}); Politik Kemanusiaan | BeritaSimalungun
Home » , , » Politik Kemanusiaan

Politik Kemanusiaan

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 5 February 2020 | 09:34

Oleh: Birgaldo Sinaga
ILUSTRASI-Kakek Samirin di Simalungun saat dikunjungi Sekda Pemkab Simalungun. Dok Beritasimalungun.
Beritasimalungun-Saya sering sekali mendapat pesan dari banyak follower. Pesannya meminta saya menjauh dari dunia politik. Duniamu bukan di politik Bang Bir. Duniamu di aksi kemanusiaan. Politik itu penuh siasat muslihat. Politik tidak cocok dengan Bang Bir.

Begitu rerata pesan yang sangkut di kolom komentar dan inbox saya.

Tidak salah memang. Politik memang siasat. Politik memang pertarungan keras. Idealnya memang pertarungan gagasan. Ide. Program. Visi.

Kodrat sebuah pertarungan sialnya selalu menumbalkan nilai ideal yang hendak dicapai itu sendiri. 

Apa itu? 

Kecurangan. Kebohongan. Keserakahan. Ketamakan. Manipulasi. Abuse of power. Money politic. Dan seabreg aksi tipu2 lainnya. Yang muaranya adalah bagaimana merebut kekuasaan. Dengan cara haram sekalipun. Dengan menghalalkan segala cara sekalipun.

Saya faham, realitas dunia politik yang dibaca teman2 itu benar sekali. Rupa, bentuk, wajah dan jiwa dunia politik negeri kita masih berbentuk jauh dari ideal. 

Demokrasi sejatinya  alat mencapai tujuan mencerdaskan dan memajukan bangsa. 

Sayangnya demokrasi kita telah menjadi alat membentuk kartel, oligarki, kelompok yang ingin menguasai sumber daya negara. 

Akibatnya, demokrasi yang seharusnya melahirkan pemikir publik, malahan melahirkan pelahap kepentingan publik.

Saya bukan sekedar penulis, pegiat media sosial yang mengamati dari luar lingkaran. Saya tahu karena ada dalam lingkaran hutan belantara politik itu. Ikut berjumpalitan bertarung.

"Duniamu tidak cocok di politik Bang Bir. Keluarlah dari partai politik. Bang Bir lebih pas di aksi kemanusiaan".

Ada beberapa tokoh politik dunia yang saya kagumi. Salah satunya Mahatma Gandhi. 

Gandhi lahir di Porbandar, Gujarat, India Britania, 2 Oktober 1869.

Gandhi  adalah seorang pemimpin spiritual dan politikus dari India. 

Gandhi adalah salah seorang yang paling penting yang terlibat dalam Gerakan Kemerdekaan India. 

Ia adalah aktivis yang tidak menggunakan kekerasan, mengusung gerakan kemerdekaan melalui aksi demonstrasi damai. 

Saat remaja, Gandhi pindah ke Inggris untuk mempelajari hukum. Setelah dia menjadi pengacara, dia pergi ke Afrika Selatan, sebuah koloni Inggris.

Di sana ia mengalami diskriminasi ras yang dinamakan apartheid. Gandhi kemudian memutuskan untuk menjadi seorang aktivis politik. 

Tujuannya  agar dapat mengubah hukum-hukum yang diskriminatif tersebut. Gandhi pun membentuk sebuah gerakan non-kekerasan.

Ketika kembali ke India, Gandhi ikut terlibat dalam  proses kemerdekaan India dari kolonial Inggris.

Gandhi adalah seorang Hindu namun dia menyukai pemikiran-pemikiran dari agama-agama lain termasuk Islam dan Kristen. 

Dia percaya bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak yang sama dan hidup bersama secara damai di dalam satu negara.

Pada 1947, India menjadi merdeka dan pecah menjadi dua negara, India dan Pakistan. Hal ini tidak disetujui Gandhi.

Prinsip Gandhi, satyagraha, sering diterjemahkan sebagai "jalan yang benar" atau "jalan menuju kebenaran", telah menginspirasi berbagai generasi aktivis-aktivis demokrasi dan anti-rasisme seperti Martin Luther King, Jr. dan Nelson Mandela. 

Gandhi sering mengatakan kalau nilai-nilai ajarannya sangat sederhana, yang berdasarkan kepercayaan Hindu tradisional: kebenaran (satya), dan non-kekerasan (ahimsa).

Pada 30 Januari 1948, Gandhi dibunuh seorang lelaki Hindu yang marah kepada Gandhi karena ia diduga terlalu memihak kepada Muslim.

Apa yang saya pelajari dari Gandhi?

Politik yang baik akan menghasilkan kemanusiaan. Seperti sila kedua Pancasila. Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Sebaliknya, politik yang jahat akan melahirkan tragedi kemanusiaan. Bisa skalanya menjadi peperangan. Bisa juga kebangkrutan negara. Ujungnya malapetaka kemiskinan.

Gandhi seorang yang lembut hati. Ia pemikir besar. Bapak Bangsa India. Ia melawan diskirimiasi dan penjajahan dengan jalan anti kekerasan. Jalan diam. Jalan sunyi nan senyap. 

Gandhi tahu bahwa apa yang diperjuangkannya tidak mudah. Terlebih banyak sekali penentangnya yang fanatik agama. 

Tapi apakah Gandhi mundur dan menyerah? No way. Tidak kawan. Hasilnya India merdeka sekalipun Gandhi kehilangan nyawanya sendiri.

Saya tahu peta jalan di hutan belantara politik itu tidak mudah. Banyak ranjau. Penuh onak duri. Bila kita ingin tidak kena ranjau, menjauhlah dari jalan itu. Begitu nasihatnya.

Buat saya terjun ke politik adalah jalan saya merawat kemanusiaan dalam skala lebih besar lagi. 

Saya bisa menggendong dua bocah korban bom Samarinda Alvaro dan Trinity hingga ke Malaysia dan Guangzhou dengan kedua tangan saya sendiri. 

Saya bisa menggendong Ibu Meiliana dari penjara Tj Gusta ke rumahnya dengan punggung saya seorang diri.

Saya bisa menggendong Yesaya Fermindi Hohu seorang pejuang kanker dengan bahu saya sendiri.

Saya bisa memapah Kakek Samirin di Simalungun dengan kedua kaki saya sendiri.

Tapi hanya sampai di sana perhentiannya. 

Lalu apa selanjutnya?

Bagaimana  andai ada kasus2 serupa lainnya? Apakah tenaga, energi, materi dan waktu saya masih ada?

Saya sering menyuarakan tentang apa yang saya kerjakan di partai tempat saya berdiri. 

Tentang Kakek Samirin yang dipenjara 64 hari gegara getah karet sisa senilai setengah  bungkus rokok itu, saya berdiskusi dengan Taufik Basari. 

Taufik Basari seorang anggota DPR di Komisi 3  NasDem. Ia anak muda yang punya catatan baik soal HAM. Sejak mahasiswa ia aktif melawan ketidakadilan. Saya minta kepadanya agar kasus Kakek Samirin dipastikan tidak terjadi lagi. Itu mengoyak rasa keadilan publik.

Tentang kasus korban bom terorisme, saya berdiskusi dengan teman2 saya di DPR lintas komisi seperti Willy Aditya, Martin Manurung dan Charles Meikiansyah. 

Saya berharap agar ada UU tentang korban terorisme. Ini penting agar payung hukum untuk korban teroris seperti Alvaro dan Trinity bisa  mendapat perlindungan utuh dari negara.

Soal Yesaya pejuang kanker, saya juga berdiskusi dengan Ibu Lestari Moerdijad, Wakil Ketua MPR NasDem. Saya menitip pesan agar negara menghadirkan rumah sakit kanker khusus selain Dharmais. 

Sama persis seperti rencana Ahok mendirikan RS Kanker di Sumber Waras. Disediakan apartemen bagi pasien. Saya mendengar betapa antrian pasien bisa berbulan2 untuk mendapat perawatan di Dharmais. Juga soal penginapan orang luar daerah saat berobat ke Jakarta. Saya titip harapan itu pada Ibu Lestari.

Saya percaya jalan politik itu harus berdasar pada nilai kemanusiaan. Kemanusiaan adalah muara dari semua anak sungai tindakan politik itu sendiri. Tidak boleh dibengkokkan atau dibelokkan. Ia harus lurus menuju kemanusiaan itu sendiri. Ada dignity kemanusiaan di sana.

Tidak lama lagi saya akan menua. Semua kita akan ke sana. Menua.  Kita berkejaran dengan waktu. Berlomba dengan waktu menjalani garis tangan hidup kita masing2. Memberi arti bagi Ibu Pertiwi. Sekuatnya. Semanfaatnya.

Dan saya yakin, di Partai NasDem sekalipun saya cuma remahan rengginang saja,  saya bisa bermanfaat bagi kemanusiaan. Bagi Indonesia Raya. Utuh. Penuh. Salam perjuangan penuh cinta. (Penulis Adalah Penggiat Media Sosial)
Share this article :

Post a Comment