}); Menakar Plus Minus WD dan RHS | BeritaSimalungun
Home » , » Menakar Plus Minus WD dan RHS

Menakar Plus Minus WD dan RHS

Written By Beritasimalungun on Tuesday, 20 August 2019 | 09:31

MWD dan RHS
Beritasimalungun-Pilkada Kabupaten Simalungun akan berlangsung September 2020 mendatang. Territorial Kabupaten Simalungun sangat luas yang terdiri dari 32 kecamatan dan sangat plural dengan ragam agama, budaya dan sumber daya. 

Jika merujuk pada jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2019 di Simalungun, yaitu 625.916 pemilih yang tersebar di teritorial wilayah Simalungun atas dan bawah. Artinya, Pilkada Simalungun 2020 akan melahirkan medan pertarungan yang mentautkan sentimen suku, agama dan ketokohan sekaligus.

Situasi ini bisa berubah apabila seluruh kandidat (bupati) bersuku Simalungun dipasangkan dengan wakil bupati yang bukan bersuku Simalungun. Serta, tercipta­nya pasangan calon Kristen-Islam atau sebaliknya. Saat itulah preferensi pemilih akan ditentukan oleh ketokohan, modal ekonomi, integritas, pengalaman dan rekam jejak selama berkarir sebelum maju menjadi kandidat.

Hingga pertengahan Agustus 2019 ini, baru ada dua bakal calon (balon) Bupati Simalungun yang sudah bersosialisasi di Kabupaten Simalungun. Pertama ada St Drs Irjen Pol (P) Maruli Wagner Damanik (MWD) MAP yang memilih maju lewat jalur perseorangan (independen). 

Kemudian ada St Radiapo Hasiholan Sinaga (RHS) SH, perantau asal Tigarunggu yang sukses sebagai pengusaha di Kota Batam. Keduanya kini tengah gencar bersosialisasi di Kabupaten Simalungun. RHS yang merupakan kader PDIP ini direncanakan maju lewat usungan Parpol.

Menyikapi kedua balon Bupati Simalungun ini, Pengamat Politik dan Kebijakan Publik Kabupaten Simalungun-Kota Pematangsiantar, Rikanson Jutamardi Purba memiliki pengamatan tersendiri kepada kedua balon Bupati Simalungun tersebut.

Berikut ini penilaian Rikanson Jutamardi Purba terhadap MWD dan RHS yang dibagikannya dilinimasa media sosial miliknya. 
 
MWD Kuat di Strategi dan Taktik serta “Leadership”,

RHS Kuat di BUMDes dan (semacam) PD Agro Madear serta Logistik.

BARU saja petani cabe menikmati harga jual tingkat petani yang tinggi, Rp 40.000/Kg. Tapi bila harga jual tingkat petani tinggi, konsumenlah yang mengeluh. Jadi, diperlukan intervensi Pemerintah (Daerah).

Demikian juga produk tanaman keras. Sawit, misalnya. Ketika harga jual tingkat petani hanya Rp 600/Kg, petani/pekebun mengeluh. Idealnya di level Rp 1.100/Kg. Untunglah Pemerintahan Jokowi berupaya meningkatkan B20 menjadi B30. Mudah-mudahan harga sawit membaik lagi.

Tapi, yang SEBENARNYA perlu dibasmi adalah kartel sawit. Harga sangat ditentukan oleh para “market leaders” yang punya kebun ratus ribu Ha itu. Amerika dan Eropa pun bikin restriksi. Nggak usah jauh-jauhlah kita urus dulu yang di Simalungun ini saja.

Bupati baru (entah MWD, entah RHS) harus MELAKUKAN SESUATU untuk hal-hal seperti ini. Kalau pemerintahan yang sekarang, “horas ma”!

RHS punya pengalaman lebih untuk mengembangkan BUMDes dan PD (semacam) Agro Madear dibandingkan dengan MWD. MWD topnya dipenciptaan pemerintahan yang BTP dan akuntabel. (BTP = bersih-transparan-profesional). Bahas kerennya: “good and clean government”.

RHS akan lebih “ligat” jika didukung semacam “WanHat” atau “think tank” yang diisi orag-orang yang g kompeten di bidang masing-masing.

MWD, karena beliau adalah mantan Tenaga Ahli Pengkaji di Lemhannas RI, tentu sangat menguasai strategi dan taktik. Beliau pun punya “leadership” yang kuat.

Perbedaan meraka ada di logistik. RHS relatif lebih kuat jika dibandingkan dengan MWD. Maklum, RHS punya bisnis atau layanan di 4 (empat) bidang (“core”): BPR, perkebunan sawit, property dan Sekolah Global Nusantara. MWD terkenal sebag jenderal Polisi yang bersih.

Yang lain??? Yang lain bolehlah sekadar meramaikan lapangan. RNT sebenarnya potensial, tapi tidak untuk sekarang ini. Belum sekarang waktunya! AS adalah “gadis semlohay” yang sangat atraktif. Bukan “orang ketiga” alias cemceman, melainkan “orang kedua”. CSR??????

Berikut ini sekilas tentang rekam jejak Rikanson Jutamardi Purba. Dia Staf ahli di DPRD Kabupaten Simalungun, Pernah bekerja sebagai Managing Director di Badan Usaha GKPS, Pernah bekerja sebagai Fin and Adm Deputy Director di RS. Horas Insani, Pernah bekerja sebagai Finance and Accounting Manager di Garama Group (Developer).

Kemudian pernah bekerja sebagai Chief Accountant di PT. Telekomindo Primakarya, Pernah bekerja sebagai Finance and Accounting Manager di TELEPAGE, Pernah bekerja sebagai Manager di Bank (BII) Bank International Indonesia, pernah bekerja sebagai Consultant di MAS Associates Management Consultant.

Riwayat Pendidikan yakni Jurusan Akuntansi di Padjadjaran University, Jurusan Paging Business Management System di Singapore Telecom International, Jurusan Audit for FX Trading & Money Market (Singapore) di Tommy Seah and Partners,  Pernah belajar di SMA 13 Bandung. (Asenk Lee Saragih)
 
Share this article :

Post a Comment