"Suatu ketika aku melihat muzizat di mata anakku!". Demikian ungkapan dari seseorang yang kubaca di sebuah website malam ini.
Kok bisa?

Adakah aku melihat muzizat di mata anakku, apakah Anda melihat muzizat di mata anak Anda?
Ternyata melihat kelebihan anak kita, adalah salah satu cara mengasihi mereka, cara membuat kita saling mengagumi: anak dan ayah!

Aku tersentak oleh ungkapan itu!.
Tak jarang kita melihat "setan": di wajah anak kita, sehingga memarahinya, memukulnya.

Sebaliknya anak melihat Herodes di wajah ayahnya, sehingga dia takut, atau benci, tertutup!.

Ungkapan itu mendorongku mencoba malam ini mengingat muzizat di wajah anakku! Adakah?

Kita jarang sekali melihat yang hebat dari anak-anak! Sekecil apapun itu. Pasti mereka punya!.

Yang sering terjadi, orang tua justru menceritakan kelemahan anak-anak didepan orang banyak. Malah, parahnya kita membandingkan diri kita dengan anak.

Anak di bawah, dia bodoh, kita di atas, pintar dan paling hebat. Jelas paling hebat, kalau sekarang.
Bandingkan dengan saat kita seumuran mereka. Kita juga belum bisa apa-apa!.

Saya memperhatikan foto saya dan anak saya Bernad dua malam yang lalu, saat Perayaan Natal Pemuda GKPS Simalingkar, dan foto kami Minggu kemaren saat kebaktian Minggu.

Dua peristiwa yang membuka mataku: Aku melihat muzizat di wajah anakku.

Dua bulan terakhir dia sering pulang ke rumah larut malam, aku kadang memarahinya, bahkan suatu ketika kami harus bersitegang urat syaraf.
Malam itu, dua bulan sebelum Natal Pemuda kemaren, saya baru kembali dari luar kota. Saya pesan agar dia menjemputku. Dia tidak sempat menjemputku, karena sibuk latihan..
Aku bahkan sempat melarangnya untuk jangan terlalu forsir latihan koor, karena mengabaikan orang tua!.

Kadang kita sebagai ayah memang tanpa sadar diktator seperti Herodes. Sangat egois!

"Kau lebih mementingkan orang lain dari Bapakmu sendiri!". Ungkapan yang tidak saya sadari, sangat menyakitkannya.
Dia protes!.

"Aku kan harus pergi Pak. Nggak enak sama kawan-kawanku. Ya udah aku nggak usah aktif lagi. Biarin"
Dia tidur di kamar!. Tapi mungkin tidak sampai hati meninggalkan teman-temannya, tak lama kemudian dia pergi meninggalkanku dengan wajah sedih, sementara hatiku juga panas.

Tidur tak nyenyak!. Sangat egois!
Terima kasih Nad! Begitulah kami orang tua. Maklumlah dan lanjutkanlah yang baik.

You are right. Ternyata kau benar!
Kami orang tua tidak mau melihat muzizat di wajah anak-anak kami! Bapak yang salah.
Menyaksikan anakku memimpin koor, sebagai dirigen, malam Natal Pemuda GKPS Simalingkar Sabtu malam lalu, dan saat Pesta Pemuda Minggu lalu, aku melihat muzizat pada dirinya.

Betapa tidak, aku sudah kalah beberapa langkah, sementara, karena emosi untuk kepentingan sesaat, aku sempat melarangnya untuk sesuatu kegiatan yang baik, sesuatu kegiatan yang mampu menghimpun para pemuda kami untuk melakukan hal yang baik.

Kadang saya sebagai orang tua tidak sadar kalau jauh tertinggal dibanding anak-anak dalam satu bidang. Seharusnya kita melihat kelebihan yang ada dalam diri anak-anak.

Dengan demikian, meski keahlian kami berbeda, hobby kami berbeda, prestasi kami berbeda, tetapi kami bisa saling menyenangkan. satu dengan yang lain. 
Membaca notpun aku tidak bisa!.

Tetapi tahun ini, anakku Bernard Patralison Girsang yang lulusan Diploma Teknik Mesin, Politeknik Negeri Jakarta, Depok, untuk pertama kalinya kusaksikan memimpin sekitar 35-an anggota koor.
Putra tunggalku ini bukan orang pintar, bukan orang yang berkecukupan, tetapi dia mau membagikan sesuatu yang diketahuinya untuk orang banyak.

Dia menyenangi panggilan itu, memberi dengan suka cita apa yang dimilikinya. Tidak merasa capek walau lelah.

Bagiku ini sebuah muzizat, di era maraknya korupsi di tanah air. Dia menyadari bahwa hidup ini bukan hanya mengumpul duit, sesuatu tidak harus dihargai dengan uang.

Dari mana kau belajar. not dan dirigen Nad?, tanyaku di rumah, usai dia memimpin Koor dalam Perayaan Natak Pemuda GKPS Simalingkar, Sabtu malam lalu. .
"Aku belajar sendiri," katanya.

Membaca not, mengajarkan kepada anak-anak muda yang lain, melatih dan melatih, kemudian memimpin mereka di depan jemaat. Menurutku itu sesuatu yang sulit. Tak bisa kubayangkan dia mampu seperti itu.

Aku teringat gitar kuno itu!. Masih ada di kamar Bernard.

Semasa dia SMP aku membelikan Bernad gitar. Gitar kuno. Mungkin dari sanalah dia mencintai musik, mencintai seni. Dia setiap pulang sekolah main gitar, usai belajar dan mengerjakan PR.
Bahkan di luar hoby ayahnya dia seorang pencipta lagu (walau amatir), punya grup band di masa SMP Cahaya.

Ketika kuliah di Jakarta, dia suka mengikut kakaknya di organisasi gereja, belajar musik bersama dengan kakaknya. Hidup dalam serba kekurangan mereka berlatih ketekunan, dan kesabaran. .
Itu yang kutahu.

Kebiasaan lama itu tidak berhenti. Dia tekun berlatih bersama pemuda kami di Muda Gkps Simalingkar.

Menjelang Natal, begitu pulang kerja, dia makan malam, lantas meninggalkan rumah, latihan koor, tak ada waktu berbincang lagi. Sebelum pergi, dia tidur sebentar menghilangkan lelah!.

Apalagi menjelang perayaan Natal Sabtu lalu, kadang pulang ke rumah jam 02 dini hari, padahal besoknya dia kerja. Setiap malam!.
Ternyata, dia melakukan sesuatu yang baik dengan suka cita. Sungguh! Aku melihat muzizat di wajahmu anakku!

I love you so much!

Dia bertumbuh, punya keahlian, mampu dan mau berbagi apa yang dimilikinya bagi sesama!.

Padahal, sejak 5 Pebruari 1991, hingga sekarang aku cuma beri nasi. Tapi bisa jadi anak yang menyenangkan, bisa menghibur banyak orang, mengajak orang berbuat baik.

Aku hanya menabur benih, memupuknya, Tuhanlah yang membuatnya bertumbuh hingga seperti sekarang..
Kulihat muzizat di wajah anakku!

Lihatlah Anak Anda!. Apakah Anda menemukan muzizat di wajahnya, di matanya!.(Jannerson Girsang)