Home » , , » Petani KJA Haranggaol Terpukul Naiknya Harga Pakan, Harga Ikan Anjlok

Petani KJA Haranggaol Terpukul Naiknya Harga Pakan, Harga Ikan Anjlok

Written By Beritasimalungun on Friday, 7 September 2018 | 17:31

KJA di Haranggaol. Foto FB Rikson Saragih
Haranggaol, BS-Para petani ikan nila budidaya keramba jaring apung (KJA) di Haranggaol, Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mengeluhkan tingginya harga pakan ikan (pelet) saat ini.

Kondisi itu diperparah lagi dengan anjloknya harga ikan nila yang saat ini hanya berkisar Rp 21.000 per kilogram (kg). Bahkan ada petani yang sudah menjual ikan nilanya dengan harga Rp 20.000 per kg.

Menurut petani ikan KJA, Rikson Saragih di Kelurahan Haranggaol, Kecamatan Haranggaol Horisan, Kabupaten Simalungun, mengatakan tingginya harga pakan ikan dipengaruhi melemahnya Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Saat ini, harga pakan ikan kami beli berkisar Rp 260.000 per sak, ukuran 30 kg. Padahal sebelumnya hanya Rp 252.000 per sak. Kenaikannya berkisar Rp 266 per kg,” jelas Rikson ketika dihubungi lewat seluler, Kamis (6/9/2018).

Kenaikan harga pakan ikan itu, kata dia, tidak didukung dengan harga jual ikan nila yang saat ini justru anjlok menjadi Rp 21.000 per kg dari harga jual sebulan yang lalu berkisar Rp 26.000 per kg.

“Harga Rp 26.000 per kg itu kami jual pada Juli lalu, dan pada Agustus sampai sekarang tinggal Rp 21.000 bahkan ada petani yang berani jual Rp 20.000 per kg,” jelas Rikson.

Rikson yang juga pengurus Asosiasi Dearma ini mengatakan, anjloknya harga ikan dan tingginya harga pakan membuat petani rugi. Karena tidak seimbang dengan biaya produksi yang dikeluarkan petani mulai dari pembelian benih ikan, pakan, tenaga kerja hingga panen.

“Idealnya harga jual ikan nila itu berkisar Rp 24.000 per kg. Baru petani dapat untung,” ujarnya.

Menurut Rikson, anjloknya harga ikan nila disebabkan over produksi. Ada beberapa oknum petani yang tidak matuhi kesepakatan bersama yang telah diikrarkan pada tahun 2016 lalu.

Waktu itu dibuat kesepakatan paska kematian ikan massal di zona Bandar Saribu, Kecamatan Haranggaol. Kematian ikan itu diindikasi oleh populasi ikan yang padat dalam satu keramba sehingga ikan kekurangan oksigen.

Dari situlah, kemudian dibuat kesepakatan yang dihadiri petani ikan KJA, unsur muspika, dan dinas terkait, bahwa tidak ada penambahan KJA atau moratorium.

Akan tetapi, lanjut Rikson, tahun 2017, beberapa oknum petani melakukan penambahan KJA ukuran pukat atau besar, kapasitas 60.000 ekor benih.

“Jumlah penambahan pukat itu lumayan banyak. Itulah yang membuat ikan menjadi berlebih (over) sementara pasar tetap. Akibatnya, harga anjlok karena barang berlimpah,” terang Rikson.

Tahun 2016, kata dia, data petani KJA se-Kecamatan Haranggaol Horisan ada berkisar 7.073 lubang (KJA) dengan rincian aktif sebanyak 4.932 lubang, tidak aktif 1.976 lubang dan tidak layak 129 lubang. Dengan jumlah kepemilikan petani sebanyak 346 kepala keluarga.

Kalau sekarang, kata Rikson, peningkatan jumlah KJA diperkirakan berkisar 10-20 persen. “Angka pastinya, kita belum punya. Tapi itulah perkiraan kami,” kata dia.

Karena itu, Rikson bersama petani ikan KJA lainnya meminta pemerintah segera menerapkan Perda yang memuat tentang penataan ruang dan batasan KJA.

“Kami tidak mau terjadi konflik horizontal di Haranggaol. Karena itu, kami meminta Pemerintah Provsu dan dinas terkait segera menerapkan Perda tersebut,” kata Rikson.(*)

Share this article :

Post a Comment