}); SEUMUR HIDUP CAPEK, DI MASA TUA MENYESAL HIDUP | BeritaSimalungun
Home » , » SEUMUR HIDUP CAPEK, DI MASA TUA MENYESAL HIDUP

SEUMUR HIDUP CAPEK, DI MASA TUA MENYESAL HIDUP

Written By Beritasimalungun on Thursday, 10 March 2016 | 07:36

ANAK SEKOLAH DI SIMALUNGUN NAIK DI ATAS ANGKUTAN DESA. FOTO ASENK LEE SARAGIH
BERITASIMALUNGUN.COM-Dari mulai tamat sekolah hingga pensiun terus mencari duit, hingga berjibun. Sesudah pensiun mencari duit dan hanya membagi-bagi duit kepada anak-anaknya.

Duit adalah harta paling berharga. Setiap saat hanya bicara soal duit. Kamu butuh duit berapa?. Memilih sekolahpun: gajinya nanti berapa kalau tamat?. Sekolah bukan pilihan anak!

Persoalan lain tidak perlu. Tidak pernah memberi nasehat, tidak pernah curhat kepada anak-anak, tidak pernah membina hubungan yang hangat dengan keluarga.

Anak-anak dimanjakan dengan fasilitas, uang menjadi andalan!
Sehingga, anak-anak lupa tanggungjawabnya. Tidak pernah mandiri, dan takut mengambil risiko,kemampuan komunikasi sosial anak rendah.

Sebaliknya, justru orang tua seperti ini menilai prestasi anak dengan duit, tanpa perduli duit datang dari mana. Sudah anak tidak pernah mandiri, dia malah diharapkan jadi orang banyak duit. Anak-anak stress, untuk membiayai hidup sederhana saja susah!

Sesudah tua , orang tua berkata: "Aduh, apakah artinya kalian disekolahkan, semua uang yang saya berikan selama ini, saya lelah, kalian minta terus, minta terus?"

Hidup, bukan hanya melulu soal uang. Orang tua harus membagi "nilai yang baik", keteladanan hidup, kepada anak-anak.

Tidak cukup hanya menyediakan asuransi pendidikan, warisan rumah dan mobil bagi mereka.

Mereka harus menjalani "penderitaan" di jalan yang benar, pengalaman bersama Tuhan, sehingga anak-anak memiliki daya kreativitas, kepekaan dan pertumbuhan iman yang baik.

Mereka membutuhkan makanan rohani, bukan hanya roti. Mereka harus dididik juga menghargai hal-hal yang tak terlihat, hal-hal yang paling berharga. Hidup adalah melayani, bukan hanya dilayani.

Semoga di masa tua kita masih dihormati anak-anak,masih diharapkan peran kita sebagai orang tua. 

Tidak menyesal memiliki uang banyak, tidak menyesal tidak memiliki uang, yang paling penting, tidak menyesal memiliki anak.

Sebagai orang tua, kita tidak hanya berguna sebagai bank (pemberi uang) yang hanya mampu dilakukan dalam waktu yang terbatas, tetapi harus mampu menjadi bank "makanan rohani bagi anak-anak", makanan yang tidak akan habis sampai selama-lamanya..
Selamat Pagi. (St Jannerson Girsang)
Share this article :

Post a Comment