}); " KEMISKINAN STRUKTURAL VS KEMISKINAN KULTURAL " | BeritaSimalungun
Home » , , » " KEMISKINAN STRUKTURAL VS KEMISKINAN KULTURAL "

" KEMISKINAN STRUKTURAL VS KEMISKINAN KULTURAL "

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 16 March 2016 | 13:42

Presiden Jokowi saat Mengunjungi Orang Rimba di Sarolangun, Provinsi Jambi.


( Relawan Jokowi )

BERITASIMALUNGUN.COM-Seandainya semua manusia disuruh duduk bersama diatas sebuah bangku panjang dan menghadap sebuah meja panjang yang dipersiapkan dengan segala jenis makanan yang dibutuhkan, maka dengan segera perbincangan tentang kaya dan miskin berhenti. Dan hal ini memiliki kemungkinan yang nyaris nihil, itulah pemahaman nihilisme dalam kehidupan nyata mahluk yang bernama manusia.

Namun demikian, fakta sejarah menyatakan bahwa tatkala umat manusia masih sedikit jumlahnya dan penghidupannya di Firdaus, maka makanan berkelimpahan yang ada di Firdaus sangat berkelebihan dibandingkan dengan makanan yang ada bagi manusia setelah enyah dari Firdaus dengan jumlah manusia yang semakin banyak. 

Disinilah letak keniscayaan bahwa manusia tidak bisa hanya berdiam lalu memperoleh makanan dengan mudah Demi melanjutkan kehidupannya. Manusia harus berjuang atau menaklukkan rintangan demi mempertahankan kehidupannya. Sejarah mencatat bahwa pada akhirnya didalam perjuangan mempertahankan hidup ini, ternyata ada manusia yang sanggup dan ada yang Tidak sanggup. 

 Yang jadi masalah adalah ada manusia yang menghalangi manusia lain didalam pertarungan mempertahankan kehidupannya, karena mereka lebih kuat.

Perkembangan kehidupan manusia terus menerus terjadi, akhirnya tiba pada suatu kenyataan bahwa manusia sudah terlalu banyak dan bumi tetap tidak bertambah besar. Artinya kebutuhan makanan yang tersedia dibanding jumlah penduduk yang banyak tidak seimbang dan semakin parah lagi disebabkan oleh keserakahan segelintir manusia rakus dan kejam.

Terjadilah ada manusia kaya dan ada manusia miskin. Manusia kaya bahkan semakin kaya dan manusia miskin semakin miskin karena kitidakadilan dan keserakahan dari animale laboran atau mahluk rakus.


Terjadilah pertarungan sengit antar umat manusia untuk mempertahankan hidupnya.

Manusia mulai mengorganisir dirinya dan muncullah kelompok manusia yang hidup disuatu daerah tertentu yang berbentuk kerajaan, monarkhi, republik, dan lainnya yang tujuannya adalah untuk mempertahankan hidup yang telah dianugerahkan Tuhan kepadnya. 

Muncullah era Baru, era dimana pertarungan antar kelompok (Negara) semakin tinggi. Siapa kuat dia menang. Saling menjajah adalah lumrah. Kaum Borjuis versus Kaum Proletar. Kaum Ningrat versus Rakyat Jelata. Pemerintah versus Rakyat. 
Muncullah orang kaya Raya dan orang miskin melarat. Yang Kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.


Pada akhirnya manusia harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri dimuka bumi ini entah mau atau tidak mau suka atau tidak suka. Yang menjadi masalah adalah disatu pihak bertanggung jawab atas dirinya dan dilain pihak dihalangi sehingga pertanggung jawabannya adalah pertanggung jawaban yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. 

Bagaimana bisa seandainya saya disuruh harus merawat kesehatan, menjadikan pintar bagi anak anak saya, tetapi dilain pihak kesempatan itu tidak diberikan karena ketiadaan akses untuk meraihnya, inilah kejahatan manusia terhadap manusia lain. 

Orang saling menjegal. Orang saling menyikut. Orang saling membunuh, semua demi melangsungkan kehidupannya. Manusia cenderung menjadi serigala bagi manusia lainnya. Omong kosong dengan segala peraturan yang ada, jikalau manusia tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang mengapa mereka harus berada di alam semesta ini. 

Ada etika. Ada Agama. Tetapi pada hakekatnya bahkan ilmu ilmu tentang manusia tidak sanggup menjawab pertanyaan pertanyaan mendasar seperti : Apakah esensi manusia itu bersifat material atau spiritual, siapakah sebetulnya manusia itu dan bagimana kedudukannya dialam semesta yang maha luas ini. Apakah arti dan nilai atau makna hidup manusia itu serta apakah ada kebebasan pada manusia. 

Apa yang sebenarnya menjadi tujuan asasi darri hidup manusia dan apa yang harus dilakukan oleh manusia didunia yang sangat tidak menentu ini. kita bilang ah ini zaman modern, maka pertanyaan itu sudah diketahui, maka tidak perlu bertanya lagi. 

Loh, pada kenyataannya manusia belum bisa menguak kemisteriannya, sehingga apapun yang dilakukan dimuka bumi ini selalu berdasarkan pemahaman iman dan percaya kepada Kekuatan Besar dimana pada hakekatnya manusia sendiri tidak faham apa itu, diterimalah kenyataan itu sebagai Iman dan ironis dan tragis bahwa orang berimanlah yang sering berperan didalam dehumanisasi. Terjadilah banyak orang miskin di dunia ini.


Ada yang miskin secara struktural dan miskin secara kultural.

Saya hanya berbicara tentang kemiskinan di Indonesia, sebagai inti dari tulisan ini.


Salah satu masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia adalah masalah kemiskinan atau terlalu banyak orang miskin. 

Data Badan Pusat Statistik menyatakan bahwa pada tahun 2011 jumlah orang miskin sudah turun menjadi 30 juta jiwa. Tahun 2010 jumlah orang miskin adalah 31 juta jiwa. Tahun 2007 jumlah orang miskin masih 37 juta jiwa.


Saat ini Presiden JOKOWI sementara berjuang keras untuk mengentaskan kemiskinan atau meningkatkan kesejahteraan rakyat miskin. Dengan arif dan bijaksana Beliau mencanangkan program program yang pro rakyat kecil.

Kemiskinan Struktural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktor faktor struktural.

Kemiskinan Struktural ini menurut Penulis hanya ada dua faktor, dan apabila ada Penulis lain yang bisa menambahkan faktor lain, maka itu demi perbaikan kedua faktor ini.


Yang pertama diakibatkan karena Masyarakat itu sudah terstruktur.
Ada tingkat atas, tingkat menengah dan tingkat bawah. Kelas atau Tingkat yang paling bawah inilah yang sering dijuluki manusia miskin harta karena pada kenyataannya memang mereka miskin.


Yang kedua diakibatkan karena Kekuasaan.

Struktur kekuasaan pada hakekatnya mempengaruhi jumlah orang miskin. Kalau kekuasaannya terdiri dari manusia KORUTOR semua, maka orang miskin tambah merana. Omongkosong dengan program mensejahterakan rakyat jikalau Pemimpinnya Tukang Korupsi. Saya tidak percaya Pemimpin yang Korup dapat mensejahterakan rakyat. 

Seribu kali Program Pengentasan Kemiskinan ada dan seribu kali pun tidak akan berhasil jokalau Pemimpinnya korup. Oleh karenanya saya setuju KORUPTOR dihukum mati. Jadi hanya Pemimpin yang sayang rakyatnya, yang adil dan bijaksana, yang tidak korupsi yang dapat meringankan beban penderitaan orang miskin.

Jokowi akan menghantar Indonesia untuk mensejahterakan Rakyat miskin. Hanya JOKOWI yang saya percaya dapat menyebabkan jumlah rakyat miskin berkurang, yang lain omong kosong.


Kemiskinan Kultural adalah Kemiskinan yang disebabkan oleh faktor kultural atau faktor Budaya.


Ada dua model Kemiskinan Struktural, yang pertama karena budaya masyarakat, jika masyarakatnya berbudaya malas dan apatis serta budaya masyarakat rajin, kreatif. Dari kedua model ini tentu yang malas merupakan tanggung jawab bersama dengan Pemerintah untuk merubah cara berfikir malas tersebut. 

Itulah sebabnya, mengapa ada Nation and Character Building atau Revolusi Mental ala Bung Karno yang sementara diteruskan oleh ANAK IDEOLOGIS BUNG KARNO yang bernama JOKOWI. 

JOKOWI sementara merubah cara berfikir keliru bangsa ini mulai dari dirinya sendiri dan ditularkan kepada manusia disekitarnya untuk diteruskan keseluruh masyarakat terutama masyarakat yang berbudaya malas.

Seandainya saya disuruh berkata jujur, maka saya mau mengatakan bahwa oleh karena Pemimpin sebelum JOKOWI mengadopsi POLITIK PORNO ( segala tindakan yang mengenakan prinsip tujuan menghalalkan cara ) dan SISTEM PATRONASE ( sistem yang memberi akses kepada pihak pihak yang berkuasa dalam sistem itu untuk lebih leluasa melakukan tindak korupsi ), maka ORANG MISKIN TETAP BANYAK DI RI.

Yang dibutuhkan oleh bangsa ini adalah Pemimpin Yang Pintar dan Benar, bukan Pemimpin yang pintar tapi tidak benar apalagi pemimpin yang goblok dan bebal.


Jangan dibalik prinsip bahwa kita harus hidup lebih dulu baru kemudian berfilsafat, itu menurut tuan Schopenhauer. Terkadang orang berfilsafat tetapi lupa bahwa mereka juga harus hidup dan untuk hidup tidak bisa tidak harus berjuang. The struggle for life. Bukan the struggle for making them poor yang dilakukan oleh mahluk kampret. 

Jalan menuju kepastian adalah melalui keragu raguan yakni meragukan segala hal dan kemudian mengambila sebagai aksioma apapun yang terbukti tidak dapat diragukan, demikian Descartes mengajar saya, sehingga jika saya benci KORUPTOR itu bukan benci orangnya tetapi perbuatannya, karena merekalah yang membuat orang miskin bertambah banyak di the nation state of Indonesia. 

Coba simak apa yang dikatakan oleh Karl Marx, para Filsuf bukan bertugas untuk menerangkan dunia ( das Sein ), tetapi mengubah dunia ( das Sollen ). 

Dan, jangan ditangguhkan untuk menyimak apa yang dikatakan oleh Tuan Nietzsche, mendobrak kebudayaan yang lembek, mapan, bodoh, dan cepat puas diri ( moral budak ) menggantinya dengan kebudayaan yang adikuasa, megah, kompetetif, perkasa, hebat, dan berani ( moral tuan ). 

Dengan demikian, maka saya yakin stigma jelek seperti eine nation von kuli und kuli unter den nationen ( bangsa kuli dan kuli bangsa bangsa ) dari Karl Theodor Helfferich sirna.

Dengan mengemukakan prinsip tuan Arnold Toynbee " A great civilization never goes down unless it destroy itself from within ", maka berakhirlah tulisa ini. VIVA JOKOWI !!!
Share this article :

Post a Comment