.

.
Email: beritasimalungun@gmail.com

BERITA TERBARU

INDEKS BERITA

Sah Sudah, Hefriansyah Jadi Wakil Walikota Pematangsiantar

Written By Berita Simalungun on Thursday, 23 February 2017 | 08:17


BeritaSimalungun.com, Medan-Akhirnya, sah sudah Hefriansyah Noor menjadi Wakil Walikota Pematangsiantar. Itu ditandai dengan pelantikannya Rabu sore (22/2/2017) oleh Gubernur Sumatera Utara T Eri Nuriadi atas nama Mendagri, di Lantai II Kantor Gubenur Sumatera Utara di Jalan Diponegoro Medan.

Hadir seribuan undangan mau pun yang tak diundang. Semua menunjukkan wajah-wajah ceria. Cerah, dan hujan pun mengguyur saat detik-detik pelantikan dilakukan.

“Semua yang hadir disini adalah orang-orang yang berjasa atau merasa berjasa atas kemenangan pasangan Hulman Sitorus - Hefriansyah Noor dalam pilkada barusan”, kata Ulamatuah Saragih, diaminkan Batara Manurung yang saya ajak berbincang di sela-sela acara pelantikan.

“Semua yang hadir disini sekarang, adalah orang-orang yang berharap pada Hefriansyah Noor. Tapi menyusul hanya hitung bulan kedepan, kebanyakan mereka akan kecewa bahkan ada yang menyesal”, kata saya. 

Ulamatuah Saragih dan Batara Manurung terlihat mengangguk. Meski pun tak jelas dan tak pasti apakah anggukan keduanya menunjukkan mereka setuju dengan ucapan saya. Soalnya, mengangguk belum tentu membenarkan atau setuju. Boleh jadi karena urat lehernya terasa sakit. Keseleo atau salah tidur misalnya.

Yang tak kalah menarik, pada pelantikan ini tampak banyak hadir komunitas masyarakat Melayu. Dalam sebuah acara sebelumnya di Gedung Bank Sumut, T Eri Nuraidi di celah pidato sambutannya mengatakan, hari ini ada peristiwa besar terjadi di Sumatera Utara. Seorang tokok muda Melayu akan dilantik sebagai Wakil Walikota Pematangsiantar.

“Dia itu kan anak main dan kadernya Ali Umry”, kata OK Rahmadhani, seorang di antara undangan yang datang dari Batubara.

Beberapa komunitas masyarakat Melayu yang saya kuping saling ngobrol. Secara umum mereka sangat bangga Hefriansyah menjadi Wakil Walikota Pematangsiantar. 

Makanya, banyak hadir warga Melayu pada acara pelantikan itu. Ada yang datang dari Serdang Bedagai, Deli Serdang, Batubara, Asahan bahkan dari Labuhanbatu, Langkat dan Kota Medan sendiri. Bahkan keturunan Sultan atau OK banyak yang hadir tutur mereka. Sayangnya, saya tidak hafal nama-nama mereka.

Kalau dari Siantar, agaknya yang hadir berasal dari etnis apa saja. AdaSimalungun, Karo, Pakpak, Nias, Toba, Samosir, Humbang dan Silindung. Juga Mandailing, Angkola mau pun Sipirok, Minangkabau, Jawa, atau keturunan Pakistan. 

Tidak ada saya lihat seorang pun Cina. Dari komposisi kehadiran itu agaknya merupakan gambaran dukungan massyarakat Kota Pematangsiantar terhadap Hefriansyah.

Ada juga terlihat mereka yang berasal dari kalangan pengusaha, politisi, birokrat dan entah apa lagi. Khususnya, para birokrat Pemko Pematangsiantar terlihat datang bergerombol atau berkelompok. 

Yang saya lihat ada Kelompok Baren Alijoyo Purba bersama Pariaman Silaen dan beberapa lainnya. Ada juga Kelompok Rumondang Sinaga, dan kelompok-kelompok lainnya. Saya tidak melihat Reinward Simanjuntak, Leo Simanjuntak apalagi Kartini Batubara.

Saya tidak sempat melihat-lihat bunga papan yang dipasang di pekarangan Kantor Gubernur Sumatera Utara secara keseluruhan. Cuma beberapa saja yang ‘terlanjur’ saya lihat bunga papan yang berasal dari Gandi Tambunan, juga Dr Ronald Saragih. 

Gandi Tambunan adalah mantan Sekda Tapanuli Utara dan mantan Kepala Dinas Perumahan Sumatera Utara yang sekaligus menjadi pengusaha. Hefriansyah kabarnya berkantor di gedung yang sama dengan Gandi Tambunan di Jalan Multatuli.

Saya juga tidak melihat Abanganda Syahrial Ams, yang setahu saya kerabat Hefriansyah Noor. Dulu, saya, Gandi Tambunan, Syahrial Ams dan Amri Tambunan tinggal dan menetap di kawasan Jalan Multauli dan Haji Miscbah, dekat Polonia sana. 

Tapi antara saya dan Syahrial Ams serta almarhum Amri Tambunan yang mantan Sekdakot Medan dan mantan Bupati Deli Serdang itu terpaut usia belasan tahun. 

Waktu zaman ganyang-ganyang PKI, Abanganda Syahrial Ams dan Gandi Tambunan serta Amri Tambunan, sudah menjadi pionir, sedang saya masih ngekor-ngekor. Anak bawang, istilah Medan-nya.

Kembali pada pelantikan Hefriansyah, seribuan orang berjejal berbaris bagai ikan rebus dalam keranjang menjabat telapak tangannya sebegitu acara pelantikan usai. 

Saya tidak latah ikut-ikutan menyalaminya, sakin berjejal dan padatnya antrian itu. Dari dulu saya nggak berbakat menyalami orang yang dilantik untuk menduduki jabatan tertentu. Apalagi, kalau seseorang yang dilantik itu tidak saya kenal secara dekat.

Saya memang hampir tidak mengenal Hefriansyah secara fisik sebelum dia terpilih menjadi Wakil Walikota Pematangsiantar. Waktu proses pilkada Pematangsiantar sedang berlangsung, saya paling-paling kenal namanya saja. Namanya pun, Calon Wakil Walikota. Tentu saja namanya ‘marsaringar’ dimana-mana. Disebut-sebut orang banyak dan ditulis di surat kabar atau media online.

Saya mulai mengenal Hefriansyah saat hari pemakaman almarhum Hulman Sitorus. Jelang acara pemakaman, saya ngobrol dengan teman saya Tahan M Panggabean dan rombongan DPD Partai Demokrat Sumatera Utara serta Johalim Purba yang Ketua DPRD Simalungun dan Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Sumatera Utara di Lobby Siantar Hotel. Tiba-tiba Hefriansyah Noor datang bersama Abanganda Syahrial Ams serta istrinya Hj Siti Aminah Lubis yang saya panggil Kakak.

“Kawal saya Tulang ya”, kata Hefriansyah saat itu kepada saya. Baru kali itulah saya mendapat tahu, istrinya adalah Boru Hutabarat setelah diberi tahu Abanganda Syahrial Ams. Saya cuma mengangguk. 

Bagi Orang Batak, Borunya memang wajib dikawal. Bahkan dilindungi dan dibela sampai mati. Sampai tetes darah terakhir. Sebenarnya secara Adat Batak, saya bukan Tulang Hefriansyah Noor. Dan dia bukan Bere saya. Kalau istrinya Boru Hutabarat, itu artinya saya hula-hulanya. Sedang dia merupakan Raja ni Parboruan saya.

Setelah itulah, beberapa kali antara saya dan Hefriansyah terjadi komunikasi. Tapi terus terang, saya tak terlalu suka berkomunikasi dengannya. Kenapa ? Nggak tahu persis saya. Yang saya tahu persis, saya nggak cocok berkomunikasi dengannya. Karena nggak cocok, ya nggak sukalah saya. Kenapa rupanya. Adong na keberatan ? (Medan, 22 Pebruari 2017-Ramlo R Hutabarat)

Hefriansyah Resmi Jadi Wakil Walikota Pematangsiantar













BNN Siantar Sita 56 Butir Ekstasi

BNN Siantar Tangkap 5 Wanita dan 3 Pria, Serta Sita 56 Butir Ekstasi Rabu (22/2/2017) malam.IST

BeritaSimalungun.com, Siantar-Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Siantar berhasil menangkap 5 wanita dan 3 pria terkait dugaan penyalahgunaan narkoba, Rabu (22/2/2017) malam. Barang bukti yang berhasil ditemukan berupa pil ekstasi sebanyak 56 butir.

Penangkapan dipimpin Kepala Seksi (Kasi) Pemberantasan BNN Kota Siantar, Kompol Pierson Ketaren, dari dua lokasi berbeda. Awalnya, petugas BNN menangkap dua orang pria dari Hotel Anda, Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur, Kota Siantar.

Untuk menangkap kedua pria itu, petugas BNN disebut menunggu dan mengintai selama tiga jam. Begitu target keluar dari Hotel, penggrebekan dilakukan. Dari kedua pria tersebut didapatkan 40 butir pil ekstasi. Setelah diterogasi, pengembangan-pun dilakukan.

Hasilnya, petugas BNN berangkat ke Jalan Maluku, Kelurahan Bantan, Kecamatan Siantar Barat, Kota Siantar. Persisnya, melakukan penggrebekan dan penggeledahan dirumah boru Simanjuntak. Dari penggrebekan kedua ini, aparat BNN Kota Siantar menangkap 5 orang wanita dan seorang pria, dengan barang bukti 16 butir pil ekstasi.


Untuk kepentingan proses hukum lebih lanjut, 5 wanita dan tiga pria tersebut diboyong ke markas BNN Kota Siantar, di Parluasan, Kelurahan Suka Dame, Kecamatan Siantar Utara, Kota Siantar, dengan menggunakan mobil jenis bus milik BNN. Hingga saat ini, identitas yang ditangkap belum diinformasikan BNN. (BS-1)

JR Saragih Bantah Ada Lintah di Danau Toba

Bupati Simalungun JR Saragih (paling kanan) saat melakukan peninjauan perairan Danau Toba di Parapat, Rabu (22/2/2017). Foto Silverius Bangun (FB).

BeritaSimalungun.com, Parapat-Bupati Simalungun Jopinus Ramli (JR) Saragih menampik adanya pencemaran limbah dan lintah di perairan Danau Toba, khususnya di Parapat. JR Saragih juga membantah peryataan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Utara Hidayati yang mengatakan sejak 2012 sudah ada lintah di perairan Danau Toba.

“Itu kan menurut dia (Hidayati Kadis LH Sumut). Tapi yang punya wilayah ini saya. Saya mengatakan tidak ada lintah di Perairan Danau Toba. Apalagi sampai ada yang mengatakan ada korban. Gak ada itu,” kata JR Saragih saat melakukan peninjauan perairan Danau Toba di Parapat, Rabu (22/2/2017).

JR Saragih memastikannya setelah stafnya di Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Simalungun melakukan pengujian baku mutu air dan temuan limbah. Selain menunggu stafnya bekerja, JR Saragih juga mengunjungi Danau Toba di Parapat. Dia bersama rombongan juga akan mandi di pinggiran Danau Toba itu.

“Saya sudah mandi Parapat. Kita yang pertama, kita juga punya BLH, sudah kita cek korbannya siapa gak ada. Di sana lintahnya juga gak ada. Itu lah kami upayakan. Satu lintah pun gak ada kami temukan,”katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumut, Hidayati, tak memungkiri munculnya hewan jenis lintah dan kutu di perairan Danau Toba yang ramai diberitakan belakangan ini. Ia mengaku sudah menemukan lintah di perairan Danau Toba pada 2012 lalu, tepatnya di kawasan Ajibata. Menurut Hidayati, kondisi itu membuktikan kondisi air yang sudah tercemar.

“Karena lintah itu merupakan jenis hewan yang bisa hidup di tempat tercemar, jadi memang kondisi Danau Toba itu sudah tercemar,” kata Hidayati di Medan, Senin (20/2/2017) lalu. Menurut Hidayati, mirisnya kondisi lingkungan di sekitar Danau Toba saat ini bukan semata tanggung jawab instansi yang dipimpinnya.

Semua pihak, termasuk masyarakat, harus bersinergi dan berkomitmen membenahi kondisi lingkungan di kawasan yang digadang bakal menjadi Monaco of Asia tersebut. Menurut Hidayati, pencemaran di perairan Danau Toba terjadi di sejumlah titik tertentu dengan kondisi oksigen terlarut yang sangat minim.

Sumber utama pencemaran adalah limbah yang berasal dari pakan ikan dan industri lainnya di sekitar danau. Namun, limbah domestik dari masyarakat juga memiliki andil.


Selanjutnya juga akan ditetapkan daya tampung produksi ikan, yang untuk sementara ini ditetapkan sebanyak 50 ribu ton per tahun oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI melalui surat nomor S.555/MENLHK/PPKL/PKL.2/12/2016 tentang Daya Dukung dan Daya Tampung (DDDT). (BS-1)

Dana Desa di Pematang Purba Diduga Diselewengkan Pangulu

Written By Berita Simalungun on Wednesday, 22 February 2017 | 11:55

Pangulu Pematang Purba Marison Sipayung.IST

BeritaSimalungun.com, Purba-Pengelolaan Dana Desa dari APBN Tahun Anggaran 2016 di Nagori Pematang Purba, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun sebesar Rp 612.592.860 diduga diselewengkan Pangulu Pematang Purba Marison Sipayung.

Penyelewengan dilakukan dengan modus penggelembungan (Mark Up) dana Dana Desa. Saat ini Pemerintah Kabupaten Simalungun terkesan tutup mata soal pengawasan Anggaran Dana Desa dari APBN yang dikorupsi di berbagai desa (Nagori/red) di Kabupaten Simalungun.

Dugaan banyak Pangulu (Kades-red) melakukan tindak pidana korupsi besar besaran di penggunaan Dana Desa 2015 dan 2016. Namun kini tampak tenang dan tidak mencuat ke permukaan. Bahkan dana desa itu dikendalikan oleh BPMPN dan Inspektorat Kabupaten  Simalungun.

Temuan di Nagori Pematang Purba, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Dana Desa TA 2016 Rp 612.592.860,00 diduga dilaksanakan sendiri oleh Pangulu Marison Sipayung. Di dalam penggunaan dana desa tersebut terindikasi terjadi korupsi dalam realisasiannya.

Saat wartawan mengkonfirmasi kepada Marison Sipayung soal dugaan itu, dia mengatakan, dana desa yang mereka terima sudah digunakan seluruhnya di tiga titik dan dua titik dilelangkan yang satu penunjukan langsung.

Pemenang lelang mengerjakan dua titik sepanjang 1745 meter x 3 meter x 0.15 meter yang dimenangkan CV.STAR yang beralamat di Kecamatan Silimakuta dan yang PL 630 meter x 3 meter x 0,15 meter.

Menurut sumber warga, bahwa pekerjaan yang dilelangkan tidak ada sisa uang dari penawaran pemenang lelang. Tiga titik pekerjaan dilakukan swadaya dalam pembersihan profil tanah. Batu yang digunakan tidak sesuai dikarenakan batu yang digunakan batu gunung dan berukuran 8×10 yang seharusnya 15×20 dipinggir dan batu 10×15 yang lainnya. Pasir urug diduga tidak digunakan dalam pengerjaan telford di Nagori Pematang Purba.


Inspektorat dan BPMPN Kabupaten Simalungun diminta untuk menindak Pangulu Pematang Purba untuk melakukan perbaikan. Juga dana desa yang diduga lebih supaya digunakan kembali serta mengevaluasi kinerja Pangulu Nagori Pematang Purba Marison Sipayung. (BS-3)

Baru Seumur Jagung, Bangunan Irigasi di Nagori Saribu Asih Rusak Parah

Baru Seumur Jagung, Bangunan Irigasi di Nagori Saribu Asih Rusak Parah. IST

BeritaSimalungun.com, Raya-Kepala Dinas Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Kabupaten Simalungun diminta bertanggung jawab atas proyek irigasi di Nagori Saribu Asih, Kecamatan hatonduhan, Kabupaten Simalungun. Proyek irigasi itu baru umur empat bulan sudah dijumpai rusak parah.

Proyek jaringan irigasi yang telah dibangun oleh pihak rekanan empat bulan yang lalu pada tahun anggaran 2016 tepatnya di Nagori Saribu Asih, kini rusak parah. Proyek irigasi milik Dinas PSDA Kabupaten Simalungun dengan pagu anggaran diperkirakan Rp 400 juta disebut-sebut milik rekanan EM mantan Anggota DPRD Kota Pematang Siantar.

Saat proyek itu dikerjakan Kepala Dinas PSDA Simalungun dijabat Budiman Silalahi. Budiman diminta harus bertanggung jawab terhadap proyek yang nyaris rusak parah. 

“Sudah pada retak-retak lae bangunan itu. Padahal saat itu dananya sangat besar. Apa tidak diperbaiki lagi itu lae (abang/Red), lihat lae la sampai kebawah. Dinas Irigasi semestinya harus bertanggung jawabkan lae,” sebut Marga Samosir saat melintas hendak pegi ke ladang, Selasa (21/2/2017).


Pengamatan wartawan dilapangan, jaringan irigasi pada dinding dan lantai mengalami retak-retak. Diperkirakan jaringan irigasi mengalami kerusakan hampir mencapai 30 meter. Terpisah, BS selaku Kepala Dinas PSDS Simalungun saat itu melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) HS saat dikonfirmasi HP selulernya tidak aktip. Hingga berita ini diturunkan yang bersangkutan belum dapat dikonfirmasi. (BS-3)

Boru Saragih Ini Sukses Meniti Karier Jadi PNS Sejati

Esriani br Saragih M Kes

BeritaSimalungun.com, Pematangsiantar-Perjuangan Boru Saragih ini dalam meniti karier sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNs) sejati begitu teruji. Perjuangan wanita asli Simalungun ini untuk menggapai kariernya di PNS bisa menjadi teladan. Boru Saragih ini terlahir dari keluarga biasa-biasa saja, namun akhirnya ia berhasil berkarier menjadi PNS di lingkungan Pemko Pematangsiantar.

Adalah Esriani br Saragih. Seperti dilansir Metrosiantar.com, ceritanya, setelah lulus SMA di tahun1990, Esriani berhasil masuk Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sumatera Utara (USU). Kemudian di tahun 1996 ia sudah berhasil meraih gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM).

Pada tahun1998, Esriani mulai menapakkan kariernya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemda Padang, Sumatera Barat. Selanjutnya karier yang digelutinya terus meningkat, hingga ia menjabat Kepala Puskesmas di Padang Luar, Kabupaten Agang.

Empat tahun mengabdikan diri di Pemda Padang Luar, Esriani br Saragih pindah tugas ke Pemko Pematangsiantar sebagai staf di Dinas Kesehatan. 

Tak lama kemudian, tepatnya di tahun 2002, Esriani menikah dengan pujaan hatinya Sardi Sinaga (47), staf di Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kota Siantar. Dan buah dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua anak laki-laki, yakni Ariw Sinaga yang kini duduk di bangku kelas II SMP, serta Frans Yoel Sinaga yang masih kelas 5 SD.

Kiprahnya di Dinas Kesehatan terus berlanjut. Ia kemudian diangkat menjadi Kepala Seksi Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hiperkes) di tahun 2002 sampai dengan Agustus 2004. Selanjutnya pada Sepetember 2004-2006 ia menyelesaikan pendidikan S-2 dari Universitas Indonesia (UI).

Bahkan setelah itu, dirinya mulai masuk dalam jajaran pimpinan di Dinkes. Yakni sebagai Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kota Siantar.

Esriani merupakan sosok yang tak kenal lelah. Ia adalah wanita yang bersungguh-sungguh dalam bekerja. Niat untuk selalu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat selalu melekat di benaknya. Apalagi ketika ia melihat kondisi kesehatan di sekitar lingkungannya yang belum begitu sempurna. (BS-01)

Menuju Nagori Tinggi Saribu, Ibarat Terjun Ke Jurang 1000 Meter

Keluarga Pdt Defri Judika Purba STh Inang Br Sinaga dan Anak Mereka Remiel Menuju Nagori Tinggi Saribu berjalan kaki. Perjalanan ke Desa Tinggi Saribu Ibarat Terjun Ke Jurang 1000 Meter dan mendaki ke Puncak Gunung 1000 Meter. Foto Defri Judika Purba.

Keluarga Pdt Defri Judika Purba STh Inang Br Sinaga dan Anak Mereka Remiel Menuju Nagori Tinggi Saribu berjalan kaki. Perjalanan ke Desa Tinggi Saribu Ibarat Terjun Ke Jurang 1000 Meter dan mendaki ke Puncak Gunung 1000 Meter. Foto Defri Judika Purba.
Cerita Pelayanan di Nagori Tinggi Saribu Simalungun

BeritaSimalungun.com-Ada enam jemaat yang saya layani di GKPS Resort Bahapal Raya. Salah satunya adalah GKPS Tinggi Saribu. Untuk mencapai desa ini aksesnya harus berjalan kaki dari Desa Talun Kahombu.

Memang sudah ada jalan yang bisa dilalui dengan menaiki kereta (sepeda motor-red), tapi jaraknya semakin jauh, ditambah orang yang melaluinya harus orang profesional dalam mengendarai motor karena jalannya sempit. 

Dengan jurang di kanan-kiri, salah sedikit nyawa taruhannya. Karena saya termasuk orang yang kurang profesional, kami mengambil jalan aman saja, yaitu berjalan kaki.

Berjalan kaki menuju Desa Tinggi Saribu ini harus melewati jurang dengan kedalaman seribu meter. Setelah sampai di dasar jurang naik kembali seribu meter. itulah sebabnya, desa ini disebut desa tinggi seribu.

Bersama dengan keluarga penginjil dan vikar, kami pun memulai perjalanan. Tantangan pertama adalan jalan menurun dengan kemiringan enam puluh derajat. Di sisi lain kemiringan bisa mencapai tujuh puluh derajat.

Tantangan jalan menurun adalah kaki harus menahan kuat-kuat, agar tidak jatuh atau terpeleset. Dalam proses menahan inilah, untuk orang yang belum biasa, proses dan akibatnya menjadi sesuatu yang menyakitkan.
Menuju Nagori Tinggi Saribu, Ibarat Terjun Ke Jurang 1000 Meter dan mendaki ke Puncak 1000 Meter. Foto Defri Judika Purba.
Otot-otot terasa kuat, sendi terasa pegal. Seluruh badan pun bereaksi sama. Walau demikian, perjalanan terasa menyenangkan, selain karena ramai-damri, banyak hal menarik yang bisa kita jumpai di sepanjang perjalanan.

Selain udara segar, mata kita pun akan disegarkan dengan bukit yang dipenuhi pepohonan hijau, tebing batu, suara siamang di kejauhan dll. Butuh setengah jam untuk sampai di dasar jurang. Setelah sampai kami pun beristirahat sejenak melepas lelah.

Ada jembatan kecil di atas sungai yang mengalir deras. Itulah Sungai Bahapal. Airnya jernih dengan bebatuan besar di tengah- tengahnya. Sungai itu adalah bonus bagi orang yang telah lelah menuruni dan mendaki jurang tersebut.

Di sungai itu kita bisa berendam dan berenang. Karena masih dalam perjalanan menuju Desa Tinggi Saribu, niat untuk berendam pun diurungkan. Dalam perjalanan pulanglah, kami nanti akan berendam.

Setelah tenaga sedikit pulih, kami pun melanjutkan perjalanan. Sepuluh menit berjalan, keringat pun sudah membanjiri sekujur tubuh kami. Kami berjalan siput menaiki jurang dengan kemiringan rata-rata enam puluh derajat.
Menuju Nagori Tinggi Saribu, Ibarat Terjun Ke Jurang 1000 Meter dan mendaki ke Puncak 1000 Meter. Foto Defri Judika Purba.
Perjalanan tambah berat, karena anak kami Remiel pun sudah minta digendong. Semakin mendaki, kaki semakin berat melangkah. Si Borsin sudah ngos-ngosan. Tekad dan semangat tinggi dari rumah semakin kendor.

Kembali kami beristirahat di atas batu di pinggir jalan. Ada mata air kecil dengan pancur bambu di pinggir jalan. Air kecil itu pun kami tampung untuk membasahi tubuh kami yang mulai panas.

Setelah beristirahat sebentar, perjalanan pun kembali dilanjutkan. Puncak dari perjalanan ini sebelum sampai adalah tangga batu yang terbuat dari batu cadas. Kemiringan lebih tujuh puluh derajat.
Pdt Defri Judika Purba STh saat tiba di rumah Jemaat Desa Tinggi Saribu.
Kami pun harus ekstra hati-hati. Dengan bergandeng tangan kami pun berhasil menaiki bukit tangga tersebut. Pelajaran moral yang kami ambil dari perjalanan itu adalah: kesulitan itu dapat menambah kemesraan dalam keluarga.

Butuh waktu setengah jam mendaki jurang tersebut. Jadi total perjalanan kami menuruni dan mendaki jurang tersebut adalah satu jam. Kalau kami bandingkan dengan cerita penduduk setempat, waktu tempuh kami telah jauh ketinggalan rekor. Mereka menempuhnya hanya dua puluh menit dengan atau tanpa beban. Sungguh luar biasa.
Desa Tinggi Saribu Ada 23 Kepala Keluarga (KK) yang menghuni desa ini, dengan perincian: 16 KK Jemaat GKPS, 3 KK Islam, sisanya anggota kharismatik. Foto Defri Judika Purba.
Sampai di Desa Tinggi Saribu tersebut, yang pertama menyapa kita adalah tanah pekuburan, gereja, kemudian rumah penduduk. Ada 23 Kepala Keluarga (KK) yang menghuni desa ini, dengan perincian: 16 KK Jemaat GKPS, 3 KK Islam, sisanya anggota kharismatik.

Rumah penduduknya seragam dalam bentuk dan warna. Rumah mereka dibangun oleh Kementerian Sosial tahun 2014 yang lampau. Tidak ada listrik di desa ini. Hanya dua rumah tangga yang memiliki genset. Sumber utama pencaharian mereka adalah bertani, ada padi, tembakau, durian, coklat dll.
Pdt Defri Judika Purba STH bersama Inang Br Sinaga saat menikmati Buah Durian di Desa Tinggi Saribu, Kabupaten Simalungun.
Kami tidak lama di desa tersebut. Hanya sekitar tiga jam. Selain karena awan hitam yang mulai menggantung, ada lagi pelayanan yang menunggu kami di Bahapal. Setelah puas makan durian di rumah jemaat dan bercerita kami pun melanjutkan perjalanan pulang.

Perjalanan pulang ini tetap dengan tantangan seperti perjalanan awal kami. Bedanya dalam perjalanan pulang ini, kami mengambil bonus yang sudah disediakan, yaitu berendam dan berenang di Sungai Bahapal.

Pori-pori kulit yang telah terbuka karena keringat, langsung terasa dingin bersentuhan dengan air sungai. Airnya sangat segar dan jernih. Efek air yang menyentuh bebatuan membentuk pola air yang sedikit berombak.

Itulah terapi alam yang dapat memijat badan yang terasa pegal. Setelah puas bermandi ria, kami pun melanjutkan perjalan kembali. Tidak banyak yang bisa diceritakan, selain baju basah kami telah kering kembali setelah sampai di tempat tujuan, yaitu Desa Talun Kahombu.


Cukup sekian cerita perjalanan kami. Dilain waktu cerita akan beralih pada perjuangan hidup dan pengorbanan penduduk Desa Tinggi Saribu dalam kehidupan Gereja dan kehidupan keluarga. (Pdt Defri Judika Purba STh)

LSM Forum 13 Tolak Alokasi Dana Rp 40 Miliar Untuk Percantik Danau Toba

Danau Toba Sumut
BeritaSimalungun.com, Siantar-Adanya wacana pengajuan anggaran sebesar Rp 40 miliar yang akan ditampung di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Simalungun dinilai tidak tepat sasaran atau penghamburan anggaran.

Informasi dihimpun anggaran dimaksud untuk percepatan pembangunan atau rencana mempercantik kawasan wisata Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun guna mendukung program pemerintah pusat dalam Destinasi Danau Toba.

Menyikapi hal ini seharusnya Bupati Simalungun maupun pejabatnya lebih mementingkan peningkatan infrastruktur jalan yang saat ini masih merata kondisinya sangat memprihatinkan. Karena rencana percantik kawasan wisata Parapat tidak langsung mengena akan kepentingan umum bagi masyarakat Simalungun.

Ketua Umum LSM Forum 13, Syamp Siadari menyayangkan program Pemkab Simalungun yang nantinya akan menjadi penghamburan anggaran bila hanya untuk percepat pembangunan atau mepercantik kawasan wisata Parapat harus mengelontorkan anggaran sebesar Rp 40 miliar yang bersumber dari APBD. Ini melihat masih banyak hal yang fatal lebih diutamakan seperti infrastruktur jalan penghubung antar dusun, antar Nagori bahkan antar kecamatan.

“Acuan yang digunakan Pemkab Simalungun akan rencana mengajukan dan menampung anggaran sebesar Rp 40 miliar untuk percantik kawasan wisata tidak mendasar. Kalau hanya untuk meningkatkan jumlah wisatawan apa sudah dilakukan observasi maupun analisa dan kuat dugaan tidak ada konsultannya, Bahkan tidak ada dimuat dalam rencana pembangunan jangka panjang atau pendek daerah,” sebut Syamp, Selasa (21/2/2017).

Tambah Syamp, Pemkab Simalungun jangan hanya memikirkan proyek yang dapat menghasilkan jatah kepada pejabat, dimana sudah rahasia umum setiap ada proyek kegiatan pasti adanya uang kewajiban dan lainnya.

“Dengan adanya upaya penampungan anggaran sebesar Rp 40 miliar bukan solusi terbaik. Tetapi seharusnya lebih melakukan penyuluhan kepada masyarakat supaya menjaga kebersihan dan membersihkan dasar Danau Toba yang diyakini sudah banyak gundukan sedimen dan sampah lainya seperti kotoran ternak dari perusahaan yang diduga kebal hukum,” papar Syamp.

Dia menuturkan, seharusnya Pemkab Simalungun terlebih dahulu melakukan pengkajian maupun analisa yang sangat mendasar mulai dari analisa sosial budaya, analisa Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat setempat, analisa persentase meningkatnya niat wisatawan dan pengkajian dari hasil analisa secara menyeluruh. Kalau hanya untuk memikirkan adanya proyek fisik itu tidak akan bermanfaat.

“Dengan tidak mendasarnya kajian dan analisa oleh Pemkab Simalungun dalam upaya menampung anggaran puluhan miliar, maka sebaiknya ditampung untuk kegiatan gotong royong untuk membersihkan dasar Danau Toba dan lingkungan pantai sekitar danau.

“Apabila memang anggaran tersebut ditampung, jangan hanya memuaskan hasrat para ‘pembisik’ Bupati yang mewacanakan program ini dan siapa yang bisa mengkaji dengan angka persentase dengan dipercantiknya kawasan wisata Parapat menggunakan anggaran sebesar Rp 40 miliar akan mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara siknifikan,” sebutnya.


Lanjutnya, dengan tidak adanya kajian persentase peningkatan wisatawan dan penghasilan masyarakat Parapat serta bertambahnya PAD Kecamatan Girsip, Forum 13 meminta supaya DPRD Simalungun menolak program yang ‘fatal’ hanya penghamburan anggaran. (BS-2)

Simalungun Masuk Daftar 131 Daerah Habiskan Lebih dari Setengah APBD untuk Gaji PNS

Written By Berita Simalungun on Tuesday, 21 February 2017 | 07:37

Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo .
BeritaSimalungun.com, Jakarta-Penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) oleh pemerintah daerah masih banyak yang belum efektif. Tercatat lebih dari 100 daerah di Indonesia, habiskan mayoritas anggarannya hanya untuk gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sehingga dana untuk membangun infrastruktur yang lebih produktif sangat sedikit. Pemerintah Kabupaten Simalungun masuk dalam daftar pemda yang menghabiskan APBD untuk gaji PNS.

“Berdasarkan data APBD 2016, terdapat 131 daerah dengan rasio belanja pegawai terhadap total belanja di atas 50%" ungkap Direktur Jendral Perimbangan Keuangan, Boediarso Teguh Widodo, kepada detikFinance, Jakarta, Selasa (21/2/2017).

Adapun, daerah yang tertinggi dalam menggunakan APBD untuk keperluan belanja pegawai ialah Kabupaten Langkat, yang berada di Sumatera Utara. “Rasio belanja pegawai terhadap total belanja tertinggi adalah 68,4%, yaitu Kabupaten Langkat," ujar Boediarso.

Bila dilihat secara rata-rata nasional, Boediarso menjelaskan dari rasio belanja pegawai terhadap total belanja APBD masih di bawah 50%, yakni sekitar 38,5%. “Adapun rata-rata nasional rasio belanja pegawai terhadap total belanja adalah 38,5%" ujarnya.

Kendati demikian, dirinya mengungkapkan, daerah-daerah yang banyak menggunakan porsi APBD untuk belanja pegawai rata-rata ialah daerah hasil pemekaran, atau Daerah Otonom Baru (DOB).

“Daerah otonom baru kan memang belanja pegawainya banyak, APBD-nya banyak yang digunakan untuk belanja pegawai. Rata-rata itu di daerah baru, baik di kabupaten kota pemekaran," kata dia.

Kemenkeu Siapkan Sanksi untuk Pemda

Masih ada sejumlah daerah yang menggunakan sebagian besar APBD-nya untuk belanja pegawai. Untuk itu, Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo mempertimbangkan adanya sanksi untuk daerah yang masih melakukan hal itu.

“Akan kita pertimbangkan (adanya sanksi). Kita akan lihat rekomendasi BPKP, BPK, kalau ada ketentuannya, seperti apa. Akan kita bicarakan," ujar Mardiasmo.

Hal ini disampaikan Mardiasmo saat membuka acara Sosialisasi Kebijakan Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TTKD) Tahun 2017 dan Knowledge Sharing Keberhasilan Kepala Daerah di Hotel Royal Ambarrukmo, Sleman, Senin, (20/2/2017).

Mardiasmo mengungkap ada daerah yang menggunakan hampir 80% APBD-nya untuk belanja pegawai. Untuk itu itu dia mengingatkan bahwa APBD adalah anggaran untuk daerah, bukan anggaran untuk belanja pemerintah daerah.

Menurutnya, penerimaan pegawai menjadi salah satu fokus yang diperhatikan. Dengan menggandeng Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PANRB), pihaknya akan mengevaluasi juga penerimaan tenaga honorer.

“Kita harus berikan pengetatan pegawai. Ada kepala daerah yang kebanyakan pegawai tapi juga kekurangan pegawai. Kebanyakan pegawai di bidang administrasi tapi kekurangan pegawai di pelayanan publik," ulasnya.

Adanya kebijakan minimal 25% dana APBD untuk pembangunan infrastruktur seharusnya bisa menjadi catatan bagi kepala daerah. Dia kembali mengingatkan 25% tersebut untuk infrastruktur, bukan modal.

“Kalau modal bisa ke aparatur. Kalau mau bangun gedung ya gedung puskesmas (misalnya). Kalau mobil ya mobil damkar, bukan mobil dinas," imbuh Mardiasmo. (*)



Sumber: Detik.com

Dinas Lingkungan Hidup Sumut Akui Ada Lintah di Danau Toba

Aktivis lingkungan yang mengatasnamakan Pejuang Danau Toba, menelusuri dan mengungkapkan pencemaran air berupa jenis hewan lintah dan kutu di Kawasan Danau Toba.IST 

BeritaSimalungun.com, Medan-Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Utara (Sumut) Hidayati tak menampik bahwa adanya lintah dan kutu di perairan Danau Toba. Dimana keberadaan lintah dan kutu membuktikan kondisi air Danau Toba memang sudah tercemar.

“Karena lintah itu merupakan jenis hewan yang bisa hidup di tempat tercemar, jadi memang kondisi Danau Toba itu sudah tercemar. Kondisi lingkungan di sekitar Danau Toba saat ini bukan semata tanggung jawab instansi LH Sumut saja,” kata Hidayati kepada wartawan di Medan, Senin (20/2/2017).

“Semua pihak, termasuk masyarakat, harus bersinergi dan berkomitmen membenahi kondisi lingkungan di kawasan yang digadang bakal menjadi Monaco of Asia itu. Pencemaran di perairan Danau Toba terjadi di sejumlah titik tertentu dengan kondisi oksigen terlarut yang sangat minim. Sumber utama pencemaran adalah limbah yang berasal dari pakan ikan dan industri lainnya di sekitar danau,” katanya.

Disebutkan, bila limbah domestik dari masyarakat juga memiliki andil dalam pencemaran air Danau Toba. Hidayati juga menegaskan kualitas air di sejumlah titik sudah menurun sehingga tak layak dikonsumsi dan untuk kebutuhan sehari-hari lainnya.

Guna mengatasi masalah pencemaran, Hidayati mengatakan pihaknya akan melakukan berbagai program-program. Dimana program itu merupakan rencana aksi yang sudah disepakati dalam rangka pengembangan sektor pariwisata di Danau Toba.

“Pemerintah pusat melalui Kementerian PU akan membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah di sana. Semua limbah akan disaring hingga memenuhi indikator baku mutu sebelum disalurkan ke Danau Toba,” katanya.

Selanjutnya juga akan ditetapkan daya tampung produksi ikan, yang untuk sementara ini ditetapkan sebanyak 50 ribu ton per tahun oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI melalui surat nomor S.555/MENLHK/PPKL/PKL.2/12/2016 tentang Daya Dukung dan Daya Tampung (DDDT).

“Daya tampung tersebut perlu ditetapkan demi menekan dampak limbah pakan ikan terhadap perairan danau. Upaya ini juga harus didukung dengan penataan Keramba Jaring Apung (KJA) yang baik. Selain itu, Hidayati mengungkapkan perlunya proses pemurnian air untuk membenahi kualitas di perairan danau tersebut,” ujarnya.

Segera Atasi

Menanggapi berita adanya lintah dan kutu di perairan Danau Toba, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera Utara (DPRD Sumut), Sutrisno Pangaribuan ST meminta pihak terkait segera diturunkan.

“Bila Polda Sumut, Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumut butuh kecepatan untuk ke Danau Toba maka dapat menggunakan helikopter Basarnas," tegas Sutrisno kepada wartawan, Senin (20/2/2017) di gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol, Medan.

Saran tersebut bukanlah lelucon, karena berita yang telah tersebar di kalangan masyarakat bila tidak segera diatasi maka akan memberikan dampak negatif yang luas bagi pembangunan Danau Toba sebagai Monaco Asia.

“Saya serius, karena apa, karena ini berdampak masalah, bisa kemana-mana dan sudah menjadi berita konsumsi. Terlepas benar atau tidaknya berita itu, pemerintah ataupun institusi resmi harus segera melakukan penyelidikan agar permasalahan itu dapat segera diatasi dan masyarakat tidak bertanya-tanya terus," jelas Anggota Komisi C DPRD Sumut ini.

Menurutnya, permasalahan lintah di Danau Toba akan memberikan akses negatif bagi turis domestik dan juga asing bahwa Danau toba itu tidak layak untuk dikunjungi. Selain itu, dirinya juga mengharapkan agar hasil penyelidikan dapat dilakukan secara terbuka dan secepatnya karena hasilnya harus segera diklarifikasi kepada masyarakat.

“Siapapun yang melakukan langkah-langkah penyelidikan maka ini harus terbuka. Justru kalau tertutup dan hasilnya tidak diumumkan maka masyarkat akan enggan untuk mengunjungi Danau Toba, mereka akan mengatakan ngapain lagi kita ke Danau Toba karena Danau Toba sudah banyak lintah," katanya. (BS-3)


Misteri Persembahan 4 Potong di GKPS Jambi

Uang Kertas Seribuan ditemukan Dipotong Empat dalam empat tempat kolekte saat penghitungan Persembahan (Kolekte) di Ruang Konsistori GKPS Jambi usai ibadah Minggu di GKPS Jambi 19 Februari 2017. Foto Asenk Lee Saragih 

BeritaSimalungun.com, Jambi-Pada Ibadah Minggu di GKPS Jambi 19 Februari 2017 saat penghitungan persembahan (Kolekte) muncul lagi Kolekte Uang Seribuan Kertas Dipotong Empat. Setiap potongan ada pada kantong Kolekte yang empat itu. Kejadian serupa pernah terjadi berkali-kali era Pdt Jhon Ricky Purba saat menjadi Pendeta GKPS Resort Jambi medio lima tahun silam Ini benar-benar misterius dan sudah lama menjadi misterius di GKPS Jambi.

Minggu 19 Februari 2017, hal serupa muncul lagi. Benar-benar misterius karena tidak diketahui siapa pelakunya, apa motifnya, bagaimana modusnya, apa tujuannya. Kejadian ini juga benar-benar terus menjadi misterius  karena Pimpinan Majelis dan Majelis Serta Jemaat tidak dapat mencegahnya.

Pada Ibadah Minggu 19 Februari 2017 (Satu Kali Masuk Ibadah Karena Synode Jemaat LPJ 2016) Kotbah Penginjil Wanita D Br Damanik STh. Saat kotbah memang disinggung soal partisipasi pemberian jemaat untuk gereja. Karena dinilai antusiasme Jemaat untuk memberi lebih tinggi kepada kumpulan Marga saat Pesta Bona Tahun dibandingkan kepada Gereja.

Menduga, apakah isi kotbah itu membuat pelaku kembali lagi melakukan pemberian Kolekte dengan potongan empat itu? Tentunya hal ini masih misteri. Kalau dalam hukum Negara Indonesia, pelaku yang sengaja merusak Uang Rupiah bisa dipidana.

Kejadian pemotongan tiga atau empat uang kolekte (Rupiah Kertas Seribuan) di GKPS Jambi sudah terjadi sejak lima tahun lalu. Sempat tak ada lagi selama empat tahun terakhir. Kemudian  Minggu 19 Februari 2017  muncul lagi kejadian itu.

Mohon maaf saya menuliskan ini, bukan untuk membuka aib GKPS Jambi. Tapi ini adalah fakta yang terus menjadi misteri dan tak pernah ada solusi untuk mengatasinya. Ataukah Pelaku melakukan ini sebagai Protes, penghinaan, hingga kini masih misteri.

Kejadian misteri ini menggeluyut dalam Pikiran dan dipaksa Pikiran untuk menuliskannya. Saya Mohon Maaf Atas Sikap Saya Menuliskan Kejadian Ini di Media Sosial (FB). (Hormat Saya. Asenk Lee Saragih.)  




Selamat dan Sukses Atas Diwisudanya Evita Melinda Sipayung S Keb

Written By Berita Simalungun on Monday, 20 February 2017 | 17:14





BeritaSimalungun.com, Manado-Keluarga Praeses GKPS Distrik VII Pdt Jameldin Sipayung kini berbahagia dan bersyukur karena Putrinya Evita Melinda Sipayung S Ked telah Diwisuda di Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, Minggu (19/2/2017). Berikut sejumlah foto saat prosesi Wisuda tersebut. (Lee)

Selamat dan Sukses Atas Diwisudanya Fheby Okhita Saragih,S.KG

Selamat dan Sukses atas diwisudanya adik kami : Fheby Okhita Saragih,S.KG (Sarjana Kedokteran Gigi). Putri Bpk.Sy. John M T Saragih - Ketua Komisi I DPRD Simalungun/Fraksi Gerindra).Semoga ilmu dan gelar yang telah diperoleh dapat didharmabaktikan ditengah-tengah keluarga, bangsa dan negara. (Red)

.

.
.

Beras Sigambiri

Beras Sigambiri
Info Lengkap Klik Gambar (Hubungi Agribisnis Kopjaskum Indonesia Call Center: 081-1238-7288 SMS Center: 081-1238-7287/ 0813-1212-3416)

Wisata Horison Haranggaol Simalungun yang Masih Memesona

Wisata Horison Haranggaol Simalungun yang Masih Memesona
KLIK GAMBAR UNTUK SELENGKAPNYA

Menelisik Kisah Unik Rumah Bolon Simalungun

Menelisik Kisah Unik Rumah Bolon Simalungun
KLIK GAMBAR UNTUK SELENGKAPNYA

Total Pengunjung Saat Ini

Indeks Berita Bulan Ini

PERCETAKAN HUTARIH JAYA

PERCETAKAN HUTARIH JAYA
PEMATANGSIANTAR. KLIK BENNER UNTUK INFO SELENGKAPNYA

DUKUNG MARUARAR SIRAIT JADI GUB SUMUT

DUKUNG MARUARAR SIRAIT JADI GUB SUMUT
KLIK GAMBAR UNTUK SELENGKAPNYA

GALAN PUNYA GAYA

GALAN PUNYA GAYA
UNTUK DI JAMBI HUBUNGI SH DAMANIK HP 085383195380

DIJUAL KAMUS SIMALUNGUN

DIJUAL KAMUS SIMALUNGUN
JUGA 4 BUKU SEJARAH, ADAT, SENI BUDAYA SIMALUNGUN. HUB: St Drs Jomen Purba (Ketua Yayasan Museum Simalungun). HP 081370266156.

Roti Ketawa, Roti Bulan, Roti Coklat, Kue Oleh-oleh dari Simalungun

Roti Ketawa, Roti Bulan, Roti Coklat, Kue Oleh-oleh dari Simalungun
Rumah Produksi Milik Ucok Saragih Djawak di marjandi Embong, Kecamatan Panombean Pane, Kabupaten Simalungun. Atau persis di Jalan Lintas Siantar-Saribudolok. Kamis 7 Januari 2016. Foto Asenk Lee Saragih.

KOMUNITAS

KOMUNITAS
Sejarah & Budaya Simalungun

.

.
KLIK GAMBAR UNTUK INFORMASI SELENGKAPNYA

.

.
DI JALAN SUTOMO SARIBUDOLOK (KLIK GAMBAR)

.

.
KLIK BENNER UNTUK PRODUK SELENGKAPNYA

BPJS KESEHATAN

BPJS KESEHATAN
WAJIB DAN BERMANFAAT (INFO SELENGKAPNYA KLIK GAMBAR)

SIMPEDES BRI

SIMPEDES BRI
Simpedes adalah simpanan masyarakat dalam bentuk tabungan yang dilayani di BRI Unit, yang penyetorannya dapat dilakukan setiap saat dan frekuensi serta jumlah pengambilan tidak dibatasi sepanjang saldonya mencukupi.(SELENGKAPNYA KLIK GAMBAR)

“Bagod & Tambuls” Tempat Tongkrongan Bersahaja

“Bagod & Tambuls” Tempat Tongkrongan Bersahaja
Alamat di Jalan Gereja No. 21A, Simpang Empat, Pematangsiantar. (Selengkapnya Klik Gambar)

.

.
JUAL ALAT KELENGKAPAN PANCING DI SARIBUDOLOK

RUANG IKLAN

RUANG IKLAN
Kirim Bahan IKLAN Ke Email: beritasimalungun@gmail.com

PMS JAMBI

PMS JAMBI
KLIK GAMBAR

RUANG IKLAN

RUANG IKLAN
SMS 08127477587

PASANG IKLAN ANDA

PASANG IKLAN ANDA
BAHAN EMAIL KE : beritasimalungun@gmail.com

MARI BERSIHKAN NARKOBA DARI "TALUN" SIMALUNGUN

MARI BERSIHKAN NARKOBA DARI "TALUN" SIMALUNGUN
KATAKAN TIDAK PADA NARKOBA
 
Support : Redaksi | Contac Us | PT PARNA KARSA
Copyright © 2011. BERITA SIMALUNGUN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Admin Simalungun
Proudly powered by BERITASIMALUNGUN