Home » , , » Ketika “Tembok Berlin" Menyulitkan Pengunjung Bukit Indah Simarjarunjung

Ketika “Tembok Berlin" Menyulitkan Pengunjung Bukit Indah Simarjarunjung

Written By Beritasimalungun on Sunday, 5 November 2017 | 06:49

Oleh: Kurpan Sinaga 
 
Ket Gambar: Diantara tiang di kiri dan kanan payung telah dipasang kawat.
BeritaSimalungun-Suatu ketika tahun 90an, saat pulang kampung dari Jakarta saya mengamati kesulitan ekonomi kampungku Desa Pariksabungan. Saya berpikir babaimana memajukan diluar pertanian yang selalu tersengat kemarau atau ditenggelamkan harga. 

Saya terpikir menggerakkan pariwisata Simarjarunjung. Saya mengajak kawan itu survei lokasi yang bagus untuk dikembangkan, untuk kubawa ke pengusaha di Jakarta. Tetapi orang Jakarta yang serius menangkap gagasan itu adalah Abang saya KS. 

Ia menangkap idealisme itu maka “dipala-palai” nya secara bertahap. Karena idealisme maka dia tidak ada permintaan posisi yang bagus saat bersama-sama dengan kawan itu beli tanah. Oleh karena idealisme juga lah maka ia diterima membebaskan jalan, kalau kawan itu tidak akan diterima pemilik tanah. 

Kawan itu dipercayakan KS mengatur 1 tronton pupuk kandang dari Jakata untuk digunakan membuldoser jalan dan lainnya urusan BIS. KS mengangankan BIS itu sempurna sehingga ahli tata letak tanah realestat ditentengnya dari Jakart. 

Sejak jalan dan areal parkir dibuka tahun 2009 pengunjung pun mulai masuk ke BIS. Sebaliknya kawan itu memanfaatkan segalanya. Mulai nya orang mengalir ke BIS dimanfaatkan dengan membuka warung dan memungut uang parkir. 

Dalam dua kali beli tanah bersama-sama kawan itu mengincar posisi yang paling bagus. Setelah KS meninggal awal tahun 2011 jadilah kawan itu penguasa tanpa patron di BIS. Sejak itu kawan itu mengklaim pemilik BIS. 

Seluruh fasilitas yang ada seluruhnya dalam penguasaan nya. Hadirnya keluarga KS awal tahun 2017 menindak lanjuti program BIS menjadi angin segar bagi kawan itu. Kalau selama ini BIS begitu-begitu saja tanpa gagasan hadirnya keluarga KS telah membawa ide rumah pohon ala Bandung. 

Kawan itu langsung mendirikan rumah pohon dan terpiculah gairah orang ke BIS. Keanehanpun mulai terjadi. Tanah yang dibeli alm dibikin kawan itu atas namanya sendiri. Persil yang satu lagi, dalam catatan 8 rante diakuinya 7 rante, bahkan awalnya dikatakannya cuma 5 rante. 

Pada saat penyumbang tanah lintasan jalan minta bagian uang parkir direspon kawan itu dengan  amarah. Hmmm... Sampai bulan September kawan itu tidak memiliki lahan parkir tapi menerima lebih banyak uang parkir. 

Dibiarkan nya kawan itu memilih posisi tanah view paling bagus oleh alm KS telah digunakan sebagai alat paling mematikan bagi keluarga KS. Dua bulan terakhir kawan itu pun membuka jalan baru dan areal parkir di tanah yang saya ketahui selama ini bukan miliknya. 

Lalu ia pun memaksa pengunjung BIS ke parkir nya walau jalan terjalin dan tikungan patah. Dua minggu lalu saat hujan pengunjung sulit pulang. Bagi yang tidak parkir ditempat nya diterapkan nya injak tanah berbayar, tiap orang yang melintas tanahnya dipungut Rp. 5000,-.

Para pengusaha BIS keberatan dengan pungutan itu, ingin nya pengunjung DIBEBASKAN kemana saja. Kawan itu kemudian menutup jalan sehingga tertutup juga jalan ke tanah orang lainnya (yang ditutup bukan hanya tanahnya). 

Memasang tembok membatasi kebebasan masyarakat membuat kita teringat TEMBOK BERLIN. (Penulis Adalah Pemerhati Sosial di Simalungun).
 
Share this article :

Post a Comment