Home » , » "MELECEHKAN" BUAHNYA AKAN MERASA TERLECEHKAN

"MELECEHKAN" BUAHNYA AKAN MERASA TERLECEHKAN

Written By Berita Simalungun on Wednesday, 24 February 2016 | 11:38

ILUSTRASI BUAH MANGGA DANAU TOBA.FOTO ASENK LEE SARAGIH
BERITASIMALUNGUN.COM-Ketika kita melecehkan, menganggap rendah seseorang, sebenarnya kita sedang masuk menjadi orang yang merasa terlecehkan.

Ibarat kata pepatah:"Siapa yang menggali lubang di asendiri akan terperosok ke dalamnya". Siapa yang melecehkan akan terlecehkan juga!

Ketika kita melecehkan orang, artinya kita underestimate tentang orang itu. Pelecehan terjadi karena kita hanya melihat kelemahan, kemiskinan, kekurangan orang itu, tanpa mengenal lebih dalam tentang kelebihannya.

Kita tidak mengenal dia secara utuh!
Manusia ibarat benih yang tumbuh di berbagai tempat. Ada yang tumbuh di atas batu, di pinggir jalan, di semak belukar, atau di lahan yang subur.

Artinya suatu ketika, orang yang kita lecehkan itu bisa mendapat tempat yang layak atas kelebihannya. Bisa terjadi orang yang kita lecehkan itu akhirnya jauh lebih hebat dari kita.

Sekali kita melecehkan orang, maka seumur hidup, kita akan berdoa supaya orang itu tetap seperti yang kita gambarkan. Kita tidak ingin orang tersebut lebih maju dari apa yang kita gambarkan saat melecehkan mereka.

Padahal, hidup adalah sebuah rangkaian proses permulaan, bukan akhir. Apa yang dicapai manusia sekarang baru sebuah permulaan.
Apa yang kita lihat pada diri orang lain sehingga kita sampai hati melecehkan mereka, adalah kita menilai hidup seseorang itu sedang dalam proses perjalanan akhir.

Kenallah lebih dalam tentang seseorang, maka kita tidak akan sampai hati melecehkan siapapun, kita akan melihat "malaikat" di wajah mereka, bukan "setan" yang sedang dalam proses perjalanan akhir. 

Semua orang punya kelebihan, dan ketika itu muncul, berada di lingkungan yang tepat, mendapat berkat dari Tuhan, dia akan jauh lebih hebat dari kita.

Kita akan menderita seumur hidup ketika orang yang kita lecehkan mendapat berkat!; Apalagi tidak mau bertobat, maka cenderung mencari kelemahan agar terus bisa dilecehkan, lupa bahwa seharusnya kita yang sepantasnya "merasa malu".

Melecehkan buahnya akan merasa terlecehkan, dan bisa menjadi "senang melihat orang susah, susah melihat orang senang".

Tentu butuh latihan, latihan, latihan, latihan, latihan, latihan, dan latihan terus menerus belajar mengenal, belajar mengenal, belajar mengenal, belajar mengenal kelebihan orang-orang di sekitar kita. (St Jannerson Girsang)
Share this article :

Post a Comment