. Kecewa Dengan Producer, Penyanyi Simalungun Banting Provesi Jadi Tukang Sayur Keliling | BeritaSimalungun
Home » , » Kecewa Dengan Producer, Penyanyi Simalungun Banting Provesi Jadi Tukang Sayur Keliling

Kecewa Dengan Producer, Penyanyi Simalungun Banting Provesi Jadi Tukang Sayur Keliling

Written By Beritasimalungun on Monday, 11 August 2014 | 12:41

Hingga Kini 2014 ini Bahrun Purba Penyanyi Pop Simalungun Beralih jadi tukang sayur keliling saat melintas di Sipoldas dari Siantar hingga ke Simpang Tigaras. Foto diabadikan Senin 7 Jan 2013 lalu. Asenk Lee Saragih.



Hingga Kini 2014 ini Bahrun Purba Penyanyi Pop Simalungun Beralih jadi tukang sayur keliling saat melintas di Sipoldas dari Siantar hingga ke Simpang Tigaras. Foto diabadikan Senin 7 Jan 2013 lalu. Asenk Lee Saragih.
BERITASIMALUNGUN.COM, Sipoldas-Pagi itu, Pukul 07.30 WIB, cuaca Desa Sipoldas, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun cukup cerah. Seorang pedagang sayuran dengan menggunakan sepeda motor roda tiga modivikasi melintas di Desa Sipoldas. Ternyata setiap paginya becak sayur itu menemui pelanggannya di Sipoldas.

Saat itu, penulis singgah di ruah mertua di Sipoldas. Sontak saja Sauhur kaget melihat sosok pedagang sayur keliling itu adalah seorang penyanyi Simalungun bernama Bahrun Purba (maaf yang kakinya satu cacat) yang tahun Minggu 9 September 2007 singgah ke Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) dalam rangka promo album pita kaset lagu Batak Simalungun berjudul "Lang Bai Pangarapan (Tak Sesuai Harapan).

Penulis pun menyapa dan bertanya kenapa bisa beralih jadi tukang sayur keliling Siantar-Simpang Tigaras. Dengan nada polos dan tegas, Bahrun Purba mengaku kecewa dengan Producer Lagu Simalungun yang tidak menghargai penyanyi dari segi upah dan reputasi.

Bahrun Purba mengaku sudah menggeluti profesi sebagai pedagang sayur keliling selama dua tahun terakhir. Bahrun Purba sebenarnya sudah pernah ikut rekaman VCD dalam album kompilasi lagu Simalungun. Namun profesi “tarik suara” Bahrun Purba ternyata tak mampu untuk membiayai tiga orang anaknya, Dita Clara Purba (17 tahun), Lousi  Purba (14 tahun) dan Ferdi Cahaya Purba (11 tahun).

“Producer music Simalungun hanya mencari untung sendiri. Kita selaku penyanyi tak dihargai, dan sering dijadikan korban saat rekaman, begitu juga saat undangan pesta-pesta atau acara-acara resmi. Ini yang membuat saya jera dan tidak menyanyi lagi,”ujarnya.

Kenangan Bahrun Purba Tahun 2007

Sementara itu, Bahrum Purba pernah memilih promosi Lagu Simalungun lewat Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Cacat fisik (kaki lumpuh) sejak lahir ternyata tidak membuat Bahrum Purba, seorang artis Batak Siantar Simalungun menyerah begitu saja. Dengan talenta tarik suara yang dimilikinya, Bahrum mencoba merilis album pita kaset Lagu Batak Simalungun berjudul "Lang Bai Pangarapan (Tak Sesuai Harapan) " 2007.

Promosi album lewat GKPS dilakukannya demi sebuah karya tarik suara dimilikinya. Promosi Album Simalungun lewat GKPS mulai dikakukan Bahrun Purba dari GKPS Jambi, Minggu (9/9/2007).

Bahrun tiba di GKPS Jambi, Sabtu (8/9/2007) dengan BIS INTRA dari Siantar seorang diri. Kemudian dilanjutkan ke GKPS Palembang, GKPS Bengkulu, GKPS Surabaya dan berakhir di GKPS Bagan Batu. Tour album keliling kota, tampaknya itu yang dilakukan Bahrun Purba lewat pintu GKPS.

Di GKPS Jambi, usai kebaktian minggu gereja, artis lokal Batak Simalungun ini pun memperkenalkan identitas dan latar belakangnya sebagai seorang penyanyi lokal Batak Simalungun.

Tampil diatas kursi roda, pria kelahiran Nagori 23 Desember, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara menyumbangkan suarnya dihadapan umat jemaat GKPS Jambi. Dua tembang Simalungun yang dilantunkannya dapat merogoh kocek simpati umat hingga jutaan rupiah.

Sembari promosi album kaset berisikan 10 lagu Simalungun, suami dari Lince Turnip ini pun menawarkan ulos khas Simalungun. "Promosi album lewat GKPS, merupakan cara yang tepat saya lakukan guna menjual kaset serta Ulos Simalungun. Kalau tidak dari pintu-ke pintu GKPS, saya kesulitan promosi album saya ini,"ujar anggota Jemaat GKPS Bane Resort Siantar II ini kepada penulis di GKPS Jambi.

Menurut ayah tiga orang anak ini, Dita Clara Purba (17 tahun), Lousi Purba (14 tahun) dan Ferdi Cahaya Purba (11 tahun), dirinya harus menyanyi dari pesta-ke pesta untuk mencukupi ekonomi keluarga serta sekolah anak.

“Saya sudah puluhan tahun menyanyi dan mencipta lagu Simalungun. Namun kali ini bisa rekaman karena bantuan Saidin Saragih Anggota DPRD Kabupaten Simalungun,"katanya.

Album pertama Simalungun direkam 3000 copy di atas pita Sisi Record Medan. Album kompilasi ini Simalungun ini juga menampilkan artis perdana lokal Simalungun Cindy S dan Darwin Purba.

Dalam lawatan promo album ini, Bahrum Purba membawa 120 kaset dengan harga Rp 15.000 per kaset. Promo album lewat pintu GKPS ini merupakan dukungan dari Pdt Kitaman Saragih STh (Pendeta GKPS Resort Siantar II).

Menurut surat keterangan dari Pimpinan Majelis Jemaat GKPS Bane Siantar II, Bahrum Purba merupakan anggota Jemaat GKPS Bane yang menderita cacat fisik sejak lahir. Sehingga bergerak dan berjalan harus menggunakan kursi roda. Bahrun mempunyai tanggungan satu istri dan tiga anak.

Bahrun Purba memiliki talenta yang diberikan Tuhan dalam hal tarik suara. Bahrun bermaksud untuk mengunjungi beberapa Gereja GKPS untuk menawarkan Album Lagu Simalungun yang telah dihasilkannya.

Surat keterangan yang dipegang Bahrun Purba sesungguhnya hanya diberikan sebagai bentuk dorongan kepada Bahrun Purba di Tahun Bapa GKPS 2007 lalu. Dirinya masih gigih berjuang demi keluarga dalam tubuh yang tidak sempurna.

“Dalam kondisi tubuh yang tidak sempurna, tetapi gigih berjuang untuk keluarga. Melalui surat ini, kami juga berharap agar semua warga GKPS dapat menerima kehadirannya di jemaat kita. Sebagai salah satu bentuk dukungan yang dapat kita berikan kepada sesama umat Nasrana dan warga GKPS,”"ujar Marthin Girsang.

Menanggapi kehadiran Bahrun Purba di GKPS Jambi, Sy VM Purba dan R Purba, warga GKPS Jemaat Jambi mengatakan, tokoh Simalungun belum bangga jadi Simalungun. Kemandirian musisi Simalungun masih terbelakang akibat kurangnya dukungan moral dan moril dari Tokoh Simalungun dan pengusaha Simalungun yang sukses.

Menurut mereka, sebagian besar warga Simalungun tidak bangga dengan bahasa, lagunya sendiri. Hal itu yang menyebabkan Simalungun tertinggal dalam segala hal. Kehadiran Bahrun Purba, artis Simalungun yang cacat fisik, merupakan penggugah nurani Simalungun agar mencintai budayanya sendiri.

Termasuk masalah adat, budaya dan bahasanya. Perjuangan Bahrun Purba juga mengingatkan kembali kaum Simalungun, khususnya Bapa GKPS agar menjadi berkat bagi keluarga sejalan dengan Thema GKPS 2007.

“Mari kita cintai budaya, adat,lagu dan bahasa Simalungun dalam keluarga, agar Simalungun maju dan menjadi tuan dinegeri sendiri tanpa meningalkan sifat Nasionalisme,”ujar Ir VM Purba. Kini Bahrun Purba tak lagi mengadu nasib di tarik suaranya, namun banting stir menjadi pedagang sayur keliling. (Asenk Lee Saragih)
Share this article :

Post a comment