Home » , » Cerita Panjang tentang Samosir (2)

Cerita Panjang tentang Samosir (2)

Written By Berita Simalungun on Thursday, 7 July 2016 | 20:39

BeritaSimalungun.com-Mentari mulai mengusir malam ketika aku tersentak dari tidurku yang lelap. Mataku refleks mengitari kamar. Bah. Dahlia tak nampakku. Boleh jadi, di kamar mandi pikirku. Tapi ketika tak ada kudengar suara apa pun dari arah kamar mandi, aku bangkit. Pintu tak lagi terkunci. Itu artinya, Dahlia Hutabarat pergi. Boleh jadi, dia berolahraga sambil menikmati udara pagi.

Aku bergegas. Menggerak-gerakkan tubuhku. Saat pintu kamar kubuka, cahaya mentari mencuri masuk. Permukaan Danau Toba tenang. Tenang sekali. Tak ada riak apalagi ombak. Sama sekali tak ada. Permukaan Danau Toba pagi itu bagaikan cermin raksasa saja. 

Spontan aku memuja dan memuji kebesaran Tuhan Sang Pencipta.
Memandang permukaan Danau Toba hingga pandangan mataku mentok di pebukitan Sumatera, aku tak melihat Dahlia Hutabarat. Kucoba menyapu sekeliling pantai dengan pandangan mataku, tapi dia tak juga terlihatku. Dan, berkali-kali pun kutelepon dia tidak mengangkat pesawat HP-nya.

Aku membalikkan tubuhku mengarah jalan raya Ambarita - Simanindo. Pandanganku tertuju pada pebukitan Samosir yang terkesan perkasa. Di atas sana, ada Desa Salaon yang masuk Kecamatan Ronggur Nihuta (?) Dulu, di desa ini ada orang yang menanam ganja untuk dijual kepada wisatawan asing. Tapi belakangan, polisi memusnahkan tanaman ganja itu dan menahan beberapa anak negeri.

Aku mencoba mencari Dahlia Hutabarat ke arah jalan raya. Juga tak ada. Seorang perempuan tua berjalan tertatih-tatih yang melintas segera kutanya :

“Didia si Dahlia Ompung ?”
Perempuan itu kulihat bingung and bengong. Dipandanginya aku berlama-lama. Dengan wajah penuh heran dia malah balik bertanya :
“Ise si Dahlia ?”
Hampir aku tertawa. Segera aku inbox Dahlia.
“Dimana ?”

“Di pantai”, jawabnya cepat juga melalui inbox di FB. Dan aku segera menuju bibir pantai. Kulihat Dahlia tengah mempermainkan kakinya pada air Danau Toba.

Dia mengajakku mencari mie gomak made in Samosir yang populer itu. Kami menyusur perkampungan anak negeri. Dahlia bilang, sarapan mie gomak khas Samosir jauh lebih nikmat dibanding sarapan di hotel. Aku menurut saja. Di sebuah gubuk reot karena sudah tua digigit usia, kami memesan mie gomak dan kopi. Ngobrol dengan beberapa anak negeri disana di saat pagi, sangat menggairahkan.

Bergegas pulang ke Rogate Beach Hotel, kami segera mandi. Segar dan bugar. Ganti pakaian, kami segera meninggalkan hotel dan mengarah kiri menuju arah Tomok. Masih hampir pukul 08.00 WIB. Beberapa anak berjalan di sisi jalan raya. 

Sudah pasti, mereka sedang menuju Gereja untuk Sekolah Minggu. Dan pikiranku melayang jauh. Jauh sekali. Melayang mengenang saat-saat aku dulu Sekolah Minggu di GMI (Gereja Methodist Rantauprapat) Dan, aku ingat Pdt PH Pasaribu, salah seorang Guru Sekolah Minggu ku dulu. Sekarang, dia menetap di Jakarta dan sudah pensiun sebagai pekerja GMI.

Ruas jalan Ambarita - Tomok yang kami lintasi masih sunyi bahkan nyaris sepi. Di kiri kanan ruas jalan itu hingga ke Simpang Desa Garoga, ada sawah-sawah anak negeri terhempang membentang. Baru saja panen. 

Jerami bertumpuk di berbagai tempat. Ada juga di beberapa lokasi terlihat dijadikan tempat pembakaran jerami padi. Tiba-tiba aku ingat kawanku Eliakim Sitorus. Dulu, sudah lama, Eliakim Sitorus pernah bilang jerami tak elok dibakar. Aku lupa kenapa dan bagaimana. Barangkali, sekarang Eliakim yang pernah menjadi aktifis KSPPM itu bisa menjelaskan (lagi).

Tomok juga masih sepi. Kami meneruskan perjalanan mengarah Onanrunggu, berkelok-kelok dan meliuk di tubuh bukit. Di Simpang Lontung sebelum tiba di Sigarantung, aku memperhatikan ruas jalannya yang kupak-kapik. 

Ada haru di hatiku. Ruas jalan Tomok - Lontung yang merupakan jalan kabupaten, sangat buruk keadaannya. Itu sudah terjadi dari dulu. Sejak Samosir masih menjadi Daerah Otonomi Tapanuli Utara.

Lontung, di zaman penjajahan dulu menjadi sebuah kenegerian. Diberi nama Kenegerian Lontung yang meliputi Desa Hutaginjang, Parmonangan, Pardomuan, Parbalokan dan (mungkin) Tanjungan. 

Disana, pernah menjadi Kepala Nagari Tuan Surta Situmorang, ayahandanya Ompung Boruku almarhum Henneria Situmorang. Salah seorang putra Tuan Surta Situmorang , almarhum Letkol (Purn) GK Situmorang - Tulang Bapakku -, lama menjadi Danres Tapanuli Tengah di Sibolga. Terakhir, Tulang Bapakku yang kupanggil Ompung itu, menjadi Waka Dispen Poldasu.

Kendaraan yang kukemudikan masih meliuk-liuk di punggung Pegunungan Bukit Barisan. Dahlia bebas saja memandangi alam sekeliling yang kami lintasi. Tapi aku, sudah barang tentu tidak. Aku harus ekstra hati-hati mengemudikan kendaraanku. Sesekali jurang menganga di sebelah kiri atau sebelah kanan jalan. Kelalaian sedetik saja pun, bisa berakibat fatal. 

Terjun bebas ke jurang yang dalam, dan tulisan atau cerita ini pun tentu tak akan pernah kubuat.

Di kawasan Sigarantung, aku menghentikan mobilku. Menatap sejauh-jauh mata memandang ke arah Danau Toba. Sudah tentu, sambil berfoto-foto ria dengan latar belakang panorama mempesona dan menakjubkan. Dari lokasi ini nampak dengan jelas tubuh Tuktuk Siadong secara lengkap. Memang persis asu (anjing) yang sedang telungkup siap menyerang dan menerjang musuh atau lawannya.

Dulu, Tuktuk Siadong memang diberikan nama sebagai Tuktuk Siasu oleh anak negeri Samosir. Tapi saat almarhum MSM Sinaga menjadi Bupati Tapanuli Utara, nama itu entah dengan alasan apa diganti dengan nama Tuktuk Siadong. Sama dengan Pulau Malau dekat Simanindo sana, juga diganti nama dengan Pulau Tao. 

Aku jadi ingat apa yang pernah dituturkan kawanku almarhum TK Malau yang pernah menjadi Kepala Desa Simanindo. Menurut dia, Pulau Malau (sekarang bernama Pulau Tao) adalah milik Marga Malau. Tapi belakangan menjadi milik seorang Marga Sidauruk yang pernah menjadi Kapolres Simalungun.

Sebenarnya, aku dan Dahlia memiliki ikatan kekeluargaan dengan Marga Sidauruk mantan Kapolres Simalungun itu. Ompung kami Ibundanya Bapak kami dilahirkan oleh Boru Sidauruk, Namborunya sang mantan Kapolres. 

Dulu - sudah lama - aku pernah menginap di rumahnya di Bibir Pantai Simanindo. Waktu itu anak gadisnya ada dua orang yang belum menikah. Sekarang, aku tak tahu dimana mereka. Marga Sidauruk itu juga memiliki rumah di kawasan Jalan Ayahanda, Medan.

Melanjutkan perjalanan masih meliuk-liuk membelah punggung pebukitan, aku dan Dahlia tiba di Sampuran Napitu, jelang Lumban Sihombing Desa Tanjungan. Sunyi dan sepi bahkan sepi sekali. 

Di sekitarnya tak ada penghuni. Sampuran Napitu merupakan kawasan angker dan dikeramatkan anak negeri. Terdiri dari lapisan bebatuan besar, kokoh, perkasa dan terkesan angkuh. 

Di sekitarnya, kami menyaksikan beberapa unte pangir (jeruk purut) yang diletakkan di dalam sawan. Juga beberapa helai daun sirih (napuran) Menyaksikannya, terus terang aku gentar dan takut.

“Abang takut ?”, Dahlia memecah kebisuan. Tapi ketika mobilku kuhentikan, Dahlia langsung membuka pintu dan turun. Aku sempat bingung dan bengong, tapi akhirnya mengikutinya turun dari kendaraan kami.

Di lokasi Sampuran Napitu, aku tidak bilang apa-apa pada Dahlia. Kuturuti saja dia menfoto-foto di sekitarnya. Sesekali dia memintaku untuk menfotonya. Tenganku bergetar saat menfoto Dahlia. Tapi aku tetap tak mengatakan apa pun tentang Sampuran Napitu kepadanya, sampai kami meninggalkan lokasi itu.

Dulu - sudah lama - ada seorang Boru Situmorang nan cantik jelita, menarik memikat dan mengikat. Kecantikannya, terkenal di seantero Samosir hingga beberapa pemuda mencoba melamarnya untuk dijadikan istri. 

Bernasib baik, seorang pemuda ganteng dan gagah perkasa berhasil mendekati ayahanda si Boru Situmorang. Beberapa ekor kerbau diserahkan kepada ayahanda si Boru Situmorang, dan karena itu sang ayah pun memaksa si Boru Situmorang agar menikah dengan pemuda tampan Marga Sidabutar dari Tomok itu.

Pesta adat kebesaran Batak pun digelar untuk merayakan pernikahan itu. Tapi hati si Boru Situmorang sebenarnya dirundung malang. Dia tak ikhlas dengan pernikahannya yang sememang atas desakan dan paksaaan ayahandanya. Cinta memang tak bisa dipaksa. Biar pada masa dulu.

Belum sampai di Tomok kampung Marga Sidabutar tadi, si Boru Situmorang minggat. Dia bersembunyi dan lari menuju kampungnya di sekitar Sampuran Napitu. 

Tapi tidak menuju rumah ayahandanya. Pada gelap dan gulitanya malam, dia menangis tersedu sambil memohon kepada Dewata agar dia dijadikan arawah saja. Dari pada harus kembali kepada Marga Sidabutar itu.

Berhari-hari ayahandanya dan orang sekampung mencari-cari Boru Situmorang yang hilang tak jelas rimbanya. Beberapa dukun dikerahkan untuk ikut mencari, dengan mamalu ogung sabangunan. Berbagai mantera dibaca berulang-ulang oleh para datu, namun si Boru Situmorang tak kunjung ditemui sampai suatu malam yang gelap terdengar suara dari arah Sampuran Napitu. Suara siapa lagi, kalau bukan suara si Boru Situmorang.

Ayahandanya memelas dengan mengatakan sangat malu terhadap Marga Sidabutar. Sekian kerbau sudah diterima, padahal Borunya minggat tanpa alasan yang jelas.

“Bagaimana aku bisa mengembalikan kerbau yang sudah sempat kuterima ?”, kata ayahandanya di tengah isak tangisnya.

“Kalau soal itu Bapakku, segera aku kembalikan”, terdengar suara dari celah-celah bebatuan disana. Dan tak berapa lama kemudian beberapa ekor kerbau besar dan montok keluar entah dari arah mana. Sejak saat itu, Sampuran Napitu pun dikeramatkan anak negeri. Sampai sekarang. Sampai sekarang.

Sampai sekarang, Sampuran Napitu masih sering dikunjungi orang. Tapi umumnya orang-orang dari tanah seberang. Bahkan Malaysia, Singapura dan Jawa sana. Mereka memberi sesajen disana dengan tata cara habatahon. 

Berdoa kepada Dewata melalui Boru Situmorang tadi yang sudah menjadi sombaon, agar diberi rezeki yang berlimpah serta kesehatan yang prima. Dan, menurut pengakuan mereka apa yang mereka minta menjadi kenyataan.

Anak negeri Samosir, agaknya tak lagi melakukan hal yang sama. Itu barangkali disebabkan pengaruh kekristenan yang sudah mereka anut dan peluk sejak kakek buyut mereka. (Patarias Coffeshop, 6 Juli 2016/Ramlo R Hutabarat)
Share this article :

Post a Comment