}); Wagner Damanik Mengenang Sipolha “Tanoh Hasusuran” | BeritaSimalungun
Home » , , , , , , , » Wagner Damanik Mengenang Sipolha “Tanoh Hasusuran”

Wagner Damanik Mengenang Sipolha “Tanoh Hasusuran”

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 6 November 2019 | 08:56

St Irjen Pol (P) Drs M Wagner Damanik MAP dengan Istri Br Purba bersama dua anaknya.(Foto IST FB)
#SipolhaHasursuranku-HabonarondoBonaFilosofiku#

Beritasimalungun-Irjen Pol (P) Drs M Wagner Damanik MAP, Bakal Calon (Balon) Bupati Simalungun Pilkada September 2020 mengenang tanah kelahirannya Sipolha, Simalungun yang merupakan  kejadian Revolusi Sosial (1946) yang terjadi di Simalungun yang cukup “mengerikan” itu. Membaca peristiwa itu, Wagner Damanik terpanggil untuk membangun Tanah Leluhur dengan Slogan “Datang Memberi Bukan Untuk Mengambil”. 

Dengan Gerakan Bangun (GerBang) Simalungun, Wagner Damanik mengisahkan  Revolusi Sosial (1946) sebagai pemicu untuk “turun gunung” ke tanah leluhur, dimana warisan nilai filosofis “Habonaron Do Bona” itu telah mulai tergerus, saat itulah Dia memutuskan untuk “turun gunung” guna membawa dan menawarkan nilai itu agar kembali hidup dan berkembang baik di tengah-tengah masyarakat Simalungun.

“Sipolha bagi saya pribadi adalah tempat untuk bisa memahami dan mengerti bagaimana hidup ini harus dijalani dan dimaknai. Disanalah kedua orang tuaku dimakamkan. Saya selalu dibawa kepada sebuah perenungan yang mengajarkan bagaimana saya harus menjalani kehidupan ini,” kata Wagner Damanik dalam sebuah tulisan di Media Sosial miliknya.

“Sipolha bagi kami tidak hanya sekedar sebuah kampung yang berada di tepian Danau Toba, namun lebih jauh dari itu disamping banyak menyimpan misteri juga mengingatkan kami bagaimana luar biasanya Tuhan merancang dan merangkai kehidupan yang begitu indah dalam keluarga besar kami Sipolha,” sebutnya.

Wagner Damanik mengisahkan, Revolusi Sosial (1946) yang terjadi di Simalungun saat itu bagaikan petir di pagi hari. Tidak menyangka bahwa gerakan tersebut bermaksud untuk “menghabisi” keluarga-keluarga bangsawan termasuk “Partuanon Sipolha” oleh sekelompok orang yang juga sebahagian penduduk Sipolha itu sendiri. 

“Menurut buku Amarah oleh Erond Damanik, korban pembantaian terbanyak dari peristiwa tersebut adalah Partuanon Sipolha. Tulisan ini tidak membicarakan situasi revolusi secara panjang lebar, biarlah itu masuk dalam sebuah catatan sejarah saja, hanya yang dibicarakan adalah dampaknya saja,” ujar WD, sebutan Wagner Damanik.

WA menerangkan, akibat dari peristiwa ini, banyak keluarganya yang menjadi korban dan menyingkir keluar dari Sipolha karena ketakutan. Bahkan pasca peristiwa tersebut hampir semua golongan partuanon di Simalungun termasuk Sipolha tidak berani menampakkan identitas jati diri yang sebenarnya. 

“Bapak saya Alm Tuan Hasian Waldin Damanik adalah bagian yang mengalami langsung peristiwa tersebut. Sejak itulah orang tua saya memutuskan kota Tebing Tinggi menjadi pilihannya untuk tinggal setelah berkeluarga. Saya lahir dan besar di kota itu. Belakangan ini saya baru tahu bahwa nama saya Wagner diambil dari nama seorang “beherder” (pengelola) Sekolah Zending di Huta Namora Humbang tahun 1910 yang bernama Tuan Wagner. Bapak saya memang pernah menikmati pendidikan di Sekolah Zending Sipoholon tersebut,” cerita WA.

“Tidak dapat dipungkiri setiap kali saya menginjakkan kaki di Sipolha, dalam rangka menziarahi makam Ompung Tuan Manik Sipolha dan orang tua saya, kadang terlintas dibenak saya seperti apa orang tua kami dulu menghadapi peristiwa tersebut. Bahkan informasi yang saya dengar, keluarga yang melarikan diri dari kejaran Barisan Harimau Liar (BHL) dibawah pimpinan Saragih Ras terutama kaum laki-lakinya berniat kuat masuk tentara dan polisi, tentu kita bisa memahami tentang niat mereka memasuki profesi ini,” terangnya. 

Disebutkan, seiring berjalannya waktu, para orang tua dari Wagner Damanik ini sudah banyak yang terlibat dalam pelayanan di Gereja, bahkan ada yang menjadi sintua, mereka semakin menyadari sepenuhnya bahwa pengampunan adalah senjata yang paling ampuh untuk bisa menerima kondisi ini.

“ #Forgive but not forget# begitulah Nelson Mandela memaknai hidupnya. Demikian juga para orang tua kami memaknai peristiwa yang pernah terjadi dalam kehidupannya. Pengampunan memang tidak akan pernah mengubah masa lalu akan tetapi mampu mengubah masa depan. Mereka juga sudah mampu menerima dan tinggal serumah di Jakarta dengan para putra-putri yang konon orang tuanya menjadi anggota BHL untuk disekolahkan dan dipekerjakan,” sebutnya.
Sipolha, Simalungun. IST
Menurut WD, tidak ada sesuatu itu kebetulan, semua atas kehendakNya. Beberapa keturunan dari Sipolha cukup banyak juga yang berhasil seperti halnya Mayjen TNI Purn Piter Damanik yang pernah Duta Besar Philippina, Alm Brigjen Pol Muller Damanik SH selaku Kepala Dinas Keuangan Polri yang juga pernah menjabat Rektor USI, Ir Jagunung Damanik mantan Manajer Pertamina Wilayah Sumatera Bagian Utara, dan Alm Jabanten Damanik mantan Walikota Siantar dan Bupati Simalungun dua periode termasuk Prof Dr Kamrol Damanik, dan banyak lagi yang lainnya.

“Saya sendiri malah memaknai peristiwa ini, kalau tidak ada revolusi sosial, barangkali kami tidak ada apa-apanya. Kami masih tinggal di Sipolha, dan tidak akan ada kemajuan buat keluarga kami. Kami yakini bahwa setiap peristiwa pasti ada hikmahnya, tinggal bagaimana kita menyikapi peristiwa tersebut. Orang tua kami selalu berpesan agar tetap kompak dan bersatu “ulang bulih marsipaetek-etekan”, tetap belajar dan bekerja keras,” kata WD.

“Kita tidak mau peristiwa ini terulang lagi, kita mau Simalungun ke depan harus semakin hebat “Let’s make Simalungun great again”. Hidup nyaman setelah pensiun pernah menjadi pilihan dalam hidup saya, begitu juga keluarga. Toh selama ini apa yang telah dipercayakan kepada saya sebagai seorang polisi profesional sudah saya laksanakan dengan baik. Saatnya saya beristirahat setelah sekian lama bekerja keras.! Itulah beberapa pergulatan bathin yang pernah saya alami,” tambah WD. 

“Tetapi setelah melihat situasi dan kondisi di tanah leluhur saya, dimana warisan nilai filosofis kita “Habonaron Do Bona” itu telah mulai tergerus, saat itulah saya memutuskan untuk “turun gunung” guna membawa dan menawarkan nilai itu agar kembali hidup dan berkembang baik di tengah-tengah masyarakat Simalungun. Hal ini memang tidak mudah, butuh pengorbanan dan bahkan penderitaan, namun kalau dilakukan dengan tulus dan ikhlas semuanya akan ringan, yakini masyarakat juga menginginkan adanya perubahan. Oleh karena itu mari kita bulatkan tekad dan semangat dalam #GerBang_Simalungun# sebagai wujud panggilan tanah leluhur dengan satu komitmen “Datang Memberi Bukan Untuk Mengambil”. Jayalah Simalungunku. Salam Habonarondo Bona,” tutup WD. (Asenk Lee Saragih)
 
Share this article :

Post a Comment