. Cerita Tentang Seorang Pemimpin Rohani | BeritaSimalungun
Home » , , » Cerita Tentang Seorang Pemimpin Rohani

Cerita Tentang Seorang Pemimpin Rohani

Written By Beritasimalungun on Friday, 14 January 2022 | 12:46

Pdt Jaharianson Saragih dan Pdt Defri Judika Purba STh. (Istimewa)


Oleh: Pdt Defri Judika Purba STh

Samosir-Setiap orang selalu mempunyai orang yang berpengaruh dalam dirinya. Orang yang memberi inspirasi dan teladan yang patut diikuti. Orang yang mampu menularkan semangat dan kekuatan baru begitu juga pemikiran baru untuk melihat situasi. Orang yang sanggup menjadi sahabat dalam situasi suka dan duka.

Secara pribadi orang yang berpengaruh dalam diri saya adalah kedua orangtuaku, saudara-saudaraku, sahabatku begitu juga keluarga kecilku, anak dan istri.

Untuk tulisan ini saya akan menceritakan satu orang sosok yang begitu kuat mempengaruhi saya secara khusus dalam pelayanan di tengah-tengah jemaat. Seorang sosok yang telah hadir semenjak saya menjadi mahasiswa Theologia di STT Abdi Sabda, Medan, delapan belas tahun yang lalu. Sosok yang mau saya ceritakan yaitu bapak pdt Saragih Jaharianson atau yang lebih sering dikenal dan dipanggil orang Pdt. Jaka.

Saya mengenal beliau ketika saya menjadi mahasiswa Theologia di STT Abdi Sabda, Medan. Mengenal sebatas dosen saja pada awalnya tetapi kemudian berkembang menjadi sangat dekat.

Awal kedekatan saya kepada beliau ketika saya sudah tingkat tiga. Sebelumnya masih sebatas ketertarikan dan kekaguman saja melihat pelayanan beliau di kampus. Beliau termasuk dosen yang sangat cerdas, rendah hati dan dekat dengan kami mahasiswa nya. Beliau mengajar mata kuliah pastoral di kelas kami begitu juga filsafat barat dan timur. 

Dari dua mata kuliah ini (secara khusus pastoral) timbul ketertarikan dalam diri saya untuk lebih belajar lagi dari beliau, karena kebetulan saya juga suka pastoral. Saya masih mengingat dengan jelas bagaimana beliau memproses kami mahasiswa satu kelas dalam teori dan praktek pastoral. Sungguh sangat membuat saya tertarik.

Selain mata kuliah diatas, ketertarikan saya yang lain disebabkan beliau sangat concern dan bersemangat dalam pelayanan healing dalam ibadah. Melalui beliaulah saya mulai mengenal konsep ibadah taize. Mulai akrab dengan keheningan, musik yang mengalun lembut, lilin yang menyala begitu juga salib yang diletakkan di pusat ibadah. Untuk saya yang menyukai keheningan tentu saja hal tersebut sangat menggairahkan.

Karena ketertarikan dalam ibadah taize itulah saya pun sering diajak beliau untuk mengikuti ibadah dimana beliau menjadi narasumber atau pengkhotbah ya. Pernah saya diajak beliau bersama teman-teman yang lain ke taman Jubileum GBKP di Sukamakmur untuk membawa ibadah taize kepada guru-guru sekolah Minggu se-GKPS. Waktu itu saya berjumpa dengan mama yang kebetulan datang mewakili gerejanya, kebetulan mama guru sekolah Minggu. Di ibadah ini saya bertugas untuk membawa lagu.

Di lain kesempatan saya pernah sedikit "memaksa" beliau untuk membawa ibadah Taize ke gereja GKPS Sei Semayang, ibadah untuk pemuda/i. Beliau sebenarnya sudah menolak dengan halus karena sudah ada jadwal pelayanan ke USU. Tapi karena saya sedikit "memaksa" beliau akhirnya menyerah dan mencari pengganti nya melayani ke USU. Seingat saya Pdt Novrando Sinaga . Jadilah, beliau memimpin ibadah dan saya bertugas untuk mengiringi musik.

Selain ketertarikan pada model ibadah yang beliau geluti, kedekatan kami yang paling dekat sesungguhnya terjadi ketika beliau mendoakan saya secara pribadi di kampus. Ceritanya seperti ini. Beliau memberikan satu buku kepada saya untuk dibaca. 

Buku itu ditulis oleh Derek Prince dengan judul mereka akan mengusir setan-setan. Sayapun membaca habis buku ini dalam tempo tiga hari. Apa yang disampaikan di dalam buku itu saya praktekkan terutama pemutusan pada kuasa-kuasa gelap. 

Belum puas dengan yang saya lakukan, sayapun menjumpai beliau di kampus. Waktu itu saya menunggu beliau menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Tunggu punya tunggu beliau tenyata masih sibuk. 

Saya tetap sabar menunggu sampai hari menjelang malam. Setelah saya lihat beliau berkemas pulang saya pun menjumpai beliau dan mengutarakan maksud tujuan saya menjumpainya. Sayapun didoakan secara khusus. Pelayanan didoakan secara khusus inilah yang membuat ada ketertarikan baru untuk ikut terlibat dalam pelayanan pelepasan.

Saya bersama Ferdi Garingging sering beliau ajak untuk melayani jemaat dimana pun berada. Bisa di kota Medan bahkan sampai ke pelosok-pelosok desa. Ketika beliau membawa pembinaan kami bertugas untuk membantu beliau untuk menyiapkan segala sesuatunya. 

Melalui kebersamaan dengan beliaulah kami pernah makan di restoran Simpang tiga di Perbaungan begitu juga restoran jala-jala setelah melayani di TVRI Medan. Makan di restoran adalah keistimewaan tersendiri kepada kami mahasiswa saat itu. Istimewa karena kami belum pernah makan di restoran. Paling banter hanya makan nasi goreng di simpang barat ditambah makan Indomie tengah malam. ๐Ÿ˜Š

Ketika kami berangkat pelayanan, biasanya kami naik mobil beliau. Waktu itu masih mobil Espass warna merah. Kaca mobil sangat dominan pada mobil tersebut sehingga kami dapat memandang luas dalam perjalanan. 

Yang biasa membawa mobil adalah ibu. Sepanjang perjalanan beliau banyak bercerita tentang pelayanan di jemaat-jemaat begitu juga tentang pelajaran di kampus. Mendengar cerita beliau kami selalu mendapat pencerahan, apalagi kami sering duduk di bangku pertama, sementara beliau di bangku kedua.

Hal lain yang membuat kami dekat terjadi ketika saya menyusun skripsi. Skripsi saya mengupas tentang peranan musik dalam pertumbuhan spiritualitas. Beliaulah yang menjadi pembimbing skripsi. Dalam proses bimbingan ini, lagi-lagi beliau berusaha maksimal agar skripsi saya bisa diselesaikan dengan baik. Beliau pun meminjamkan komputer pribadinya kepada kami agar dapat mengerjakan skripsi dengan baik.

Pernah ketika hari sudah sore, setelah siap membaca buku persiapan skripsi di perpustakaan, saya pun berniat pulang ke rumah kost. Karena gerbang utama kampus sedikit jauh, sayapun memilih untuk melompat pagar supaya cepat sampai. 

Setelah melihat tidak ada orang saya pun melompat dengan cepat. Saya berpikir tidak ada yang melihat, eh, rupanya setelah tiba di rumah sudah ada SMS di Hp dari beliau yang bertanya: "def, lang adong maribak nokan salanamu, sanggah manluppat ai kan?". Saya tidak membalas SMS beliau karena sangat malu. Mungkin saat itu beliau belum pulang, masih ada di kantor dan melihat perbuatan saya yang kurang terpuji tersebut. ๐Ÿ™ˆ

Setelah masa-masa mahasiswa selesai kedekatan saya dengan beliau pun tetap berlanjut baik ketika saya masih vikar dan menjadi pendeta seperti sekarang ini. Ingatan saya tentang kebaikan beliau pada tahap ini ketika saya membawa mama ke kampus Abdi Sabda untuk didoakan secara khusus berhubung karena mama kami baru saja didiagnosa dokter menderita penyakit kanker mulut rahim. 

Saya begitu terpukul saat itu. Sayapun langsung menghubungi beliau dan memohon untuk didoakan. Ketika mama dirawat di RS Adam Malik, beliau pun hadir bersama ibu untuk mendoakan mama. Sampai mama menghembuskan nafas terakhirnya, beliau selalu setia untuk mendoakan keluarga kami.

Ketika masa vikar selesai dan masuk ke tahap pentahbisan pendeta, saya sangat bersyukur sekali karena melalui beliaulah saya menerima berkat pentahbisan. Saat itu memang beliau sudah menjadi ephorus. Ketika esok harinya ada acara ucapan syukur, beliau juga yang datang untuk memimpin ibadah syukur pentahbisan saya menjadi pendeta. Beliau mendoakan saya secara pribadi dengan menghadap altar gereja.

Banyak orang yang menunggu dimanakah saya akan ditempatkan setelah penahbisan. Ini tentu berkaitan dengan kedekatan saya dengan beliau. Mungkin orang berpikir saya akan ditempatkan di kota tetapi ternyata tidak. Saya ditempatkan di Resort Horisan Tambun Raya, desa kecil di pesisir Danau Toba. Apakah saya kecewa? Tentu saja tidak. 

Saya termasuk orang yang tidak mau menggunakan kedekatan untuk kepentingan pribadi. Biarlah berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku. Malah ketika aturan yang berkata seorang pelayan di resort terpencil bisa dimutasi setelah tiga tahun saya malah meminta kepada beliau agar saya jangan dulu dipindahkan. Saya masih mau melayani di resort Horisan Tambun Raya karena saya menikmati pelayanan di tempat ini.

Oh ya, di resort ini jugalah saya kembali bersama dengan beliau, mengumpulkan dana ke Jakarta untuk pembangunan rumah resort dibantu oleh kak Esther Damanik . Setelah rumah resort selesai beliau jugalah yang datang untuk meresmikannya, walau di awal beliau sudah menolak dengan halus agar sekjen saja yang datang dengan alasan beliau sudah ke Jakarta. Saya tidak mau, harus bapak yang datang, kata saya. Akhirnya beliau pun mengalah kembali. Beliau tidak mau mengecewakan saya.

Masih banyak peristiwa yang membuat kami dekat. Selain pemberkatan pernikahan kami, peristiwa terakhir yang membuat saya sangat terharu adalah ketika beliau datang bersama ibu ke rumah kami melayat karena ayah saya meninggal. Beliau berusaha datang dari Medan untuk hadir. Beliau sampai di rumah ketika waktu sudah malam. Membayangkan beliau kembali ke Medan padahal hari sudah larut sungguh membuat hati ini terharu.๐Ÿ˜”

Berbekal pengalaman kebersamaan diataslah, saya selalu menaruh rasa hormat, segan dan terimakasih kepada beliau. Saya mengakui bahwa begitu banyak contoh keteladanan yang saya warisi dari beliau. Kehidupan doa yang konsisten, suka memberi, rendah hati, dan selalu perhatian kepada orang yang susah.

Pernah saya sangat sedih ketika beliau tidak terpilih lagi menjadi Ephorus. Sedihnya bukan karena beliau tidak terpilih lagi, untuk ini saya percaya beliau sudah menyiapkan diri untuk itu. Yang saya sedihkan adalah begitu banyak teman-teman atau sahabat-sahabatnya yang memilih untuk meninggalkannya bahkan mengkhianatinya. 

Saya sendiri tidak menyangka kenapa bisa seperti itu. Kenapa ada orang yang tega mengkhianati teman sendiri hanya gara-gara mengejar posisi? Bagiku itu hal yang tidak bisa saya terima dalam persahabatan.๐Ÿ˜”

Saya memiliki pandangan, dalam sebuah relasi, hal yang buruk dan baik bisa saja terjadi. Tidak bisa semua kondisi seperti yang kita harapkan. Saling mengingatkan dalam sebuah relasi adalah hal yang indah. Sementara melupakan kebaikan seseorang hanya karena tidak sesuai seperti yang kita harapkan adalah sesuatu yang tidak baik.

Tahun ini adalah tahun terakhir beliau menjadi pendeta yang aktif di GKPS. Bulan September ini beliau akan pensiun. Mengetahuinya saya sangat sedih karena masih banyak hal yang masih ingin saya pelajari dari beliau. 

Walau demikian, kesedihan saya sedikit terobati karena beliau masih bersedia membimbing kami melalui kegiatan reatreat tahunan yang sudah kami ikuti selama tiga tahun ini. Semogalah beliau tetap sehat dan memberikan ide dan inspirasi kepada kami secara khusus saya pribadi.

Terima kasih dan tetap sehat ya pak. ๐Ÿ™ Samosir, 14 Januari 2022. (Penulis Adalah pendeta di GKPS)
Share this article :

Post a Comment

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba
Sakit Bertahun Tanpa Pelayanan Medis