BERSAMA BONA P PURBA MEMBANGUN SIMALUNGUN

BERSAMA BONA P PURBA MEMBANGUN SIMALUNGUN
MOHON DUKUNGAN

Trending Topic

Latest Post

Membaca Kota Pematangsiantar Jaya Sebagai Kota Pendidikan dengan Sekolah dan Universitas Unggulan

Written By Berita Simalungun on Senin, 20 April 2015 | 20.01

Drs Rikanson Jutamardi Purba, Ak (kedua dari kiri).

Penulis : Drs Rikanson Jutamardi Purba, Ak
Penggagas KoRaSSS (Koalisi Rakyat untuk Siantar-Simalungun Sejahtera)
Sahna br Damanik bersama Oliver Narado Saragih anaknya menikmati Becak Siantar.


Tidak ada orang yang jago dalam semua hal. Sama juga halnya dengan: tidak ada daerah yang unggul dalam semua bidang.Kita harus serius dan jujur melakukan analisis TOWS, lantas fokus mengembangkan dan meningkatkan diri pada sesuatu yang khas Siantar yang membuat daerah ini berbeda daripada daerah lain (diferensiasi), menetapkan sasaran yang jelas (targeting),dan memosisikan diri dengan tepat di antara daerah-daerah sekitar (positioning).    

Siantar, hetanews.com- Judul tulisan ini hampir tak berbeda dari nama angkutan kota (angkot) yang ada di daerah ini. Tapi, judul itu sekaligus juga doa masyarakat Siantar agar kota ini jaya dan semakin jaya ke depan. Persoalannya, dalam bidang-bidang apakah Siantar bisa jaya atau unggul dibandingkan dengan daerah lain?

Pada tulisan sebelumnya, mengacu pada sektor ekonomi yang berkontribusi paling besar dalam pembentukan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), ternyata ada tiga sektor besar yakni industri besar dan sedang (kontribusi 2010 sebesar 38,18 persen), perdagangan, hotel, dan restoran (22,77 persen), serta selanjutnya jasa. 

Kita sudah mencatat, kondisi spasial Siantar kurang memungkinkan dikembangkannya sektor industri lebih masif, melainkan mungkin lebih baik dialihkan ke arah sektor pariwisata (atau paling tidak, penunjang pariwisata) dan –sudah pasti– sektor pendidikan.

Siantar, kota pendidikan

Ada argumentasi umum dan historis mengapa Siantar perlu dikembalikan sebagai kota pendidikan. Gunnar Myrdal (peraih nobel Ekonomi tahun 1974) pernah menyatakan, migrasi vertikal tingkat sosial masyarakat paling cepat dilakukan melalui pendidikan. Sinyalemen Myrdal ini sebenarnya sudah sangat merasuk dalam sanubari orang Siantar.

Orangtua-orangtua rela makan ikan asin asal pendidikan anaknya baik dan tinggi. Tidaklah begitu saja ungkapan “anakkonhi do hamoraon di au” muncul. Fokus keluarga adalah pada pendidikan anak-anaknya. Coba kunjungi rumah-rumah keluarga di daerah ini, periksa foto-foto yang ada di ruang tamunya. 

Hampir dapat dipastikan, foto-foto yang dipajang tak akan meleset dari foto-foto wisuda anak-anaknya. Cerita ibu-ibu, tentu selain gosip ala infotainment, adalah soal sekolah anaknya. Cerita tentang Unair, UB, UGM, Undip, ITB, Unpad, IPB, UI, STAN, USU, dll. hampir selalu menjadi trending topic dalam pembicaran mereka.

Bahkan ada anekdot menyangkut universitas-universitas/institut-institut ternama itu. Seorang ibu bertanya kepada ibu satunya lagi, di perguruan tinggi mana saja anak-anaknya saat ini. Sebelumnya, ibu yang bertanya tadi dengan bangga memamerkan secara rinci anaknya keberapa di perguruan tinggi mana, jurusan apa, dan semester berapa. 

Tak mau kalah, si ibu yang ditanya menyatakan bahwa anaknya yang pertama di UGM, kedua di Undip, ketiga di IPB, keempat di UI, dan kelima –perempuan satu-satunya– di  USU. Ketika mulai ditanya lagi anak keberapa, jurusan apa, dan semester berapa, si ibu yang ditanya tadi jadi gelagapan. 

Terpaksa dia mengakui dengan jujur bahwa anak-anaknya bukan kuliah, melainkan jualan air mineral botolan dan snack (makanan ringan) di kampus-kampus tersebut.

Anekdot lain, ada beberapa lulusan SLTA dari Siantar yang dikirim orangtuanya melanjutkan pendidikan ke Bandung dengan fasilitas lengkap. 

Sebuah rumah di Bandung sengaja dikontrak bersama-sama dengan teman. Saking lengkapnya, bahkan ada pula orangtua yang menyediakan kendaraan roda empat buat anaknya. Tapi karena kebetulan kelompok ini daya juangnya kurang, maka ada di antaranya yang drop-out dan malas kuliah. 

Tapi demi menyenangkan orangtua dan tetangga di kampung, ketika ditanya kampus mereka di mana, mereka jawab ITB. Rupanya bukan kuliah, melainkan Icalan Teh Botol alias jualan teh botol. ITB juga ‘kan singkatannya?  

Karakter berdaya juang tinggi itu pun ternyata sudah mulai pudar. Padahal Siantar pernah menghasilkan tokoh-tokoh nasional dan internasional seperti Adam Malik (mantan wapres), Jenderal TB Simatupang (tokoh militer dan tokoh PGI), Lo Lieh (bintang film laga Hongkong era 70-an), Sudirman (tokoh bulutangkis, sehingga ada Piala Sudirman), Syamsul Anwar (juara tinju OPBF), Arifin Siregar (mantan Gubernur BI), Cosmas Batubara, Bungaran Saragih, TB Silalahi, Aberson Marle Sihaloho, Anton Sihombing, Edy Ramli Sitanggang, Azis Siagian (gitaris band Boomerang), dan banyak lagi, dengan fasilitas yang minim.

Melejitnya orang-orang tersebut (sering dijuluki atau mendapuk diri sebagai “Siantar man”) didorong oleh karakter yang terbuka, lugas, ngotot, ingin selalu nomor satu, dan berdaya juang tinggi. 

Rupanya daya juang tinggi itu yang perlu terus dipelihara dan digelorakan. Gabungan aspek karakter “Siantar man” dan pendidikan yang baik/tinggi tentunya merupakan modal besar untuk menciptakan sumber daya manusia unggul/kompetitif. Itulah sebenarnya yang khas Siantar, sehingga seharusnya menjadi perhatian serius Walikota Siantar.

Sekolah dan universitas unggulan

Mungkin tidak harus menjadi universitas negeri supaya pendidikan tinggi di daerah ini bisa maju. Tren yang ada justru perlu adanya kekhususan program studi (prodi) sesuai kebutuhan pasar dan kekhasan daerah. Binus (Universitas Bina Nusantara), UMN (universitas Multimedia Nusantara), Universitas Podomoro, dll. menerapkan kekhususan itu. Binus fokus dalam bidang TIK (Teknologi  Informasi dan Komunikasi), UMN fokus dalam bidang multimedia, dan Universitas Podomoro fokus dalam bidang entrepreneurship (kewirausahaan).

Universitas HKBP Nommensen (UHN) dan Universitas Simalungun (USI) melalui Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)-nya, masing-masing bisa lebih fokus dalam penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan yang andal. 

Mungkin perlu dicari formula sehingga bisa mengungguli Unimed, UNJ, atau UPI Bandung. Apa yang baru-baru ini dilakukan UHN yakni penandatanganan piagam saling pengertian (memorandum of understanding) dengan Chung Yuan Christian University (CYCU) Taiwan dalam rangka beasiswa lulusan UHN ke universitas tersebut adalah sebuah terobosan jitu.

Ketika Siantar dikepung perkebunan dan daerah pertanian, Fakultas Pertanian USI seharusnya bisa mengambil peran besar dalam ilmu dan teknologi perkebunan kelapa sawit, karet, teh, kopi, kakao, jeruk, padi, cabai, kentang, dan tanaman hortikultura lainnya. 

Jangan seperti yang terjadi selama ini, USI tidak dapat memasok lulusan andal untuk bekerja di PT Unilever Tbk yang sudah berinvestasi triliunan rupiah di KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Sei Mangkei. Ada rantai yang putus antara arah pengembangan universitas (USI) dengan dunia industri atau sektor riil. Ternyata tidak link and match

Ada PKPS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) Marihat, tapi peran Fakultas Pertanian USI di sana hampir tidak ada. Ada penangkaran benih kentang Granola di Kecamatan Raya dan Kecamatan Purba yang dikelola LSM atau penangkar individual, tapi USI tidak proaktif menyambutnya.

Di Siantar ini ada SMA yang banyak lulusannya dapat menembus PTN-PTN ternama, contoh: SMA Swasta RK Budi Mulia, SMAN 2, dll. Tadinya SMAN 4 digadang-gadang jadi SMAN unggulan, tapi Pemko Siantar tampaknya setengah hati mengupayakannya. 

Dari kenyataan historis bahwa Siantar pernah menjadi kota pendidikan, karakter masyarakatnya sebagaimana disebutkan terdahulu, dan potensi-potensi yang belum dibongkar dan dikembangkan masih banyak, sebenarnya predikat kota pendidikan dapat diraih kembali.
Meski PT tidak dibawah kendali langsung Dinas Pendidikan, tapi Pemko Siantar dapat proaktif memfasilitasi pengembangan PT-PT yang ada di Siantar.   

Yang dibutuhkan adalah political will yang kuat dari Pemko dan kemudian dilanjutkan dengan political actions yang jelas dan terukur. “Andai aku Walikota Siantar,” kata Penulis, “aku akan serius sekali mengembalikan Siantar sebagai kota pendidikan.” Dengan begitu, Siantar yang jaya dapat diraih. <Bersambung> 
Keluarga Sipoldas dan Jambi Saat Berkunjung ke Kebun Binatang Siantar 2013 Lalu. FT Asenk Lee Saragih.

Keluarga Sipoldas dan Jambi Saat Berkunjung ke Kebun Binatang Siantar 2013 Lalu. FT Asenk Lee Saragih.

Forum Peduli Cagar Budaya Dan Pariwisata Simalungun Mulai Menggeliat

Jordi Purba ketika mendatangi Rumah Adat Kerajaan Purba Papak (Rumah Bolon) di kawasan Pematang Purba, Kecamatan Tiga Runggu Kabupaten Simalungun.ft HETANEWS.COM
PURBA-Forum Peduli Cagar Budaya Dan  Pariwisata Simalungun yang didirikan oleh para kalangan masyarakat Simalungun baru saja diresmikan, Sabtu (18/4/2015) di kawasan Rumah Adat Kerajaan Purba Papak (Rumah Bolon) di kawasan Pematang Purba, Kecamatan Tiga Runggu Kabupaten Simalungun. Forum ini mulai menggeliat guna membenahi cagar alam Budaya Simalungun.
 
Pendiri Forum Peduli Cagar Budaya Dan Pariwisata Simalungun (FORCABUPS) dipimpin oleh  Jordi Purba SE, mengatakan bahwa pihaknya beserta pengurus lainnya ingin berupaya membantu pemerintah, khususnya Kabupaten Simalungun untuk ikut serta melestarikan dan memelihara sejumlah Cagar Alam dan Cagar  Budaya yang berada di wilayah Pemkab Simalungun dan sekitarnya.

Lanjutnya, salah satunya adalah Rumah Bolon, yang merupakan bukti sejarah peninggalan para Raja Purba dengan bangunan Rumah Adat yang kondisinya kini sudah mulai memprihatinkan. Adapun Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat keberadaan berupa Benda Cagar Budaya, bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya bangunan cagar budaya.

Situs Cagar budaya dan kawasan cagar budaya di darat dan di air perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki niliai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan pendidikan agama dan juga kebudayaan melaui proses penetapan.

Forum (FORCABUPS) yang dipimpinnya, beserta anggota Forum lainnya akan berupaya untuk dapat memelihara serta melestarikan Rumah Adat. Selain itu, Forum yang digagasnya itu pun selain melestarikan Seni Budaya Simalungun.

Para pengurus dan Anggota Forum Peduli Cagar Budaya Dan Pariwisata Siamalungun, dalam prosesi pengesahan dan penandatangan Akta Notaris dilaksanakan di area Kawasan Cagar budaya Rumah Adat Raja Purba (Rumah Bolon), yang sebelumnya melaksanakan jiarah ke sejumlah makam para raja Purba, dibimbing juru kunci Rumah Bolon Ucok (58) dan Salah seorang  budayawan bermarga Purba. (hetanews.com)

GKPS Terus Kobarkan Semangat Pelestarian Lingkungan Hidup

Written By Berita Simalungun on Minggu, 19 April 2015 | 21.07

Kerusakan hutan di Jambi, Sumatera, semakin luas akibat pembalakan liar dan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit dengan cara membakar. Salah satu areal hutan yang rusak di Jambi akibat pembakaran hutan untuk pembukaan lahan kebun sawit. (Foto : Warna/KKI Warsi)
Jambi-Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) yang berpusat di Kota Pematangsiantar, Simalungun, Sumatera Utara terus berupata mengobarkan semangat pelestarian lingkungan hidup. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengobarkan semangat pelestarian lingkungan hidup tersebut, yaitu mengadakan ibadah Hari Bumi Sedunia se-GKPS setiap bulan April.

Ibadah peringatan Hari Bumi Sedunia se- GKPS tersebut dilakukan setiap April sebagai bentuk dukungan terhadap  aksi peduli lingkungan 20 juta warga Amerika Serikat dengan cara turun ke jalan pada 22 April 1970 silam. GKPS melihat bahwa semangat peduli lingkungan warga Amerika Serikat untuk keselamatan bumi tersebut patut terus dikbarkan di seluruh penjuru dunia.

Terkait dengan ibadah Hari Bumi Sedunia se-GKPS tersebut, maka Pimpinan Pusat GKPS senantiasa meningkatkan motivasi segenap warga GKPS untuk melestarikan lingkungan hidup melalui pesan-pesan atau surat penggembalaan.

Melalui pesan penggembalaannya pada ibadah Hari Bumi Sedunia se-GKPS, Minggu (19/4/2015),  Ephorus (Pimpinan Pusat) GKPS, Pdt Jaharianson Saragih, STh, MSc, PhD mengharapkan seluruh jemaat GKPS melaksanakan yang tersebar di berbagai daerah di Tanah Air diharapkan meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup. Warga GKPS perlu berpartisipasi melestarian lingkungan hidup sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap program dunia dan Indonesia mengatasi pemanasan global dan bencana alam. SELENGKAPNYA KLIK : http://www.wartanasrani)

Catatan dari "Children Choir GKPS Distrik VII

Children Choir GKPS Distrik VII. Ist FB Martin L Sinaga
Catatan dari "Children Choir GKPS Distrik VII (18 April 2015, di "teater tanah airku"): Kali ini Sekolah Minggu dist VII menunjukkan kualitas luarbiasanya, bernyanyi hampir 2 jam dengan kompleksitas nada dan kontur, dan menghibur ratusan jemaat. 

Gabungan dengan orkestra mencerminkan kemampuan harmoni anak-anak dan konduktornya, Agust Juvenly Purba. Dan di balik itu tentu DISIPLIN. 

Mungkin inilah inspirasi terdalam: keindahan lahir dari kerja-keras. Dari sudut KONTEN ada yang menarik: lagu-lagu bercorak klasik, dan lagu-lagu Simalungun juga terasa bernas (sehingga lagu dari penyanyi tamu, Skolastika, yang becorak pop-rohani jadi tanpa gregret, pesannya terdengar hambar saja). Tentu pesan umumnya pun kaya: tentang doa, pujian pada Tuhan, bahkan keindahan keragaman anak-anak di dunia, yang ditambah dengan tanggungjawab mengasihi sesamaa (walau ini dari lagu Perancis, "Vois sur la Chemin -mengikuti jalanMu). 

 NAMUN DEMIKIAN, ada 1 hal, yang bisa nanti jadi warna lebih jelas lagi di "3rd concert": pujian dan dunia anak-anak kiranya lebih terasa lagi. Kita butuh masuk ke batin sukacita-lepas anak-anak kita (sehingga lagu "tentara Kristus" dan "amazing grace" ttg pertobatan itu, terasa terlalu dewasa buat mereka). 

Dalam menyaksikan pujuan mereka kemarin, saya seperti merasa anak-anak kita begitu tangguh dan murah hatinya, sehinga melayani "kita" org dewasa dengan lagu-lagu bertema berat (bahkan makin berat karena harus bernyanyi Perancis "La Nuit" yang maknanya tentang malam dan mimpi yang ditranformasi -pikir saya: mimpi anak harusnya tentang cahaya dan bunga-bunga!). 

Untung ada sejumlah kidung ceria anak-anak: wajah mereka memang berwarna-warni, diri mereka adalah "rumah kecil-Nya", dan nama mereka indah karena "Goran-Ni na jenges panogu na banggal". Bravo Sekolah Minggu Gkps Distrik VII.  (Martin L Sinaga)

Rumah Bolon Simalungun Mencari Donatur

SILAHKAN BERDERMA UNTUK RUMAH BOLON SIMALUNGUN DI PURBA

MENCARI BUPATI IDEAL DI KABUPATEN SIMALUNGUN (2015-2020)

Rajamin Purba
Oleh: Jannerson Girsang

Membaca kisah Rajamin bagi saya ibarat memimpikan pemimpin ideal bagi daerah kelahiranku, Kabupaten Simalungun.

Andai ada seorang berusia 32 tahun, seusia Rajamin jadi bupati, kemudian mengubah Kabupaten Simalungun seperti yang dilakukannya di era dimana banyak mendapat tantangan, serta, situasi politik, keterbatasan keuangan dan teknologi saat itu.

Meski usianya hanya mentok di angka 49 tahun, tetapi meninggalkan karya yang spektakuler.

Memang,usia 32 tahun menjadi bupati, mungkin sulit dicapai seseorang pada saat sekarang ini. Bupati yang tulus membangun rakyatnya tanpa dicekcoki dengan kepentingan pribadi sudah langka di era hedonisme ini.

Tapi tidak ada salahnya bermimpi. Itulah daya tarik yang besar bagi saya membaca membaca buku ini. .

Buku Mengenang Rajamin Purba, yang ditulis Ir MT Purba pada 2006 ini mengisahkan kiprah pria Simalungun, kelahiran Bangun Purba, Haranggaol, 22 Desember 1928.

Mantan Bupati Simalungun (1960-1973) ini dikenal sebagai bupati yang ideal bagi kabupaten Simalungun dari segi pemikiran, konsep maupun implementasinya di lapangan yang berorientasi kepada aspirasi masyarakat.

Rajamin menjadi Bupati Simalungun saat usianya baru 32 tahun. Masih sangat muda untuk ukuran calon-calon bupati yang muncul sekarang ini. Bukan karena usia, maka seseorang menjadi matang. Sebuah pelajaran bagi para calon bupati. Dulu, yang muda yang berkarya.

Hai, generasi muda, beranikah seperti Rajamin?

Di bidang pemerintahan dia mengukir karya-karya spektakuler, mulai dari merombak struktur desa, pangan, penyelesaian tanah garapan, pembangunan sarana jalan, Sarana Kantor dan Rumah, turis, pembangunan sosial, keagamaan, pendidikan dan budaya.

Di bidang budaya misalnya beliau turut membidani Partuha Maujana Simalungun (PMS), Museum Simalungun. Aktualisasi Motto Habonaron do Bona, muncul di saat pemerintahan beliau dan ditulis pada lambang Kabupaten Simalungun. . .

Dalam usia muda (37 tahun), beliau begitu banyak melahirkan konsep-konsep budaya, keagamaan dan pendidikan jangka panjang bagi kabupaten ini. .

Di bidang pendidikan Rajamin adalah pendiri Universitas Simalungun (18 September 1965), dalam pembangunan masyarakat desa oleh gereja beliau turut membidani pendirian Pelayanan dan Pembangunan (Pelpem) GKPS (15 Januari 1965).

Kita masih bisa saksikan sekarang ini. Penyediaan tanah dan konsep implementasi bagi pendidikan dan rumah ibadah dilakukannya tanpa sedikitpun itu menjadi miliknya.

Penyediaan 33 hektar tanah untuk GKPS di Jalan J Wismar Saragih, 38 hektar tanah untuk Universitas Simalungun (USI) di Pematangsiantar adalah usaha-usaha beliau semasa menjabat Bupati Simalungun untuk fasilitas keagamaan dan pendidikan. Tidak ada satu meterpun aset pribadinya terdapat di sana, atau di sekeliling lokasi itu.

Beliau berjuang untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya--tidak hanya berfikir jangka pendek, apalagi untuk pribadinya. Tak ada peninggalan harta pribadinya yang menonjol di Simalungun, meski dia menjabat bupati selama 13 tahun.

Kini, karya-karyanya semuanya menjadi asset yang bisa dinikmati banyak orang.

Walau usianya hanya 49 tahun (meninggal 1977) Rajamin telah mengukir sebuah teladan yang dapat dibanggakan dan perlu dipelajari generasi sekarang ini.

Dia meninggalkan kader-kader pemimpin yang berjaya di kemudian hari, meninggalkan nilai-nilai baik yang jadi panutan.

Mudah-mudahan para pejabat selanjutnya meniru beliau, janganlah mencampur adukkan kepentingan pribadi dalam strategi pembangunan daerah.

Beliau juga mendidik ke enam putra puterinya dengan baik, meski anak-anaknya harus kehilangan ayahnya, saat mereka masih kuliah dan ada yang masih Sekolah Dasar.

Ketika Rajamin meninggal, anak tertuanya Budi Raja Manggala Putra baru masuk kuliah di teknik Sipil ITB, Darmayanti br Purba (Kelas II SMA), Pandu Purba (Kelas I SMA), Suhaerani Purba (Kelas I SMP), Kurniaty (Kelas V SD) dan Adi Rajadiningrat (Kelas II SD).

Rajamin meninggalkan seorang istri, ibu Kencana. MT Purba (penulis buku ini) menyebutnya putri bangsawan dari Jawa Barat. (Ibu Kencana meninggal tahun 2013).

Ibu cantik, sangat ramah dan mampu bertutur lancar dalam bahasa Simalungun ini konon sempat mengeluh, karena ditinggalkan suami tercintanya saat anak-anaknya masih kecil-kecil.

"Bagaimana membimbing dan membesarkan anak-anak yang enam orang ini tanpa Bapak?. Saya merasa tidak berdaya,"ungkapnya seperti dikutip penulis buku ini.

Tuhan Maha Besar. Kini, anak-anaknya berkiprah di berbagai bidang profesi. Putranya Budi Raja Manggala Putra, kini berpangkat Kolonel, serta putrinya Suhaerani Purba adalah penyanyi yang dikenal dengan Rani Purba, dan menikah dengan Martin Hutabarat (Angggota DPR-RI dari Partai Gerindra), serta putra puterinya yang lain dan berkiprah sesuai dengan profesi mereka masing-masing.

Adakah karakter bupati Rajamin akan muncul pada 2015-2020? Mari kita tunggu!

DANAU TOBA YANG MENGINSPIRASI

Written By Berita Simalungun on Rabu, 15 April 2015 | 14.34

Foto di atas ini adalah hasil jepretanku dari perbukitan Sibaganding, di suatu pagi, Nopember 2014. Sejuk, nyaman dan mengundang inspirasi untuk menuliskannya. FT J Girsang.
Selamat Pagi semua. Foto di atas ini adalah hasil jepretanku dari perbukitan Sibaganding, di suatu pagi, Nopember 2014. Sejuk, nyaman dan mengundang inspirasi untuk menuliskannya. 

Ribuan kisah indahnya Danau Toba telah dipaparkan dan dikisahkan melalui: buku, opini, cerpen, puisi, foto, drama, film dan kisah dari mulut ke mulut. 

Ciptaan Tuhan, kaldera raksasa, hasil ledakan vulkanik yang terjadi 70 ribu tahun yang lalu ini menanti sentuhan. Kisahkan keindahan alam dan budayanya!. 

Berceritalah dengan jujur bahwa Danau Toba itu indah, lebih indah dari semua danau yang pernah saya kunjungi di Sumatra, Jawa dan Bali. Memberi inspirasi dan semangat hidup bagi jutaan orang yang pernah mengunjunginya. Berceritalah budaya yang ada di sekitar Danau itu. 

Mereka yang pernah mengunjungi Danau ini, pasti berjanji akan kembali lagi ke sana. 

Jangan cemari danau ini dari kisah-kisah negatif. Ceritakanlah kisah inspirasi yang mengundang orang berkunjung ke Danau terbesar di Asia Tenggara itu. 

Satu cerita buruk tentang Danau itu, mengurangi 10.000 wisatawan, satu cerita baik hanya akan menambah 1000 wisatawan. Percayalah!

Israel yang terus dilanda perang dan konflik, tetap dikunjungi jutaan wisatawan setiap tahun, karena mereka dan media di sana tidak mengeksploitasi berta tentang perang. Mereka memberi harapan kepada pengunjung, daerahnya aman. 

Bali yang pernah diserang Bom Teroris 2001, cepat pulih, karena mereka, para penulis di Bali menceritakan "harapan" bukan "kekhawatiran". Bahkan para penulis di sana difasilitasi menuliskan keindahan alam dan kekayaan budaya Bali. Tidak terus menerus mengeksploitasi berita teroris atau kejahatan. 

Kisahkan pengalaman yang menyenangkan di Danau Toba. Mari bercerita tentang Danau Toba yang Indah, kisah yang menginspirasi orang berkunjung ke sana!
"Right or Wrong, I love Lake Toba!"(St Jannerson Girsang).

Berikut Foto-foto Dibawah Ini Saya Abadikan Saat Mudik Kampung Halaman (Medio 2008-2011)
Moses dan Mama Anta br Damanik di Desa Hutaimbaru, Kec P Silimakuta, Kab Simalungun.

Bapak St Berlin Manihuruk saat menyusun Mangga Danau Toba Hutaimbaru di Desa Hutaimbaru, Kec P Silimakuta, Kab Simalungun.

Bapak St Berlin Manihuruk saat menyusun Mangga Danau Toba Hutaimbaru di Desa Hutaimbaru, Kec P Silimakuta, Kab Simalungun.

Bapak St Berlin Manihuruk saat menyusun Mangga Danau Toba Hutaimbaru di Desa Hutaimbaru, Kec P Silimakuta, Kab Simalungun.

Bapak St Berlin Manihuruk saat menyusun Mangga Danau Toba Hutaimbaru di Desa Hutaimbaru, Kec P Silimakuta, Kab Simalungun.

Diriku Asenk Lee Saragih bersama Mamaku  Anta br Damanik saat "mandurung" di Kolam Samping Rumah di Desa Hutaimbaru, Kec P Silimakuta, Kab Simalungun.

Diriku Asenk Lee Saragih bersama Mamaku  Anta br Damanik saat "mandurung" di Kolam Samping Rumah di Desa Hutaimbaru, Kec P Silimakuta, Kab Simalungun.

Kota Parapat, Kab Simalungun. Moment Pesta Danau Toba

Kota Parapat, Kab Simalungun. Moment Pesta Danau Toba

Kota Parapat, Kab Simalungun. Moment Pesta Danau Toba.

Kota Parapat, Kab Simalungun. Moment Pesta Danau Toba.

Kota Parapat, Kab Simalungun. Moment Pesta Danau Toba.

Kota Parapat, Kab Simalungun. Moment Pesta Danau Toba.

Kota Parapat, Kab Simalungun. Moment Pesta Danau Toba.

Kota Parapat, Kab Simalungun. Moment Pesta Danau Toba.

Pesona Danau Toba Dari Tugu Pahlawan Tigaras dan Pantai Garoga Tigaras, Kab Simalungun.

Pesona Danau Toba Dari Tugu Pahlawan Tigaras dan Pantai Garoga Tigaras, Kab Simalungun.

Pesona Danau Toba Dari Tugu Pahlawan Tigaras dan Pantai Garoga Tigaras, Kab Simalungun.

Pesona Danau Toba Dari Tugu Pahlawan Tigaras dan Pantai Garoga Tigaras, Kab Simalungun.

Pesona Danau Toba di Tuktuk Sipalu Desa Nagori-Haranggaol, Kec Horisan Haranggaol, Kab Simalungun.
Pesona Danau Toba di Tongging, Kab Karo.

Pesona Danau Toba di Tuktuk Desa Bage-Kec P Silimakuta, Kab Simalungun.

Pesona Danau Toba di Tongging, Kab Karo. Foto-foto Asenk Lee Saragih. Medio 2008-2011.


KALDERA HARANGGAOL, PESONA SURGA YANG HILANG

Written By Berita Simalungun on Selasa, 14 April 2015 | 11.04


'KALDERA HARANGGAOL, PESONA SURGA YANG HILANG

Menuju refleksi – aksi

Penulis : Sultan Saragih

Akhir bulan Maret, HASS (Harungguan Seniman Simalungun) membuat pagelaran artis yang menampilkan Sapna Sitopu, Ocha, Damma Silalahi, Panca Saragih, Jhon Effendi Purba, dan Fitri Sinaga. Hujan deras mengguyur lapangan sejak jam 5 sore, menyiram apa saja agar keadaan tanah kering menjadi basah dan segar.  Seperti biasa nya, orang orang mulai keluar dari rumah setelah penat bekerja di perairan dan pelabuhan ikan, kursi dan tikar dibentangkan, mulai terisi setelah jam 9 malam.  MC local yang kocak, Bapa Apen Saragih dan senioren taur taur Simon Sipayung menambah semarak acara yang berlangsung hingga jam 1 malam. 

Dua minggu kami melakukan survey lokasi, melakukan persiapan panggung, berkenalan dengan penduduk dan pemuda Haranggaol, silaturahmi kepada Camat, menemui pengusaha Karamba dan mendata kebutuhan lainnya sebelum pertunjukan. Tim HASS sudah menyisir berbagai lokasi, sangat mencengangkan sebenarnya melihat potensi dan pesona Haranggaol. Ada beberapa titik lokasi menarik yang bisa dijadikan sebuah paket kunjungan wisata.  

Memang semenjak kehadiran investor karamba ke perairan pantai Haranggaol, pengunjung wisata mulai berkurang jumlahnya. Mereka enggan menikmati kaldera Haranggaol yang sebenarnya menawarkan pemandangan yang sangat indah. Keriuhan lalu lalang truk bermuatan ikan, bau tidak sedap, sampah ikan, air tercemar membuat gatal gatal,  jalan menuju lokasi semakin sempit dan berlubang, menambah daftar black list kunjungan.

Tapi, apakah tidak ada jalan lain untuk membuat geliat wisata Kaldera Haranggaol ? Coba kita hitung kembali asset lokasi kaldera Haranggaol seperti panatapan di lereng atas yang menjual pemandangan lembah raksasa dengan dinding tebing  nan indah. Lokasi ini bisa dibuat tautan dengan rumah kuliner sebelum pengunjung turun ke bawah, juga design arena foto bersama. 

Bila pengunjung sampai di permukiman bawah, kita bisa perlihatkan rumah peninggalan bersejarah, Tuan Madja Purba yang penuh dengan ornament simalungun. Bekerja sama dengan pengrajin, kita bisa jadikan basis galeri untuk pakaian, pameran tenun, handycraft, lukisan dll. Tidak jauh dari lokasi tersebut, masih ada Sopou Bolon Tuan Bandar Saribu Purba yang memperlihakan keunikan arsitektur tradisional. 

Tangga Batu dengan air terjun kecil yang mengalir di atas tebing, bisa menjadi kawasan hiking. Bila jalan sudah diperbaiki dengan aspal bagus, pengunjung masih dapat menambah wawasan dengan melihat situs bersejarah, Liang Nangka.  Tak ayal, arena pertunjukan tradisi simalungun harus pula dibangun dan disiapkan untuk membuat daya tarik tambahan melalu berbagai event dan festival.

Bagaimana menghidupkan kembali khazanah wisata seni dan budaya di Kaldera Haranggaol ? Apakah Pemkab Simalungun telah menjawabnya dengan membuat Rest Area Tiga Runggu yang akan diresmikan bulan April 2015 mendatang ? Mengapa tidak sebaiknya destinasi (tujuan wisata) yang lebih dahulu dibenahi ? 

Tiada langkah (Good Will) membuat keindahan alam dan budaya simalungun hanya tertimbun saja.

Salam berbasis budaya !
Horas !!'
Ist Sultan Saragih

Menuju Refleksi–Aksi

Penulis : Sultan Saragih

Akhir bulan Maret, HASS (Harungguan Seniman Simalungun) membuat pagelaran artis yang menampilkan Sapna Sitopu, Ocha, Damma Silalahi, Panca Saragih, Jhon Effendi Purba, dan Fitri Sinaga. 
 
Hujan deras mengguyur lapangan sejak jam 5 sore, menyiram apa saja agar keadaan tanah kering menjadi basah dan segar. Seperti biasa nya, orang orang mulai keluar dari rumah setelah penat bekerja di perairan dan pelabuhan ikan, kursi dan tikar dibentangkan, mulai terisi setelah jam 9 malam. MC local yang kocak, Bapa Apen Saragih dan senioren taur taur Simon Sipayung menambah semarak acara yang berlangsung hingga jam 1 malam.

Dua minggu kami melakukan survey lokasi, melakukan persiapan panggung, berkenalan dengan penduduk dan pemuda Haranggaol, silaturahmi kepada Camat, menemui pengusaha Karamba dan mendata kebutuhan lainnya sebelum pertunjukan. Tim HASS sudah menyisir berbagai lokasi, sangat mencengangkan sebenarnya melihat potensi dan pesona Haranggaol. Ada beberapa titik lokasi menarik yang bisa dijadikan sebuah paket kunjungan wisata.

Memang semenjak kehadiran investor karamba ke perairan pantai Haranggaol, pengunjung wisata mulai berkurang jumlahnya. Mereka enggan menikmati kaldera Haranggaol yang sebenarnya menawarkan pemandangan yang sangat indah. Keriuhan lalu lalang truk bermuatan ikan, bau tidak sedap, sampah ikan, air tercemar membuat gatal gatal, jalan menuju lokasi semakin sempit dan berlubang, menambah daftar black list kunjungan.

Tapi, apakah tidak ada jalan lain untuk membuat geliat wisata Kaldera Haranggaol ? Coba kita hitung kembali asset lokasi kaldera Haranggaol seperti panatapan di lereng atas yang menjual pemandangan lembah raksasa dengan dinding tebing nan indah. Lokasi ini bisa dibuat tautan dengan rumah kuliner sebelum pengunjung turun ke bawah, juga design arena foto bersama.

Bila pengunjung sampai di permukiman bawah, kita bisa perlihatkan rumah peninggalan bersejarah, Tuan Madja Purba yang penuh dengan ornament simalungun. Bekerja sama dengan pengrajin, kita bisa jadikan basis galeri untuk pakaian, pameran tenun, handycraft, lukisan dll. Tidak jauh dari lokasi tersebut, masih ada Sopou Bolon Tuan Bandar Saribu Purba yang memperlihakan keunikan arsitektur tradisional.

Tangga Batu dengan air terjun kecil yang mengalir di atas tebing, bisa menjadi kawasan hiking. Bila jalan sudah diperbaiki dengan aspal bagus, pengunjung masih dapat menambah wawasan dengan melihat situs bersejarah, Liang Nangka. Tak ayal, arena pertunjukan tradisi simalungun harus pula dibangun dan disiapkan untuk membuat daya tarik tambahan melalu berbagai event dan festival.

Bagaimana menghidupkan kembali wisata seni dan budaya Kaldera Haranggaol ? Apakah Pemkab Simalungun telah menjawabnya dengan membuat Rest Area Tiga Runggu yang akan diresmikan bulan April 2015 mendatang ? Mengapa tidak sebaiknya destinasi (tujuan wisata) yang lebih dahulu dibenahi ?

Tiada langkah (Good Will) membuat keindahan alam dan budaya simalungun hanya tertimbun saja.

Salam berbasis budaya !
Horas !!

ORANG TOBA: DNA, Negeri, Berita, dan Asal-usulnya

O R A N G    T O B A
DNA, Negeri, Budaya, dan Asal-usulnya
Oleh:  Edward Simanungkalit *


Gunung Toba meletus 74.000 tahun lalu dan dari kalderanya terjadilah Danau Toba. Letusan terbesar di sepanjang sejarah ini telah memusnahkan banyak kehidupan.  Para ahli biologi molekuler menemukan bahwa telah terjadi penyusutan genetik  akibat letusan tersebut dan manusia sekarang adalah keturunan dari sedikit manusia itu. Letusan berikutnya masih terjadi lagi dalam skala lebih kecil 30.000 tahun lalu di bagian selatan. Pada masa itu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Malaka dan pulau-pulau kecil di sekitarnya masih menyatu dengan benua Asia, yang dikenal dengan nama Sundaland.
Sekitar 20.000 tahun terakhir  terjadi kenaikan air laut setinggi 120-130 meter, kata  geolog Dr. Danny Hilman (20/05-2013), dalam seminar peluncuran bukunya: “PLATO TIDAK BOHONG: Atlantis Ada Di Indonesia”(www.youtube.com). Di sekitar 11.600 tahun lalu banyak sekali terjadi letusan gunung berapi, gempa bumi, dan banyak juga bencana banjir,  sehingga pada akhirnya menenggelamkan Sundaland menjadi seperti sekarang. Ada juga peristiwa air laut naik tiba-tiba hingga 20 meter yang terkenal dengan namayounger dryes setelah suhu udara demikian panas hingga mencairkan es pada zaman es akhir.
Bencana alam dan banjir mengakibatkan migrasi manusia dari Sundaland ke Asia. Penelitian DNA manusia, yang dilakukan Stephen Oppenheimer, memperlihatkan migrasi itu hingga tiba pada kesimpulan bahwa Sundaland merupakan induk peradaban dunia, dalam bukunya “Eden in The East: The Drowned Continent of Southeast Asia” (1998). Nenek moyang semua manusia berasal dan keluar dari Afrika (Out of Africa) dan hanya memiliki satu jalur utama migrasi ke Asia yaitu melalui Sundaland sekitar 70.000 tahun lalu, baru kemudian menyebar ke berbagai kawasan di Asia. Jalur migrasi manusia ini dipetakan oleh 90 orang lebih ilmuwan Asia dari konsorsium Pan-Asian SNP di bawah naungan Human Genome Organisation (HUGO) yang melakukan studi terhadap 73 populasi di Asia Tenggara dan Asia Timur. Dan, akar genetik manusia berhubungan sangat erat dengan kelompok etnik dan kelompok bahasa (Detik, 11/12-2009Kompas,14/12-2009 12/12-2011). Awalnya terjadi migrasi dari Sundaland ke Asia  (Out of Sundaland) dan setelah Sundaland tenggelam barulah migrasi terjadi dari Asia ke kawasan bekas Sundaland (Out of Taiwan).



Pesisir Timur Sumatera Bagian Utara
Penelitian arkeologi yang dilakukan oleh H.M.E. Schurmann di dekat Binjai (1927), Van Stein Callenfels di dekat Medan, Deli Serdang, Kupper di Langsa, Aceh Timur (1930), MacKinnon di DAS Wampu, Prof. Truman Simanjuntak dan Budisampurno di Sukajadi, Langkat (1983), di Lhok Seumawe dan oleh Tim Balai Arkeologi Medan (Balarmed) di Aceh Tamiang (2011) menemukan bahwa para pendukung budaya Hoabinh sudah datang pada masa Mesolitik di sekitar 10.000-6.000 tahun lalu (Wiradnyana, 2011:19-21).
Belakangan ditambah dengan hasil penelitian Balarmed di Bener Meriah di Aceh (2012). Migrasi di pesisir timur Pulau Sumatera ini berlangsung pada periode Mesolitik berkisar 7.000-5.000 tahun lalu (Boedhisampurno, 1983; McKinnon, 1990; Belwood, 2000:253). Salah satu indikasinya yaitu dengan ditemukannya budayaHoabinh berupa peralatan batu, yang disebut Sumatralith (Wiradnyana, 2011:127). Kemudian Ketut Wiradnyana mengemukakan bahwa temuan fosil dari Loyang Mandale, Aceh Tengah berusia 8.430 tahun (Lintas Gayo, 11/07-2014).
Para pendukung budaya Hoabinh juga sudah ditemukan kedatangannya di Pulau Nias. Meskipun demikian, di Nias dan Kuantan Singingi, Riau telah ditemukan kehidupan lebih awal dari masa Paleolitik 10.000 tahun lalu dan selebihnya (Wiradnyana, 2011:9-17, 25-290). Baru-baru ini juga telah ditemukan fosil manusia  lebih tua di Gua Harimau, desa Padang Bindu, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan berusia 16.000 tahun (Tribunnews,19/05-2014). Penggalian masih akan dilanjutkan, karena diperkirakan memiliki fosil berusia mencapai 60.000 tahun bahkan lebih. Demikian gambaran tentang Sumatera bagian Utara.

Kebudayaan Hoabinh di Toba
Dalam bukunya “Prasejarah Kepuluan Indo-Malaysia”, Peter Bellwood (2000:339) menulis: “Sebagai contoh, sebuah inti polen dari rawa Pea Sim-sim dekat Danau Toba di Sumatera bagian Utara (1.450 m di atas permukaan laut) menunjukkan bahwa pembukaan hutan kecil-kecilan mungkin sudah dimulai pada 4.500 Sebelum Masehi.”. Di sini Bellwood merujuk hasil penelitian Bernard K. Maloney  di daerah Humbang, Sumatera Utara. Penelitian paleoekologi atas pembukaan hutan dilakukan dengan menganalisis serbuk sari (polen) di Pea Sim-sim, Pea Bullock, Pea Sijajap, dan Tao Sipinggan. Penelitian ini membuktikan, bahwa  telah ada aktivitas manusia sekitar 6.500 tahun lalu di Humbang  (www.anu.edu.au; www.manoa.hawaii.edu;  www.lib.washington.edu). Bila dihubungkan dengan  temuan fosil berusia 8.430 tahun di Loyang Mandale, Aceh Tengah, maka paling besar kemungkinannya bahwa mereka adalah para pendukung kebudayaan Hoabinh.
Mereka merupakan bangsa setengah menetap, pemburu, bercocok-tanam sederhana, dan bertempat tinggal di gua. Mereka menggunakan kapak genggam dari batu, kapak dari tulang dan tanduk, gerabah berbentuk sederhana dari serpihan batu, batu giling, dan mayat yang dikubur dengan kaki terlipat/jongkok dengan ditaburi zat warna merah, mata panah, dan flakes. Makanannya berupa tumbuhan, buah-buahan, binatang buruan atau kerang-kerangan. Kebudayaan Hoabinh berasal dari zaman batu tengah di masa Mesolitik sekitar 10.000 - 6.000 tahun lalu. Para pendukung kebudayaan Hoabinh ini merupakan ras Australomelanesoid. Mereka datang dari dataran rendah Hoabinh di dekat Teluk Tonkin, Vietnam (bnd. Edward Simanungkalit, 2012).

Kebudayaan Austronesia di Toba
Robert von Heine Geldern mengemukakan bahwa kelompok pendukung kebudayaan Dong Sonbermigrasi dari Selat Tonkin, Vietnam ke Sumatera bagian Utara pada masa Neolitik sekitar 6.000-2.000 tahun lalu (Pasaribu, 2009:ii). Sedang Ketut Wiradnyana dari Balai Arkeologi Medan mengatakan: “Sementara di Tanah Batak didominasi oleh budaya Dong Son  (salah satu budaya yang berasal dari Vietnam Utara) yang perkembangannya sekitar 2.500 tahun yang lalu. Budaya Dong Son  ini ditandai dengan adanya logam dan pola hias yang ditemukan di rumah Batak Toba, yang menggambarkan binatang atau manusia dengan hiasan bulu-bulu panjang.” (Waspada,  11/01-2012).
Pada Juli 2013, Balai Arkeologi Medan melakukan penelitian "Jejak Peninggalan Tradisi Megalitik di Kabupaten Samosir" dengan melakukan kegiatan ekskavasi dan survei arkeologi. Disimpulkan bahwa kelompok migran pendukung budaya Dong Son telah datang dari China bagian Selatan  melalui jalur timur menuju ke Taiwan, terus ke Filipina dan  diteruskan lagi ke Sulawesi dan seterusnya ke Sumatera hingga mencapai Samosir (Wiradnyana & Setiawan, 2013:7). Berdasarkan tradisi megalitik di Samosir tadi, Ketut Wiradnyana memperkirakan bahwa migrasi ke Samosir terjadi pada sekitar penghujung millenium pertama masehi hingga awal millenium kedua atau sekitar 800 tahun lalu.
Kelompok pendukung kebudayaan Dong Son telah mengenal teknologi pengolahan logam, pertanian, berternak, menangkap ikan, penggunaan moda transportasi, bertenun, membuat rumah, dll. Kebudayaan yang berkembang di Vietnam ini merupakan kebudayaan zaman perunggu. Masyarakat Dong Son adalah masyarakat
petani dan peternak yang handal dan terampil menanam padi, memelihara kerbau dan babi, serta memancing. Mereka  juga dikenal sebagai masyarakat pelaut, bukan hanya nelayan, tetapi juga pelaut yang melayari seluruh Laut Cina dan sebagian laut-laut selatan dengan perahu yang panjang (wikipedia).Masyarakat Dong Son berasal dari rasMongoloid. Kebudayaan Dong Son secara keseluruhan dapat dinyatakan sebagai hasil karya kelompok bangsa Austronesia. Beberapa pakar menggolong rumpun bahasa Austro-Asiatik dengan rumpun bahasa Austronesia dan menamakannya rumpun bahasa besar atau superfamili Austrik.

Orang Toba Dari Negeri Toba
          Pendukung budaya Hoabinh yang sudah datang ke Humbang 6.500 tahun lalu mengalami perjumpaan dengan pendukung budaya Dong Son. Perjumpaan ini akhirnya didominasi oleh kebudayaan Dong Son, karena lebih maju daripada kebudayaan Hoabinh. Kebudayaan Dong Son merupakan kelompok kebudayaan Austronesia dan orang Toba merupakan penutur bahasa Austronesia. Istilah “Toba” dipergunakan sesuai dengan cap Raja Singamangaraja XII yang menyebut “Raja dari Negeri Toba”, sedang Sitor Situmorang memakainya di dalam bukunya “Toba Na Sae”. Wilayah Toba yang dimaksud yaitu: Toba Samosir, Toba Humbang, Toba Holbung, dan Toba Silindung.
Perjumpaan dua ras, yaitu ras Australomelanesoid dan ras Austronesia-mongoloid, telah melahirkan orang Toba. Sehubungan dengan DNA Toba, maka baru-baru ini Mark Limpson meneliti penutur Austronesia dengan menggunakan data-data dari HUGO Pan-Asian SNP Consortium dan CEPH-Human Genome Diversity Panel (HGDP). Statistik yang dibuat Mark Limpson (2014:87) tentang orang Toba memiliki unsur dan perbandingan seperti berikut: Austronesia (55%), Austro-Asiatic (25%), dan Negrito (20%). Ras Austronesia yang dimaksud di sini khususnya dari ras Mongoloid dengan DNA Haplogroup O. Sementara ras Austro-Asiatic hampir dua pertiga memiliki DNA dengan Haplogroup O. Sedang ras Negrito  banyak memiliki DNA dengan Haplogroup M dan selain itu memang berasal dari Afrika sebagai asal migrasi awal, sehingga tidak mengherankan kalau orang Toba memiliki DNA yang berasal dari Afrika. Akan tetapi, pengaruh budaya Dongson lebih dominan di dalam budaya Toba dan Ras Austronesia-mongoloid dominan di dalam diri orang Toba dan DNA Toba ditemukan memiliki Haplogroup O (Lihat: O-M122O-M95O-MSY2.2).


***
Akhirnya, orang Toba merupakan percampuran ras Australomelanesoid dengan ras Mongoloid dari kelompok kebudayaan Austronesia.  Dari penelitian biologi molekuler bahwa DNA orang Toba ialah Haplogroup O yang terdiri dari Austronesia (55%), Austro-asiatic (25%), dan Negrito (20%). Sebelum Sianjur Mula-mula dihuni sekitar 800-1.000 tahun lalu, maka telah lebih dulu manusia ada di Humbang sekitar 6.500 tahun lalu. Orang Toba itu dari Negeri Toba: Humbang, Samosir, Toba Holbung, dan Silindung (Jakarta, 03012015).



*Pemerhati Sejarah Alternatif Peradaban
 

Ir. Alusdin Sinaga Calon Bupati Samosir Berkunjung ke Prananda Surya Paloh Center (PSP Center) Medan



Menampilkan IMG_20150222_235545.jpg
Ki-Ka: Ir. Manogu Sihaloho (Ketua DPD Partai Nasdem Samosir), Ir. Alusdin Sinaga (Calon Bupati Samosir), Martin Manurung, SE., MA (Ketua DPP Nasdem/Korwil Sumut), Eddin Sihaloho, SE ( Pengusaha asal Samosir), Sarhochel Martopolo Tamba, ST., MM (Anggota DPRD Samosir dari Nasdem dan Gabarel Sinaga (Sekretaris Tim Pemenangan Alusdin “SMS”).


BERITASIMALUNGUN.COM, Medan-Alusdin Sinaga didampingi tim pemenangannya bersilaturahmi sekaligus berdiskusi tentang Samosir Makin Sejahtera di Prananda Surya Paloh Center (PSP), di Jalan KHA Dahlan Medan, Sabtu (21/2/2015) lalu.

Kedatangan Alusdin Sinaga bersama tim pemenangan ke PSP Center terkait pencalonannya sebagai Bupati Samosir dan penyerahan surat dukungan rekomendasi pencalonan ke Partai yang terkenal dengan jargon, “Gerakan Perubahan” ini.

Pendaftaran Alusdin Sinaga diterima langsung oleh bapak Ir. Manogu Sihaloho yang juga Ketua DPD Partai Nasdem Samosir, serta turut hadir bapak Martin Manurung, SE., MA (Ketua DPP Nasdem/ Korwil Sumut), Sarhochel Martopolo Tamba ST., MM (Anggota DPRD Samosir dari Partai Nasdem) dan pengurus Partai Nasdem lainnya, pada pertemuan itu Alusdin juga memaparkan strategi program dan visinya Samosir Makin Sejahtera.

Usai penyerahan surat dukungan rekomendasi pencalonannya, Alusdin Sinaga beserta Pengurus Partai Nasdem langsung menghadiri kegiatan Sosialisasi 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di PSP center yang dihadiri dari berbagai kalangan, mulai Mahasiswa, Perguruan Tinggi, Tokoh Masyarakat dan Anggota DPRD Sumatera Utara.

Sosialisasi ini dihadiri anggota DPR RI dari Partai Nasdem, Prananda Surya Paloh dan Martin Manurung, “Ia sempat mengutip filosofi kitab Sutasoma yang ditulis Mpu Tantular dalam bahasa Jawi Kuna. Rwaneke dhatu winuwus Budda Wisna, Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siswatatwa tunggal, Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa. “Suku, ras dan agama di Indonesia beragam tapi nilai kebenaran tetap sama. Keberagaman justru memperkaya kehidupan,” ucapnya.

Pada hari yang sama, Prananda Surya Paloh memberikan dan meresmikan penggunaan mobil operasional Rumah Aspirasi‪ ‎PSP Center, yang dilengkapi WIFI dan fasilitas infokom canggih, untuk mendukung program yang pernah saya janjikan pada kampanye Pileg lalu, yaitu "Gaji Dan Tunjanganku untuk Desa dan Kotaku", ini bantuan pribadi sebagai anggota legislatif. “Silakan masyarakat Sumut memaksimalkannya karena dengan mobil yang dilengkapi wifi supercepat itu publik dapat berinternet gratis,” ujarnya.

Benar, "kita hanya melakukan diskusi singkat mengenai visi bapak Alusdin Sinaga, serta meminta masukan-masukan untuk mendorong kemajuan Kabupaten Samosir, sekalian mengikuti serangkaian kegiatan Partai Nasdem, bahkan bapak Alusdin juga akan berniat menghadirkan Mobil Pintar Samosir untuk mempercepat penyampaian informasi serta layanan peningkatan kualitas pendidikan dan SDM generasi muda Samosir “kata Gabarel Sinaga yang sekaligus Sekretaris Tim Pemenangan Alusdin SMS.
Menampilkan IMG_20150223_075804.jpg
Ir. Alusdin Sinaga Calon Bupati Samosir Berkunjung ke Prananda Surya Paloh Center (PSP Center) Medan.
Gabarel juga menegaskan, "bahwa bapak Alusdin sangat serius dengan pencalonannya, karena itu beliau berupaya untuk menyakinkan publik serta parpol yang nantinya akan resmi mengusung bapak Alusdin, jangan lupa untuk Samosir Makin Sejahtera maka kita harus pilih dan dukung bapak Alusdin, "tutupnya.(Janner Simarmata).

HONDA SELALU TANGGUH

HONDA SELALU TANGGUH
KLIK GAMBAR

SORTAMAN SARAGIH MENUJU WALIKOTA SIANTAR

SORTAMAN SARAGIH MENUJU WALIKOTA SIANTAR
Profile Klik Gambar

KEDAI KOPI ENAK DI HARANGGAOL, KARYA RIMBA TEMPATNYA

KEDAI KOPI ENAK DI HARANGGAOL, KARYA RIMBA TEMPATNYA
KLIK GAMBAR UNTUK INFORMASI SELENGKAPNYA

RUMAH MAKAN KHAS SIMALUNGUN

RUMAH MAKAN KHAS SIMALUNGUN
DI JALAN SUTOMO SARIBUDOLOK (KLIK GAMBAR)

Bona Petrus Purba Bakal Maju di Pilkada Simalungun

Bona Petrus Purba Bakal Maju di Pilkada Simalungun
KLIK GAMBAR

“Bagod & Tambuls” Tempat Tongkrongan Bersahaja

“Bagod & Tambuls” Tempat Tongkrongan Bersahaja
Alamat di Jalan Gereja No. 21A, Simpang Empat, Pematangsiantar. (Selengkapnya Klik Gambar)

BPJS KESEHATAN

BPJS KESEHATAN
WAJIB DAN BERMANFAAT (INFO SELENGKAPNYA KLIK GAMBAR)

SIMPEDES BRI

SIMPEDES BRI
Simpedes adalah simpanan masyarakat dalam bentuk tabungan yang dilayani di BRI Unit, yang penyetorannya dapat dilakukan setiap saat dan frekuensi serta jumlah pengambilan tidak dibatasi sepanjang saldonya mencukupi.(SELENGKAPNYA KLIK GAMBAR)
 
Support : Redaksi | Contac Us | Pedoman Media
Copyright © 2011. BERITA SIMALUNGUN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Admin Simalungun
Proudly powered by Blogger