Home » , , , , , » Memahami Tema Theologia Dalam Konteks Budaya Simalungun

Memahami Tema Theologia Dalam Konteks Budaya Simalungun

Written By Berita Simalungun on Wednesday, 23 January 2019 | 12:11

 
Pada acara ini pihak yang manortor adalah dari rombongan tondong. Rombongan ini didahulukan dari acara lain dengan sebuah pesan: tondong layak dihormati. FB
Oleh : Pdt Defri Judika Purba STh

Beritasimalungun-Semalam saya melayani agenda penguburan kepada seorang warga jemaat yang sudah lanjut usia. Secara adat beliau masuk kategori: matei sayur matua. Lima orang anaknya sudah berumah tangga semua. Beliau sudah memiliki cucu dari ke-lima anaknya, bahkan sudah memiliki nono.
(Videonya Lihat di FB Ini)
Lazimnya adat horja sayur matua proses adat berjalan sesuai dengan adat kebiasaan yang ada di desa tempat saya melayani (Bahapal). Acara sudah dimulai pada malam hari sebelum penguburan yang dimulai dengan acara manortor bersama.

Pada acara ini pihak yang manortor adalah dari rombongan tondong. Rombongan ini didahulukan dari acara lain dengan sebuah pesan: tondong layak dihormati. 

Rumah mereka mungkin jauh dari tempat berduka dan karena acara bisa saja panjang, maka dengan mendahulukan mereka, maka mereka dapat lebih dahulu beristirahat.

Setelah acara manortor ini selesai, dilanjut dengan musyawarah desa untuk mengatur acara pada esok harinya. Pada musyawarah desa inilah dibicarakan apa yang bisa dibantu oleh masyarakat desa kepada keluarga yang berduka. 

Dimulai dari penyediaan konsumsi, siapa yang menggali kuburan, jenis porsa yang dipakai, jam berapa makan siang dimulai, jam berapa acara diserahkan kepada pihak gereja dll. 

Selesai acara tonggo raja, dilanjut dengan acara penghiburan dari gereja dan dari koleha. Karena acara gereja diletakkan setelah musyawarah desa, sering waktu sudah menunjukkan larut malam ( jam 21.30 WIB bahkan jam 22.00 WIB).

Esok harinya pada acara penguburan, rangkaian acara dimulai dari acara khusus keluarga, kemudian dilanjut dengan acara penghiburan kepada keluarga yang berduka (Mangiliki). Konsep penghiburan ini disesuaikan dengan norma ikatan persaudaraan yang ada pada orang simalungun (Tondong – Sanina – Boru).

Untuk mencapai tujuan dari judul tulisan ini, maka tulisan ini akan berbicara ketika rombongan boru yang datang untuk memberi penghiburan. Saya melihat ide theologis yang menarik dari moment ini.

Rombongan boru yang datang memberi penghiburan kepada tondong, tidak boleh datang dengan tangan kosong. Mereka harus datang dengan hormat (diwujudkan dengan sikap menari yang menyembah/ manrogop) dan membawa rasa hormat mereka itu dengan membawa piring kaca yang berisi uang. Uang ini tidak terlalu besar jumlahnya tetapi sudah ada bilangan adatnya. 

Uang ini diletakkan di dalam sebuah piring kaca yang sudah dialasi dengan beras, ada lembaran daun sirihnya dan ditutup dengan daun pisang. Daun pisang ini dipotong dan dicetak sesuai dengan pola piring yang dipakai.

Nah, ini dia bagian yang menariknya !

Diiringi dengan suara sarunei na marolit-olit, rombongan boru pun datang menjumpai pihak tondong. Gestur badan mereka begitu menghormati pihak tondong yang mereka jumpai. Suasana begitu mengharukan dan menggetarkan. Ada sebuah rasa hormat yang tertanam dalam bathin dalam moment ini.

Selang beberapa saat, maka pihak boru pun memohon untuk bisa datang menjumpai pihak tondong. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan meletakkan uang di atas piring kaca kehadapan tondong mereka. 

Diletakkan di atas tikar pandan berwarna putih yang sudah dialasi dengan hiou. Setelah diletakkan maka pihak tondong pun akan membukanya. Setelah dibuka - dengan isyarat tarian –ternyata mereka tidak menerimanya. 

Sadar pemberian mereka tidak diterima tondong, dengan sigap mereka mengambil kembali piring kaca dan menambah jumlah uang di dalamnya. Dalam pikiran boru, mungkin jumlah uang yang mereka berikan itu masih terlalu kecil karena itu perlu ditambah lagi. Setelah ditambah, piring kaca itu pun diletakkan kembali ke hadapan tondong. 

Tondong pun kemudian membuka kembali pemberian dari boru mereka. Setelah dilihat isinya – dengan isyarat tarian- mereka menolak kembali pemberian dari boru mereka.

Melihat apa yang terjadi, pihak boru pun pusing alang kepalang. Mereka berpikir, apalah yang harus mereka berikan kepada tondong mereka. 

Apa yang berharga sudah mereka diberikan, tetapi ternyata tidak juga diterima. Kebingungan mereka semakin bertambah dengan alunan suara sarunei yang menyayat hati. 

Di dalam kebingungan yang memuncak, mereka disadarkan bahwa masih ada yang berharga yang mereka miliki. Mereka sadar bukan jumlah uang yang ditambah yang bernilai pada tondong mereka. Apakah itu? Anak mereka sendiri. 

Maka, dengan sigap mereka pun menyorongkan anak yang mereka kasihi kepada tondong mereka. Biasanya anak mereka yang paling kecil supaya bisa diletakkan di atas tikar putih berlapis hiou yang sudah dipersiapkan. Melihat pemberian ini, maka pihak tondong pun menerimanya dengan sukacita. 

Anak ini pun kemudian dibawa pihak tondong, hiou yang diletakkan di atas tikar pandan ini pun dipakaikan kepadanya. Suara musik pun berubah dengan alunan tempo yang sedikit cepat. Pihak boru pun diterima, dan mereka larut dalam sebuah tarian bersama.

Apakah cerita sudah selesai? BELUM.

Masih ada lanjutan ceritanya, bahkan inilah sebenarnya puncak dari apa yang saya sebutkan sebagai tema theologia yang dapat dipahami secara konteks budaya simalungun. Apakah itu? PENEBUSAN. Anak yang mereka serahkan sebagai pemberian kepada tondong mereka masih ada di pihak tondong. 

Anak mereka masih kecil. Masih perlu sekolah untuk mencapai cita-citanya. Anak mereka itu adalah milik mereka, tetapi tidak bisa kembali menjadi milik mereka. Harus ada cara untuk bisa memperolehnya kembali. Bagaimanakah caranya? 

Hanya dengan satu cara yaitu “itobus”. Karena itu, mereka kembali datang kepada tondong untuk menebus anak mereka tersebut agar bisa kembali kepada mereka. Mereka menebusnya dengan hormat dengan datang membawa piring kaca yang berisi sejumlah uang. 

Bagi mereka uang adalah nomor dua yang berharga setelah anak mereka yang sudah diserahkan. Dengan bahasa yang santun, mereka memohon agar kiranya anak mereka itu diperkenankan kembali kepada mereka, karena masih mau disekolahkan lagi. 

Mendengar permintaan ini, maka pihak tondong pun dapat mengerti dan menerimanya. Panagolan mereka ini pun diserahkan kembali kepada orang tuanya, lengkap dengan sedikit uang sebagai bekal untuk melanjutkan cita-citanya.

Sampai disini, cerita pun selesai.

Hal apakah yang menarik dari cerita di atas? Bagi saya adalah thema tentang penebusan. Thema ini muncul ketika pihak boru mau menebus anak mereka yang ada pada pihak tondong. Anak itu adalah milik mereka, tetapi tidak bisa otomatis kembali menjadi milik mereka, karena itu mereka harus menebusnya.

Konsep tentang penebusan adalah salah satu konsep yang dipakai oleh rasul Paulus dalam ajarannya untuk menerangkan tentang hidup dan karya Yesus Kristus. Ada tiga konsep lagi yaitu; Pembenaran, Pengudusan dan Pendamaian. Ke-empat konsep theologia inilah yang dijelaskan Paulus dalam berbagai suratnya, terutama kitab Roma.

Kalau Paulus memakai dan menjelaskan konsep penebusan dari istilah hukum, saya memahaminya dari konteks budaya simalungun. Walau ada sedikit perbedaan tekhnis, isinya tetap sama saja. 

Apa yang dulu menjadi milik kita, untuk mengembalikannya tidaklah mudah, harus ditebus kembali. Ibarat kita menggadaikan barang di penggadaian. Barang itu masih milik kita, tetapi untuk menjadi milik kita kembali haruslah ditebus.

“Yesus adalah penebus kita”, begitulah sering kita mendengar khotbah di gereja. Lagu-lagu Kristen juga banyak menyebut Yesus sebagai penebus manusia yang berdosa.

Dan apakah artinya itu?

Artinya bisa kita pahami kalau kita membaca dan memahami Alkitab secara keseluruhan. Manusia sebagai ciptaan Allah bersama ciptaan lainnya adalah milik Allah. Tetapi karena manusia jatuh ke dalam dosa, akhirnya manusia itu jauh dari hadapan-Nya. Terusir dari taman eden.

Apakah keberdosaan manusia itu membuat manusia itu tidak lagi milik Allah? TIDAK. Manusia itu tetaplah milik Allah. Dosa tidak mengubah status manusia itu dihadapan Allah. Dosa hanya membuat hubungan manusia dan Allah itu menjadi rusak. 

Ibarat kita memiliki anak yang begitu nakal, kita marahi habis-habisan bahkan bisa kita usir dari rumah, tokh secara status dia itu tetap anak kita. Yang rusak adalah hubungan bukan status.

Manusia yang jatuh dalam dosa tersebut pun, makin jauh dari hadapan Tuhan. Walau ada kerinduan untuk memulihkan hubungan yang rusak itu kembali ( Kitab Imamat dengan upacara-upacaranya adalah bagian dari usaha ini), hubungan itu tetap tidak dapat diperbaiki. 

Sementara dari pihak Allah sendiri, manusia yang telah berdosa ini dirindukan untuk bisa kembali. Tetapi bagaimanakah menjembatani ini supaya bisa terjadi?

Hanya dengan satu cara yaitu: MENEBUS. Manusia yang adalah milik Allah walau dalam status keberdosaan sekalipun harus kembali menjadi milikNya. Caranya adalah memberikan anakNya yang tunggal (Joh.3:16). 

Dengan memberikan apa yang paling berharga yang Allah miliki ini, maka anakNya yang tunggal ini pun menebus manusia itu kembali. Dengan apakah manusia itu ditebus? “bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan emas dan perak melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus.....” ( 1 Petrus 1:18-19).

Yesus ini pun menjadi titik temu antara manusia yang mendamba dan Allah yang berprakarsa. Titik temu itu bukan dimana tetapi siapa. Titik temu pemulihan hubungan yang rusak itu adalah di dalam karya penebusan Tuhan kita Yesus Kristus.

Itulah arti dari: “Yesus adalah penebus kita”.

“Halani buei ni dousangku, sai hona uhum au tama
Hape roh Jesus ipadomu au use pakon Naibata
Madurus do daroh-Ni in, mambahen pardomuan in,
Mambahen pardomuan in.
( Haleluya 129:2)

Bahapal Raya, 23 Januari 2019.
Share this article :

Post a Comment