}); "Bona Diagnosis, Bona Curation" | BeritaSimalungun
Home » , , » "Bona Diagnosis, Bona Curation"

"Bona Diagnosis, Bona Curation"

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 24 June 2020 | 11:35


Oleh: Lusius Sinurat

Beritasimalungun-Hari ini, 59 tahun lalu, 24 Juni 1961, St Drs Irjen Pol (P) Maruli Wagner Damanik (WD) MAP, lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. 

Sepintas tampak bahwa bulan Juni identik dengan Pancasila dan Nasionalisme. 1 Juni lahirnya  Pancasila, 6 Juni lahirnya Sukarno, sang penggagas Pancasila, dan 21 Juni 1970 adalah wafatnya beliau. 

Bulan Juni juga bisa disebut sebagai bulan kebangkitan spirit nasionalisme di Indonesia. Presiden Joko Widodo, yang oleh PDIP sering disebut sebagai titisan Sukarno, juga lahir pada tanggal 21 Juni 1961. 

Uniknya lagi, tiga hari setelah kelahiran  Jokowi, tepatnya tanggal 24 Juni 1961 Maruli Wagner Damanik lahir di Tebing Tinggi. 

Bisa jadi ini kebetulan. Tetapi sebagai orang beragama dan mengandalkan logika, kita percaya bahwa kelahiran adalah momentum spesial. 

Selain sebagai momentum membahagiakan bagi sang ibu yang melahirkan, juga melahirkan harapan baru bagi sang ayah: "Akan menjadi apa anak ini kelak?'

Sama seperti Jokowi yang tak pernah bercita-cita menjadi presiden, demikian juga setelah lahir, WD juga tak pernah berpikir kelak menjadi seorang jenderal polisi.

Faktanya WD telah mengabdi selama 35 tahun (1984-2019) di Kepolisian RI, hingga pensiun dengan pangkat Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol) pada 1 Juli 2019 lalu. 

Hebatnya, setelah pensiun, suami dari Debora Mayana Purba ini justru masih ingin melayani masrayakat. Inilah awal mengapa ia mencalonkan diri sebagai bupati di Kabupaten Simalungun. 

Daerah Simalungun menjadi pilihannya karena alasan arkhaik: dari sanalah asal muasal kakek moyangnya.

Mungkin agak "ganjil" juga ketika seorang pensiunan jenderal malah ingin mencalonkan diri jadi bupati. Apakah WD memang punya selera rendah (tentang hal ini saya sudah tulis tahun lalu di  https://bit.ly/3hY9bxZ).

Tentu tidak. WD serius. Kecintaanya pada tanah leluhurnya adalah roh yang mengusik kenyamanannya di masa pensiun.

"Passion menjadi Parhobas Simalungun lebih pada panggilan leluhur," tegas WD.

Jawaban ini memang rada mistis. Mana mungkin seorang bupati menjadi pelayan masyarakat hanya karena "kerinduan" untuk melayani daerah asalnya?

Belum lagi, di bawah sadar mayoritas warga Simalungun, seorang bupati itu bos yang seenak udel membuat aturan, mengganti aparatnya seperti mengganti sepatunya, memperjualbelikan jabatan dan melakukan kutipan sesukanya. 

Ini menjadi permenungan berikutnya untuk seorang WD. 

Ia harus meyakinkan masyarakat bahwa bupati yang benar itu adalah parhobas (pelayan) masyarakat. 

"Seorang bupati harus mengutamakan rakyat daripada dirinya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya ia harus menjadi pemimpin yang memperbaiki kesemrawutan, meningkatkan kesejahteraan warga, dan bukan malah memiskinkan daerah yang dipimpinnya," kata WD dalam sebuah kesempatan.

Ini lantas berarti, WD harus mengembalikan kultur Simalungun yang berlandaskan Habonaron do Bona. Ya, seorang pemimpin harus jujur dan kejujurannya harus ditularkan ke bawahan dalam melayani warga yang dipercayakan kepadanya.

Tentu saja, Habonaron itu tak akan terwujud bila pemda Simalungun justru membiarkan jalan antar desa, antar kecamatan rusak, bahkan prasarana umum begitu minim, hingga perputaran ekonomi rakyat macet dan mampet.

Belum lagi di masa pandemi korona saat ini, banyak warga kesulitan ekonomi. Sementara jajaran pemkab dan DPRD justru belum maksimal menangani persoalan ini. 

Bahkan jauh sebelum korona, birokrasi justru centang perentang alias acak adut, karena sering gonta-ganti kepala dinas. 

Pertanyaan berikut pasti sudah ada di benak WD, "Apakah saya mampu membereskan persoalan di Kabupaten Simalungun bila dipercaya menjadi bupati?" 

Patut kita acungi jempol, bahwa selama 6 bulan terakhir, warga Simalungun sudah semakin optimis. Dengan kehadiran WD dan Abdinsyah dari jalur independen, mereka percaya WD BISA.

BISA di sini mengandaian modalitas yang telah dimiliki WD, juga cawabupnya. 

(1) Seperti telah disinggung di atas, pengalaman 35 tahun di kepolisian dan bertugas di berbagai daerah dengan kondisi berbeda, WD akan menjadi pemimpin Simalungun yang berkarakter.

(2) Berbagai prestasi yang telah diraihnya, juga berbagai tingkatan jabatan yang telah diembannya di kepolisian turut membentuk WD sebagai pemimpin yang mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 

Ibarat sniper, WD akan menembak sasaran dengan tepat, karena ia memperhitungkan presisi dan ketepatan.

(3) Di kepolisian ia tak hanya dilatih secara fisik, tetapi juga secara intelektual. WD bukanlah jenderal "kosong", yang pensiun dengan menyisakan gelar purnawirawan. 

Gelar gelar akademik (Drs dan MAP) menjadi penegas bahwa WD adalah seorang jenderal bintang dua yang cerdas. 

Jabatan terakhirnya sebagai Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Hankam Lemhannas RI (2014-2019) hanyalah salah satu penegasnya.

Sebagai sosok intelektual yang memahami birokrasi, pendidik dan pengajar, serta mampu menuangkan idenya lewat ucapan dan tulisan yang sistematis dan tertata apik, WD tak lain adalah pilihan cerdas.

(4) Imej bahwa polisi itu kotor, pengutip uang makan di persimpangan jalan, salah tangkap orang, sok kuasa, hingga polisi kaya raya karena tidak jujur yang sudah kadung tertanam di pikiran masyarakat akan berubah setelah Anda melihat WD.

WD sosok berkharisma yang membuat orang semakin ingin mengenalnya. Pembicaraannya berkualitas dan tulisannya renyah dibaca. Anda akan tahu setelah bertemu langsung dan berbincang dengan WD.

Dengan fisik yang sehat, kecerdasan intelektual mumpuni, kerendahan hati dan kesediaan mendengar orang lain, WD adalah pilihan yang membangun kepercaya diri warga Simalungun. 

(5) Penghargaannya terhadapa demokrasi, khususnya setiap proses yang harus ia lalui untuk menjadi calon bupati, hingga keputusannya mencalonkan diri dari jalur perorangan patut kita acungi jempol. 

Tadinya saya pikir pilihan dari jalur independen adalah pilihan "nekad" dari WD. Dalam berbagai pilkada, jalur independen bukanlah pilihan ideal, rawan terpeleset, bahkan diplesetkan oleh jagoannya partai. 

Faktanya, sejauh ini saya salah. WD tetap saja melenggang dan sudah resmi mendaftar ke KPUD Simalungun. 

Sejauh saya amati, semakin hari WD justru justru semakin disukai calon pemilih. 

Bisa jadi karena WD memang selalu memaksimalkan setiap kesempatan untuk bertemu warga, berbagi pengalaman sembari memberi pendidikan politik kepada mereka.

Fakta-fakta di atas semakin menegaskan bahwa WD adalah seorang petarung ulung. Ia menyadari segala konsekuensi dari pilihannya, dan berharap sukses dan sampai di tujuan. 

WD tahu bahwa mentalitas bagi "Sadia gakni ibere ham bakku" (emang bapak kasih berapa?) sudah semakin menjamur di tengah masyarakat Simalungun.

Untuk itu WD berupaya maksimal membombardir kesadaran masyarakat tentang makna demokrasi yang sesungguhnya. Ia tak henti-henti memberi pembelajaran politik saat berjumpa dengan warga.

"Pertarungan politik memang butuh uang, tetapi uang tak pernah menjamin Anda pasti menang," kata WD bersemangat. 

"Pilkada bukan soal paslon mana yang membeli suara paling mahal, tetapi paslon mana yang membuat suara pemilih menjadi tak ternilai harganya," tambah WD.

Inilah alasan mengapa WD datang (ke Simalungun) untuk memberi (potensi dan kompetensi), dan bukan untuk mengambil (apa yang dimiliki Simalungun). 

Bagi WD, memberi berarti memperkaya Simalungun; dan bila semua birokrat memberi hati untuk kemajuan Simalungun, maka Simalungun akan melejit maju.

Bila dipercaya, WD ingin mengoptimalkan potensi sumber daya alam Simalungun yang begitu kaya, serta sumber daya manusia yang begitu potensial untuk mengangkat Simalungun menjadi kabupaten yang maju (saya pernah uraikan pada https://bit.ly/3dsBFN7)

Sosok yang bersahaja, dan rekam jejaknya yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme, serta kesediannya mendengarkan masukan dan kritikan adalah amplifikasi dari tagline-nya, "Datang Memberi, Bukan Mengambil".

Untuk membangun Simalungun, WD berprinsip "BONA DIAGNOSIS, BONA CURATIO", yang saya terjemahkan secara bebas, diagnosa yang baik (atas setiap persoalan) adalah obat terbaik (untuk persoalan itu).

Selamat Ulang Tahun ke-59, sahabat dan abang Irjen Pol (purn) Drs. Maruli Wagner Damanik, M.A.P. 

Sehat selalu dan saya doakan yang terbaik untuk segala niat baikmu membangun Simalungun, huta hatubuhan.

#HBD59WD
#SelamatUlangTahunKe59WD

Sumber: https://www.lusius-sinurat.com/2020/06/bona-diagnosis-bona-curatio.html


Share this article :

Post a comment