Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Mendung Tak Selamanya Kelabu

Wisuda di Universitas Indonesia (2008, 2010, 2011, 2013 dan next June  2015 di Presdent University, Cikarang. "Mendung Tak Selamanya Kelabu
Keluarga St Jannerson Girsang. Foto IST/FB
BERITASIMALUNGUN.COM-Dua puluh lima tahun yang lalu, di usia 29 tahun, saya mengalami goncangan hidup yang hebat. Bak diterpa Gempa  9.3 skala Richter. Oyong dan hampir tidak mampu berdiri.

Di usia muda seperti itu, setelah menjabat hanya 20 bulan, saya harus melepas jabatan rektor di Universitas Simalungun, Pematangsiantar—jabatan yang mungkin hanya diperoleh orang lain ketika di usia 30-an atau 40-an.

Pasalnya, sangat sepele, saya bukan orang yang “bersih lingkungan”. Suatu status yang sangat mengerikan di masa Orde Baru. Keputusan terbaik bagi saya,  mengundurkan diri.  Walau sangat pahit, lebih dari pahitnya pil kina.

Saya harus menanggung sesuatu akibat yang di luar kontrol saya, di luar tindakan saya, dan di luar kuasa saya. Saya hanya bisa menyerah dan membiarkan Tuhan yang mengatur hidup saya kemudian.  

Peristiwa itu terjadi hanya beberapa minggu setelah sebuah acara pemberian penghargaan kepada Petani Jeruk dan Bawang Putih di kampus.

Dalam acara itu, saya duduk berdampingan dengan Raja Inal Siregar yang saat itu baru dilantik menjadi Gubernur Sumatera Utara, dan JP Silitonga  Bupati Simalungun, Jabanten Damanik, Walikota Pematangsiantar (Ketiganya sudah meninggal dunia).

Bahkan saya beberapa bulan sebelumnya mengadakan perhelatan akbar yang dihadiri ribuan mahasiwa dari 9 Universitas di kota itu, di GOR Pematangsiantar menyambut kedatangan Panglima Kodam I Bukit Barisan.

Sebuah posisi yang dari kacamata dunia, sebuah masa depan yang sangat cerah, seandainya saya bisa terus di sana.    

Berhentinya saya menjadi rektor di usia muda seperti itu mamaksa banyak harapan yang harus kukubur, banyak cita-cita yang harus kureorientasi. Cita-citaku beralih hanya memperjuangkan anak-anak. Mereka tidak boleh korban.

Tidak mudah menghadapinya. Saya memutuskan pindah ke Jakarta.  Saat itu saya benar-benar shock dan sempat lima hari mengurung diri tidak keluar rumah.

Gelap, dan tidak tau apa yang harus dilakukan. Sedih, melihat anak-anak yang ketika itu masih berusia 5 tahun dan satu tahun, dan anak saya nomor 3 Bernard masih dalam kandungan.  Tanpa modal yang cukup, tanpa harta apapun. Karena jabatan bukanlah media untuk korup!

Jakarta, sebuah kota besar yang kejam. Tidak peduli dan tidak berbelas kasihan. Saya membayangkan sesuatu yang mengkhawatirkan, bayangan di depan yang ngeri. Ternyata, bulan demi bulan semua kekhawatiran, bayangan mengerikan  lenyap sejalan dengan waktu.

Ucapan-ucapan seseorang, bisa menjadi inspirasi, ungkapan-ungkapan Kitab Suci bisa menjasi kekuatan di saat kita sedang dirundung masalah. 

Saya waktu itu teringat pidato Jabanten Damanik, bekas Walikota Pematangsiantar, ketika masih sering menghadiri upacara di kota itu.

"Jangan terlalu senang kalau cuaca lagi cerah, karena kalau tiba saatnya mendung akan tiba. Sebaliknya jangan pula terlalu sedih kalau mendung datang, karena matahari akan bersinar, awan akan bergerak, cerah akan datang," kata Jabanten Damanik, dalam sebuah pidatonya di kampus Universitas Simalungun dalam sebuah acara.

Pengkhotbah mengatakan, Semua ada waktunya!. Ada waktu bersedih, dan ada waktu berduka, ada waktu sukses, ada waktu gagal. Buku Suci mengatakan: "Bersukacitalah setiap saat". Walau dalam suasana suka, maupun suasana duka. Tantangan hidup adalah memaknai semua peristiwa menjadi suka cita.

Ketika itu aku memanknai peristiwa itu. “Tuhan yang paling tau hidup saya. Dia akan memberikan sesuatu yang lebih indah menurut kehendakNya”

Meski saya memutuskan Jakarta adalah harapan, tetapi kemudian saya akhirnya mendapat pekerjaan di Medan.Seseorang menawarkan pekerjaan dan itu kuanggap sebagai jawaban doaku. Hal yang mengobati ketika kita dalam suasana hopeless adalah "bekerja". Apapun jenis pekerjaan itu. Dari rektor menjadi wartawan!

Dari rektor yang memiliki supir pribadi, dan tinggal di rumah dinas yang nyaman, dikelilingi lapangan dan kebun sawit, saya kemudian tinggal di rumah kecil tanpa kursi di Perumnas Simalingkar  selama dua tahun, harus naik angkot dan berjalan hilir mudik di kota Medan yang jauh lebih panas dari Pematangsiantar.

Entah berapa kantor saya sudah jalani.  Tempat saya bekerja sesudah melepas jabatan rektor adalah menjadi wartawan di Majalah Prospek, dan mengalami  perampingan 1992, kemudian bekerja kantor Konsulat Amerika, yang kemudian ditutup pada 1995, lantas pada Nopember 2001, enam tahun bekerja di Pramindo-- KSO Telkom Sumatra, yang seharusnya berakhir 2010, ternyata putus kontrak di tengah jalan dan seratusan karyawan PRAMINDO diberi pesangon, Menurut saya  relatif cukup besar . Ketiga peristiwa terakhir ini terjadi di saat saya bersungguh-sungguh bekerja, dan karierku mulai berkembang.

Saya harus mereorientasi lagi hidup. Saya memilih menulis dan mendidik anak-anak. Anak-anaklah yang berkarya ke depan!

Kekhawatiran senantiasa muncul dalam setiap peristiwa di atas. Apa yang meggembirakan saya adalah saya mampu bersuka cita atas semua peristiwa itu, dan tetap memegang prinsip, suka cita adalah upah saya yang terbesar, bukan jabatan atau kekayaan materi.

Kesimpulan saya. Pemaknaan kita terhadap peristiwa:  suka dan duka, cerah atau mendung adalah kemampuan kita memaknai sebuah suasana atau peristiwa. Seseorang akan mengatakan beruntung kakinya patah, karena akhirnya tidak jadi dikirim ke medan perang sebagai wajib militer, dan dia akhirnya bisa menjadi pemain musik yang handal.

Saya beruntung tidak lanjut menjadi rektor, karena berbagai ragam kehidupan, berbagai ragam tantangan yang bervariasi saya hadapi dengan suka cita. Saya memiliki petualangan yang hanya dimiliki sedikit orang. Saya bangga dengan semuanya itu, saya bangga menceritakan kepada setiap orang. Suka cita adalah upah terbesar dalam kehidupan kita.  

Tuhan Maha Baik!.Ketika memasuki kota Medan pada 1990an, bekerja sebagai wartawan majalah ekonomi ibu kota, tinggal di rumah kecil tanpa kursi selama dua tahun, saya rasanya tidak mampu menyekolahkan anak-anak saya. Ternyata, 25 tahun kemudian, 6 Juni nanti putri bungsu saya Devee Girsang akan diwisuda dari President University, Cikarang, Jakarta.

Saya tidak bisa membayangkan, kalau dua puluh lima tahun kemudian, saya masih mampu meraih suka cita, hingga saat ini.  Saya menghibur banyak teman, dan sebaliknya mereka menghibur saya juga.  Anak-anak sudah selesai perkuliahannya dan dua putri saya sudah menikah, putra saya sudah bekerja dan putri bungsu akan diwisuda bulan depan.

Hidup adalah kemampuan kita menjalani waktu yang diberikan Tuhan dengan suka cita. Suka cita diperoleh dengan melakukan pekerjaan sebaik-baiknya sehingga memberi suka cita bagi yang lain.  

Hidup kita ini berada dalam kontrol suatu kekuatan yang tidak bisa kita bayangkan apalagi digambarkan dan diramalkan. Keyakinan atas kekuatan itu sangat menentukan sikap kita memaknai masalah. 

Kita hanya setia menjalankan tugas,  memanfaatkan waktu beberapa tahun, dan  percaya bahwa suatu saat kita akan mati, dan pada waktunya (entah kapan), kita akan dihakimi oleh sang pencipta.    

Syukurilah hidup, jalani hidup seperti air mengalir  seperti sungai. Alam mengatur  bahwa air harus mengalir ke daerah yang lebih rendah oleh gaya gravitasi bumi yang diciptakan Tuhan, melintasi kelokan-kelokan sungai hingga mencapai muaranya di laut. Kadang air bergerak tenang di tanah yang datar dan kadang terjun ratusan meter seperti air terjun Sipiso-piso. Semua akan sampai ke laut, semua akan mengalami mendung dan cerah.

Tugas manusia di dunia hanya satu: mengejar suka cita dalam keadaan  apapun, memancarkan suka cita itu kepada yang lain.    

Itulah bedanya air, bedanya mahluk lain dengan manusia. Air dan mahluk lain tidak bisa bercerita. Saya bisa mengisahkan pengalaman saya.

Mari teman-teman saling menguatkan, sharing sesuatu yang membuat kita bersuka cita, membuat hidup kita lebih berwarna.   

Manusia adalah mahluk yang berbudaya, mampu menundukkan alam, dan memiliki pengalaman hidup yang memberi inspirasi atau semangat kepada yang lain.

Bukan sebaliknya membiarkan hidup  kita saling menabrak aturan yang sudah ada, menyakiti satu sama lain.  Suka cita akan lari!. (St Jannerson Girsang-Medan, 19 Mei 2015)

Post a Comment

0 Comments