MENUJU SAMOSIR SATU

MENUJU SAMOSIR SATU
NELSON SITANGGANG SH MH (KLIK BENNER UNTUK INFORMASI TENTANG NELSON SITANGGANG)

MENUJU SIMALUNGUN 1 (2015)

MENUJU SIMALUNGUN 1 (2015)
Letkol Inf Drs Robensius Saragih. Selengkapnya Klik Gambar

Trending Topic

Latest Post

BI Undang Poltak Sitanggang Paparkan Prospek Pertambangan RI

Written By Berita Simalungun on Jumat, 19 September 2014 | 04.06

BI Undang Poltak Sitanggang Paparkan Prospek Pertambangan RI
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Mineral Indonesia (APEMINDO) Poltak Sitanggang. (Dok. Seruu.Com)
BERITASIMALUNGUN.COM, Jakarta-KETUA Komite Tetap Energi dan Pertambangan Mineral Indonesia, Poltak Sitanggang yang saat ini diunggulkan sebagai kandidat kuat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral di kabinet Jokowi-JK, Kamis (18/9/2014) pagi WITA akan menjadi pembicara dalam seminar nasional yang digelar Bank Indonesia di Hotel Arya Dhuta Makassar, Sulawesi Selatan.


Dalam acara bertajuk "Prospek Pertambangan Nasional" tersebut, Poltak akan menjadi keynote speaker untuk berbicara mengenai kondisi industri tambang nasional dan prospeknya dihadapan para bankir, akademisi dan pengusaha.

Poltak yang juga Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Mineral Indonesia saat ini diketahui tengah membangun kawasan industri terpadu di Indonesia Timur yang dibangun diatas lahan seluas 22.000 ha. Kawasan tersebut sedianya menjadi salah satu basis industri nasional dalam hal pengolahan hasil pertambangan dari bahan mentah menjadi bahan jadi atau setengah jadi.

Nama Poltak menjadi sorotan media setelah Jokowi pada Senin (15/9/2014) petang mengumumkan bahwa pos menteri ESDM akan diisi dari kalangan profesional. Hal ini melengkapi prasyarat sebelumnya yang kerap dilontarkan Jokowi bahwa Menteri ESDM yang diinginkannya adalah yang memiliki rekam jejak bersih, muda, dari kalangan pengusaha, memiliki leadership dan keberanian melawan mafia migas.

Pengamat pertambangan menilai jika dibandingkan dengan 14 kandidat lainnya yang namanya muncul di media massa maupun dalam berbagai polling yang digelar, maka nama Poltak yang merupakan figur yang lekat dengan ide-ide dan pemikiran yang nasionalis serta memiliki sejarah mengalahkan KK Asing Rio Tinto dalam sengketa di pengadilan Sulawesi Tengah, paling memenuhi syarat.

Dalam situs polling terbaru yang diluncurkan oleh sejumlah mahasiswa Singapura di luar negeri, www.beranilawanmafia.com, Poltak hingga saat ini menempati urutan tertinggi dari 4 kandidat menteri ESDM yang dianggap berani melawan mafia migas.(Net)

Geliat Kopjaskum Radio Mora Sumut Menghutankan Sumut dengan Jabon

Presentase Program Pohon JABON 'KOPJASKUM RADIO MORA SUMUT' bersama Arief Sudrajat diRaDio MORA SUMUt 91,3 FM. Pematangsiantar.Foto Silver Silalahi
BERITASIMALUNGUN.COM, Asahan-Koperasi Jasa Pelayanan Hukum (Kopjaskum) radio Mora Sumut kini getol untuk melakukan sosialisasi serta mengajak petani untuk mengembangkan Hutan Jabon di Sumatera. Tim Kopjaskum Radio Mora Suymut juga telah meninjau lokasi lahan JABON program KOPJASKUM RADIO MORA SUMUT di Desa Bangun Baru Kecamatan Sei Kepayang Kabupaten Asahan Kamis,18 September 2014. Program ini merupakan program kerakyatan yang berguna bagi pelestarian hutan Jabon di Sumatera Utara. 

Silver Silalahi, Koordinator Hutan Jabon Kopjaskum Radio Mora Sumut mengatakan, masyarakat khususnya Amor (Anggota Mora) dan pendengar Radio Mora 91.30 FM di Sumut antusias ikut dalam program Hutan Jabon ala Kopjaskum Radio Mora ini.(Lee) 
Meninjau lokasi lahan JABON program KOPJASKUM RADIO MORA SUMUT di Desa Bangun Baru Kecamatan Sei Kepayang Kabupaten Asahan Kamis,18 September 2014. Foto-Foto Silver Silalahi
Meninjau lokasi lahan JABON program KOPJASKUM RADIO MORA SUMUT di Desa Bangun Baru Kecamatan Sei Kepayang Kabupaten Asahan Kamis,18 September 2014. Foto-Foto Silver Silalahi

ELEMEN MASYARAKAT SIANTAR TOLAK PILKADA DEWAN

Tugu Adipura Kota Pematangsiantar. Foto Asenk Lee Saragih
BERITASIMALUNGUN.COM, Siantar-Elemen masyarakat Kota Pematangsiantar, Jumat, menggalang dukungan untuk menolak pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui legislator/dewan.

Puluhan pemuda yang tergabung dalam wadah Forum Diskusi Demokrasi (FDD), mengajak masyarakat membubuhkan tanda tangan penolakan di selembar kain putih panjang.

"Jika Pilkada melalui anggota dewan, maka menciderai perjuangan demokrasi, karena kedaulatan ada di tangan rakyat," ujar Koordinator Lapangan FDD, Rocky Marbun, di persimpangan Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman.

Rocky mengakui, penyelenggaraan pemilu langsung yang mengikut-sertakan rakyat membutuhkan biaya yang lebih besar dan rentan praktik politik uang.

FDD menilai, letak permasalahan bukan pada opsi pemilihan langsung atau tidak langsung, tetapi melalui penyempurnaan peraturan, pengawasan dan penegakan hukum.

"Jika tidak disempurnakan, politik uang tetap berlangsung hanya pemindahan dari rakyat ke dewan," ujar Rocky.

FDD kata Rocky, melihat ketidakkomitmenan jangka panjang dari anggota dewan yang menguasai parlemen untuk mengembangkan praktik demokrasi.

"Ketika sistem demokrasi berubah ke pemilihan langsung, bukan perjuangan yang mudah. Jadi jangan segampang itu merubah sistem pemilihan lagi," tandas Daniel Pasaribu, anggota FDD.

Untuk itu FDD meminta pemerintah dan DPR menganulir pasal dalam RUU Pilkada terkait pemilihan melalui dewan, yang dinilai melunturkan demokrasi.(ant)

GAJI ANGGOTA DPRD SIMALUNGUN RP11 JUTA LEBIH

Anggota DPRD Kabupaten Simalungun Terpilih (Nasdem) Bernhard Damanik.IST
BERITASIMALUNGUN.COM, Simalungun- Anggota DPRD Kabupaten Simalungun periode 2014-2019, akan menerima honor atau gaji lebih dari Rp11 juta.

"Minimal akan menerima Rp11.993.150 setiap bulan, dan sudah dipotong pajak 15 persen," sebut Sekretaris Dewan, Jonni Saragih, Jumat.

Jonni menyampaikan, honor tersebut meliputi uang paket, uang representatif, tunjangan jabatan, tunjangan isteri atau suami dan anak, tunjangan beras, perumahan dan insentif serta tunjangan komisi.

Jonni mengatakan, pelantikan 50 anggota DPRD Simalungun terpilih pada Pileg April 2014, dijadwalkan pada 25 September 2014.

LSM Masyarakat Peduli Simalungun (MPS) berharap, anggota DPRD Simalungun periode 2014-2019 memberikan perubahan yang lebih baik dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat dan bukan hanya menerima gaji.

"Kita berharap mereka lebih memahami tugas dan fungsinya dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat, dan menyadari gaji yang diterima adalah uang rakyat," kata Ketua MPS, Marsono Purba.

Marsono menilai, selama ini kebanyakan anggota DPRD Simalungun setelah duduk di legislatif, belum maksimal dalam memperjuangan kebutuhan pembangunan daerah untuk kepentingan masyarakat.(ant)

OPT SERANG 28,2 HEKTARE TANAMAN CABAI SUMUT

Petani Cabei Merah di Kabupaten Karo
BERITASIMALUNGUN.COM, Medan-Dinas Pertanian Sumatera Utara mengakui terjadi gangguan produksi cabai merah petani daerah itu sekitar 28,2 hektare akibat serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dampak faktor cuaca.

"Kalau ditotal dengan gangguan penyakit lainnya ada kerusakan mulai Agustus hingga September ini sekitar 76,9 hektare. Kerusakan berat, sedang dan ringan itu tentunya mempengaruhi produksi cabai merah tersebut," kata Pokja Hortikultura, UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) Dinas Pertanian Sumut, Utema S di Medan, Kamis.

Dia juga mengakui dengan produksi yang terganggu akan mempengaruhi pasokan cabai merah tersebut di pasar termasuk harga jual.

Utema menjelaskan, faktor cuaca sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya OPT seperti Antraknosa yang menyerang cabai di beberapa daerah produsen.

"Meski belum ada serangan besar, tetapi kerusakan yang antara lain disebabkan penyakit kutu daun, ulat gerayak dan virus keriting itu sudah mengganggu produksi dan Dinas Pertanian sudah dan sedang menangani penyakit pada tanaman itu,"katanya.

Penanganan semakin dilakukan maksimal karena serangan penyakit pada tanaman cabai itu sudah menyebar ke 12 Kabupaten mulai Simalungun hingga Langkat.

Agen pemasok cabai merah di Medan, R.Ginting, mengakui, harga jual cabai merah ke pedagang memang terus mengalami kenaikan karena pembelian ke pedagang pengumpul atau petani juga naik dampak sedikitnya produksi.

Kalau sebelumnya, agen bisa membeli Rp20.000 per kg, namun sekarang sudah Rp25.000 per kg sehingga tentunya penjualan ke pedagang juga dinaikkan dan bertambah mahal kalau ke konsumen, Padahal, kata dia, harga cabai merah sebelumnya sempat turun karena produksi cukup banyak bersamaan dengan bawang merah.(ant)

Diklaim Pesta Rakyat, Pesta Danau Toba Dihadiri Ribuan PNS

Dihadiri Ribuan PNS Pemkab Simalungun. Foto Roma Damanik

BERITASIMALUNGUN.COM, Parapat-Ribuan pegawai negeri sipil (PNS) memadati areal open stage Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, saat proses pembukaan Pesta Danau Toba (PDT) 2014 oleh Bupati Simalungun JR Saragih, Kamis (18/9/2014) sore.

Para PNS yang masih mengenakan pakaian dinas lengkap khas Kabupaten Simalungun, Hio, itu nyaris mengisi seluruh kursi yang disiapkan pihak panitia PDT 2014. Sementara warga yang hadir tampak hanya segelintir. Pesta itu sendiri diklaim JR Saragih sebagai pesta rakyat Simalungun. 

“Ini adalah pesta rakyat. Tujuannya untuk meningkatkan arus kunjungan wisata di Kota Parapat dan Kabupaten Simalungun secara umum. Pesta ini juga untuk melestarikan budaya,” katanya saat memberikan sambutan. 

Dalam kesempatan itu, Saragih mengklarifikasi tuduhan bahwa PDT 2014 merupakan tandingan dari Festival Danau Toba (FDT) 2014 yang digelar oleh Kementerian Pariwisata di Balige, Kabupaten Toba Samosir yang jadwal pelaksanaannya bersamaan, yakni dari 17 hingga 21 September 2014. 

“Ini bukan tandingan Festival Danau Toba yang sedang berlangsung. Sebaliknya mendukung,” tandasnya. 

Dia mengingatkan, Parapat merupakan penggagas lahirnya Pesta Danau Toba, yakni sejak 1986 dan digelar setiap tahun di Parapat. Namun dalam perjalanan waktu yakni sejak 2013, pesta ini berubah nama menjadi Festival Danau Toba yang digelar di Kabupaten Samosir dan tahun ini digelar di Kabupaten Toba Samosir. 

Butar-butar, salah seorang warga Parapat mengatakan, PDT 2014 ini jauh dari kesan pesta budaya dan pesta rakyat. Pria yang ditemui di lokasi acara mengaku kecewa dengan Pemkab Simalungun yang menggelar pesta tanpa melibatkan masyarakat. 

“Pesta ini terkesan hanya menghamburkan uang saja. Apalagi digelar tanpa melibatkan kami warga Parapat,” katanya. 

Sementara itu, Ketua Panitia PDT 2014 Rizal Saragih menyebut, PDT 2014 digelar selama tiga hari sejak 18 September hingga 20 September 2014. Sejumlah kegiatan digelar, mulai dari olahraga air, paduan suara, lomba menari hingga lomba fotografi. Dalam acara pembukaan, digelar tortor Sombah, tarian Huda-huda dan Holi-holi yang berkisah kesedihan seorang raja kehilangan putra kesayangannya. 

Selain para PNS, tampak juga hadir sejumlah pejabat teras di Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Batubara. (Sumber: Kompas.com)

Bona Petrus Purba Bakal Maju di Pilkada Simalungun

Written By Berita Simalungun on Kamis, 18 September 2014 | 06.31

Bona Petrus Purba Bakal Maju di Pilkada Simalungun

BUPATI SIMALUNGUN BUKA PDT DI PARAPAT

Pembukaan Pesta Danau Toba di OpenStage Parapat. Foto IST Juandaha Raya Purba
BERITASIMALUNGUN.COM, Parapat-Bupati Simalungun Jopinus Ramli Saragih, membuka Pesta Danau Toba (PDT) tahun 2014, di Parapat, Kamis, ditandai dengan pemukulan gong dua kali.

Bupati menegaskan, PDT harus tetap diadakan secara rutin setiap tahun di Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon sebagai upaya untuk menjaga dan melestarikan budaya Simalungun.

PDT kata bupati, merupakan sejarah bagi masyarakat Simalungun yang telah dilaksanakan sejak tahun 1982 dan menjadi bagian dukungan terhadap Festival Danau Toba (FDT) di Balige, Toba Samosir.

"Budaya harus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi penerus supaya tidak hilang," ujar bupati.

Untuk lebih mengenalkan Danau Toba Parapat kata bupati, Pemkab Simalungun membuka akses jalan pintas melalui Simpang Pangalbuan Kecamatan Raya.

"Kita juga mengupayakan pada Januari 2015 membangun patung Bung Karno di seputaran pesanggrahan," ujar bupati.

Selain infrastruktur kata bupati, masyarakat Simalungun khususnya Parapat Girsang Sipangan Bolon merubah sikap mental lebih baik lagi.

"Danau Toba merupakan kekayaan masyarakat Simalungun, dan harus dijaga," tandas bupati.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Simalungun, Rizal EP Saragih melaporkan PDT digelar selama tiga hari dengan menampilkan hiburan budaya daerah, artis ibu kota dan lomba olahraga tradisional.

Pelaku pariwisata di Parapat, Harianto Sinaga berharap Pemkab menghidupkan lokasi 'take off' paralayang di Dolok Simarbalatuk untuk memberikan sesuatu yang baru kepada pengunjung.

"Sudah pernah dimulai tahun 1980-an, dan lokasi ini diakui asosiasi paralayang dunia yang terbaik di Asia Tenggara," sebut koordinator Destination Management Organisation (DMO) ini.(ant)

MASYARAKAT PARAPAT KECEWA TIDAK DILIBATKAN DALAM PDT

Salah satu acara adat simalungun yg d pertunjukan — di Lapangan Pagoda / Alun Alun Parapat Danau Toba.Foto IST Roma Damanik

BERITASIMALUNGUN.COM, Parapat-Masyarakat Parapat Kabupaten Simalungun, sumatera Utara, mengemukakan kekecewaannya karena tidak dilibatkan dalam penyelenggaraan Pesta Danau Toba (PDT) 2014 di Parapat, Kamis.

"Kami tidak dilibatkan sehingga terkesan hanya sebagai tamu, sementara pelaksanaanya di daerah kami," ujar Effendi Bakkara, warga setempat.

Selama ini, kata Effendi, jika pemerintah kabupaten mengadakan acara-acara pagelaran budaya daerah untuk membangkitkan pariwisata di kawasan Danau Toba, Parapat, selalu melibatkan masyarakat.

"Tahun ini sama sekali tidak, bahkan masyarakat setempat banyak yang tidak tahu PDT diadakan lagi," kata Effendi.

Menurut Camat Girsang Sipangan Bolon JW Purba menyampaikan pihaknya hanya menjadi panitia lokal untuk sembilan perlombaan olahraga tradisional.

"Perlombaan olahraga digelar antarkecamatan dan dikoordinir pihak kecamatan," ujar JW Purba.

Sementara itu, Koordinator Destination Management Organisation (DMO) Harianto Sinaga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Simalungun Jopinus Ramli Saragih yang sudah berupaya memperkenalkan pariwisata kepada para aparatur pemerintahannya.

"Mudah-mudahan mereka (aparatur pemerintahan) menjadi agen promosi kepada masyarakat luas," ujar Harianto Sinaga, pelaku wisata di Parapat ini.

Dia berharap pagelaran yang diadakan memberikan dampak yang luas dan berkesinambungan khususnya bagi masyarakat yang menetap di kota turis ini.

"Bukan hanya sekadar momentum, usai kegiatan Parapat sepi lagi," kata Harianto menambahkan.(ant)

JIKA BUKU BIOGRAFI TARALAMSYAH LARIS

Belum tentu laris juga memang, Akan tetapi jika laris, buku biografi ini akan menghasilkan uang. Dan uangnya bisa sangat sedikit saja jika laku hanya sedikit. Namun bisa juga dapat sampai puluhan juta, ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Kalimat saya di atas merujuk pada pengamatan soal penjualan buku di Gramedia.
Kalau buku tak laku, tentu saya tidak akan berkecil hati. Karena hal terpenting, biografi alm Bapak Taralamsyah sudah muncul, "Sattabi bani na hurang na lobih" seperti kalimat langsung almarhum itu sendiri.
Nah, bagaimana jika laku dan honornya kemana?

Ketika saya menulis buku Oppung Dolok, "Sungguh Mati Dia Mencintai Umatnya", sudah kukatakan bahwa hasilnya adalah untuk seperti yang diinginkan Oppung Dolok itu sendiri semasa hidupnya, "Membantu kaum lemah.

Honornya memang belum saya terima karena sama seperti Gramedia, memang cukup lama proses mendapatkan honor, bisa enam bulan bisa setahun. Namun honor ini pasti kuberikan kepada umat Paroki Saribudolok yang paling membutuhkan. Kebetulan ada dua umat Paroki yang kurang mampu dan sedang kuliah di Jakarta, kepada mereka inilah prioritas honor itu. Karena apa? Mendorong umatnya sekolah, itulah keinginan Oppung Dolok.

Lalu balik lagi ke buku biografi ini. Kemana honornya jika ada? Saya merujuk saja pada kalimatnya sendiri. "Saya mau merestorasi arsip Simalungun karena semua itu masih ada di otak saya. Namun siapa yang membiaya saya?" demikian kalimat alm Taralamsyah ketika dia rindu dan ingin merestorasi seni budaya Simalungun.

Karena itu saya mengikuti intuisi saya saja, setelah menangkap jeritan atau keinginannya (Taralamsyah). Hasilnya adalah demi merestorasi seni budaya Simalungun seperti impiannya yang dia bawa mati itu. Nah, soal ini saya akan berdiskusi dengan Bang Edy Taralamsyah Saragih Garingging, si ahli waris.

Dan tentu sebagian honor juga kuserahkan ke ahli warisnya, Bang Edy. Intinya, hasilnya pada ahli waris Taralamsyah itu sendiri dan disesuaikan dengan keinginan Taralamsyah sendiri.

Lalu apa untuk saya? Palingan kompensasi biaya-biaya penulisan bolak-balok Jakarta-Medan. Namun ini bukan prioritas. Ini ada di urutan terbawah prioritas, bukan hal terpenting dan bisa saya batalkan sendiri.
Restorasi seni budaya, itulah prioritas utama.

Karena itu, saya bermohon. Jika sudah beredar, belilah buku ini. Cukup satu saja seorang. Promosikanlah juga ke seorang teman, saudara, bahkan ke non-Simalunguni. Tujuannya agar buku ini laku banyak dan jika perlu sebanyak-banyaknya laku.

Jika laku sangat banyak, duit pun akan banyak dapat. Teman saya penulis buku "Pak Esbeye" bisa membeli Honda Jazz karena buku itu.

Percayalah sama saya, kupersembahkan honor demi keluarganya dan demi Simalungun. Semua akan saya bikin transparan, lengkap dengan kwitansinya kelak.

Saya hanya minta doa, agar tetap sehat dan bisa eksis terus dan berkarya. Tuhan begitu baik selama ini pada saya dan saya wajib membalasnya.(Simon Saragih)

Dirut PT.KAS Medan Diminta Copot Mawardi Manager Kebun PT.KAS Sosa

Menampilkan 10436174_803656563019964_5831062887354009347_n.jpg
Kelapa sawit berserakan.

BERITASIMALUNGUN.COM, Padang Lawas-Kinerja Mawardi sebagai Manajemen unit di salah satu perusahaan Kebun PT.KAS Sosa Padang Lawas, Sumut. Sudah lah sangat perlu di perhatikan dan sudah tidak layak lagi seperti Mawardi anak kelahiran Aceh ini menjabat sebagai Manager di PT.KAS sosa Kabupaten Padang Lawas. 

Sesuai pantauan saya langsung di lapangan seperti gambar brondolan sawit yang banyak terbuang-buang di setiap pinggiran jalan kebun PT.KAS sosa, sudah tidak pernah dihiraukan atau tidak di pedulikan oleh Mawardi Manager kebun PT.KAS tersebut. Sepertinya Mawardi anak kelahiran Aceh ini. 

Sudah menganggap dirinya itu sebagai DIRUT,  PT.KAS. makanya beliau tidak memperdlikan brondolan sawit itu bertaburan di tepi jalan kebun tersebut. Dan saya juga menerima laporan dari puluhan warga Padang Rumbau / Ujung Batu Sosa dan sekitarnya.

Dia mengatakan kepada saya,kalau Mawardi anak kelahiran aceh ini sudah cukup banyak membuat rasa sakit hati masyarakat setempat dan juga para tokoh-tokoh masyarakat. 

Setelah kita mendapat laporan tersebut dari masyarakat setempat yang berada di sekitar wilayah kebun PT.KAS sosa yang dipimpin Mawardi ini. kita secepatnya harus membuat laporan resmi kepada DIRUT. PT.KAS Medan. Ir. Mosflai. 

Karena kalau prilaku Mawardi yang menjabat sebagai Manager di kebun tersebut tidak bermasyarakat terutama kepada para toko-toko masyarakat,itu sudah sangat tidak layak dan juga merugikan perusahaan yang memberinya dia makan. 

Redaksi Media Bongkar Kasus akan segera membuat suatu pemberitahuan kepada Dirut, PT.KAS tersebut. supaya Mawardi Manager kebun PT.KAS Sosa secepatnya di buang dari kebun tersebut, sebelum masyarakat setempat hilang kesabaran dengan prilaku Mawardi anak kelahiran aceh yang tidak tau diuntung itu. 

Media Bongkar Kasus akan meminta tegas kepada Ir. Mosflai DIRUT.PT.KAS Medan. biar secepatnya Mawardi di mutasikan jauh dari tempat yang dipimpinnya sekarang. dari pada terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan antara perusahaan dengan masyarakat setempat.(B Sinaga)

ETNOMUSIKOLOG TERGIANG UCAPAN TARALAMSYAH

Setia Dermawan Purba
Oleh: Setia Dermawan Purba, etnomusikolog dari Universitas Sumatera Utara, Medan
TAHUN 1991 tepatnya di bulan Juni saya berkunjung ke rumah Tulang Taralamsyah Saragih di Jambi. Saya memperkenalkan diri dan langsung disambut dengan kalimat, “Ngak usah kau mau jadi seniman Simalungun.”

Saya terkejut mendengar sambutannya itu. Ada sekitar tiga jam saya mewawancarai beliau. Kekecewaan terlihat dari jawaban-jawabannya saat wawancara. Kekecewaan itu membuat dia merantau ke Jambi.

“Lang ihargai Simalungun seniman Seniman Simalungun,” demikian kalimat lain Taralamsyah yang diingat Setia Darmawan.

Namun Setia Darmawan sangat tahu. Taralamsyah hanya sedang ingin menyuarakan kerinduannya pada Simalungun walau dengan cara unik. “Buktinya saat itu Taralamsyah sedang sibuk menyusun kamus Simalungun. Dia pun menjawab semua pertanyaan saya soal seni budaya Simalungun.”

Dari wawancara itu Setia Darmawan sedikitnya tertolong tentang pengayaan pengetahuan dari wawancara itu. Taralamsyah sedikitpun tidak pernah melupakan Simalungun.

Namun memang ada alasan kekecewaan Taralamsyah. Setia Darmawan membandingkan penghargaan yang diperoleh almarhum Djaga Depari , seniman Karo. Misalnya ada “Piagam Anugerah Seni” dari Presiden RI (2 Mei 1979), “Piagam Anugerah Seni” dari Gubernur Sumut (13 Juli 1979). “Tuguni Djaga Depari pe dong do,” kata Setia.

Saat bertemu Taralamsyah itu Darmawan pun berkata: “Au Tulang, lang murni seniman profesiku. Akademisi do homa au dahkam." Artinya, profesi saya bukan murni seniman tetapi juga akademisi.

"Andai kata saya mengeluti seni semata mungkin juga .... Untung saya berprofesi sebagai dosen dan tidak hanya mengandalkan musik untuk hidup," lanjut Setia Darmawan, Dosen Etnomusikologi USU kelahiran 1956.

Setia Darmawan berkunjung ke Jambi karena ingin memperdalam pengetahuan soal seni budaya Simalungun. Karena itu dia singgah di Jambi dari perjalanan balik ke Medan setelah mengunjungi Jakarta.


“Memang ada beberapa tokoh seni Simalungun seperti AK Saragih dan lainnya. Akan tetapi saya juga tahu Tulang Taralamsyah adalah salah satu yang paling paham soal seni musik. Karena itulah saya menemuinya untuk wawancara.”

“Di samping itu bapak saya Tanda Purba Tambak kelahiran 1912 asal Kariahan Usang sudah lama melakukan korespondensi terkait penulisan kamus Simalungun yang dilakukan Taralamsyah. Bapak saya merupakan salah satu informan. Dari situ saya juga jadi tahu kehebatan Taralamsyah,” lanjut Setia.

Lalu bagaimana eksistensi para seniman Simalungun?

Bagaimana bentuk apresiasi dan animo masyarakat Simalungun sendiri pada budayanya? “Saya pikir kita tak perlu banyak berharap. Akan tetapi mari kita berbuat walau sedikit demi sedikit. Kita berbicara banyak tentang budaya Simalungun tetapi tidak melaksanakan banyak hal. Sekali lagi walaupun kecil, mari kita mulai berbuat sesuatu.”

Setia Darmawan juga menyinggung kepunahan arsip budaya Simalungun yang sudah pernah diingatkan. “Pada seminar kebudayaan Simalungun tahun 1962 Taralamsyah sudah mengingatkan agar segera mendokumentasikan gual-gual (gendang tradisional) Simalungun.”

Ini karena arsip-arsip memang sudah hilang. “Banyak nama-nama gual yang diinventarisasi oleh Taralamsyah. Beliau menginventarisasi jenis-jenis gual dari seluruh daerah di Simalungun. Apa yang terjadi? Tak pernah ada yang memperdulikannya.”

“Ongga do ididah nasiam Gonrang Sidua-dua itampilhon sonai homa Sitalasayak? Padahal bani sinurat ni Taralamsyah dong do ai dua si. Alani ai ongga do au isukkuni mahasiswaku.”

“Pak, kok gak pernah saya lihat dimainkan Gonrang Sidua-dua dan Sitalasayak? Padahal di kampus kita dipelajari.”

“Pak, kami meneliti upacara sayur matua di daerah Percut, kok sudah seperti nada musik Toba yang kami dengar?”

Acara sayur matua adalah acara penghargaan bagi orangtua yang panjang usia dan perjalanan hidupnya dianggap relatif paripurna.

“Balosku. Itulah fenomena yang terjadi pada musik tradisional Simalungun tetapi saya tetap mengajarkan hal yang sebenarnya pada kalian,” demikian Setia Darmawan menjawab pertanyaan para mahasiswanya.

Arsip-arsip Taralamsyah itu pun tercecer entah dimana terutama di saat situasi sosial politik sedang kacau di masa lalu. “Sekarang tinggal beberapa arsip gual lagi yang ada? Tinggal sedikit, sangat sedikit dan boleh dihitung dengan jari.”

Menurut Taralamsyah, pernah ada 200 lebih gual dan musik Simalungun.

Kemudian langkah dokumentasi juga pernah dilakukan oleh almarhum Jansen Saragih, salah satu putra Raja Raya terakhir, Jan Kaduk. “Namun beliau (Jansen) hanya merekam dan membuat not dari beberapa gual saja.”

“Seperti yang saya usulkan, mari segera rekam ulang. Kita dokumentasikan musik-musik tradisional termasuk gual. Mumpung para pelakunya masih ada. Kesempatan belum sirna. Sudah ada juga dokumentasi tentang beberapa lagu karya Taralamsyah. Mari kita lengkapi itu dengan mendokumentasikan melodi sarunei dan lagu-lagu rakyat lainnya. Mumpung masih ada beberapa tertua yang bisa mengingat. Dari tindakan ini saja kita akan bisa dapatkan beberapa bentuk tangga nada Simalungun. Mari segera mendokumentasikannya."

Sumber daya ada

“Dari segi sumber daya manusia kita mampu melakukannya. Misalnya setelah didokumentasikan langsung dituliskan not-nya. Saya sudah membuat not beberapa gual, misalnya Gual Rambing-rambing yang hanya terdiri delapan bar saja. Mahasiswa saya cukup mampu membaca not dan sudah mampu manggual Rambing-rambing. Nanget-nanget hudugut-dugut do manulisi ... Ai ope natarbaen.”


“Saya sangat setuju usulan soal invetarisasi dan pendokumentasian gual Simalungun. Masalahnya siapa yang mau melakukannya? Situasi sudah mendesak dan harus segera dilakukan. Parsarunei Simalungun kini hanya tinggal beberapa orang, tidak lebih dari duapuluhan. Mereka ini pun mungkin tidak banyak lagi tahu gual yang diinventarisasi oleh Taralamsyah.”

Siapa yang akan melakukan dokumentasi? “Siapapun itu, akhirnya memang tetap kembali ke masalah dana. Melakukan dokumentasi akan menyita waktu dan membuat penghasilan untuk keluarga bisa terganggu. Pendokumentasian membutuhkan riset ke daerah-daerah di Simalungun. Dan itu artinya butuh biaya.

Setia Darmawan berbicara soal pengalaman pencarian sponsor untuk mendukung dokumentasi seni musik tradisional Simalungun. “Dop honsi salosei au kuliah hun UI thn 1994, piga-piga proposal huajuhon do hubani pemerintah sonai homa hu bani perorangan lahou mambaen bengkel instrumen musik pakon kerajinan lain ni. Hasil ni nihil.”

“Memang sipata mandolei do diri. Mase lang dong halak na ra mangurupi? Domma marlajar diri nean soal sonaha cara mambaen alat musik ogung naituang, sedo songon sonari on pitah i las listrik. Padahal sederhana do cara pembuatan ni. Domma huteliti homa sonaha cara pembuatan talempong I Bukit Tinggi. Bahan ni kuningan..”

Setia Darmawan juga menemui kebuntuan. “Saya menawarkan kepada pemerintah. Ketika itu tahun 1995. Bupati Djabanten Damanik sudah meng-ACC dan diteruskan kepada Bappeda untuk ditindaklanjuti. Saya dorong juga dengan melobi ke DPR-D. Hasilnya nihil. Saya lakukan cara lain, menawarkan kepada perorangan untuk dijadikan bisnis. Ngak ada yang berminat. Saya bertindak hanya sebagai konsultan dan karena tidak mungkin berperan sebagai pengusaha karena saya seorang guru. Mungkin dari segi bisnis tidak menarik bagi pengusaha Simalungun, mereka lebih tertarik kepada bisnis lain.”

Namun dia tidak berhenti karena kendala dana itu. Dalam kesibukannya dia tetap mendokumentasikan arsip seni Simalungun. “Halani ai dugut-dugut hita ma tong, aha pe kendala ni.”

Namun dia kerap melakukan komparasi soal animo. “Tonggor hita ma simbalok ta. Alat-alat musik ni margorga jenges. Hape bagian ta? Lalap do songon sapari ondei.”

Setia Darmawan juga memperlihatkan contoh lain tentang animo yang rendah. 

“Kalau kita lihat di Parapat, di kedai suvenir sulit ditemukan kerajinan Simalungun kecuali di kedai Tulang Sipayung di Pagoda. Saya pernah menawarkan kepada salah satu panitia pembangunan gereja Simalungun agar suvenir yang diberikan dibeli dari Tulang Sipayung di Parapat itu. Eh... pada hari "H", bukan suvenir ciri Simalungun yang diberikan. Minat orang Simalungun untuk membeli kerajinan Simalungun sedikit. Ya memang pasar juga yang menentukan.”


“Saya sudah melihat di rumah orang-orang Simalungun, hanya di beberapa rumah saja ada terpampang kerajinan Simalungun, malah kerajinan orang lain yang mendominasi. Kalau kita lihat simbalok ta tak sedikit saya temukan alat musik tradisionalnya yang dipajang dirumahnya.”

“Domma piga hali husobut, anggo isobut marahap Simalungun, pakon nipi ni pe ikkon marbahasa Simalungun ma. Mungkin terlalu ektrim do ra in tene? Ase husobut pe sonai, maningon botul do ipahami hita budaya Simalungun secara mendalam. Anggo lang, maol do hita mandalankon, makkarosuhkon, melestarihon, manghargai budaya Simalungun.’

“Anggo au makkatahon bahat ma budaya Simalungun na mati suri. Halani ai porlu ma tumang isuntikhon hormon baru ase manggoluh use. Artini, anggo mengangkat kebudayaan ta ai hubani seni pertunjukan, maningon ibotoh hita do aha fungsi ni janah nilai aha do nalaho sipataridahon i jai.”

“Sonahama sasada halak rah mambantu ambit pemahamanni tentang budaya Simalungun pe minim do. Jadi mangarah ma hita ase bahat hasoman ta na mandalankon janah marosuh bani budaya Simalungun.”

Konsistensi nada musik pun menjadi pengamatannya. 

“Dop honsi hu amati pardalanan ni acara adat i Simalungun, sonai homa i luar Simalungun, keyboard mando gatinan tampil manang ipake. Aido ase huhatahon intensitas gonrang pe domma minim. Naparah ni, bahat lagu sileban na itampilhon bani acara ni halak Simalungun. Ambit pe itampilhon lagu Simalungun domma lang sesuai be hubani irama Simalungun. Contoh, lagu Parsirangan (tading ma ham) seng tartangar songon irama Gual Sakkiting. Jadi sulit ma manortorhonsi. Gual do mulani tortor. Aima ase anggo seng pas gual ni, lang tartortorhon be songon tortor ni Simalungun.”


“Sabonarni annggo par-keyboard mambotoh gual atap irama musik Simalungun, pasti irama keyboard ni pe ibahen ma irama na sosok bani Simalungun. Tangar hita ma keyboard Karo, irama keyboard ni lang daoh hubani musik tradisi ni. Aima ase anggo tortor ni sidea taridah botul do ciri tortor Karo ni. Sonai homa keyboard Toba, taridah do ciri musik pakon tortor ni.”

“Anggo hita, lang na botoh be aturan musik pakon tortor ni. Libas tumang, na ponting puas manortor. Contoh ni na lain use. Anggo hita mangindo gual/doding: ‘Nasiam panggual nami/par-keyboard nami, bahen nasiam ma lagu namardomu hombar hujai.’”

“Alani aha ase sonai sahap pangindoan hu panggual ai? Alani lang ibotoh hita be manontuhon laguni. Orangtua ta na hinan ibotoh do irama pakon tortor ni Simalungun. Sonari on bahatan ma na lang mambotoh. Tonggor hita ma gonrang na ipakei par keyboard i Simalungun. Gonrang pangindungi ni baggal tumang. Mase lang dong na ra mamissang? On ma sada contoh na lang parduli be hubani identitas ni sandiri.”

“Juga disayangkan, kaset pita hasil rekaman Tursini sulit ditemukan. Saya sudah pernah meminta kepada botou-nya Immen Saragih, sampai sekarang gak dapat.”

“Toko Robinson, ai do goran produser ni Tursini Saragih. Bahat tumang ma irekam ni lagu-lagu Tursini Saragih pakon gual Simalungun.”

“Adong homa SITALASARI goranni grup panggual na hun Siantar pakon parsarunei ni, ai ma Soki Sipayung par Huta Saing. Hutawarhon do ondei hubani pimpinan Robinson ase irekam. Ihatahonni ma. Bahat kaset Simalungun na lang laku. Laho hututung ma in, nini. Ceritani ai awal tahun 80-an. Sonari domma tutup toko ai.”

“Tahun 1982 survei do homa au hu Raya. Boli ham ma kaset on, Nikku huban piga-piga hasoman. Balosni hasoman ta I jai. ‘Ija ma huputar holi kaset in, tape-recorder-hu pe seng dong?’ Nai homa do balosni hasoman ta sanggah jubileum I Medan tahun 1983.”

“Sada faktor bani panorang ai ase lang bahat na mamboli kaset Simalungun, ai ma halani na seng dong alat pemutarni. Marbeda bani simbalok ta Karo. Bangga nasida mamboan tape-ni merek Sanyo. Bani tahun 70-an halak Karo merekam secara langsung pertunjukan ni Reno Surbakti. Bani panorang ai, ekonomi sidea domma lumayan. Sayur-mayur domma bahat isuan sidea.”

“Karena itu ketika saya bertemu Taralamsyah, beliau langsung mengatakan kepada saya jangan mau jadi seniman Simalungun. Ini betul saya ingat,” kata Seti Darmawan. Ini karena memang susah mendapatkan pijakan pada diri sendiri.

“Kembali ke soal Taralamsyah, kita membicarakan eksistensinya di Jambi. Seharusnya kita banyak juga membicarakan ketika beliau di Medan. Orkes Na Laingan yang turut dia koordinir sangat memberikan apresiasi dan memberi warisan tak langung terhadap perkembangan kesenian Simalungun. Pada masa ini pula beliau banyak membuat notasi lagu rakyat Simalungun. Juga dari pengalaman beliau belajar musik barat, terciptalah lagu-lagu Simalungun yang sudah memasukkan unsur musik barat tetapi tidak menghilangkan ciri musik Simalungun.”

“Contohnya lagu “Eta Mangalop Boru”. Lagu ini kental sekali Simalungun-nya dari segi melodi dan ritme gual haro-haro, tetapi dia masukkan unsur musik barat. Ini terlihat dari modulasi nada dari minor ke mayor.”

“Sekali lagi walaupun kecil, mari berbuat. Seperti yang dimulai dengan penulisan buku Taralamsyah Saragih, mari kita dukung.”

Setia Darmawan pun bercerita bahwa dia tetap terpanggil untuk melakukan sesatu. “Tahun lalu saya berbuat sedikit untuk kebudayaan Simalungun, antara lain sebagai pembicara pada konferensi folklore se-Asia di Yogyakarta pada Juni 2013 dengan membawa makalah “Huda-huda/Toping-toping Simalungun”.”

“Bulan September 2013 saya membawa seniman Simalungun ke Festival Danau Toba. Bulan September 2013 membawa Tim kesenian mengikuti pagelaran musik gereja bernuansa Simalungun di Tarutung. Bulan Desember 2013 bersama IMAS-USU membuat pagelaran budaya dan tribute to Sarudin Saragih. Walaupun sedikit, mari kita berbuat.”(Simon Saragih)
Bang Simon, ini design cover depan dan belakang yang dibuat oleh Lim Bun Chai. Sumber : 

TARALAMSYAH DALAM PANDANGAN SENIMAN JAMBI

WIRO A SANI
* Terus Mengontrak dan Tak Pernah Punya Rumah


Kehadiran Taralamsyah Saragih di Jambi tak terlepas dari permintaan Gubernur Jambi R.M Noer Atmadibrata pertengahan tahun 1971. Permintaan yang ditujukan kepada Taralamsyah adalah untuk meneliti serta mengembangkan Budaya Jambi yang saat itu tenggelam akibat minimnya seniman yang mau mengorbitkan dan menelitinya. Pada saat itu Taralamsyah pun hengkang dari Simalungun ke Jambi dan tinggal di rumah dinas gubernur. Sungguh ironis, sejak Taralamsyah di Jambi hingga akhir hayatnya tak memiliki rumah pribadi dan hanya mengontrak secara berpindah-pindah.

Wiro A Sani seorang seniman murid Taralamsyah yang kini masih aktif berkarya di Jambi saat ditemui di kediamannya di Lorong Gotong Royong, Telanaipura Kota Jambi, Rabu (17/9/2014) bercerita tentang Taralamsyah.

Berikut ini penuturannya.

Tanya (T): Awal Taralamsyah di Jambi dan mengapa Jambi membutuhkan dia saat itu?
Kehadiran Taralamsyah di Jambi tak terlepas dari Tokoh Jambi yang saat itu berkiprah di Jakarta yakni Tarmizi Taher. Saat itu Tarmizi Taher melihat kiprah Taralamsyah soal penelitian Seni dan Budaya di Sumatera Utara yang berkiprah secara Nasional. Tarmizi Taher sempat menjabat Menteri Agama RI pada tahun 1993-1998.

Bak gayung bersambut, Gubernur Jambi R.M Noer Atmadibrata pada pertengahan tahun 1971 juga sepikiran dengan Tarmizi Taher tentang rencana pengembangan Seni dan Budaya Jambi. Taralamsyah saat itu memang sangat dibutuhkan oleh Jambi guna mengembangkan Seni dan Budaya Jambi.

(T) Apa saja yang dilakukan Taralamsyah di Jambi?
Kehadiran Taralamsyah di Jambi disambut baik oleh Pemerintah Daerah Jambi dan Seniman dan Budayawan Jambi saat itu. Bahkan Pemerintah Jambi saat itu sangat mengagumi Taralamsyah Saragih. Rasa kagum itu mulai dari Gubernur R.M Noer Atmadibrata hingga Gubernur Jambi Abdurahman Sayutie.

Di Jambi Taralamsyah berperan sebagai guru Seni dan juga peneliti tentang Seni dan Budaya Jambi. Bahkan hasil penelitiannya tentang Seni Budaya Jambi banyak dibawa oleh Belanda ke negaranya. Bahkan hasil penelitian Taralamsyah tentang Seni Budaya Jambi nyaris tak ter-arsipkan oleh Pemerintah Daerah Jambi.

Selama di Jambi, setidaknya yang dekat dan bisa dikatakan sebagai murid Taralamsyah yakni Zuratmi Ismail, Jakfar Rassuh (Mantan Ketua Taman Budaya Jambi), H Tamjid Widjaya (Alm), Marzuri Lazim, OK Hundrik, Herman alias Em (Senior Pemain Musik Tradisional Jambi), Heri Suroso, Abdul Latif alias Alex (Murid Generasi 90an Taralamsyah) dan generasi penerusnya Andi Gomes (Putra dari H Tamjid Widjaya) dan Wiro A Sani sendiri.

Selama di Jambi, Taralamsyah banyak menciptakan lagu dan tari daerah Jambi. Satu diantaranya yang kini menjadi Tarian Kehormatan Penyambutan Tamu adalah Lagu dan Tarian Sekapur Sirih. Dalam menciptakan Sekapur Sirih, liriknya dibantu oleh H Tamjid Widjaya dan Marzuri Lazim.

Kehadirannya Taralamsyah di Jambi sejak pertengahan tahun 1971 memang telah menambah khasanah bagi perkembangan dunia kesenian Jambi. Bahkan Taralamsyah dimata Wiro A Sani seumpama besi berani, mengumpulkan dan menyatukan serbuk-serbuk besi yang berserakan disekitarnya.

Beliau juga merupakan figur seorang guru dan sekaligus bapak yang mampu meletakkan porsinya dalam mendidik murid-muridnya. Mereka semua dianggap seperti anak sendiri. Jadi tidak hanya mengajarkan ilmu keseniannya tapi juga memberikan bekal hidup bagi diri saya secara pribadi.

Begitulah kenangan Wiro A Sani tentang Taralamsyah saat itu. Wiro A Sani mengenal Taralamsyah saat usianya 20 tahun dan berkat anak dari Taralamsyah bernama Surya Dharma Saragih (Alm). Saat itu Surya Dharma mengajak satu panggung dengan Wiro A Sani pada salah satu acara resmi pagelaran Seni Budaya Jambi oleh Pemerintah Jambi.

Pada tahun 1978, Gubernur Jambi saat dijabat Jamaluddin Tambunan, pernah menginstruksikan untuk melaksanakan penelitian dan pencatatan seni musik dan tari daerah Jambi, yang langsung dipercayakan kepada Taralamsyah Saragih sebagai ketua teamnya.

Kemudian anggotanya yakni Surya Dharma, Tamjid Widjaya, OK Hundrick, Marzuki Lazim dan M Syafei Ade, yang kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku yang masih berupa manuskrip dengan judul Ensiklopedi Musik dan Tari Daerah Jambi. Namun arsip buku itu sangat sulit ditemukan di Jambi saat ini.

T: Bagaimana perhatian Pemda Jambi pada Taralamsyah?
Perhatian Pemda Jambi terhadap Taralamsyah hanya sebatas mengagumi. Sungguh ironis, disaat sejumlah tokoh, pejabat Jambi mengangumi Taralamsyah, justru kehidupan rumah tangganya (sandang, pangan dan pana) justru terabaikan. Bahkan kehidupan Taralamsyah biasa-biasa saja, tidak sehebat nama dan karyanya saat itu.

Bahkan sejak kehadirannya di Jambi hingga akhir hayat, Taralamsyah tak memiliki rumah pribadi. Rumah tangganya tinggal di rumah kontrakan dan berpindah-pindah. Mulai dari Komplek Kambang, Nusa Indah hingga Pasar dan kembali ngontrak di Wilayah Nusa Indah Telanaipura Kota Jambi.

Sejak tiba di Jambi dan selama tiga periode jabatan Gubernur Jambi saat itu, Taralamsyah bersama keluarga tinggal di rumah dinas Gubernur Jambi. Kemudian saat Gubernur Jambi dijabat Abdurahman Sayuti, Taralamsyah diberikan rumah kontrakan.

Perhatian Pemda Jambi kepada Taralamsyah hanya sebatas mengaguminya, tanpa memberikan nafkah kehidupan yang layak dan tempat tinggal permanen baginya.

T: Apakah Jambi mengenangnya, terutama generasinya?
Bagi kalangan Seniman dan Budayawan Jambi hingga kini masih mengenang Taralamsyah dengan baik. Bahkan seniman muda Jambi seperti Heri Suroso, Abdul Latif (Alex) dan Andi Gomes (Putra dari H Tamjid Widjaya) dan Wiro A Sani sendiri mengenang dengan baik Taralamsyah Saragih. Salah satu seniman muda Jambi yang mengoleksi karya Taralamsyah adalah Andi Gomes.

Para Seniman Jambi cukup mengenang Taralamsyah Saragih dan karya-karyanya. Namun demikian dokumentasi atau arsip buah karya Taralamsyah cukup terabaikan oleh Pemda Jambi.

T: Apa komentar tokoh budaya Jambi soal Taralamsyah, dan apa prestasinya?
H Junaidi T Noor, seorang Pemerhati dan Tokoh Budayawan Jambi mengaku salut dan kagum terhadap Taralamsyah. Tanpa Taralamsyah, Seni dan Budaya Jambi tak akan bankit seperti sekarang ini.

H Juneidi T Noor mengenang Taralamsyah adalah guru yang baik. Bahkan Taralamsyah Saragih tak sungkan-sungkan mengajari seniman Jambi saat itu untuk bersama-sama meneliti dan menulis serta mengembangkan Seni dan Budaya Jambi.

Menurut Juneidi T Noor, mseki Tuan Taralamsyah Saragih adalah salah seorang Seniman Simalungun yang memiliki kepedulian terhadap seni, budaya dan sejarah Simalungun, namun untuk perkembangan Seni, Budaya Jambi, Taralamsyah Saragih sangat peduli. Penguasaannya terhadap Sejarah, Seni perlu dihargai dan dikenang meskipun beliau telah lama berpulang.

T: Konon ada nama Taralamsyah disebut dalam muatan lokal pelajaran sekolah, mengapa dia disebut?

Penjelasan Wiro A Sani, dalam buku Seni Budaya Jambi nama Taralamsyah dituliskan. Penulis buku Seni Budaya Jambi itu adalah Zuratmi Ismail. Zuratmi Ismail sangat mengenal lebih dalam sosok Taralamsyah dan merupakan rekan setimnya dalam menulis Buku Ensiklopesi Musik dan Tari Daerah Jambi.

Dicantumkannya nama Taralamsyah Saragih di Buku Muatan Lokal (Mulok) Seni Budaya Jambi, untuk mengenang dan menghargai jasa-jasa Taralamsyah dalam meneliti, mengembangkan Seni Budaya Jambi. Nama Taralamsyah Saragih tetap dikenang di Jambi, khususnya seniman, budayawan Jambi.

Dimasukkannya Taralamsyah dalam Buku Mulok Seni Budaya Jambi juga mengenalkan Taralamsyah kepada generasi muda sekarang akan kiprah Taralamsyah mengembangkan seni budaya Jambi saat itu.

T: Apa yang dia wariskan pada Budaya Jambi?
Taralamsyah sebenarnya banyak mewariskan karya, hasil penelitian seni budaya Jambi. Namun pendokumentasian, pengarsipan hasil karyanya tidak baik. Bahkan Taman Budaya Jambi sendiri tak memiliki arsip tentang Taralamsyah Saragih.

Kata Wiro A Sani, Taralamsyah Saragih dimasa tuanya pernah marah-marah di Taman Budaya Jambi karena arsip dari karyanya tentang seni budaya Jambi tidak ada. Bahkan hasil karya dan penelitian seni Budaya Jambi olah Taralamsyah banyak dibawa ke Belanda.

Karya yang diwariskan Taralamsyah Saragih kepada masyarakat dan Pemerintah Jambi adalah Tarian Sekapur Sirih. Tarian ini merupakan tarian penyambutan tamu-tamu kehormatan Pemerintah dan tamu kehormatan lainnya. Sementara warisan soal tulisan hasil penelitian Taralamsyah nyaris hilang di Jambi.

Sosok multi talenta yang mampu bermain berbagai alat musik, mencipta lagu, menari dan mengkoreografi tari serta kepeduliannya terhadap seni budaya Jambi, hanya ada pada Sosok Taralamsyah Saragih Garingging .

Terlahir di lingkungan Rumah bolon (Istana) di Pamatang Raya–Simalungun, Ahad 18 Agustus 1918. Menikah saat berusia 26 tahun dengan Siti Mayun br Regar pada Sabtu 25 November 1944, dan dianugrahi 3 orang putra dan 9 putri.

Tepat pada hari Senin tanggal 1 Maret 1993 di Jambi, Tuan Taralamsyah Saragih Garingging menghembuskan nafas terakhir, disaat sedang menyusun dan ingin merampungkan Kamus Simalungun yang ia susun dari tahun 1960-an dan hingga kini belum diterbitkan.

Penyusunan Kamus Simalungun itu juga diakui Wiro A Sani. Namun naskah Kamus Simalungun itu tidak diketahui kemana. Sementara sebuah Piano Tua milik Taralamsyah Saragih dari pemberian Pemda Jambi saat itu, kini sudah dibawa ke Jakarta oleh anak Taralamsyah.

Menurut Wiro A Sani, banyak seniman, kolektor yang sudah menawar untuk membeli piano tua milik Taralamsyah yang cukup lama berada di kediaman Wiro A Sani setelah Taralamsyah Saragih meninggal dunia tahun 1993 lalu.

Demikianlahlah sekelumit Jejak Taralamsyah Dimata Seniman dan Budayawan Jambi untuk mengenangnya. (Asenk Lee Saragih)
Drs Junaidi T Noor
WIRO A SANI
NAMA : WIRO A SANI Tempat Tgl Lahir: Jambi 1 Oktober 1957 Istri: Gusmiati Nama Anak: 1 Pisca Rahma Adiyati (Kuliah di Unja) 2.Virgioni Agri Nanda (Kelas 2 SMA Al Falah Jambi) 3.Bidadari (SD Kelas 1) 4. Arjuna (Belum Sekolah)

HONDA SELALU TANGGUH

HONDA SELALU TANGGUH
KLIK GAMBAR

SORTAMAN SARAGIH MENUJU WALIKOTA SIANTAR

SORTAMAN SARAGIH MENUJU WALIKOTA SIANTAR
Profile Klik Gambar

Bona Petrus Purba Bakal Maju di Pilkada Simalungun

Bona Petrus Purba Bakal Maju di Pilkada Simalungun
KLIK GAMBAR

“Bagod & Tambuls” Tempat Tongkrongan Bersahaja

“Bagod & Tambuls” Tempat Tongkrongan Bersahaja
Alamat di Jalan Gereja No. 21A, Simpang Empat, Pematangsiantar. (Selengkapnya Klik Gambar)

BPJS KESEHATAN

BPJS KESEHATAN
WAJIB DAN BERMANFAAT (INFO SELENGKAPNYA KLIK GAMBAR)

SIMPEDES BRI

SIMPEDES BRI
Simpedes adalah simpanan masyarakat dalam bentuk tabungan yang dilayani di BRI Unit, yang penyetorannya dapat dilakukan setiap saat dan frekuensi serta jumlah pengambilan tidak dibatasi sepanjang saldonya mencukupi.(SELENGKAPNYA KLIK GAMBAR)
 
Support : Redaksi | Contac Us | Pedoman Media
Copyright © 2011. BERITA SIMALUNGUN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Admin Simalungun
Proudly powered by Blogger