}); SIKAP SEBAGAI MANTAN | BeritaSimalungun
Home » , » SIKAP SEBAGAI MANTAN

SIKAP SEBAGAI MANTAN

Written By Beritasimalungun on Tuesday, 29 March 2016 | 14:04

St Jannerson Girsag dan Istri Tercinta. FB IST
BERITASIMALUNGUN.COM-Menjadi mantan (bekas pemegang kendali sebuah organisasi, atau kantor), bukan hal yang mudah. Banyak mantan yang merasa kikuk, ketika meninggalkan jabatannya, apalagi dia masih bekerja sama dengan kantor atau organisasi yang pernah dia pimpin.

Ada juga pejabat yang sengaja melumpuhkan mantannya karena takut bersaing, apalagi sebelumnya sudah ada bibit-bibit persaingan yang tidak sehat. Tak jarang, mantan dikucilkan, ditinggalkan oleh para pendukung pejabat yang sedang berkuasa, sebagai dampak persaingan tidak sehat itu.

Pengalaman kita di negeri ini, setiap permusuhan antara mantan dan pejabat, pengucilan para mantan, akan merugikan semuanya.

Satu-satunya dan yang terbaik adalah para mantan dan penggantinya harus melakukan konsolidasi, menyatukan langkah membawa visi bangsa atau organisasi.

Itu terlihat pada beberapa pejabat penting di tanah air, seperti Presiden Soekarno, langsung terkucil oleh Soeharto. Soeharto yang digantikan Habibie, sejak lengser malah tidak pernah mau bertemu. Apalagi, SBY dan Mega, sami mawon.

Agak membaik, ketika SBY digantikan oleh Jokowi. Penyerahan kekuasaan berlangsung baik, dan sampai sekarang, dua presiden inilah contoh paling baik (walau bukan terbaik di dunia), hubungan antara mantan Presiden dan penggantinya.

Kalau kita melirik ke negara lain, Malaysia misalnya, maka mirip dengan Indonesia. Mantan PM sedang menuntut Perdana Menteri Najib yang sedang berkuasa. Bahkan dia mundur dari Partai UMNO, karena menyebut partai itu adalah partainya Najib. Dan, kini Mahatir dengan Najib sedang berseberangan dan dalam hubungannya lagi "panas tinggi".

Ada pertikaian terbuka ke publik antara Perdana Menteri dan Perdana Menteri yang sedang berkuasa. esiden dan Mantan Presiden yang terbuka di depan umum. Ada pendukungnya masing-masing.

Sehingga, bisa terjadi, "Gajah sama Gajah berkelahi, pelanduk mati di tengah-tengah".

Hubungan yang tidak baik, antara mantan pejabat dengan pejabat penggantinya sangat mengganggu. Pertama, jelas kesinambungan kepemimpinan tidak berjalan dengan baik, rakyat, jemaat, anggota organisasinya akan pecah. Karena setiap pemimpin mempunyai pengaruh.

Jadi, para mantan dan penggantinya harus sama-sama bergerak menuju visi dan missi, negara, organisasi. Pergantian kepemimpinan harus dipandang sebagai sebauah estafet kepemimpinan yang berkesinambungan, bagaimanapun buruknya sistem pemilihan.

Pengganti yang buruk adalah tanggungjawab mantan, sehingga dia harus menghormati penggantinya. Itu yang harus diingat para mantan.

Kalau penggantinya buruk, berarti sistem kepemimpinan selama priodenya yang buruk, dia yang salah, dan harus diperbaiki bersama dengan penggantinya, bukan malah menyudutkan penggantinya.

Itulah sikap yang baik dari seorang mantan. Dia tidak bisa membanding-bandingkan prestasinya di depan umum, apalagi merendahkan prestasi pemimpin yang sedang berkuasa.

Sabarlah!. Pengganti Anda adalah orang yang Anda bina selama memimpin, entah itu secara langsung ataupun tidak langsung. Para mantan jangan melakukan persaingan terbuka dengan pengganti Anda, karena itu akan membuat Anda sendiri akan terkucil, para pendukung Anda turut tergusur.

Periode sebagai mantan adalah berkat Tuhan, Anda sudah memperoleh "kemuliaan" dengan sebutan mantan, hargailah itu, dan jangan bercita-cita menjadi pejabat selama periode pengganti Anda masih berlangsung.

Tunggu periode berikutnya, berbuatlah sebaik mungkin!
Sikap para pemimpin di negara maju seperti Amerika Serikat adalah contoh yang baik, meski bukan yang terbaik. Kita masih mendengar mantan Presiden mereka menjadi utusan Prsiden yang sedang berkuasa. Clinton ditunjuk Obama mewakili dirinya menghadiri pemakaman mantan PM Singapura, Lee Kwan Yew.

Pengalaman saya, sebagai mantan, sikap yang paling baik adalah menjaga hubungan baik dengan pengganti kita, berbuat sesuatu yang mampu kita lakukan untuk mendukung pengganti kita. Tunduklah kepada struktur, kepemimpinan pejabat yang sedang berkuasa. Dengan cara demikian, maka sebagai mantan, kita tetap memiliki wibawa.

Pertikaian para mantan di ruang terbuka akan mengakibatkan orang-orang yang dipimpin menjadi korban. Para mantan Presiden, mantan Gubernur, Bupati, Walikota, Ephorus, Bishop, Rektor, Pengantan jemaat, dll, harus sadar: Pertikaian Anda dengan pengganti Anda, ibarat:
"Gajah sama gajar berkelahi, pelanduk mati di tengah-tengah". Bijaklah bersikap!

Sebaik apapun Anda dulu, pasti ada pendukung dan penentang Anda. Seburuk apapun Anda dulu, sama juga: ada pendukung dan penentang Anda. Jangan adu mereka!

Para mantan sadar dirilah, setiap keburukan yang terjadi di organisasi setelah Anda, turut menjadi tanggungjawab Anda! "Siapa yang menabur angin, akan menuai badai!" Tidak mudah menjadi mantan, Lho! Semoga. (St Jannerson Girsang)
Share this article :

Post a Comment