Home » » Petani Bawang Merah Haranggaol dapat Gudang Penyimpanan dari BI

Petani Bawang Merah Haranggaol dapat Gudang Penyimpanan dari BI

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 5 October 2016 | 09:10

Petani Bawang Merah Haranggaol dapat Gudang Penyimpanan dari BI
RUANG PENJEMURAN - Seorang pria sedang menyusun bawang merah di ruang penjemuran milik Rikson Saragih. SuaraTani.com - ist
BeritaSimalungun.com, Medan-Petani bawang merah di Kelurahan Haranggaol Kecamatan Haranggaol Horisan, Kabupaten Simalungun, boleh berlega hati. Sebab, Perwakilan Bank Indonesia (BI) Pematangsiantar melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) memberikan gudang pascapanen untuk penyimpanan bawang merah.

Gudang berukuran berkisar 4×9 meter persegi itu diserahkan Perwakilan BI Pematangsiantar, Senin (3/10) kepada Pemkab Simalungun melalui dinas terkait sebagai asset Pemkab Simalungun.

Konsultan Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kantor Perwakilan BI Pematangsiantar Adi Handoyo mengatakan, penyerahan gudang pascapanen ini diharapkan dapat membantu petani bawang terutama petani-petani binaan BI selama ini dalam menyimpan dan meningkatkan kualitas bawang yang dihasilkannya.

“Biasanya begitu panen, petani langsung menjual bawangnya ke agen. Itu membuat daya tawar petani bawang kita menjadi lemah. Agen jadi penentu harga bawang yang dihasilkan petani,” kata Adi ketika dihubungi SuaraTani.com, Selasa (4/10).

Selain itu, penyimpanan yang tidak benar disaat panen akan menyebabkan kualitas bawang rusak. “Kalau hanya ditempatkan atau ditumpuk begitu saja bawang akan cepat rusak karena petani tidak memiliki tempat penyimpanan. Begitu juga dengan tempat penjemurannya. Inilah nantinya yang membuat harga agak riskan,” kata Adi.

Penyimpanan maupun penjemuran bawang merah menurut Adi, membutuhkan tempat yang layak. Alasan-alasan inilah yang kemudian membuat Perwakilan BI Pematangsiantar membangun gudang pascapanen bawang merah.
Inilah gudang pascapanen untuk penyimpanan bawang merah yang dibangun Perwakilan BI Pematangsiantar. SuaraTani.com - ist
Inilah gudang pascapanen untuk penyimpanan bawang merah yang dibangun Perwakilan BI Pematangsiantar. SuaraTani.com – ist

Dengan harapan, daya tawar petani meningkat dan kualitas bawang yang dihasilkanpun menjadi lebih baik. Namun dalam operasional, pihaknya meminta agar petani bawang yang bernaung dalam kelompok-kelompok tani membentuk koperasi. Sehingga penjualan bawang dilakukan dalam satu pintu, yakni koperasi dengan cara lelang tertutup.

Adi mencotohkan, Kelompok Tani A pada hari itu memanen bawang merah sebanyak 10 ton. Produksi itu ditulis di papan tulis yang telah tersedia berikut standar mutu yang dihasilkan dan harga yang ditetapkan petani.

“Paling tidak ada empat kriteria yang menjadi acuan dalam penentuan mutu dan harga bawang, yakni kepadatan fisik, tampilan warna di mana semakin merah warnanya maka bawangnya semakin bagus. Kemudian, aroma dan ukuran bawang. Semua ini dicantumkan di papan tulis sehingga agen mengetahui,” kata dia.

Bagi agen yang berminat dengan bawang milik Kelompok A tadi misalnya, menuliskan harga dan dimasukan dalam tempat yang telah disediakan. Hingga waktu penawaran habis maka pengelola koperasilah yang kemudian menentukan agen mana yang berhak membeli bawang tersebut.

“Jelas, agen dengan penawaran tertinggilah yang berhak membeli bawang tersebut. Sistem inilah yang kita harapkan dapat dilakukan petani bawang merah di Haranggaol,” kata Adi.

Dikatakannya, potensi lahan untuk pengembangan bawang merah di Haranggaol berkisar 350 hektare. Dan, rata-rata tiap bulan luas tanaman bawang merah yang ditanami berkisar 50 hektare.

Sementara itu, Koordinator Gudang Pascapanen bawang merah Rikson Saragih mengatakan, sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan Perwakilan BI Pematangsiantar. 

“Rak-rak untuk penjemuran dan penyimpanan memang belum ada dan itu rencananya akan kami buat sendiri melalui swadaya petani,” jelas Rikson yang juta tenaga harian lepas tenaga bantu penyulu pertanian (THL-TBPP) ini.

Rikson juga sangat setuju dengan pembentukan koperasi dalam mendukung operasional gudang pascapanen tersebut. Karena dengan begitu, penjualan bawang petani tidak lagi dilakukan dengan sendiri-sendiri tetapi sudah melalui koperasi.

Begitu juga dengan penetapan harga tidak lagi dilakukan agen seperti yang dilakukan selama ini tetapi sudah petani sendiri melalui koperasi. “Saat ini, kami tengah menyusun kepengurusan koperasi sebagaimana yang diharapkan pihak BI. Mudah-mudahan dalam tahun ini, koperasi itu sudah terbentuk,” kata dia.


Mengenai harga jual bawang merah, Rikson mengatakan, ada penurunan dibanding seminggu yang lalu. “Harga di pekanan (pasar-red) kemarin dijual hanya Rp 19.000 per kilogram dari harga sebelumnya Rp 23.000 per kilogram,” ujarnya. * (Nita Sianturi/Suaratani.com)
Share this article :

Post a Comment