}); Wagner Damanik: Jangan Lagi Menjadi Aji Mumpung | BeritaSimalungun
Home » , » Wagner Damanik: Jangan Lagi Menjadi Aji Mumpung

Wagner Damanik: Jangan Lagi Menjadi Aji Mumpung

Written By Beritasimalungun on Thursday, 14 May 2020 | 08:40

St Irjen Pol (p) Drs Maruli Wagner Damanik MAP.
Beritasimalungun-Aji Mumpung. Kalimat ini sangat familiar, diartikan ketika seseorang memanfaatkan satu kesempatan guna memperoleh keuntungan tertentu. Misalnya, ketika seseorang mendapatkan jabatan strategis, kerap kali terdengar “Mumpung kamu menjabat, ambil apa yang bisa kamu ambil, karena kesempatan tidak akan terjadi untuk kedua kalinya”.

Menurut Maruli Wagner Damanik, pemikiran aji mumpung, tanpa disadari membawa kita ke dalam suatu perbuatan yang cenderung melanggar etika dan norma yang berlaku.

“Dosen saya , Zulkarnain Lubis dalam bukunya “Memimpikan Indonesia Baru” mendefinisikan aji mumpung berarti memanfaatkan kesempatan untuk digunakan terhadap kepentingan pribadi, keluarga dan kelompok dengan cara-cara licik dan licin tanpa pernah memikirkan akibatnya kepada pihak lain,” kata pria pensiunan Irjen polisi ini kepada wartawan baru-baru ini, menanggapi perilaku oknum-oknum pejabat dan kroni-kroninya yang sering memanfaatkan aji mumpung, untuk membuat kebijakan yang menguntungkan diri dan kelompoknya.

Mumpung Jadi Penguasa

Dijelaskan pria yang bakal maju menjadi calon bupati Simalungun dari jalur independen bersama Abidinsyah Saragih ini, banyak penguasa saat ini mengatasnamakan kepentingan rakyat. Selalu pintar menggunakan topeng mengambil peran seolah-olah pembela dan penolong rakyat, anti KKN dan banyak lagi peran yang dilakukannya dengan dalih mengatas namakan masyarakat.

Bahkan tidak sedikit penguasa wilayah saat ini mempolitisasi pandemi Covid-19, guna kepentingan dirinya atau kelompoknya, seolah-olah bantuan pemerintah yang digelontorkan ke masyarakat bersumber dari pribadinya, misalnya dengan menambahkan fotonya pada bantuan tersebut. Secara, penambahan foto dan nama tersebut otomatis menambah biaya yan seharusnya tidak perlu. Biaya tersebut akan lebih bermanfaat jika dimaksimalkan untuk pengadaan bantuan.

“Ataupun mereka yang dekat dengan penguasa dan memanfaatkannya demi kelancaran bisnis kelompoknya, seperti isu konflik kepentingan yang terjadi di istana baru-baru ini. Boleh dikatakan aji mumpung ini telah menjadi penyakit endemik yang menjangkiti sebagian komponen bangsa termasuk para penguasa. Mereka sering memanfaatkan kesempatan yang ada sekalipun jauh dari etika, namun yang ada dalam benaknya ‘mumpung jadi penguasa”, katanya.

Mumpung Jadi Rakyat

Menurut Wagner, penyakit aji mumpung yang sangat akrab dengan para penguasa, juga melanda masyarakat sekarang ini. Kondisi ini lebih mengemuka disaat menjelang tahun politik, masyarakat cenderung berpikir praktis dengan alasan “Siapapun pemimpin yang kelak terpilih, toh hidup kami juga tidak akan banyak berubah”.

Hal inilah yang mendorong masyarakat bersikap apatis, yang ada dalam pikirannya mumpung suara mereka sangat menentukan untuk kemenangan seseorang, mereka cenderung transaksional (vote buying) dengan istilah NPWP (nomor piro wani piro). Fenomena inilah yang berkembang disetiap perhelatan pesta demokrasi baik Pilpres, Pilleg maupun Pilkada dan bahkan saat Pilkadespun, tanpa pernah berpikir akibatnya selama 5 (lima) tahun ke depan.

Dari penjelasan di atas, dipastikan penyakit aji mumpung akan menghambat negeri ini untuk maju dan berkembang karena nurani sudah tergadaikan. Penulispun mungkin sedikit terpapar penyakit aji mumpung, mumpung “stay at home” masih sempat-sempatnya mengkritisi isu yang lagi trend sekarang ini. Hindari ber-aji mumpung, mumpung masih belum terlambat!.(Rel/Lee)
Share this article :

Post a comment