}); Krisis Bahan Pokok atau Krisis Iman? | BeritaSimalungun
Home » , , , » Krisis Bahan Pokok atau Krisis Iman?

Krisis Bahan Pokok atau Krisis Iman?

Written By Beritasimalungun on Sunday, 8 March 2020 | 08:47

Foto Kolase Youtube

Oleh: St Drs S. Sahala Tua Saragih

"Tetapi Sesungguhnya Mereka Busunglapar Secara Rohaniah"

Beritasimalungun-Sempat sangat lama banyak negara, termasuk banyak orang di negeri ini, terheran-heran karena Indonesia tak bisa dirasuki Covid-19 atau yang lebih dulu populer dengan istilah virus korona. 

Akan tetapi pada Senin siang (2-3-2020) Presiden Joko Widodo mengungkapkan, ada seorang ibu berusia 64 tahun dan putrinya (31 tahun) ternyata positif menderita penyakit Covid-19 yang disebabkan virus korona baru. Mereka sedang dirawat di Rumahsakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta.

Tak lama kemudian banyak orang berduit di Jakarta dan sekitarnya serta di kota-kota besar lainnya di Pulau Jawa, termasuk di Arcamanik, Kota Bandung, kalap berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan. Orang yang sok "nginggris" menyebutnya "panic buying". 

Mereka membeli sebanyak-banyaknya bahan pokok (beras, minyak goreng, gula, dan mi instan). Tidak hanya itu, banyak pula orang berduit memborong masker. 

Padahal, pejabat Badan Kesehatan PBB (WHO), Menteri Kesehatan, dan para dokter lainnya sudah berkali-kali menegaskan, orang sehat tak perlu (tak butuh) masker. Akibatnya, banyak orang sakit (bukan covid-19) yang rutin menggunakan masker menjadi korban kekalapan orang-orang berduit yang sangat egoistis itu.

Mereka itu sedang dilanda krisis kesehatan jasmaniah atau krisis rohaniah (iman)?

Seperti biasa, bermunculanlah orang-orang yang aji mumpung, si raja tega, mengambil kesempatan dalam kesempitan, memeras orang-orang yang sedang dilanda penyakit, terutama penyakit psikologis (dilanda ketakutan yang berlebihan atau paranoid). 

Padahal, Presiden Jokowi dan para pejabat pemerintah lainnya sudah menyatakan, persediaan masker dan bahan pokok lebih daripada cukup. 

Bahkan kebutuhan pokok hingga Idul Fitri (Lebaran) pun pada 24-25 Mei 2020 cukup. Jadi, warga masyarakat tak perlu perlu kalap berbelanja, main borong masker dan barang kebutuhan pokok sehari-hari.

Sebenarnya orang-orang itu sedang dilanda krisis ekonomi (bahan pokok kebutuhan sehari-hari) atau krisis iman?

Tidak hanya itu. Kenyataan yang paling parah adalah muncul orang-orang yang sangat tak berperikemanusiaan, jahat sekali. Mereka memborong masker sebanyak-banyaknya, lalu menimbunnya, kemudian dijual secara langsung dan "online" (dalam jaringan) dengan harga yang tak masuk akal. 

Sebelum pengumuman Presiden itu, ada masker merek tertentu satu kotak (berisi 50 buah) berharga Rp 25.000 saja. Tiba-tiba mereka naikkan menjadi Rp 350.000/kotak (naik 1.400%). Bayangkan!

Dalam sebuah siaran berita televisi Jakarta terungkap, masker merek tertentu semula hanya Rp 190.000/kotak. Setelah pengumuman Presiden itu harganya meroket berkali-kali. 

Mula-mula naik menjadi Rp 500.000/kotak, lalu naik lagi menjadi Rp 750.000/kotak, naik terus, Rp 1.000.000/kotak, meroket lagi, Rp 1.250.000/kotak, dan akhirnya Rp 1.400.000/kotak (naik 736,84%). Bayangkan! Pelaku tindak kejahatan itu ada yang berstatus mahasiswa (perempuan dan laki-laki), ada pedagang, ada PNS (Pegawai Negeri Sipil), bahkan ada pedagang bakso di Madiun, Jawa Timur.

Sesungguhnya orang-orang jahat itu sedang dilanda krisis ekonomi atau dilanda krisis iman yang sangat parah?

Mungkin Anda (yang terhormat) masih ingat sebuah kisah menarik ribuan tahun silam. Dalam masa eksodus (keluaran) dari Mesir menuju Tanah Kanaan, ketika berkemah di Rafidim, bangsa Israel dilanda krisis air minum. 

Mereka marah besar kepada pemimpin mereka, Musa. Bahkan mereka mau membunuh Musa dengan melemparinya dengan batu. Mereka menyalahkan Musa dengan berkata, “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami, dan ternak kami dengan kehausan?” (Keluaran 17: 3b).

Hal yang paling parah, bangsa bebal yang sedang dilanda amnesia massal itu sampai-sampai nekat mencobai Tuhan dengan berkata, “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” (Keluaran 17: 7b).

Sesungguhnya umat Israel itu sedang dilanda krisis air minum atau krisis rohani (iman)? Pasti mereka sedang menderita krisis iman yang sangat parah, sudah sekarat. Andaikata iman mereka sehat, mereka tentu mengingat dan bisa menghitung berbagai berkat dan keajaiban Allah bagi mereka sejak keluar dari Mesir hingga tiba di Rafidim. 

Seandainya mereka mau dan sanggup menghitung semua berkat dan mukjizat Allah yang telah mereka nikmati sebelumnya, tentu mereka sangat percaya bahwa Tuhan pasti memberi mereka air minum. Soal waktunya, ini urusan-Nya. 

Bagi Allah krisis air minum itu hanyalah hal yang kecil sekali. Laut Teberau saja bisa dibelah-Nya secara ajaib dalam tempo singkat, apalagi krisis air minum.

Kini tanyalah diri masing-masing, ketika menghadapi masalah besar atau kecil, apakah Anda (yang terhormat) langsung sangat takut (kuatir), berpikir negatif, tak teguh di dalam Tuhan, dan tak bersukacita? 

Jawabannya, simaklah pesan Rasul Paulus dalam suratnya ke jemaat Filipi (4: 1-8)! Ketika dilanda pencobaan yang Anda anggap sangat besar, pernahkan Anda meragukan keberadaan dan kekuasaan Tuhan dengan berkata, “Apakah Tuhan masih ada atau tidak? Apakah Tuhan masih berkuasa atau tidak?”

Masih ingatkah perkataan Yesus Kristus, bahwa mengikut Dia berarti menyangkal diri dan memikul salib? Mengikut Kristus niscaya menderita. 

Paulus pernah menulis surat kepada jemaat Filipi yang berbunyi, “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.” (Filipi 1: 29).

Dalam suratya ke jemaaat Korintus, Paulus juga pernah menulis demikian, “Pencoban-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. 

Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10: 13).

Kini banyak nian orang yang sangat takut dan peduli terhadap kebutuhan jasmaniah namun tak peduli terhadap kebutuhan rohaniahnya. Banyak orang yang makmur secara jasmaniah namun sangat miskin secara rohaniah. 

Banyak orang yang sangat sehat secara jasmaniah tetapi mereka sesungguhnya busung lapar secara rohaniah. Sayangnya, mereka tak sadar dan peduli terhadap krisis (sakit) iman mereka yang sesungguhnya sudah sekarat.

Johnson Oatman dan Edwin Othello Excell tahun 1897 pernah mencipta lagu yang sangat bagus yang berjudul, “When upon Life’s Billows/Count Your Blessings” (dalam Kidung Jemaat berjudul, “Bila Topan K’ras Melanda Hidupmu”). 

Dalam ayat 1 tertulis, “Bila topan k’ras melanda hidupmu, bila putus asa dan letih lesu, berkat Tuhan satu-satu hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasih-Nya. Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau ‘kan kagum oleh kasih-Nya. Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasih-Nya.”

Kedua komponis hebat itu dalam ayat 4 juga menulis, “Dalam pergumulanmu di dunia, janganlah kuatir, Tuhan adalah! Hitunglah berkat sepanjang hidupmu, yakinlah, malaikat menyertaimu! 

Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau 'kan kagum oleh kasih-Nya. Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasih-Nya."
Hendaklah kita rajin, pintar, dan tekun menghitung berkat-Nya yang telah kita nikmati selama ini, bukan menghitung berkat yang tidak/belum dianugerahkan-Nya kepada kita! ***(Penulis Adalah Sintua di GKPS Bandung, Juga Dosen Sejior Fikom di Unpad)
Share this article :

Post a Comment