}); Jalur Tenggelamnya Kapal di Danau Toba Dikenal Angker, Ritual 'Pangelehon' Pun Dilakukan | BeritaSimalungun
Home » , , » Jalur Tenggelamnya Kapal di Danau Toba Dikenal Angker, Ritual 'Pangelehon' Pun Dilakukan

Jalur Tenggelamnya Kapal di Danau Toba Dikenal Angker, Ritual 'Pangelehon' Pun Dilakukan

Written By Beritasimalungun on Thursday, 21 June 2018 | 13:39

Pencarian korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di Perairan Danau Toba terus dilakukan oleh Tim SAR gabungan. Termasuk Team Projo Simalungun ikut Tugas Kemanusiaan pencarian Korban KM Sinar Bangun di Danau Toba. FB

Pencarian korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di Perairan Danau Toba terus dilakukan oleh Tim SAR gabungan. Termasuk Team Projo Simalungun ikut Tugas Kemanusiaan pencarian Korban KM Sinar Bangun di Danau Toba. FB
BeritaSimalungun, Tigaras-Hingga Kamis (21/6/2018) siang, jumlah korban meninggal yang ditemukan dari tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun di Perairan Danau Toba sebanyak 4 orang. 

Sampai saat ini pencarian masih terus dilakukan oleh Tim Basarnas, marinir, BNPB, BPBD Sumut, Simalungun, dan Samosir.

Untuk membantu pencarian korban, ritual sesuai adat kepercayaan lokal pun dilakukan. Ritual tersebut dilakukan di Simanindo, Kabupaten Samosir.

Menurut Rismon Sirait, seorang paranormal yang di tinggal di Parapat, Kabupaten Simalungun, ritual tersebut disebut Pangelehon atau meminta kepada penguasa Danau Toba agar korban yang masih berada di dalam danau bisa segera ditemukan.

Ritual yang dilakukan dipimpin oleh seorang perempuan yang memegang daun sirih yang di atasnya diberi uang kertas. Lalu dengan sikap menyembah ke arah danau, perempuan tersebut dalam Bahasa Batak meminta kepada penguasa Danau Toba agar menunjukkan keberadaan korban yang masih belum ditemukan.

Menurut Rismon, ada tiga orang penguasa Danau Toba yang dikenal sebagai Namboru Sitolusadalanan. Ketiga penguasa tersebut yakni Si Biding Laut, Si Boru Pareme, dan Boru Nai Ambaton.

Uniknya, menurut kepercayaan setempat, nama perempuan yang memimpin ritual tersebut tidak boleh diberitahu. Selain itu, pengunjung atau wartawan dilarang memotret ritual tersebut.

Rismon menambahkan jalur pelayaran Tigaras-Simanindo merupakan jalur ritual dan segaris dengan Tao (danau) Silalahi yang dikenal sakral. Menurut Rismon, jalur ritual ini harus bersih dari perbuatan-perbuatan tercela.

“Sementara di daerah itu banyak warga yang tidak bertindak bersih. Mereka membuang sampah dan kotoran sembarangan, minum-minuman keras dan berjoget-joget di atas kapal, dan berperilaku tidak sopan. Itu jalur ritual yang tidak boleh dikotori,” kata Rismon.

Hal yang sama disampaikan Lundu Tamba, seorang penduduk Pangururan, Samosir. Menurut Lundu yang kerap menggunakan kapal penyeberangan rute Tigaras-Simanindo, rute tersebut merupakan rute angker yang kerap di dengarnya dari masyarakat sekitar.

"Jangan sampai kita berbuat yang tidak baik atau membuang sampah sembarangan ke danau karena menurut cerita di sini, nanti akan mendatangkan musibah," ujar Lundu yang mengaku pernah beberapa kali menumpang KM Sinar Bangun.

Terlepas benar tidaknya soal keangkeran danau tersebut, Lundu mengatakan penyebab tenggelamnya KM Sinar Bangun tersebut karena saat itu cuaca buruk dan ombak sangat besar.

Menurut Lundu, rute Tigaras-Simanindo lebih terbuka dibanding rute penyeberangan di perairan Danau Toba. "Dibanding rute lain seperti Ajibata-Tomok yang banyak ditutup perbukitan, rute Tigaras-Simanindo ini sangat terbuka karena tersambung langsung dengan Tao Silalahi yang luas dan panjang sehingga angin lebih besar masuk di rute ini," kata Lundu yang berprofesi sebagai guru ini. (BS)

Sumber: Berbagaisumber
Share this article :

Post a Comment