Info Terkini

10/recent/ticker-posts

KOK TAKUT DENGAN RUMAH IBADAH?

Dalam keadaan perang sekalipun, rumah ibadah harus dilindungi, apalagi dalam suasana damai.

Bukankah rumah ibadah itu adalah sumber kebaikan? Jadi, sangat mengherankan bila masih ada orang yang takut sumber kebaikan dan harus mencari-cari alasan untuk tega menghancukannya. 

Saya senang sekali ketika bisa mengunjungi dan menyaksikan Vihara besar-besar dibangun di kota Medan, di Brastagi, Batam.

Negeriku memiliki variasi bangunan yang memberiku rasa kagum. Saya senang berfoto di sana, dan menghiasi ruang kerja, atau paling tidak, dengan melihat foto itu saya terhibur di sela-sela istirahat di kantor. Vihara-vihara besar setidaknya menjadi salah satu pilihan obyek wisata bagi keluargaku.

Saya tidak pernah mempersoalkan bangunan itu memiliki izin atau tidak. Saya memang tidak pernah ditanya apakah saya setuju atau tidak. Dan yang jelas, seandainya saya ditanya, saya pasti setuju. 

Saya bisa melihat keagungan Tuhan di sana. Saya begitu kagum atas penguasaan teknologi bangunan umat Buddha.

Saya kagum atas kejujuran mereka, kepolosan mereka, keterbukaan mereka kepada semua tamu yang mengunjungi rumah ibadah mereka. Rumah ibadah mereka menjadi inspirasi bagi semua pemeluk agama.

Satu lagi:umat Budha berprinsip rumah Tuhan harus lebih baik dari rumahnya sendiri. Saya kagum atas kerelaan mereka berkorban demi rumah ibadah. Hampir saya tidak menemui ada vihara yang reot-reot. Semua bagus-bagus.

Saya mendapat pengetahuan dari mereka. Di satu vihara terbesar di Batam, saya membaca tulisan yang sangat mengesankan saya: "Sebutir nasi sejuta keringat," sebuah peringatan pentingnya menghargai berkat Tuhan.

Saya senang melihat mesjid Istiqlal yang megah di pusat kota Jakarta. Setiap mengunjungi kompleks ini saya bangga, Indonesia punya bangunan megah seperti itu. Ciri khas yang tidak dimiliki bangsa mananpun di dunia ini.

Saya senang bunyi azan dari mesjid mesjid di sekitar rumah saya. Bunyi itu merupakan petunjuk waktu, membangunkan saya setiap pagi.

Saya tidak pernah mempersoalkan apakah mesjid di sekitar saya punya izin atau tidak, dan bagi saya itu tidak perlu. Sayapun tidak pernah ditanya apakah saya setuju mesjid berdiri di sana. Dan kalaupun ditanya, saya pasti setuju.


Semua rumah ibadah adalah sumber kebaikan, tempat orang belajar kebaikan. 
Saya senang melihat saudara-saudaraku keluar dari mesjid, berpakaian rapi, dengan wajah, jiwa,dan pikiran jernih, berbaris, saling menyapa. 


Tetangga-tetangga yang taat beragama berbeda dengan saya, umumnya baik-baik. Di depan, samping kiri, samping kanan rumah saya semuanya muslim.

Kami tidak pernah bermasalah selama puluhan tahun, karena kami tidak pernah mempersoalkan perbedaan. Kami mengusahakan kehidupan yang harmonis, saling tergantung satu dengan yang lain.
Mereka sangat menghormati, menghargai cucuku dengan sapaan dan juga pemberian. Sama seperti penganut agama yang lain juga.

Jadi, tidak ada penganut agama yang istrmewa. Tidak ada satu agamapun di Indonesia ini yang menjamin umatnya tidak korupsi. 

Semua sama.

Keistimewaan mereka adalah kalau berbuat banyak kebaikan kepada sekitarnya! Orang tidak dilihat istimewa karena agamanya, tetapi dari sumbangan kebaikan yang diberikannya kepada bangsa ini. 

Mari saudara-saudaraku, sadarlah!.
Mari berlomba menabur kebaikan. Bukan berlomba-lomba mencari kelemahan agama orang lain, mengatakan agamanya paling hebat. Ini seperti menabur bibit kebencian dan kecemburuan. Siapa yang mau agamanya lebih rendah dari agama orang lain?

Parahnya lagi, kalau sampai mengarahkan perbedaan menjadi ancaman bagi lingkungan, dan kemudian memprovokasi supaya saling bermusuhan. 

Jangan mencari hal-hal buruk pada saudara kita, carilah hal-hal baik sekecil apapun itu untuk kebaikan bersama. Ceritakanlah hal-hal yang baik itu di rumah tangga, di lingkungan kita.

Jangalah pekerjaan kita hanya mencari-cari data rumah-rumah ibadah yang tak punya izin. Berapa ribu rumah ibadah di Indonesia yang tidak memiliki izin?. Mau dirubuhkan semua?. Jangan melakukan hal yang bodoh.

Perbuatan merusak rumah ibadah agama apapun, itu pekerjaan setan. Tidak ada hukum agama apapun yang mengajarkan umatnya merusak rumah ibadah. Semua agama menebar kebaikan dan kedamaian.

Kita berbeda karena Tuhan ingin kita berbeda. Bertambahnya penduduk akan menambah rumah-rumah ibadah. Kalau kita memelihara kebencian, maka setiap rumah ibadah berdiri, maka kita akan selalu ingin merusaknya. Capek amat sih?


Tugas kita adalah menghargai satu dengan yang lain, menerima perbedaan sebagai sebuah berkat, bukan ancaman. Sehingga kita tidak lagi takut rumah-rumah ibadah yang baru, tidak perlu mempersolkan izin. Bersyukurlah kita memiliki banyak rumah ibadah, karena makin bertambah sumber kebaikan bagi bangsa ini. 
Jangan lanjutkan lagi merusak rumah-ruma ibadah, sumber kebaikan bagi bangsa kita. Malu dong menghambat orang berbuat kebaikan.


Aneh bin ajaib, kalau di Republik Indonesia yang sudah berusia 70 tahun ini, masih ada orang yang suka merusak rumah ibadah!

Tak ada alasan yang bisa ditolerir bagi perusak rumah ibadah agama apapun. UUD kita menjamin kebebasan beribadah. (St Jannerson Girsang )

Berita Lainnya

Post a Comment

0 Comments