}); Asal Mula Terjadinya Danau Toba | BeritaSimalungun
Home » , » Asal Mula Terjadinya Danau Toba

Asal Mula Terjadinya Danau Toba

Written By Beritasimalungun on Tuesday, 9 August 2016 | 07:30

INDAHNYA PANORAMA DANAU TOBA SUMATERA UTARA-INDONESIA

BeritaSimalungun.com-Dulu, sudah lama sekali, ada laki-laki yang hidup di Dataran Tinggi Toba. Seharian, kerjanya mencari ikan di sungai yang banyak mengalir di sekitarnya tinggal. Sungai-sungai itu, airnya bening dan jernih. Itu karena pohon-pohon tumbuh subur di sekitarnya. Kalau pohon-pohon tak ada, air sungai menjadi keruh dan kering.

Orang-orang yang tinggal di Dataran Tinggi Toba, waktu itu memang tak sembarang menebang pohon-pohon di hutan. Kalau mereka membutuhkan kayu untuk dijadikan rumah misalnya, mereka selalu memilih pohon-pohon yang besar dan sudah tua. Pohon-pohon tua yang besar-besar itu, mereka tebang dari tengah hutan belantara. Diangkut ke desa secara bersama-sama penduduk lainnya. Gotong royong namanya.

Laki-laki tadi rajin mencari ikan ke sungai-sungai itu. Selalu dia mendapatkan ikan-ikan yang besar-besar. Ikan-ikan itu, dijualnya ke pekan-pekan di sekitar kampungnya. Orang kampung laki-laki itu menyebut pekan dengan nama Onan. Hari pekan atau hari Onan, dilakukan orang di kampung laki-laki itu sekali dalam seminggu.

Ikan - ikan di sungai, waktu itu masih besar-besar. Tidak seperti sekarang, kebanyakan ikan-ikan kecil saja. Itu karena orang-orang di kampung laki-laki itu tidak sembarang mengambil ikan di sungai. Mereka mengambil ikan dengan cara mengkailnya, atau menggunakan bubu. Bubu dibuat dari bambu. Di dalam bubu dibuatkan makanan ikan sebagai umpannya. Kalau ikan masuk ke dalam bubu, tidak bisa lagi keluar.

Pada suatu hari, laki-laki itu pergi ke sungai. Dia bermaksud untuk mencari ikan. Dia membutuhkan uang untuk membeli pakaiannya. Ikan dicarinya, dan kalau dapat dijualnya. Uangnya dibuatnya untuk membeli pakaiannya. Waktu itu memang, pakaian sulit sekali didapat. Harganya mahal , tidak seperti sekarang. Waktu itu, kalau ada pun uang belum tentu ada pakaian dijual orang.

Laki-laki itu memasang bubu pada malam hari di sungai besar tak jauh dari kampungnya. Dia memasukkan makanan ikan kedalam bubu, supaya ikan-ikan terpedaya dan memasuki bubunya tadi. Seperti sudah dikatakan tadi, kalau ikan masuk ke dalam bubu tak bisa lagi keluar. Ikan yang sudah terperangkap masuk ke dalam bubu, gampang ditangkap. Lalu dijual.

Pagi-pagi sekali begitu laki-laki itu terbangun dari tidurnya, dia segera berangkat menuju sungai. Hatinya berbinar-binar dan girang, berharap mendapat ikan yang besar. Di perjalanan menuju sungai, dia bernyanyi-nyanyi kecil sambil melewati pematang sawah. Waktu itu tanaman padi sedang menguning. Tanaman padi yang sedang menguning artinya tak lama lagi akan dipanen. Saat musim panen padi, hati petani girang dan riang.

Tiba di bibir sungai, laki-laki itu terkejut sekali. Dia melihat seekor ikan yang besar sekali masuk ke dalam bubunya. Besar sekali. Hampir sebesar manusia dewasa. Belum sempat berpikir panjang saat menyaksikannya, laki-laki itu terkejut sekali dan hampir tak percaya. Ikan itu bisa berbicara seperti halnya manusia biasa.

“Jangan tangkap aku sekarang. Biarkan aku di dalam bubumu ini, dan nanti malam saja ambil”, kata ikan itu.

Dengan tubuh gemetaran karena ketakutan, laki-laki itu mengangguk saja. Dia segera pergi meninggalkan sungai itu dengan pikiran kacau. Di perjalanan menuju rumahnya dia diam saja. Tak diberi tahunya siapa pun soal kejadian itu. Semuanya disimpannya dalam hatinya. Dia berharap matahari cepat tenggelam di balik gunung, dan malam segera datang. Itu artinya dia akan segera datang untuk mengambil ikan yang besar sekali tadi.

Tapi alangkah terkejutnya laki-laki itu ketika malam sudah jatuh dan dia berada di pinggir sungai. Dia tidak melihat ikan besar itu lagi, tapi seorang perempuan cantik jelita datang menghampirinya.

“Jangan takut. Aku adalah ikan besar yang masuk ke bubumu, dan sekarang menjelma menjadi manusia”, kata perempuan itu. Laki-laki itu pun terbingung-bingung sampai perempuan cantik jelita itu memintanya agar membawanya ke rumah laki-laki itu.

“Bawalah aku ke rumahmu, dan menikahlah kita menjadi suami istri”, kata perempuan itu. Laki-laki itu menurut saja, dan akhirnya mereka tiba di gubuk laki-laki itu di pinggir hutan.

Waktu mereka menikah, perempuan itu bilang pada laki-laki itu agar tidak memberi tahu kepada siapa pun bahwa dia semula adalah ikan.

“Termasuk kepada anak kita kelak, kalau kita sudah punya anak”, kata perempuan itu dan laki-laki tadi pun mengangguk.

Beberapa tahun setelah mereka menikah, kedua pasangan suami istri itu diberi Tuhan seorang anak laki-laki. Anak pertama mereka itu tumbuh sehat dan kuat karena dia kuat makan dan kuat pula memakan sayur. Ibunya selalu menyediakan sayuran dan ikan yang cukup untuk anak mereka. Sayuran bisa didapat karena perempuan itu menanamnya di sekitar rumah mereka. Ikan didapat laki-laki itu seperti biasa di sungai-sungai yang dekat ke rumah mereka.

Suatu hari, laki-laki itu pergi ke sawah. Laki-laki itu membajak sawah dengan bantuan seekor kerbau milik mereka. Tengah hari anaknya datang, membawa makanan siang ayahnya itu yang disiapkan ibunya.

“Ini, antarkan makanan ayahmu ke sawah, Nak. Sekarang ayahmu sudah lapar”, kata Ibunya.

Anak itu dengan sigap mengantarkan makanan ayahnya ke sawah. Dia melintasi pematang-pematang sawah, sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Sesekali rumput-rumput liar menghalangi perjalanannya. Dikibaskannya rumput-rumput liar itu dengan kakinya yang mungil dan kecil. 

Tiba di sawah, dia bilang agar ayahnya segera makan. Tapi ayahnya itu tidak segera makan. Laki-laki itu masih menyelesaikan sebahagian lagi pekerjaannya membajak sawah yang masih tanggung selesainya.

“Letakkan saja di pematang sawah itu. Sebentar lagi ayah makan”, kata laki-laki tanpa menoleh kepada anaknya.

Entah mengapa, tiba-tiba anak itu lapar sekali. Tanpa berpikir panjang dia melahap habis makanan ayahnya yang dibawanya tadi. Dalam sekejap makanan itu sudah habis dan ludes, dan dia pun kenyang sekali. Anak itu bergolek di pematang sawah karena kekennyangan sampai ayahnya tiba.

Bukan main marahnya laki-laki itu setelah mengetahui makanannya sudah dihabiskan anaknya. Dipukulnya kaki anaknya itu berkali-kali dengan kayu kecil yang ada disana. Anak itu menjerit-jerit karena kesakitan. Tapi ayahnya bukan main marahnya.

“Kurang ajar kau. Dasar anak ikan kau !”, kata laki-laki itu di tengah amarahnya.

Anak laki-laki itu segera berlari pulang ke rumahnya. Kepada ibunya di tengah sesunggukan dia bilang dia barusan dipukul ayahnya. Ibunya pilu mendengar laporan anaknya itu.
“Dibilang ayah, aku anak ikan”, kata anak itu sambil menangis.

Hati perempuan itu pun sedih sekali. Pilu sekali perasaannya karena suaminya mengatakan anak mereka adalah anak ikan. Padahal dulu sebelum memiliki anak, laki-laki itu pernah berjanji tidak akan menyebut anak mereka sebagai anak ikan.

Perempuan itu pun berlari menuju pinggir sungai. Disana dia menangis sejadi-jadinya sambil bermohon kepada Dewata agar menurunkan hujan yang lebat. Tak lama kemudian petir membahana. Awan hitam berarak kencang menyelimuti langit. Hujan pun berderal dengan lebat sekali. Membasahi pohon-pohon dan dahan serta rantingnya. Membasahi sawah, perkampungan dan semua yang ada di kampung itu.

Hujan terus berderai dan jatuh sampai tujuh hari tujuh malam kemudian. Banjir pun menghadang seluruh kampung itu bahkan sampai kemana-mana. Semua ternak mati tergenang air, bahkan semua manusia yang ada di kampung itu. Pohon-pohon yang tinggi pun tergenang air dan akhirnya tenggelam. Setelah hujan reda, tak ada yang tersisa. Kampung itu berubah menjadi danau besar. Airnya putih membiru seperti cermin raksasa.

Itulah asal muasal adanya Danau Toba. Danau terbesar di Indonesia. (Untuk yang kusayangi, Sonya Ginting. Pelajar TK di Perguruan Katolik Jalan Sudirman, Pematangsiantar. Rajin-rajin bermain dan belajar ya Boru.).(Patarias Coffeshop, 7 Agustus 2016-Ramlo R Hutabarat)
Share this article :

Post a Comment