. Warga Sipoldas Produksi Lidi Pelepah Sawit Sebagai Mata Pencaharian Tambahan | BeritaSimalungun
Home » , , » Warga Sipoldas Produksi Lidi Pelepah Sawit Sebagai Mata Pencaharian Tambahan

Warga Sipoldas Produksi Lidi Pelepah Sawit Sebagai Mata Pencaharian Tambahan

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 4 March 2020 | 17:18

Bisa Hasilkan 10 Kg Sehari
Prihatini (49), warga Desa Perkebunan Milano Afdeling 2 Kecamatan Marbau, Labura. “Sudah 10 tahun saya mengarit lidi. Saya dibantu anak dan terkadang tetangga. Reta-rata sehari dapat 20 kg lidi," kata Prihatini.(IST)
Sipoldas, BS-Warga Sipoldas, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun setahun belakangan menekuni pembuatan lidi dari pelepah sawit. Kini produksi lidi pelapah sawit dari Sipoldas dan desa sekitarnya bisa mencapai dua mobil pikap datsun setiap pekannya. Harga lidi pelepah sawit dari warga ke penampung Rp 3.000/ Kg atau naik Rp 200 dari harga sebelumnya Rp 2.800/Kg.

R Br Purba (60), warga Sipoldas kepada Beritasimalungun.com, Rabu (4/3/2020) menceritakan, kini banyak warga Sipoldas dan des asekitarnya menggeluti pembuatan lidi pelapah sawit. Bahan bakunya dari arela Perkebunan Sawit milik PTPN V Marjandi yang lahannya sampai hingga ke Sipoldas, Marjandi, Panei Tongah, Bagadu, Simpang Raya. 

“Sekarang ini banyak ibu-ibu seusia saya menekuni pembuatan lidi pelepah kelapa sawit. Usai pensiun dari guru, untuk mengisi waktu saya meluangkan waktu membuat lidi. Karena mencangkul tak kuat lagi. Jadi mengisi usia pensiun ini dengan membuat lidi,” ujar R Purba.

Menurutnya, tidak hanya para Inang (usia lansia), bahkan ada sekeluarga menekuni secara serius membuat lidi sebagai mata pencaharian mereka. Kini “marlidi” sudah ditekuni banyak warga Sipoldas dan sekitarnya karena harganya lumayan yakni Rp 3.000/Kg.

“Ada keluarga yang sejak pagi hingga sore membuat lidi di areal perkebunan itu. Bahkan karyawan perkebunan itu juga membantu para warga menjatuhkan pelepah sawit yang sudah tua untuk diambil lidinya. Profesi membuat lidi ini juga membantu warga untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga menunggu panen padi sawah mereka,” ujar R Purba.

“Saya aja bisa membeli pohon natal saya dari hasil menjual lidi yang saya tekuni dari Agustus 2019 lalu. Saya membuat lidi hanya pada waktu senggang saja mengisi waktu. Lumayan untuk jajan “Pahompu” sekolah. Juga membuat badan sehat olahraga jalan kaki menuju kebun sawit. Dalam seminggu saya kadang dua sampai tiga hari membuat lidi,” kata R Purba.

Rumah Tangga

Sementara di Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) Provinsi Sumatra juga dikenal sebagai kawasan penghasil sawit. Masyarakat di pedesaan maupun di perusahaan perkebunan kelapa sawit banyak memanfaatkan pelepah sawit untuk diambil lidinya. 

Produksi lidi sawit memberikan dampak ekonomi yang positif bagi petani sawit dan buruh tani di perkebunan. Selain itu, komoditas ini membuat petani sawit mendapat penghasilan tambahan.

Salah satunya adalah Prihatini (49), warga Desa Perkebunan Milano Afdeling 2 Kecamatan Marbau, Labura. “Sudah 10 tahun saya mengarit lidi. Saya dibantu anak dan terkadang tetangga. Reta-rata sehari dapat 20 kg lidi," kata Prihatini.

Katanya, harga lidi berubah-ubah. Baru-baru ini tembus hingga Rp 2.000 per kg. Pernah juga Rp 1.600 per kg dan bahkan dulu hanya Rp 1.200 per kg. Lidi setelah diarit dijemur terlebih dahulu. Jika tidak dijemur, harga lebih murah.

“Satu hari kering kalau panas. Lumayanlah, apalagi saat ini harga bawang dan cabai lagi naik. Selain itu sawit lago trek meski harganya naik. Membuat lidi sudah menopang ekonomi keluarga," katanya.

Ekspor 

Perjalanan ekspor lidi atau yang dikenal dengan nama Broom Stick yang berasal dari kelapa sawit semakin menjanjikan saat saja. Berbagai negara melakukan pemesanan kepada para eksportir lidi di Sumatera Utara (Sumut).
Karantina Pertanian Belawan pada September 2019 lalu telah memfasilitasi ekspor lidi ini sebanyak 47 ton dengan nilai berkisar Rp 197 juta ke negara tujuan Pakistan.(Istimewa)
Seperti yang dilakukan petugas Karantina Pertanian Belawan pada September 2019 lalu telah memfasilitasi ekspor lidi ini sebanyak 47 ton dengan nilai berkisar Rp 197 juta ke negara tujuan Pakistan.

“Tidak hanya dijadikan sapu. Lidi ini juga di negara tujuan dijadikan sebagai bahan baku pembuatan dupa untuk keperluan sembahyang. Bahan baku asbes dan obat nyamuk. Itu informasi yang kami peroleh dari ekspotir lidi yang ada di Sumut,” kata Kepala Karantina Pertanian Belawan, Hasrul, seperti dikutip dari SuaraTani.com.

Disebutkan, berdasarkan data Indonesia Quarantine Full Automation System (IQFAST), selama bulan Januari hingga awal September 2019, Karantina Pertanian Belawan sudah mensertifikasi 228 kali atau sebanyak 24.765 ton lidi senilai Rp 104 miliar.

Lidi-lidi ini sudah diekspor ke berbagai negara seperti Afganistan, China, Malaysia, Mauritius, Nepal, Pakistan dan Vietnam.

“Kita berharap lidi ini tidak hanya diekspor ke negara-negara yang sudah rutin meminta lidi Indonesia akan tetapi ada negara-negara lain yang melirik lidi kita ini,” ujar Hasrul.

Mengenai sumber lidi sawit yang diekspor, menurut Hasrul, umumnya dari daerah yang menjadi sentra sawit di Sumut, seperti Kabupaten Langkat, Simalungun, Asahan, Serdangbedagai, dan Kabupaten Deliserdang.(BS-Asenk Lee Saragih)
Share this article :

Post a comment