}); LIPAN MARSOMBAH? (Lipan Menyembah)? | BeritaSimalungun
Home » , , » LIPAN MARSOMBAH? (Lipan Menyembah)?

LIPAN MARSOMBAH? (Lipan Menyembah)?

Written By Beritasimalungun on Monday, 11 June 2018 | 09:19

Lipan di Rumah Bolon Pamatang Purba. . Foto FB Jordi Purba
Oleh: Uttok Sondi 

BeritaSimalungun-Sebagai orang yang sudah berpuluh tahun merantau, bangun dan mandi pagi-pagi sekali di kampung halamanku Sondi Raya adalah sesuatu yang menyiksa. Apalagi baru sampai disitu malam harinya. Udaranya sangat dingin soalnya. Terlebih untuk yang terbiasa hidup di daerah panas seperti saya. Di Bekasi. Apalagi yang nyaris tidak pernah ngantor pagi-pagi selama belasan tahun. Ya, seperti saya.

Untungnya ibuku yang sudah 70 an tahun saat itu ingat kalau sejak beberapa tahun sebelumnya saya selalu mandi air panas setiap hari. Ketika membangunkan saya, air panas sudah tersedia.

Pukul 6.00 WIB kurang, ketika kebanyakan penduduk Sondi Raya belum bangun, Abanganda Jordi Purba sudah muncul di depan rumah dengan mobil sedan warna gelap. Disitu saya terkesan kepadanya. Dia tepat waktu. Jam 6 kita sudah jalan. Begitu kami janjian malam harinya.

Pagi itu dengan penuh semangat, kami meluncur di jalan mulus yang lengang menuju ke Pamatang Purba. Tepatnya ke Rumah Bolon Pamatang Purba. 

Hari itu kami dengan beberapa orang Simalungun dari beberapa daerah berjanji bertemu di kompleks bekas istana Kerajaan Purba untuk satu tujuan. 

Penandatanganan akta pendirian organisasi Forum Peduli Cagar Budaya dan Pariwisata Simalungun atau Forcabups di hadapan notaris. 

Sebuah organisasi yang kami sepakati dibentuk agar program pelestarian Rumah Bolon dengan jargon #SaveRumahBolon yang kami gagasi sejak tahun sebelumnya memiliki landasan hukum.

Hampir setengah jam kemudian, kami tiba di pelataran parkir Rumah Bolon. Pagar besi masih tertutup. Entah karena sebelumnya sudah berkomunikasi dengan penjaga, pagar tidak tergembok saat kami datang. Karena itu kami bisa masuk dengan mudah.

Berjalan dari pelataran parkir menuju kawasan istana di pagi yang dingin dan hening adalah satu momen yang sangat berkesan buat orang yang sudah sangat lama tidak menginjakkan kaki disitu. 

Hal itu terasa karena pelataran parkir dikelilingi pohon dengan daun yang rindang yang menutupi seluruh tepian pelataran parkir dari cahaya langit, membuat tempat itu terasa gelap. 

Jalan menanjak ke arah kawasan Rumah Bolon, juga dipagari pepohonan yang daunnya nyaris menyatu membuat jalan itu seperti mulut gua yang besar. 

Keluar dari lorong besar itu, terhampar lapangan rumput yang kelihatan berkabut karena embun yang mulai menguap. Ditengah tanah berkabut itu, tampak berdiri beberapa bangunan rumah adat. 

Sungguh pemandangan yang sangat indah. Apa yang saya gambarkan itu bisa dirasakan dalam foto ini, foto dimana Abanganda Jordi Purba dengan tubuhnya yang tinggi besar berjalan jauh mendahului saya seolah dia lupa kalau kami jalan bersama. Mungkin karena semangatnya.

Begitulah pagi itu, kami tiba di bekas istana raja Kerajaan Purba bermarga Purba Pakpak saat suasana masih sepi. Setelah melempar pandang ke sekeliling, mengagumi keindahan yang ada, melontarkan pikiran mereka-reka suasana di tempat itu ketika Tanoh Simalungun masih diperintah oleh para raja, saya memilih tempat istirahat di sisi belakang bangunan utama kawasan Rumah Bolon itu. 

Sisi belakang yang seolah merupakan sisi depan, karena memang halaman dan arah datangnya tamu di tempat itu adalah dari sebelah belakang bangunan utama kawasan Rumah Bolon itu. 

Setelah mengeluarkan kamera, saya menaruh tas di atas semen pembatas pondasi bangunnan utama itu. Sementara saya memotret kesana kemari dari tempat saya berdiri, Abanganda Jordi pergi melihat-lihat bangunan lain.

Ketika saya memendar pandangan mencari objek-objek yang menarik untuk dipotret, pandangan saya tersedot oleh sesuatu yang bergerak di atas pasir dekat salah satu tiang kayu besar penopang rumah bolon. Seekor lipan berukuran besar berwarna merah. Panjangnya sekitar sejengkal. Dia datang berjalan lurus ke arah saya berdiri.

Saya termasuk orang yang trauma pada lipan sejak kecil. Waktu itu, kalau tidak salah saya masih kelas satu sekolah dasar, saya duduk bersila di atas lantai dapur rumah kami yang terbuat dari bilah-bilah papan yang sebagian besarnya tidak rapat mungkin karena ayah saya dulunya membuatnya dari belahan kayu yang baru ditebang hingga lama-kelamaan ukurannya menyusut. 

Ketika sedang asik-asiknya mengamati cara abang saya memperbaiki lampu petromaks, abang saya tiba-tiba berseru sambil melompat bangun. 

Ada seekor lipan besar keluar dari celah papan lantai dan berjalan ke arah saya. Saya pun terkejut dan terjengkang ke belakang untuk menghindar. 

Untung dia tidak mengejar saya tapi kembali masuk ke celah papan lantai. Sejak itu saya trauma pada lipan. Di Bekasi tempat tinggal saya sekarang memang melihat lipan. Tapi ukurannya kecil. Sepanjang sebatang rokok utuh, itu sudah sangat besar. Tapi tetap saja saya merasa takut.

Namun entah kenapa, rasa takut yang menghantui saya setiap melihat celah-celah kayu atau saat memindahkan pot tanaman dimana mereka seringkali ada, kali ini tidak saya rasakan sedikit pun. 

Saya tenang, walau dia berjalan lurus ke arah saya. Saya bahkan mengikuti gerakannya di layar LCD kamera. Saya biarkan dia menghampiri saya. 

Anehnya, ketika sekitar sejengkal dari moncong kamera RLT yang saya pegang, dia berhenti. Dia mengangkat kepalanya dengan dua kumis berwarna kuning cerah yang menancap di kepalanya mengacung ke arah saya. 

Dia diam dengan posisi seperti itu selama beberapa saat. Bahkan saya sempat mengamatinya. "Eh, kenapa ini ya?" hanya itu yang ada dalam pikiran saya.

Beberapa saat kemudian, dia menurunkan kepalanya dan mulai berjalan lurus mengikuti semen pembatas pondasi rumah bolon. Sekitar satu meter lebih, dia berhenti sesaat. 

Lalu berbelok lurus ke arah tiang lain penopang rumah bolon, sejajar dengan deretan tiang-tiang itu. Dari cara berjalannya yang aneh itu saya seakan tersadar kalau Abanganda Jordi Purba harus melihatnya. 

Saya panggil dia yang tengah asik memotret Balei Bolon. Bersama-sama kami mengikuti gerak gerik lipan itu beberapa saat.

Dari tiang pertama, lipan itu berjalan lurus ke tiang kedua. Setelah mengelilingi tiang kedua, dia kembali berjalan lurus ke tiang pertama di depan. 

Dari tiang terdepan, dia berjalan lurus ke arah samping. Ke semen pembatas pondasi rumah bolon. Sepanjang perjalanannya itu, saya mengikuti gerak-geriknya dari jarak dekat. 

Tapi dia sama sekali seperti tidak terusik dengan langkah kaki saya, dengan gesekan hak sepatu saya di atas pasir di dekatnya.

Sementara Abanganda melanjutkan aktifitasnya sebelumnya, mengamati bangunan-bangunan lain sambil sesekali mengabadikan dengan tabletnya, saya disuruh terus mengawasi hewan itu.

Dari tiang terdepan, lipan itu berjalan lurus ke samping, ke balok semen pembatas pondasi rumah bolon sebelah selatan. Sebelah bangunan Balei Bolon. 

Disitu dia turun ke bawah, ke rerumputan. Tapi dia tidak ke rerumputan. Dia berjalan lurus selurus balok semen sepanjang sisi selatan bangunan utama itu. 

Tidak sedikit pun dia berbelok. Lagi-lagi, langkah kaki saya yang bergesek di rerumputan sedikit pun tidak mengusiknya. Membuatnya berhenti atau berlari. 

Dia berjalan lurus ke arah timur. Tepat di ujung balok semen itu, di pojok depan sebelah kanan bangunan rumah bolon, dia memanjat tembok semen setinggi sekitar sedengkul itu lalu masuk di retakan semen percis di pojok pembatas kolom pondasi bangunan utama rumah bolon itu.

Itulah salah satu pengalaman unik saya di Rumah Bolon Pematang Purba pada tanggal 18 April 2015, di hari pendirian organisasi Forum Peduli Cagar Budaya dan Pariwisata Simalungun (Forcabups). 

Hal yang turut membuat saya tidak kuatir sedikit pun datang ke Purba Dolok, salah satu wilayah partuanon dari Kerajaan Purba pada masa lalu, walaupun tidak hanya sekali saya mendengar issu dari orang luar Purba Dolok yang sifatnya menakut-nakuti. 

Saya tidak merasakan takut sedikit pun mendatangi daerah itu, bahkan untuk mendaki ke Dolok Suara yang juga sempat diisyukan agak keramat, saya tidak takut sedikit pun. 

Buktinya saya punya rekaman video disana yang saya upload ke youtube dan selama disana saya tidak mememukan satu rintangan pun. 

Bahkan penduduk, pemilik warung di samping gedung gereja GKPS Purba Dolok, begitu hangat menerima kedatangan kami hingga memintakan dua orang anak yang kebetulan lewat untuk menani kami ke Dolok Suara.

Karena seperti sering dikatakan Ketua Umum Pagesbud #SimalungunUntukIndonesia AKBP Elisben Purba, SH begini: "Anggo borsihni uhur do makkorjahon, bulung-bulung pe ra mangurupi" yang artinya "Kalau dengan setulus hati mengerjakannya, daun-daun pun bisa turut membantu", saya pun meyakini itu.(FB-
Uttok Sondi /Julvan Sinaga)
Share this article :

Post a Comment