan laporan pengaduan namun salah seorang anggota Polsek bermarga Damanik menolak dengan mengeluarkan opini tidak ada didapati unsur kriminal karena tidak ada pemukulan

"Rabu (8/1) pukul 17.00wib sosialisasi pendirian tower diprakarsai L. Hutauruk dihadiri 30 orang warga setempat namun tidak ada keputusan yang didapat malah warga sangat berkeras untuk menolak sehingga sempat terdengar suara keras" ujarnya

"Saya merasa terancam akan ancaman yang dilakukan Alan Ginting sehingga Kamis (14/8/2014) silam saya mengadukan perbuatan kriminal tersebut, tetapi saya sangat kecewa karena seorang anggota Polsek marga Damanik tidak menerima laporan saya karena beliau mengatakan tidak ada unsur kriminal" tegasnya.

Wakijan ketua RT 001 Kelapa Dua maupun Lurah Bahkapul B.Damanik tidak berhasil dihubungan melalui telepon selular, dan dikonfirmasi melalui pesan singjkat tidak ada sepatah kalimat pun balasanya.

Seorang kepercayaan perusahaan yang enggan namanya dipublikasikan saat dikonfirmasi melalui telepon selular menjelaskan bahwa warga Kelapa Dua Bahkapul sangat tidak profesional dengan menolak rencana pembangunan tower, malah apabila ada upaya warga setempat untuk menghalangi kegiatan mulai awal akan dihadapkan dengan hukum.

Warga Kelapa Dua Bahkapul dengan tegas meminta Walikota Pematangsiantar, Hulman Sitorus,SE supaya menginstruksikan kepada Kadis Perhubungan, Kadis Tarukim dan Ka.BPPT untuk tidak menerbitkan sepucuk surat rekomendasi tentang rencana pendirian tower bila mana kalau masih ada seorang warga sekalipun menolak

Meraja lelanya pendirian tower diwilayah padat penduduk se kota Pematangsiantar membuat keresahan tersendiri dikalangan marsyarakat yang merasa kelayakan hidup telah dikankangi oleh Drs. Esron Sinaga selaku penerbit IMB - HO. Untuk meminta penjelasan akan Hak Hidup warga bahkapul beserta warga Melayu akan menyeruduk kantor Walikota, DPRD dan juga BPPT Kota Pematangsiantar hari Rabu (3/9/2014) mendatang dimana surat pemberitahuan aksi unjuk rasa telah diberikan kepihak Polres Siantar.(SyamP)

 

Perekonomian Semakin Merosot, Warga Simalungun Memilih Eksodus dari Talun Simalungun

Warga Simalungun asal Desa Hinalang yang memilih eksodus ke Kota Jambi akibat ekonomi yang semakin mereosot di kampung halaman. Di Kota Jambi mereka tetap berprofesi sebagai petani namun lebih menguntungkan karena akses pasar yang dekat. Foto Asenk Lee Saragih.
BERITASIMALUNGUN.COM, Jambi-Talun (Tanah) Simalungun tidak diragukan lagi tentang kesuburannya. Berbagai tanaman holtikultura terlebih tanaman pangan serta sayuran sungguh subur menghijau di Talun (Tanah) “Habonaron Do Bona” tersebut.

Namun kenapa hingga kini Talun Simalungun tidak mampu menjadi magnet bagi warganya sendiri. Tentunya Budaya Eksodus dari Talun Simalungun ke perantauan menjadi tantangan bagi Pemerintah Kabupaten Simalungun.

Keluarga Kel Sumbayak/br Sihotang merupakan contoh warga Simalungun yang eksodus ke Provinsi Jambi untuk memperbaiki ekonomi. Bayangkan saja, walau sudah usia tak muda lagi masih berencana pindah dari Desa Bah Bolon, Dologuluan, P Raya hanya karena kesulitan ekonomi di sana.

Awalnya Sumbayak berprofesi sebagai pembawa buah dari Berastagi ke Jakarta. Tidak betah dengan profesi penjual buah jeruk, Sumbayak melirik lokasi untuk berniat membangun perkebunan kelapa sawit.

Sebelumnya keluarga Sumbayak sudah memiliki lahan sawit di Bagan Batu, namun gagal. Namun saat dirinya melintas di Lintas Timur Provinsi Jambi tepatnya di Tungkal Ulu, dirinya bertanya kepada warga tentang harga lahan.

“Saat itu sekira 14 tahun lalu harga lahan masih lumayan murah yakni Rp 1 juta per hektar. Saya juga berpikir kalau kelapa sawit perawatannya tidak rumit. Sekali tanam bisa panen selama 10 tahun. Ini dalam pikiran saya lebih baik daripada menanam jagung dan padi di kampong yang hasilnya kurang memuaskan,”kata Sumbayak saat Sauhur berkunjung ke rumahnya belum lama ini.

Dengan berbekal kepercayaan diri dengan usaha yang gigih, akhirnya Sumbayak membeli lahan di Kecamatan Purwodadi, Tungkal Ulu. Setelah kebun sawit sudah menghasilkan, keluarga besarnya pun eksodus ke Purwodadi.

“Inilah Tanah Kanaan itu. Disini kami dapat mencukupi ekonomi dengan berkebun sawit. Semua keluarga dekat ditarik ke sini dan bersama-sama berkebun. Ekonomi kami di sini lebih baik daripada di Bah Bolon, Dologuluan,”kata Sumbayak.

Anju Sumbayak, anaknya juga mengatakan hal senada. Menurut Anju, keluarganya semua telah pindah ke Purwodadi. “Semua berkebun sawit di Purwodadi. Selain berkebun juga sebagai agen sawit di Purwodadi. Kami semua kompak dalam menjalankan usaha ini,”katanya.

Keluarga Sumbayak br Sihotang merupakan salah satu dari puluhan keluarga Simalungun yang mengadu nasib di Purwodadi. Sedikitnya 30 kepala leluarga (KK) ada warga Simalungun di Tungkal Ulu.

Bahkan warga Simalungun disana kini mulai menjejaki kumpulan warga Simalungun di Tungkal Ulu. Hal itu dilakukan guna menjalin silaturahmi warga Simalungun di Tungkal Ulu.

Eksodus dari tanah Simalungun juga terjadi di Desa Bangun Garingging, Teluk Kuantan atau perbatasan Riau, Jambi dan Sumbar. Sekitar 36 KK warga asal Desa Raya Usang eksodus ke Desa Bangun Garingging tersebut dengan profesi berkebun.

Menurut Dermaulian Purba (38) kepada BS disela-sela Pesta Peresmian GKPS Muarabungo, Minggu 20 November 2011 lalu mengatakan, budaya eksodus dari talun Simalungun sudah tidak asing lagi.

Dermaulian Purba yang juga menjabat Pengantar Jemaat Pos PI GKPS Bangun Garingging, mengatakan, lokasi mereka berada di Desa Sungai Sunagi Garingging, Kecamatan Kwansing, Kabupaten Teluk Kwantan yang berbatasan dengan Kabupaten Tebo atau 120 KM dari Kabupaten Bungo.

Disebutkan, sebanyak 36 KK warga Simalungun asal Raya Usang kini sudah berdomisili di di Desa Sungai Sunagi Garingging, Kecamatan Kwansing, Kabupaten Teluk Kwantan. Semua warga berprofesi sebagai petani kebun sawit.

Budaya eksodus ke tanah perantauan secara besar-besaran sudah kerap terjadi di Simalungun. Di Jambi sendiri eksodus itu terjadi sejak tahun 1970an. Padahal para perantau asal Tanah Simalungun di Jambi berprofesi sebagai petani dan buruh kasar. Jumlahnya tergolong banyak.

Lalu apa yang membedakan petani di Simalungun dengan petani orang Simalungun di Jambi!, ternyata bedanya adalah akses untuk pemasaran lebih mudah ke jantung pasar sehingga tidak banyak biaya pengeluaran transportasi.

Hal seperti ini tidak ada di Simalungun. Selaian harga hasil pertanian murah, jalan pertanian juga masih amburadul. Sehingga biaya panen petani hingga ke pasar membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Namun hingga kini Pemerintah Simalungun sebagai penanggungjawab infrastruktur, masih “tidur” dan belum  mampu memperbaiki akses jalan menuju sentra pertanian di Simalungun.

Diharapkan Pemkab Simalungun untuk memprioritaskan infrastruktur jalan ke sentra pertanian di Simalungun sehingga masyarakat Simalungun khususnya petani tidak eksodus ke Provinsi lain dengan profesi yang sama. 

Budaya eksodus dari Talun Simalungun juga terjadi dari Desa Hinalang, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun. Sedikitnya 10 KK warga Asal Desa Hinalang mengadu nasib di Kota Jambi hanya bercocok tanam (jagung, ubi, sayuran, pepaya).

Salah satunya Sy Bp Agus Purba Pakpak/br Lingga. Mereka ke Jambi mengadu nasib hanya mengandalkan bercocok tanah pinjaman milik St RK Purba Pakpak di wilayah Kenali Besar. 

Setidaknya dengan kegiatan bercocok tanam itu, meraka bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga serta menyekolahkan anak-anak mereka. 

"Bertani di kota cukup menguntungkan. Setelah panen kita hanya menjajakannya di pinggir ladang dengan membuat rak atau tempat berjualan. Pembeli datang membeli dengan harga yang lumayan. Inilah keuntungan bertani di kota, tak perlu repat memasarkan hasil panen," kata Pa Agus Purba.

Mereka eksodus dari Hinalang, karena pertanian yang digeluti di desa mereka kurang menjanjikan. Selain harus memiliki modal besar, cuaya yang kurang bersahabat dan pemasaran yang sulit akibat kondisi jalan yang rusak membuat hasil panen terus merugi.

"Eksodus dari Tanah Simalungun dengan menguju nasib dengan profesi yang sama yakni bertani, lebih menguntungkan di kota-kota. Karena akses pemasaran yang dekat serta pembeli cukup beragam tanpa melalui perantara tengkulak," kata Pa Agus.  (Asenk Lee Saragih)

Mapan : Rumah permanen Kel Sumbayak/br Sihotang di Kecamatan Purwodadi, Tungkal Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Keluarga Sumbayak tergolong sukses di perantauan dibandingkan dengan hidup mereka di tanah kelahirannya di Dologuluan P Raya.Foto asenk lee saragih.
 
Warga Simalungun asal Desa Hinalang dan Saribudolok yang memilih eksodus ke Kota Jambi akibat ekonomi yang semakin mereosot di kampung halaman. Di Kota Jambi mereka tetap berprofesi sebagai petani namun lebih menguntungkan karena akses pasar yang dekat. Foto Asenk Lee Saragih.

Warga Simalungun asal Desa Hinalang yang memilih eksodus ke Kota Jambi akibat ekonomi yang semakin mereosot di kampung halaman. Di Kota Jambi mereka tetap berprofesi sebagai petani namun lebih menguntungkan karena akses pasar yang dekat. Foto Asenk Lee Saragih.

Warga Simalungun asal Desa Hinalang yang memilih eksodus ke Kota Jambi akibat ekonomi yang semakin mereosot di kampung halaman. Di Kota Jambi mereka tetap berprofesi sebagai petani namun lebih menguntungkan karena akses pasar yang dekat. Foto Asenk Lee Saragih.



Menguak Tabir Kepemimpinan Dr.JR.Saragih. SH.MM Diduga Terjadi Praktek Pencucian Uang

Written By Berita Simalungun on Sabtu, 30 Agustus 2014 | 06.56

Dr.JR.Saragih. SH.MM

BERITASIMALUNGUN.COM, Simalungun-Hasil pemeriksaan keuangan pemerintah Simalungun Tahun Anggaran 2013 yang dilakukan BPKP Sumut nomor 01.B/LHP/XVIII.MDN/04/2014 terdapat kejanggalan temuan adanya 2 nomor rekening Kas daerah dan 10 nomor rekening SKPD tanpa didasari SK Bupati Nomor 188.45/0203/DPPKA/2013 kuat dugaan sudah terjadi praktek pencucian uang.

Didapati 12 nomor rekening yang tidak didasari hukum disinyalir sebagai rekening penyalur maupun rekening siluman untuk mengotak atik anggaran yang bersumber dari APBD dan APBN. Hal ini juga menjadi pengelolaan Kas Daerah dan Kas di Bendahara Pengeluaran tidak tertib. Dalam penyajian neraca anggaran akhir tahun 2013 adanya perbedaan selisih dengan saldo  buku Kas Umum sebesar Rp. 7.369.681.336.- sesuai dengan LKPj Pemerintah Kabupaten Simalungun menyajikan saldo Kas pada neraca sebesar Rp. 30.849.175.851.83 namun pada buku Kas Umum Daerah disajikan saldo sebesar Rp. 23.479.494.515.83.-

Adanya perbandingan selisih anggaran sebesar Rp. 7Miliar disinyalir sebelum ditutupnya rekening nomor 220.01.02.000001-0 sudah ada terjadi penyalah gunaan anggaran, guna menutupi terciumnya penyimpangan Bupati Simalungun, Dr.JR.Saragih,SH.MM selalu gonta ganti struktural SKPD. Penyimpangan anggaran juga sangat kuat tercium akan tidak adanya Bendara Umum Daerah.

Banyaknya dugaan penyimpangan keuangan Pemerintah Kabupaten Simalungun disinyalir lemahnya pengawasan dari Inspektorat Simalungun, atau ada juga indikasi peran serta Inspektorat sudah melakukan kecurangan akan pengawasan keuangan baik global maupun secara instansi.

Penyimpangan lain ataupun modus praktek pencucian uang disinyalir dari pembangunan kantor Bupati baru yang terlihat sangat dipaksakan, karena saat ini kantor Bupati lama masih layak ditempati mengingat sudah ditempati Kodim Simalungun

Narasumber yang enggan namanya dipublikasikan menjelaskan sarat terjadinya tindak pidana korupsi keuangan Simalungun dengan semakin berkembang pesat pembangunan aset pribadi Sang Bupati, hal ini dirangkum dengan adanya bangunan hotel city Simalungun yang kerap digunakan untuk perumusan APBD maupun acara lainya yang dihadiri mulai dari jajaran perangkat desa sampai pejabat eselon

Sudah merupakan rahasia umum dikalangan masyarakat akan dugaan korupsi dilakukan nomor satu Simalungun yang terlihat kebal bahkan tidak tersentuh hukum, mulai pengadaan kantor Bupati baru lahan yang sangat dipertanyakan sampai penyalah gunaan wewenang oleh pejabat dalam mengelola anggaran.

"Semua kebijakan Bupati sangat bertentangan dengan warga Simalungun khususnya gonta ganti eselon SKPD yang hakekatnya sebagai PPA sangat kuat dugaan hanya menutupi belang akan penyimpangan" jelasnya

"Harusnya kan sudah berhak penegak hukum melakukan tindak lanjut atau langsung melakukan proses hukum akan temuan BPKP, masa ada 12 nomor rekening yang tidak didasari SK Bupati, jangan hanya dilihat sudah ditutupnya rekening tersebut tetapi dilakukanlah audit secara siknifikan akan rekening tersebut sebelum ditutup berapa kali adanya proses keluar - masuk saldo" ujarnya

"Inspektorat haruslah tegas dan diminta supaya mampu membeberkan segala penyimpangan hasil LHP BPK tersebut jangan ditutup tutupi, supaya warga mengerti akan kebobrokan Pejabat Simalungun yang sesuka hati menggunakan anggaran" pintanya

"Saldo yang dilaporkan dalam Kas dengan yang disajikan dalam rekening saja didapati perbedaan sebesar 7Miliar apa tidak sangat janggal, harusnya KPK sudah berhak turun mengaudit keuangan Simalungun, siapa yang menggunakan selisih uang tersebut, dianggarkan kmana, atas dasar hukum apa selisih uang digunakan, harusnya dijabarkanlah dan BPK harus tegas memberikan masukan maupun data yang disinyalir tidak sesuai kepada KPK" tambahnya

Kepemimpinan bak komando militer menjadi salah satu alasan kalangan PNSD merasa tidak nyaman dan waswas malah saat ini sudah banyak yang urungkan diri untuk mencita citakan dipilih menjadi pejabat struktural karena adanya uang kursi yang harus disetor begitu juga untuk menjadi Kepala Sekolah sekalipun harus memberikan setoran uang yang disebut sebut sebagai uang pulsa

Kantor Bupati baru yang dibangun diatas lahan bermasalah sangat terlihat dipaksakan dan adanya politikal kepentingan individual tanpa adanya persetujuan dari DPRD Simalungun, begitu juga dalam hal pembangunan kantor Bupati baru petinggi nomor satu Simalungun telah melakukan pembohongan publik

Bernhard Damanik Anggota DPRD Simalungun melalui selular, Kamis (28/8) pukul 17.33wib menjelaskan dalam rapat banggar sudah dibahas tentang penyimpangan anggaran maupun adanya nomor rekening yang tidak didasari hukum, begitu juga adanya selisi saldo sampai sebesar Rp. 7 Miliar sudah layak di audit dan para penegak hukum harus mengambil sikap tegas.

"Kantor Bupati lama yang diserahkan ke Kodim sudah melanggar perundang undangan karena tidak ada perstujuan DPRD tetapi hanya dasar kebijakan Sang Bupati, kan penyerahan hanya karena dikatakan tidak layak pakai tetapi keabshan surat uji kelayakan sampai saat ini tidak pernah diketahui" jelasnya

"Penyerahan kantor sudah adanya  pembongan dilakukan Bupati kepada DPRD khususnya publik dulu dikatakan gedung tersebut akan runtuh tetapi diserahkan ke Kodim" ujarnya

"Pembangunan kantor baru sampai saat ini dilakukan diatas lahan yang bermaslah dimana lahan tersebut diklaim oleh J. Sinaga merupakan tanah hak milik atas namanya, sampai saat ini masih dalam tahapan proses hukum di MK, sehingga dalam hal ini yang dirugikan warga Simalungun, bila mana Mahkamah memutuskan bahwa sepenuhnya hak milik tanah tersebut dimenangkan JS" tambahnya

"Setiap pelanggar maupun penyimpangan yang sudah merupakan temuan BPK sudah di bahas di DPRD dan diharapkan Badan Anggaran tegas guna menghindari kerugian keuangan Kas daerah dan diharapkan sekali lagi Penegak Hukum dalam waktu dekat melakukan audit dan proses akan penyimpangan yang dilakukan Bupati Simalungun" tutupnya.

Humas Pemkab Simalungun Kepala Dinas Pendapatan dan Aset Daerah tidak berhasil dijumpai diruang kerjanya dengan alasan rapat dan tugas lapangan, begitu juga saat dikonfirmasi melalui telepon selular tidak pernah bersedia memberikan informasi yang berimbang. (SyamP)


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BERITA SIMALUNGUN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger