. Sinode Bolon GKPS Dalam Catatan Iman | BeritaSimalungun
Home » , , » Sinode Bolon GKPS Dalam Catatan Iman

Sinode Bolon GKPS Dalam Catatan Iman

Written By Beritasimalungun on Monday, 23 November 2020 | 12:12

Pimpinan Sinode GKPS Periode 2020-2025 Pdt Dr Dedy Fajar Purba (Ephorus).


Oleh: Pdt Defri Judika Purba

Simalungun-Usai sudah pelaksanaan Sinode Bolon (SB) Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Ke 44 yang dilaksanakan mulai tanggal 18-22 November 2020. Semua materi acara yang dipersiapkan panitia berjalan dengan baik. Pimpinan Sinode yang baru terpilih pun sudah dilantik pada hari Minggu tanggal 22 November di GKPS Jalan Jend Sudirman Pematangsiantar.

Sebagai salah seorang peserta Sidang Sinode Bolon utusan Pendeta, saya ingin menuliskan beberapa refleksi pribadi berkenaan dengan pelaksanan sidang sinode bolon ini.

1. Dua bulan sebelum pelaksanan Sidang Sinode Bolon ini, saya sebenarnya sudah memantapkan hati untuk membuat tulisan berseri. Tulisan ini memuat berbagai pemikiran dan pergumulan saya tentang apa yang saya lihat, rasakan dan pikirkan sebagai seorang Pendeta dengan situasi yang terjadi. 

Judul untuk setiap tulisan sudah ada. Tetapi tulisan tersebut urung saya kerjakan melihat situasi yang terjadi. Situasi apakah maksudnya? Saya melihat situasi menjelang pelaksanaan Sidang Sinode Bolon sudah hiruk pikuk. 

Disana sini muncul berbagai argumen pemikiran yang memicu perdebatan, mulai dari dasar pelaksanan sidang Sinode Bolon, isu pengesahan TTL yang dikawatirkan memicu deadlock dll. Muncul berbagai surat terbuka di ruang publik. 

Suasana semakin gaduh. Secara tidak langsung terbangun suasana saling mencurigai, berprasangka dan menuduh. Hanya sedikit ruang yang diisi narasi optimis dan merangkul. Melihat situasi tersebutlah saya urung memposting tulisan yang telah saya persiapkan. 

Saya berpikir, sejernih dan sebagus apa pun tulisan saya tuliskan, tulisan tersebut tidak akan mampu menolong situasi lebih baik. Kenapa? Karena sudah terbangun satu persepsi di antara para sinodestan.
Persepsi saling mencurigai, berprasangka dan menuduh seperti yang saya sebutkan di atas akan mengaburkan satu pandangan atau ide yang akan disampaikan. 

Akhirnya, Saya lebih memilih untuk meneduhkan hati melalui pergumulan dalam Firman dan doa supaya kiranya pelaksanaan Sidang Sinode Bolon dapat berjalan dengan baik. Capek sudah hati dan pikiran melihat, mendengar dan merasakan apa yang terjadi. 

Tidak ada ketenangan dan kedamaian di dalam hati. Karena itulah saya lebih memilih bermawas diri. Mungkin saja saya pun masuk pada kategori orang yang menuduh, berprasangka buruk dan mencurigai.
2. Salah satu isu yang krusial dalam pelaksanan sidang sinode bolon ini adalah pengesahan Tata Laksana (TTL) GKPS yang baru. Kenapa disebut krusial? Karena isu TTL inilah yang paling banyak mengisi ruang publik dengan kegaduhan. 

Muncul berbagai pemikiran yang mencatat TTL ini cacat secara substansi dan prosedur. Ceritanya seperti ini. GKPS secara organisasi sudah diatur dalam suatu aturan yang mengikat yaitu Tata Gereja dan Peraturan Rumah Tangga (PRT). 

Di Tata Gereja dan PRT inilah tercakup berbagai aturan dalam berorganisasi. Tata gereja dan PRT ini terakhir diperbaharui pada Sinode Bolon tahun 2013. Nah, karena tuntutan situasi, maka Tata Gereja dan PRT didesak untuk diperbaharui terutama yang menyangkut masalah aturan periodesasi. 

Usulan diterima dan diajukan pada Sinode Bolon tahun 2017. Anehnya, bukan revisi tentang periodesasi ini yang muncul melainkan seluruh isi tata gereja dan PRT direvisi seluruhnya. Muncul berbagai dokumen yang sangat tebal pada Sidang Sinode Bolon tahun 2017. 

Singkat cerita, Sinode Bolon tahun 2017 tidak mampu untuk mengkaji dan membahas itu semua. Sinode Bolon tahun 2017 hanya mampu mengesahkan tata dasar. Tata laksana dibahas kembali pada persidangan Majelis Pendeta dan Majelis Penginjil pada setiap persidangannya. Setelah dibahas dan dikaji maka akan dibahas kembali dan kemudian disyahkanlah pada Sinode Bolon tahun 2020.

Anehnya, tata laksana belum disyahkan tetapi sudah dilaksanakan di tengah-tengah jemaat. Inilah yang saya sebutkan di atas catat secara prosedur. Sebagai contoh. Periodesasi yang dilaksanakan di tingkat jemaat, resort dan seksi kategorial pusat sudah memakai juklak periode yang berdasar pada tata laksana. 
Padahal-mari diingat bersama- tata laksana itu belum disyahkan. Aneh bukan? Secara aturan situasi memang sudah kacau. Situasi inilah yang dikawatirkan akan memicu situasi gaduh bahkan bisa berujung deadlock pada saat Sinode Bolon 2020.

Bagaimana akhirnya nasib TTL ini di Sinode Bolon 2020? Setelah melalui perdebatan yang sengit dan tidak ada titik temu, akhirnya ditempuh lah jalan voting. Jalan voting sebenarnya sedapat mungkin dicoba untuk dihindari. 

Lebih baik keputusan diambil melaui musyawarah untuk mufakat. Apa daya, tidak ada titik temu. Hasil voting akhirnya memutuskan tata laksana diterima. Dengan diterimanya tata laksana maka segala kebuntuan bisa dipecahkan. 

Walaupun tata laksana sudah diterima sinodestan menyadari bahwa tata laksana yang disyahkan itu masih banyak yang perlu dikoreksi dan disempurnakan. Isinya masih banyak yang perlu dikoreksi untuk kebaikan di tengah-tengah jemaat. 

Sinode Bolon tahun 2020 akhirnya memutuskan TTL yang sudah disyahkan ini langsung diamandemen. Hasil amandemen akan disyahkan kembali pada Sinode Bolon Tahun 2022. Semua berharap pada Sinode Bolon tahun 2022 (Sinode Kerja), tata laksana tersebut akan semakin bagus lagi. Menurut saya keputusan tersebut sudah bijaksana untuk menjembatani ketegangan yang muncul.

3. Pelaksanaan Sidang Sinode Bolon ini dilaksanakan secara virtual. Banyak kekawatiran yang muncul dengan sistem virtual ini pada awalnya. Kekawatiran ini menyangkut substansi persidangan sampai pada hal-hal teknis. 

Sinodestan meraba-raba apa dan bagaimana persidangan Sinode Bolon yang dilaksanakan secara virtual. Setiap sinodestan "dipaksa" untuk cepat belajar. Pada awalnya gugup dan canggung. 

Sistem masih baru dan tidak semua bisa menguasai teknologi. Tetapi karena "dipaksa" akhirnya semua sinodestan mampu untuk mengikuti persidangan. Gladi kotor dan Gladi bersih sebelum Sinode Bolon dan simulasi pemilihan pada saat Sinode Bolon, memampukan sinodestan mengikuti persidangan dan pemilihan dengan baik. 

Sidang Sinode Bolon tahun 2020 sukses dilaksanakan secara virtual. Ini adalah kabar baik dan sukacita untuk kita semua. Sepanjang yang saya ketahui, GKPS-lah gereja kedua setelah Methodist yang Sukses dan mampu melaksanakan Sidang Sinode Bolon secara virtual. 

Situasi ini menurut saya memiliki lima pesan. Pertama, SDM pekerja gereja GKPS mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman. Kedua, keterbatasan memaksa setiap orang untuk mampu berpikir dan berbuat secara kreatif. 

Ketiga, kadang setiap orang perlu "dipaksa" belajar supaya cepat menyesuaikan diri. Keempat, hanya orang yang mau beradaptasilah yang akan bisa mengimbangi perkembangan zaman ini. Siapa yang tidak mau adaptasi akan tergilas. Kelima, Teknologi yang tepat guna dan tepat sasaran akan banyak membantu kehidupan kita.

4. Ada satu hal yang unik dan menarik saya perhatikan pada Sinode Bolon tahun 2020. Hal ini menyangkut tentang proses pemilihan atau orang yang terpilih. 

Saya perhatikan orang yang terpilih di pimpinan sinode, majelis sinode utusan pendeta, utusan penginjil, utusan distrik, utusan perempuan dan utusan pemuda pada umumnya adalah orang-orang yang tidak terlalu mengkampanyekan diri secara terbuka untuk dipilih. 

Memang masih ada satu dua orang yang berkampanye dan memiliki ambisi yang terpilih. Orang-orang yang selama ini terlalu terbuka kampanye supaya dipilih ternyata tidak terpilih. Walaupun orang tersebut memiliki kemampuan. 

Kenapa bisa terjadi demikian? Saya melihat ini berkaitan dengan kultur. Saya berpikir -boleh salah dan benar- kultur pemilih yang nota bene berlatar belakang Simalungun, tidak terlalu suka kepada orang yang terlalu vulgar mengkampanyekan dirinya untuk dipilih. 

Kultur pemilih lebih suka kepada pribadi yang tidak terlalu banyak berbicara. Kultur pemilih lebih berbelas kasihan kepada orang -orang yang merasa dihina atau dizolimi selama ini. Kultur pemilih tidak suka kepada orang-orang yang terlalu banyak kritik. 

Bagi saya kultur ini (kalau benar) adalah satu hal yang menguntungkan dan perlu diperhatikan untuk mereka yang berkeinginan menjadi Pemimpin di GKPS ini. Silahkan kampanyekan diri dengan track record yang baik, jangan pernah jelekkan calon yang lain, jangan terlalu terbuka untuk kampanye, jangan terlalu berlebihan untuk mengkritik dan menangkan hati pemilih dengan sikap rendah hati, keramahan yang tulus serta selalu hormat/ respek kepada setiap orang bahkan kepada yang paling muda sekalipun.

5. Pimpinan sinode telah terpilih. Bagaimanakah pendapat saya pribadi tentang mereka yang terpilih? Begini. Setiap masa dan waktu membutuhkan pemimpin yang berbeda. Tidak ada satu pun dalam satu masa membutuhkan tipe pemimpin yang sama. 

Disatu waktu kita membutuhkan pemimpin yang tegas. Di lain waktu kita butuh pemimpin yang pengayom. Di lain waktu lagi kita butuh pemimpin penebar inspirasi. Setiap pemimpin adalah baik seturut masanya. 

Karena itulah saya bersyukur pimpinan sinode yang terpilih saat ini. Saya melihat karakter pengayom, rendah hati, tulus dan hormat pada diri mereka. Karakter ini sangat dibutuhkan saat ini di tengah -tengah komunitas internal dan eksternal GKPS. 

Saya berdoa dan berharap banyak pada pimpinan sinode terpilih secara khusus Bapak Ephorus bisa hadir sebagai gembala yang membimbing, menuntun dan menyembuhkan. Hati kecil saya menyatakan beliau memiliki kemampuan.

6. Sinode Bolon GKPS tahun 2020 telah melahirkan hal yang baru untuk kita. Kita memiliki Tata Laksana yang baru. Kita memiliki pimpinan sinode yang baru. Dan di atas semuanya itu, kita memiliki kasih, iman dan pengharapan yang baru di periode ini. 

Firman Tuhan berkata "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" ( 2 Kor.5:17). Sejatinya tidak ada yang baru karena yang baru itu pun berasal dari yang lama. 

Yang terjadi adalah ketika yang lama itu dirubah menjadi lebih baru, pada saat itulah kita menjadi ciptaan baru. Ciptaan baru dengan kasih yang baru yaitu saling mengampuni, memahami, mendengar dan saling belajar. 

Ciptaan baru yang akan mengisi ruang privat dan ruang publik dengan narasi yang menebarkan optimisme dan kehidupan yang lebih baik lagi. Narasi saling menyalahkan begitu juga menganggap diri tidak pernah salah diganti dengan narasi bermawas diri bahwa kita juga bukanlah manusia yang luput dari kesalahan.

7.Etika Eskhatologis, itulah inti khotbah menurut saya saat pelantikan pimpinan sinode begitu juga majelis sinode periode 2020-2025. Apa yang kita lakukan saat ini di kehidupan ini akan mempengaruhi kehidupan kita di masa yang akan datang. 

Orang yang selama hidupnya penuh kasih dengan memberi makan, minum, pakaian, tumpangan, melawat orang sakit, akan menerima kehidupan kekal tetapi orang yang tidak peduli kepada sesamanya akan masuk pada kebinasaan. 

Artinya, setiap orang akan dihadapkan pada tugas tanggung jawab selama hidupnya di dunia ini. Akan tiba saatnya, ketika kita meninggalkan dunia ini, maka perbuatan baik atau buruk kita akan mengiringi langkah kita menuju kematian. Karena itu, selagi waktu dan kesempatan masih ada, sudah selayaknya kehidupan ini kita isi dengan belajar lebih baik lagi untuk sesuai dengan kehendak -Nya.

Akhir kata, selamat melayani kepada Pimpinan Sinode GKPS Periode 2020-2025 Pdt Dr Dedy Fajar Purba (Ephorus) dan Pdt Dr Paul Ulrich Munthe (Sekretaris Jenderal) serta semua Majelis Sinode Periode 2020-2025. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. Bahapal Raya, 23 November 2020.(Penulis Adalah Pendeta di GKPS)
Share this article :

Post a comment