}); (DRAF FINAL) TARALAMSYAH SARAT PENGETAHUAN SENI BUDAYA | BeritaSimalungun
Home » , , » (DRAF FINAL) TARALAMSYAH SARAT PENGETAHUAN SENI BUDAYA

(DRAF FINAL) TARALAMSYAH SARAT PENGETAHUAN SENI BUDAYA

Written By Beritasimalungun on Tuesday, 16 September 2014 | 21:22

(Interpretasi atas tulisan Taralamsyah sendiri)

SIAPA budayawan Simalungun yang handal? Adakah yang paham sekaligus tentang seni tari, musik, adat, bahkan sejarah Simalungun termasuk silsilah marganya? Taralamsyah tampaknya mengatasi siapa saja pakar tentang itu semua.

"Saya memang mendalami, meneliti dan menjalankan langsung seni musik," kata Taralamsyah pada tahun 1991 berdasarkan sebuah dokumentasi keluarga.

Taralamsyah bukan seorang sarjana apalagi bergelar doktor budaya. Pengetahuannya lebih banyak didapat secara otodidak dan pelatihan biasa sebagaimana didapatkan kebanyakan orang pada zamannya. Namun demikian dia jelimet, runtut, dan amat rajin meneliti.

Bakatnya seperti benih yang berkembang di lahan yang pas. Jiwanya ada di seni dan hatinya dia beri luar dalam. Karena itu tidak heran jika Taralamsyah sangat paham makna lagu, tortor (tari), musik, dan gonrang (gendang dimainkan dengan paduan gong serta serunai diiringi tarian).

Bagaimana Taralamsyah melakukannya?

Dia awalnya melakoni langsung seni Simalungun dengan berlatih gonrang yang memang diwajibkan bagi para anak raja. Namun bidang ini mengental karena dia dalami lagi dengan rajin mewawancarai para raja Simalungun, yang disebut pemangku adat walau pelaksana adalah semua rakyat, dalam istilah Taralamsyah.

Ringkasan dari semua itu dia tuliskan dalam sebuah buku berjudul “Peradaban Simalungun: Intisari Seminar Kebudayaan Simalungun pertama se-Indonesia Tahun 1964”. Kemampuannya di bidang seni membuat Taralamsyah tampil sebagai salah satu pembicara utama di seminar penting itu ketika usianya bbaru 42 tahun dan dipandang sangat profesional di bidangnya.

Ini adalah hasil dari perburuannya tentang segala informasi seni budaya Simalungun sejak muda. Di tahun 1931 atau saat usia 13 tahun, menurut Taralamsyah sendiri, dia sudah mendalami kesenian Simalungun. Itu julukannya sendiri untuk gual, tortor dan doding. Dia rajin memintai keterangan dari para tetua Simalungun yang piawai budaya.

Di tahun 1931 itu, keberadaan para tetua adat masih relatif lengkap. Saat itu menurut Taralamsyah sudah mulai ada erosi pada seni budaya karena masuknya penjajahan Belanda dan misi agama. Akan tetapi mereka yang paham seni budaya Simalungun masih banyak.

Di zaman itu misi agama belum terlalu merasuk ke wilayah Simalungun. Iman masyarakat masih berlandaskan agama tradisional (parmalim) yang menjadikan musik tradisional (gonrang) sebagai pengiring wajib ritual-ritual agama lokal. Karena itu keberadaan agama tradisional otomatis memperkuat pemahaman, pengetahuan rakyat masa itu tentang gonrang.

Taralamsyah, atas inisiatif sendiri, jelimet memperdalam pemahamannya. Saat itu dia sudah memperlihatkan diri sebagai generasi berikutnya yang handal tentang seni budaya. Setiap kesempatan tidak dia lepas untuk menekuni seni budaya Simalungun. Taralamsyah pun melampirkan nama-nama para tetua Simalungun yang pernah dia wawancarai:


1. Tuan Padi Raja Girsang, Raja Silimakuta
2. Tuan Mogang Purba Pakpak, Raja Purba
3. Tuan Anggi Dolok, Dolok Silau
4. Tuan Gaib Purba, Silou Kahean
5. Tuan Djintar Damanik, Sidamanik
6. Kostan Damanik, Pematang Raya
7. Kristian Sumbayak, Pematang Raya
8. Tuan Likkar Saragih, Tuan Sorbadolog
9. Tuan Hurung Saragih, Tuan Banuhraya
10. Tuan Bona Saragih, Pematang Raya
11. Borahim Purba Dasuha (Guru Raya), Pematang Raya
12. Djinda Saragih, Dolok Malela
13. Sarialam Saragih, Pematang Raya
14. Hormadjawa Sinaga, Tuan Dolok Panribuan
15. Djandi Purba Sidagambir, Tuan Raja ni Huta
16. Tuan Urung Panei, Urung Panei
17. Dan banyak lagi yang lain


“Pengumpulan bahan kebanyakan dilakukan saat ada acara gual (manggual) atau ketika ada ceramah biasa,” demikian Taralamsyah menulis.

Kondisi seni budaya saat itu masih pada keadaannya yang terbaik. Hampir semua aspek diperhatikan secara saksama. Ini menguntungkan Taralamsyah karena masih berkesempatan mendapatkan pengetahuan yang dalam dan orisinil dari para pentolan seni budaya. Misalnya, pada zaman dulu acara gual relatif rutin dan harus dilakukan secara khusuk.

Setiap detil suara musik gonrang harus dilakukan dengan presisi tinggi. Bisa dikatakan, pada umumnya di zaman dulu acara gual dijalankan dengan kehadiran para ningrat. Dengan demikian presisi nada dan irama harus perfek karena kehadiran para paduka yang mulia.


Telinga para tetua Simalungun pun sangat peka. Mereka amat kritis bahkan cerewet menuntut keharmonisan dan akurasi ketokan nada. Sikap para ningrat dan tetua Simalungun kuno soal musik gonrang adalah “zero tolerance”. Tidak bisa ada sedikit pun kesalahan.

Demikian pula gerak tari, tak luput dari pemantauan. Gual dan gonrang itu pada umumnya harus diiringi tarian (tortor). Pola tari, gerakan tangan, kaki, kepala, posisi badan hingga arah tatapan mata dicermati saksama. Jika ada salah, maka kesalahan mudah menjadi kritikan bahkan cibiran yang menyakitkan. Karena gual itu dulu imani sehingga kesalahan dianggap sebagai penoda iman. Itu dulu.

Hal seperti itulah yang juga tertanam pada diri Taralamsyah. Dia tertular kualitas para pendahulu, satu ciri khas Simalungun kuno. Tentu Taralamsyah menjadi demikian bukan an sich karena gual itu imani. Dia memang seorang yang perfeksionis dan tidak mau main-main dengan kualitas.

Tidak heran jika semua orang yang pernah mengenalnya sangat paham jika Taralamsyah sangat “jogal”. Dia begitu keras dan tegas serta kukuh tentang kualitas seni, seperti pernah disaksikan sendiri oleh Dr Sarmedi Purba, yang tinggal di Pematang Siantar.

Taralamsyah bukan tipe ningrat yang menisbikan non-ningrat. Dia sendiri menambahkan, masih banyak deretan nama yang dia temui terkait pendalaman seni Simalungun. Dari daftar nama yang dia wawancarai, memang terlihat sederetan nama para raja dan para tuan (di bawah raja), yang pada masanya mendalami seni budaya karena penting untuk mendukung status kerajaan atau partuanon.

Namun ada beberapa nama tokoh non-kerajaan yang dia wawancarai karena memang hiburan juga berlaku di luar acara internal kerajaan sehingga beberapa non-ningrat turut mendalami seni budaya.

Itulah Taralamsyah dan gambaran kepribadian yang melihat ke atas, ke bawah, ke samping. Dia belajar dari siapa saja.

Bukan hanya itu Taralamsyah pun sibuk membuka-buka arsip-arsip tentang budaya Simalungun kuno, melengkapi wawancaranya. Dia menggali lebih jauh seni budaya hingga ke sejarahnya, bukan saja melodinya tetapi juga ke falsafahnya.

Dia menggunakan kesempatan emas dengan menggali arsip-arsip langka, yang kini sudah tiada lagi.

Taralamsyah juga mendalami faktor lain di luar seni Simalungun. Dalam pergumulannya dengan seni dia menemukan lak-lak dengan aksara Simalungun. Taralamsyah bisa membaca lak-lak. Karena itu dia menemukan misalnya nama-nama hari, bulan dalam aksara Simalungun kuno.

Estetika dan etika Simalungun dia geluti lewat sumber lak-lak Itu. Dia menuliskan, Simalungun kuno telah memiliki tata krama tingkat tinggi. Contoh, “Jika seorang anak dewasa hendak meninggalkan orangtua, maka si anak wajib menyuguhkan demban (sirih) tanda permisi dan minta restu.”

Terbayanglah pula nuansa syahdu dan magnificent! Ini pertanda tata krama dengan estetika dan etika superlatif yang eksis di masyarakat Simalungun sejak dulu kala. “Sangat terang bagi saya, orang-orang Simalungun kuno adalah orang-orang yang berwatak tinggi sehingga mampu menciptakan kebudayaan yang sedemikian rupa hebatnya,” demikian torehan Taralamsyah tentang ekspresinya pada seni budaya Simalungun kuno.

Dari penelitiannya Taralamsyah menemukan tidak saja kualitas seni budaya yang tinggi. Menurut interpretasinya, kelangsungan budaya Simalungun itu pun diduga sudah berlangsung sangat lama. Hal itu dia simpulkan dari alunan musik Simalungun, khususnya gonrang, yang tiada pembanding setara dari daerah sekitar. “Terciptanya nada yang teratur, tentu tidak terjadi seketika. Itu pasti melalui modifikasi dari waktu ke waktu.”

Dia pun melihat itu dari jenis peruntukan musik gonrang secara spesifik. Misalnya, ada tari khusus untuk penobatan raja, pemakaman raja. Ada tari dengan tujuan hiburan, ritual adat, kegembiraan dan lainnya.

Ada pula tortor nasiaran (tarian kesurupan). Ini adalah tari sebagai sarana mendatangkan roh dimana dulu segala sesuatu sering ditanyakan kepada roh, seperti banyak terjadi di lain tempat dulu kala.


Simalungun itu juga berkarakter luhur dan agung. Ada misalnya tortor sombah. Simalungun memperlihatkan budaya tentang respek, homat hingga bersedia manombah (menyembah). Barangkali ini pertanda kerendahan hati Simalungun yang tidak terbantahkan. Tortor sombah antara lain dilakukan menyambut tamu agung, menghormati para tondong (raja dalam acara adat Batak).

Semua itu menggambarkan tatanan kehidupan mapan dan tergambar lewat peruntukan tortor itu sendiri. Dengan demikian jauh sebelum teori dan pelajaran budi pekerti moderen dipelajari seperti sekarang ini, Simalungun kuno sudah memilikinya.

Jadi jika Profesor Jansen Arlin Dietrich dari Washington State University, Amerika Serikat, menjadi profesor doktor karena seni budaya Simalungun, sebenarnya profesor sejati di balik itu adalah Taralamsyah. Adalah dari Taralamsyah, Arlin Dietrich mendapatkan semua itu saat menyusun disertasinya.

Taralamsyah juga menuliskan aneka tari, baik yang dilakoni para penari pria maupun perempuan. Dia menelisik pola gerakan atau pola tari, bahasa tubuh. Dia menemukan banyak tari Simalungun, dengan eksistensi yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Bagaimana bisa ini tercipta dan lestari di zaman Simalungun kuno? Menurut Taralamsyah hal ini tidak lepas dari antusiasme para pendahulu yang mau menari dan mewariskannya hingga Simalungun moderen masih bisa menikmati, setidaknya sisa-sisanya ada walau sudah memudar. “Zaman dulu, para pemuda dan pemudi berlomba-lomba untuk menari dan berusaha tampil sebagai penari terbaik,” demikian Taralamsyah. Dia menambahkan, “Sekarang ini, agak jauh berkurang.” Maksud sekarang ini, merujuk pada dekade 1970-an.

Aneka musik

Taralamsyah pun mendalami seni musik Simalungun non-gonrang. Ini dia bandingkan dengan seni musik daerah sekitar. Dia menemukan tangga nada lagu Simalungun kuno yang lebih canggih (sophisticated), dibandingkan tangga nada lagu Karo, Toba, dan Mandailing.

Dia mengatakan variasi tangga nada yang lebih banyak membuat Simalungun bisa menciptakan lagu dengan aneka melodi. Ini karena Simalungun memiliki berbagai alat instrumen musik sehingga membuka ruang untuk modifikasi dan improvisasi nada. Nada dan melodi lagu "Taur-taur Sin Bandar" misalnya dengan jelas memperlihatkan ini.

Seni suara (vokal) Simalungun juga tak luput dari pendalaman Taralamsyah. “Mutu seni suara Simalungun kurang lebih serupa dengan nada yang dihasilkan alat-alat musik tiup Simalungun,” kata Taralamsyah.

Hal ini terlihat dari aneka nada yang dihasilkan komposer lagu Simalungun pendahulu. Pernyataannya soal ini beranjak dari seni suara Simalungun yang tidak hanya diiringi satu jenis alat tiup. Ada banyak alat tiup untuk mengiringi seni suara Simalungun. Karena itu berbagai pola melodi sudah tercipta di era Simalungun kuno.


Aneka melodi dan nada seni suara Simalungun itu tidak memadai jika diiringi satu alat tiup saja karena output nada dari satu alat tiup terbatas. Sarunei bolon (serunai besar) misalnya, memunculkan nada yang terbatas. Karena itu seni suara Simalungun dijalankan dengan pergantian penggunaan alat tiup saat interval seperti sordam, melanjutkan melodi yang dimulai sarunei bolon.

Ini sekaligus menandakan daya cipta Simalungun yang variatif sekaligus menggambarkan daya imaginasi kuat komponis sejak zaman Simalungun kuno.

Kecanggihan seni suara Simalungun pun tidak hanya terlihat dari aneka nada dan melodi. Simalungun kuno juga menciptakan jenis lagu berdasarkan kategori solo dan grup atau kelompok.

Untuk seni suara solo, Simalungun memiliki terminologi tersendiri yang disebut doding. Lagu Simalungun yang dibawakan bersama dinamai ilah.
Sama seperti banyak lagu daerah lain, Simalungun juga memiliki seni suara untuk berbagai peruntukan seperti pesta, dan lagu yang menggambarkan kesedihan, kebahagiaan, perpisahan dan lainnya.


Namun variasi lagu Simalungun bisa dikatakan lebih jauh lagi jangkauannya. Misalnya, ada juga lagu tabas yang dalam istilah Taralamsyah disebut “inggou tabas”. Ini menggambarkan seni suara di Simalungun juga dipakai sebagai pengiring saat berlangsungnya pengucapan jampi-jampi. Ini berlangsung saat dukun mendoakan agar tercapai sesuatu yang dikehendaki.

Tabas merujuk pada ucapan-ucapan para dukun saat melakukan sebuah ritual. Seni suara untuk tabas ini, kata Taralamsyah, mengeluarkan nada yang relatif mendatar dan terkesan menyeramkan. “Datu (dukun) melakukan pembacaan mantra dengan lagu jenis tertentu,” demikian Taralamsyah menuliskan.

Lagi, ada banyak lagu tabas yang khusus didendangkan para datu berdasarkan peruntukan ritualnya. Misalnya ada inggou tabas untuk penyembuhan penyakit, penolak bala dan lainnya. Ini adalah contoh ekstrem tetapi sekaligus menunjukkan jangkauan peruntukan lagu Simalungun yang variatif sejak dulu.

Taralamsyah berpendapat, semua bukti sejarah itu sekaligus menunjukkan orang-orang Simalungun sudah lama gemar bernyanyi. Maka terciptalah puluhan lagu yang timbul dari inspirasi orang Simalungun, yang menggambarkan banyak hal soal kehidupan. Lagu-lagunya menggambarkan aneka tatanan kehidupan dan segala praharanya.

Seni suara Simalungun misalnya, ada yang khusus menggambarkan kegiatan martonun (bertenun), berpacaran, pemberian nasihat, hingga lagu anak-anak, termasuk lagu soal keindahan alamnya.

Seni suara ini pun dibedakan lagi berdasarkan wilayah yang ada di Simalungun itu sendiri, mulai dari Simalungun Atas hingga Simalungun Bawah.

Taralamsyah pun sampai terheran-heran ketika mendalami semua itu. Hingga dia bertanya-tanya bagaimana dan kapan asal muasal semua itu? “Sayangnya, saya tidak menemukan sejarah awal kesenian Simalungun,” demikian kata Taralamsyah. Hanya saja dia mencium ada penggalan-penggalan zaman yang turut memodifikasi seni dari waktu ke waktu.

Sayangnya, semua arsip-arsipnya telah sirna. Sebagian karena habis terbakar di Rumah Bolon Kerajaan Raya, dan sebagian lagi hilang dan berceceran selama pengungsian Taralamsyah empat tahun dengan lokasi yang berpindah-pidah. "Arsip-arsip saya tidak lagi utuh bahkan hampir semuanya hilang semasa revolusi sosial," kata Taralamsyah.

Mempraktikkan seni

Jadi memang, efek revolusi sosial itu sangat besar. Efek destruksinya melebihi apa yang kita bayangkan. Lepas dari itu Taralamsyah tidak hanya mendalami arsip-arsip, sejarah dan melakukan wawancara soal seni Simalungun (gonrang, tari, seni suara).

Taralamsyah juga menciptakan tari, lagu dan semuanya dipengaruhi oleh semua peninggalan Simalungun.

Taralamsyah menciptakan lagu dengan iringan instrumen Simalungun kuno, yakni gonrang dan aneka alat tiup. Dia katakan, karena ada beberapa alat musik, “Maka bisa diciptakan lagu-lagu Simalungun moderen tetapi tidak keluar dari nada aslinya.”

Ini karena dia kenal serta bisa memainkan aneka instrumen Simalungun kuno. Dia punya rasa dan seperti kerasukan nada Simalungun kuno, yang dia katakan sebagai state of the art. Itu modal dasar yang kukuh baginya sebagai seniman Simalungun.

Taralamsyah pun dengan demikian menciptakan lagu-lagu yang dimainkan Nalaingan berdasarkan pengetahuan yang dia dapat. Ini merupakan hasil dari permenungan pada instrumen kuno, hingga moderen. Karena itu Taralamsyah adalah produk zamannya, produk masa lalu, hingga kombinasi selera moderen.

Apa ini berhasil? Sangat berhasil. Nalaingan amat terkenal di zamannya. Taralamsyah pun melakukan improvisasi dan inovasi dengan bahan serta materi instrumen kuno. Dia padukan pula instrumen kuno dengan instrument moderen. Karena itu sekarang ada pula nada yang merupakan hasil kombinasi dari gonrang, sarunei, gitar, akordion.

Pada lagu "Parsonduk Dua" misalnya, ada paduan suara grup penyanyi dengan iringan gonrang bolon pada refren. Pada lagu "Tading Maetek", dia padukan nada sarunei bolon dan genre ungut-ungut (sungut-sungut). “Banyak lagi yang dapat kita lakukan pada seni suara Simalungun hingga dia bisa berkembang di alam tertentu dengan mutu yang tidak kalah dari daerah manapun.”


Taralamsyah juga memainkan tempo lagu, andante (lambat), moderate (sedang), allegro (cepat). Lengkaplah sudah nada Simalungun dari segi tinggi rendah nada, cepat lambat tempo, serta belokan-belokan solmisasi yang bisa dirasakan dalam inggou-inggou.

“Karya Simalungun ini dapat kita tampilkan di lokasi yang lebih maju atau moderen pendengarnya, tetapi tetap dengan sentuhan alat-alat seni tradisional. Ini membuat kelestarian nada simalungun otomatis terpelihara dengan sendirinya,” demikian Taralamsyah, yang sekaligus telah membuktikannya sendiri.

Sepeninggal Taralamsyah hal ini tiada lagi karena tiada orang yang sejelimet dan sekualitas dengannya lagi di Simalungun.

Lepas dari itu, maksud Taralamsyah dengan kata terplihara di atas, adalah jika lagu-lagu Simalungun moderen tetap memasukkan unsur musik tradisional, seperti telah dia buktikan sendiri, otomatis instrumen tradisional pun lestari.


Dengan kata lain, Taralamsyah tidak hanya jago teori. Dia pintar improvisasi serta mampu menuangkan ide-ide ke dalam lagu. Ini terbukti karena kita masih tetap mendengar karyanya, yang dimainkan di pesta-pesta di Jakarta sekalipun sampai sekarang.

Selain belajar dan mempraktikkan seni musik, Taralamsyah juga memanfaatkan kepekaan telinga serta mengamati pasar. Dari situ dia dan menangkap selera pasar. Dia paham selera kuno dan selera moderen. Dia pun mampu menangkis invasi seni Melayu yang pernah lebih membahana. Dia tidak meninggalkan kekunoan tetapi tidak tabu akan modernitas yang berakar pada tradisinya.

Nalaingan bagai kerangka yang dia isi dengan roh seni Simalungun, dari masa lalu, sekarang, dan future taste (selera masa depan). Dia tidak tabu pada improvisasi dan modifikasi nada agar sesuai dengan perkembangan zaman. Akan tetapi kelebihannya ada pada kemampuan meletakkan kekhasan nada asli Simalungun.

Simponi Simalungun

Dari semua itu Taralamsyah pun terbayang akan konser kolosal Simalungun. Imaginasinya berawal dari komplitnya alat dan nada instrumen Simalungun kuno, sehingga Taralamsyah memimpikan sebuah konser ala simponi Eropa. “Dengan pemain musik berjumlah 40 - 50 orang dan tampilan simponi Simalungun, apakah yang saudara rasakan atau tangkap,” demikian Taralamsyah bertanya tetapi sekaligus bermaksud meyakinkan Simalungun itu sendiri.

Taralamsyah mengatakan ini karena dia juga mengamati simponi Barat. Taralamsyah adalah seniman dengan prisma luar biasa. Tidak mengabaikan kekayaan musik daerah lain hingga benua lain dan berani mengambil nilai lebihnya. Dari situ dia melihat kelengkapan instrumen simponi Barat dengan pemain yang banyak.

Hal itu dia sandingkan dengan aneka instrumen Simalungun kuno dengan banyak nada dan tentu harus dimainkan oleh banyak orang. “Jika kita perhatikan lagu-lagu simponi, yaitu lagu-lagu yang tersusun baik dengan suaranya, maka dalam seni Simalungun kita dapat buat sesuatu setara simponi. (Simon Saragih)
Share this article :

Post a Comment