}); Mencegah Legenda Danau Toba Jadi Nyata | BeritaSimalungun
Home » , , » Mencegah Legenda Danau Toba Jadi Nyata

Mencegah Legenda Danau Toba Jadi Nyata

Written By Beritasimalungun on Friday, 22 January 2016 | 18:13

Rikanson Jutamardi Purba
Drs Rikanson Jutamardi Purba, Ak
Oleh : Drs Rikanson Jutamardi Purba, Ak

BERITASIMALUNGUN.COM-Saat mengaso di pinggir lembah, seorang petani perjaka tua menemukan seekor ikan emas. Tiba-tiba, ikan emas itu menjelma menjadi seorang gadis yang cantik jelita.
Si gadis hanya mau dinikahi, asal si laki-laki tak akan pernah menceritakan asal-usulnya.

Seperti biasa, putra mereka bertugas mengantar bekal makanan si ayah ke ladang. Matahari terik. Makanan tak kunjung datang. Perut melilit perih.
Panorama Danau Toba dipandang dari Puncak Salbe, Simalungun. Foto Minggi 3 Jan 2016. Asenk Lee Saragih.

Danau Toba di Haranggaol yang dipenuhikaramba jaring apung (KJA).Foto Asenk Lee Saragih

Si ayah pulang ke kampung dengan gontai, menyusul bekal makanannya. Di tengah jalan, dia berjumpa putranya yang asyik menghabiskan jatah makanan untuknya.

“Kurang ajar, dasar anak ikan emas…!” Telinga batin si ibu mendengar umpatan itu. Air matanya menganak sungai, mengaliri lembah. Perlahan-lahan, tubuhnya berubah kembali menjadi ikan emas, lalu dia loncat ke dalam air lembah yang meninggi. Jadilah Danau Toba.

DANAU Toba adalah anugerah Tuhan yang luarbiasa. Terbentuk dari sebuah erupsi vulkanik mahadahsyat lebih daripada 70.000 tahun yang lalu. Abu vulkaniknya bahkan mencapai Kutub Utara dan menyebar ke sekitar 2.100 titik di permukaan bumi. 

Erupsi tersebut menyisakan sebuah kaldera yang kemudian digenangi air hingga levelnya saat ini. Pulau Samosir yang muncul di tengahnya adalah akibat tekanan magma yang belum keluar.

Danau Toba menjadi destinasi wisata andalan Sumatera Utara. Dalam beberapa dekade terdahulu, danau ini menghidupi masyarakat yang tinggal di pulau Samosir dan di beberapa daerah pesisir pantainya dari sektor pariwisata. 

Tapi sejak sekitar dua dekade terakhir, penghidupan masyarakat dari sektor pariwisata merosot. Sebagian masyarakat beralih menjadi peternak ikan karamba jaring apung (KJA) di danau yang luasnya sekitar 1.130 kilometer persegi itu. Muncullah sumber penghidupan alternatif yang lumayan, namun akibatnya, danau menjadi tercemar oleh limbah pakan ikan.

Tadinya, pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan tujuh kabupaten yang beririsan dengan Danau Toba (Samosir, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Simalungun, Karo, dan Dairi) telah berupaya meningkatkan kunjungan wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara (wisman), dengan upaya menambah penerbangan langsung dari luar negeri ke bandara Polonia (sekarang ke bandara Kualanamu), namun realitasnya jumlah wisman tidak meningkat signifikan. Selain itu, kalaupun datang ke Danau Toba, length of stay-nya pun ternyata sangat singkat.

Ada beberapa faktor penyebab utamanya. Pertama, kondisi infrastruktur untuk mengakses Danau Toba kurang memadai. Dibutuhkan waktu 4-5 jam berkendaraan dari Medan untuk tiba di Danau Toba, dalam hal ini Parapat. 

Dari Parapat butuh kira-kira 1 jam lagi untuk sampai di pulau Samosir. Satu lagi, infrastruktur listrik sangat tidak memadai. Kawasan ini sering mengalami pemadaman arus listrik.

Kedua, masalah kultural. Kultur masyarakat di pulau Samosir dan tujuh daerah seputaran Danau Toba umumnya belum kultur pelayan, melainkan “kultur raja” yang serba ingin dilayani. Ini berbeda 180 derajat dengan kultur masyarakat Bali yang sangat welcoming terhadap wisatawan. 

Jika pelanggan adalah raja, maka wisatawan-wisatawan tersebut selayaknya diperlakukan sebagai raja, agar mereka rajin datang kembali dan tinggal berlama-lama. Tapi yang terjadi justru masyarakat tidak siap sedia melayani para “raja” itu.

Ketiga, selain kurangnya rasa ingin melayani, wisman dan/atau wisdom (wisatawan domestik) sering menjadi korban penipuan. Cerita tentang wisatawan yang membeli mangga cengkir di Parapat itu bukanlah isapan jempol. 

Ketika si wisatawan memilih-milih buah mangga yang akan dibeli, tampak olehnya buah yang serba bagus dan segar. Tapi setelah dibungkus dan dibawa pergi, si wisatawan kaget menghadapi kenyataan bahwa mangganya telah ditukar dengan yang lebih jelek atau busuk. 

Atau cerita tentang billing restoran. Pengunjung restoran sering dibuat terkaget-kaget oleh total billing yang menurut hemat mereka sangat tidak sepadan terhadap makanan dan minuman yang mereka nikmati.

Keempat, upaya-upaya perbaikan sektor pariwisata Danau Toba selama ini juga menjadi tidak optimal, karena ada tujuh daerah (kabupaten) yang membawa visi, misi, dan program masing-masing sesuai cara pandang dan kebutuhannya. 

Tak dapat dimungkiri, ego kedaerahan muncul. Belum lagi ketidaksinkronan dengan visi, misi, dan program provinsi Sumatera Utara serta pemerintah pusat.

Untuk menyikapi kondisi objektif ini, pemerintah pusat (melalui Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Sumberdaya) menggagas Danau Toba menjadi Monaco of Asia (“Monako”-nya Asia). 

Langkah cepat sudah langsung kelihatan. Menteri Koordinator Bidang Maritim (Rizal Ramli) memimpin rapat koordinasi dengan Menkopolhukam  (Luhut Binsar Panjaitan), Menteri Pariwisata (Arif Yahya), Menteri PU dan Perumahan Rakyat (Basuki Hadimuljono), dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Siti Nurbaya) di Institut Teknologi DEL, desa Sitoluama, Toba Samosir, Sabtu (09/01). 

Hasilnya, dalam waktu dekat akan dikeluarkan Perpres pembentukan Badan Otoritas Pengelolaan Kawasan Pariwisata Danau Toba, sehingga pengembangan pariwisata ini kelak melalui satu pintu, agar rebutan peran antardaerah dapat diminimalisir.

Presiden Jokowi pun telah memerintahkan percepatan pembangunan jalan tol Medan – Kualanamu dan Kualanamu – Parapat (via Tebing Tinggi?) agar bisa operasional tahun 2018. 

Selain itu, program listrik 35.000 KwH memungkinkan Sumatera Utara tidak mengalami pemadaman arus listrik lagi, yang selama ini telah mengganggu produksi, kenyamanan masyarakat, dan bahkan merugikan masyarakat karena alat-alat elektroniknya menjadi rusak. Kemudian program pelebaran, peningkatan kualitas, dan pemanjangan runway bandara Silangit.

Salah satu sudut Danau Toba. Tampak di latar kiri depan karamba jaring apung (KJA) yang menjadi sumber pendapatan alternatif masyarakat sekitarnya.  Sumber: vendable.net.

Masyarakat tak menginginkan Monaco of Asia?

GAGASAN pemerintah menjadikan Danau Toba menjadi “Monako”-nya Asia dan langkah-langkah yang langsung ditempuh, pantas kiranya diapresiasi. Tapi jika masukan dari komponen masyarakat yang tergabung dalam Walhi Sumut; Perhimpunan Bantuan Hukum Sumatera Utara (Bakumsu); Kelompok Studi Pemberdayaan dan Prakarsa Masyarakat (KSPPM); Yayasan Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (Justice, Peace, and Integrity of Creation/JPIC) Kapusin Medan; dan Jendela Toba, yang intinya agar pembangunan kawasan Danau Toba mengakomodasi kebudayaan, potensi, dan kearifan lokal tidak diperhatikan pemerintah, maka dikhawatirkan pembangunan tidak akan berjalan efektif.

Komponen masyarakat tersebut juga menyatakan bahwa sebelum program dilaksanakan oleh BOPKP Danau Toba, ada baiknya yang pertama dilakukan adalah pemulihan kawasan Danau Toba. Hal ini telah disuarakan berpuluh-puluh tahun. Kemudian mencegah tumpang tindih pengelolaan, karena telah terbentuk Badan Pengelola Geopark Danau Toba sebagai bagian dari jaringan geopark UNESCO.

Hemat Penulis, pengalihan sumber mata pencaharian masyarakat dari pertanian dan peternakan ikan (KJA) secara sekonyong-konyong akan menjadikan pelaksanaan program terkendala. 

Penghentian izin perusahaan dan masyarakat untuk ber-KJA seyogianya diawali dengan zoning (zonasi) antara area pariwisata dan KJA sembari menguatkan penegakan hukum terhadap beberapa korporasi yang selama ini berusaha di seputar Danau Toba. 

Jika masyarakat tak memenuhi ketentuan-ketentuan zonasi dan korporasi tidak mengelola limbahnya dengan baik, maka pemerintah (daerah) sudah punya dasar yang jelas untuk menutup kegiatan/usaha masyarakat dan korporasi tersebut. Barulah kemudian secara bertahap masyarakat lebih banyak terlibat dalam usaha pariwisata ini.

Jika tahapan-tahapan ini diabaikan, secara objektif, masyarakat bisa saja merasa bukan subjek pembangunan kawasan Danau Toba, melainkan sebagai objek dari kapitalis-kapitalis yang berinvestasi di kawasan ini dan menggusur kehidupan, kebudayaan, dan kearifan lokal yang sudah dilakoni dari generasi ke generasi.

Ketika kehidupannya terganggu dan tercerabut dari akar budayanya, masyarakat bisa saja menarik garis diametral terhadap pihak pemerintah dan “memakan” gagasan pengembangan kawasan Danau Toba yang sebenarnya sangat bagus. Dan legenda di atas akhirnya jadi kenyataan.

(Penulis adalah Penggagas KoRaSSS-Koalisi Rakyat untuk Siantar-Simalungun Sejahtera)
Share this article :

Post a Comment