}); Butet Manurung, Guru Bagi Suku Anak Dalam di Jambi Dianugerahi Ramon Magsaysay | BeritaSimalungun
Home » , » Butet Manurung, Guru Bagi Suku Anak Dalam di Jambi Dianugerahi Ramon Magsaysay

Butet Manurung, Guru Bagi Suku Anak Dalam di Jambi Dianugerahi Ramon Magsaysay

Written By Beritasimalungun on Friday, 22 August 2014 | 09:53


Butet Manurung dan Rosenman Manihuruk saat ke Redaksi Harian Jambi, Rabu (20/11/2013) sore.Foto Dok Asenk Lee Saragih
BERITASIMALUNGUN.COM, Jambi-Saur Marlina Manurung (42) atau yang dikenal dengan nama Butet Manurung memperoleh penghargaan Ramon Magsaysay Award. Antropolog lulusan Unpad ini, dikenal atas dedikasinya bagi suku anak dalam. Perempuan yang akrab disapa Butet ini memang berjuang di pedalaman hutan Jambi menjadi guru dan mendirikan Sokola Rimba.

Dalam undangan yang dikirim panitia Ramon Magsaysay Award lewat surat elektronik ke redaksi@detik.com Jumat (22/8/2014), disebutkan bahwa penghargaan akan digelar pada 31 Agustus mendatang di main theater cultural center of the Philippines.

Disebutkan juga penganugerahan Ramon Magsaysay ke 56 ini akan diberikan ke sejumlah orang termasuk Saur Marlina Manurung, dan juga sejumlah nama antara lain dari China yakni Hu Shuli, dan dari Afghanistan Omara Khan Masoudi.

Butet sejak akhir '90-an sudah masuk ke hutan-hutan di Jambi. Dia mengajari anak-anak suku anak dalam membaca dan menulis. Kisah Butet juga diangkat ke layar kaca dengan judul 'Sokola Rimba'.

Di dalam film itu, Butet memberikan pelajaran kepada suku anak dalam agar mereka tak ditipu para pembalak liar yang kerap membabat habis hutan milik orang rimba itu.

Penghargaan Ramon Magsaysay, ini kerap disandingkan dengan hadiah nobel. Penghargaan Ramon Magsaysay ini diambil dari nama Presiden Filipina yang tewas dalam kecelakaan pesawat terbang. Ramon Magsaysay diberikan untuk individu atau kelompok yang dianggap memberi perubahan terhadap komunitas masyarakat di sekitarnya.(*)
Mira Lesmana bersama Sutradara Riri Riza dan pemeran Butet Manurung, Prisia Br Nasution ke Redaksi Harian Jambi, Rabu (20/11/2013) sore.Foto Dok Asenk Lee Saragih

Butet Manurung

Butet Manurung, Prisia Br Nasution ke Redaksi Harian Jambi, Rabu (20/11/2013) sore.Foto Dok Asenk Lee Saragih

Mira Lesmana bersama Sutradara Riri Riza dan pemeran Butet Manurung, Prisia Br Nasution ke Redaksi Harian Jambi, Rabu (20/11/2013) sore.Foto Dok Asenk Lee Saragih


Butet Manurung: Separuh Hidup Bersama Orang Rimba

JAMBI-Tidak ada orang yang bercita-cita untuk hidup bersama orang dengan keterbelakangan. Terutama di hutan rimba dengan semua kondisi sulit yang harus dihadapi. Namun, Butet Manurung rela separuh hidup di hutan untuk mendidik anak rimba di Taman Nasional Bukit Dua Belas.
 
Tak ada yang berbeda dengan sosok Saur Marlinang alias Butet Manurung (43) saat berkunjung ke Redaksi Harian Jambi. 

Wajahnya masih sama seperti peluncuran Buko Sokola 2007 lalu di Jambi. Penampilannya yang sederhana dan sulit mengumbar senyum, mengundang keingintahuan dengan Sosok Butet Manurung. Butet menyempatkan waktunya berbincang dengan Harian Jambi di sela kunjungan Mira Lesmana bersama Sutradara Riri Riza dan pemeran Butet Manurung, Prisia Br Nasution ke Redaksi Harian Jambi, Rabu (20/11/2013) sore.
 
Kunjungan itu dalam rangka silahturahmi media terkait dengan penayangan perdana secara nasional di Bioskop 21 Kamis 21 November  film terbaru berjudul Sokola Rimba di bawah naungan rumah produksi Miles Films.
 
Film ini mengisahkan tentang perjuangan seorang Butet Manurung yang rela mengajar anak rimba di pedalaman Hutan Bukit Dua Belas, Jambi. Sokola Rimba adalah film adaptasi buku Butet Manurung di tahun 2007 yang berjudul sama. 

Buku tersebut berisikan berbagai pengalaman luar biasa yang dilalui Butet mulai dari pengalaman yang indah hingga yang menegangkan. Dedikasinya yang tinggi sebagai pengajar di daerah pedalaman hutan membuatnya dianugerahi Heroes of Asia Awards 2004 majalah Time.
 
“Separuh hidupku bersama orang rimba. Hidupku sudah menyatu dengan suku rimba atau suku anak dalam. Saya tidak bisa terlepas dari mereka. Mereka sudah bagian dari hidupku. Di mana pun aku berada, suku terasing adalah keluargaku sepanjang hayat,” demikian tuturnya. 
 
Nama Butet Manurung tidak asing lagi bagi rakyat Indonesia. Perempuan berdarah Batak ini boleh dibilang lain dari perempuan biasa. Mengabdikan diri bagi suku terasing di Indonesia ini, merupakan panggilan hidupnya.
 
Alumnus Antropologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung Jawa Barat mengatakan, keberadaan suku terasing di Indonesia boleh dikatakan mulai punah. Padahal suku tersebut merupakan aset negara yang harus dilindungi dan mendapat perlakuan seperti masyarakat lainnya.
 
Namun pada kenyataannya, tutur Butet, suku terasing di Indonesia semakin terpinggirkan, bahkan habitat mereka sudah menjadi lahan penjarahan pelaku ilegal logging. Kondisi tersebut, membuat Butet Manurung terpanggil untuk pendamping suku terasing, termasuk SAD yang bermukim di  Makekal Hulu Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Bangko Merangin Provinsi Jambi selama beberapa tahun.
 
Sokola
 
Sebagai wujud kepedulian Butet terhadap SAD, dirinya membentuk suatu lembaga yang diberi nama Alternatif Education Community For Indigenous Forest People pemberdayaan pendidikan alternatif  suku anak dalam. Disebutkan, sokola di TNBD memang sangat berperan bagi perkembangan ilmu SAD. 

Memberikan sekolah alternatif bagi 5.000 jiwa suku kubu yang bermukim di Makekal Hulu itu merupakan anugerah dan hidup baginya. Menurut wanita peraih penghargaan “Women of the year 2004” dari ANTV award ini, pemberdayaan SAD  meliputi pendidikan alternatif, pelayanan kesehatan, bercocok tanam, serta pengadaan penerangan pemukiman tenaga surya. 

Pihaknya telah melakukan pemberdayaan SAD di kawasanan TNBD sudah tujuh tahun lamanya. Dari hasil pembinaan yang mereka lakukan perubahan kultur suku anak rimba sudah mulai tampak. Setidaknya enam anak Rimba sudah dijadikan guru bagi komunitas SAD di kawasan seluas 50 ribu hektar tersebut. Mereka sudah dapat menulis, membaca dan berhitung (calintung) dan bercocok tanam. Bahkan mereka sudah ada yang paham dengan teknologi komunikasi menggunakan HP.
 
“Selain memberi pendidikan alternatif, sokola yang beranggotakan enam orang itu yakni Dodi Rokadian, antropolog asal Bandung, Indit, antropolog dari Yogyakarta, Dani, antropolog Unpad-bandung, Willy, pendamping Bukittinggi, Irmansyah, pendamping Jambi dan saya sebagai guru besar juga melakukan pelayanan kesehatan kepada para SAD,” ujar wanita kelahiran  Jakarta, 21 Februari 1972 ini.
 
Disebutkannya, sokola juga menyediakan pembangkit listrik tenaga surya untuk penerangan pemukiman SAD. Ada 59 kelompok SAD yang bermukim di TNBD dengan jumlah jiwa sekitar 5000 jiwa. Cerita Butet, yang mengaku masuk ke Jambi tahun 1999 lalu ini, sejak melakukan pemberdayaan, mereka kesulitan terhadap penerangan di kawasan tersebut. Sebuah mesin diesel (genset) yang bahan bakarnya bensin dirasakan sangat sulit untuk dipertahankan. Hal karena harga bensin di kawasan itu melambung tinggi dari harga biasa.
 
Ditambahkan, gangguan atau kendala yang dihadapi sokola selama berada di TNBD, terjangkit penyakit malaria. Namun, hal itu tidak sampai mengganggu aktivitas mereka karena dapat ditangani oleh petugas sokola.
 
Menyinggung masalah dana penelitian dan pemberdayaan sokola, Butet  menyebutkan, sumber dana mereka berasal dari salah satu yayasan luar negeri Global Environment Fasilitation (GEF). Selain itu juga dari sebuah lembaga UNDV (sejenis lembaga peduli pendidikan dunia UNESCO).
 
Selamatkan Lingkungan
 
Disisi lain Butet menuturkan, SAD juga sangat berperan dalam penyelamatan lingkungan dari penjarah. Namun, usaha yang dilakukan SAD masih terpinggirkan oleh Pemerintah Provinsi Jambi. Pada peringatan hari lingkungan hidup sedunia pada Senin 5 Juni 2006 lalu, Temenggung Tarib sebagai utusan komunitas suku anak dalam di Desa Pematang Kabau Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun memperolah penghargaan Kalpataru 2006 dari Bapak Presiden RI SBY di Istana Negara. 
 
Kepedulian SAD terhadap pelestarian lingkungan hidup, sewajarnya mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Jambi. Bahkan kini pemukiman mereka terusik dengan program perencanaan pengelolaan Taman Nasional (TNBD). semoga SAD selalu bagian dari masyarakat Jambi. 
 
Selama delapan tahun, wanita penerima anugerah "Woman of The Year" tahun 2001 di bidang pendidikan oleh televisi swasta Antv ini, menggerakkan sokola-kelompok pendidikan alternatif. Kini, sokola alternatifnya sudah menyebar di 10 daerah, diantaranya Jambi, pejuang dari Aceh, Makassar, Bulukumba (Sulawesi), Flores, Pulau Besar dan Gunung Egon, Halmahera, Klaten, Bantul, dan Kampung Dukuh (Garut). Sayang, Kampung Dukuh sudah berhenti, jadi tersisa hanya sembilan. 

Wanita yang juga penerima penghargaan dari majalah Time sebagai "Heroes of Asia Award 2004" dan peraih "Woman of The Year" bidang pendidikan oleh televisi swasta Anteve pada tahun 2004 ini, selalu merasa nyaman di hutan karena sejak masih mahasiswa sudah akrab dengan hutan. Karena begitu masuk ke sana, menurutnya, seakan jarum jam berhenti, identitas gelar sarjana yang dimilikinya terlupakan dan yang paling membuatnya terharu dan tak akan dilupakan, saat semuanya memanggilnya “Bu Guru”. 

Terkait dengan film sokola rimba, lanjut Butet Manurung, film tersebut hanya bagian dari isi bukunya sebagai kepedulian terhadap suku rimba. “Saya bersyukur adanya film ini. Saya bangga sebagai pendampingan suku rimba. Ternyata buku saya menjadi inspirasi Mira Lesmana dan Riri Riza menjadikan film Sokola Rimba,” katanya.(Rosenman Manihuruk/Asenk Lee Saragih)Separuh Hidup Bersama Orang Rimba)

 


Share this article :

Post a comment