}); Surat Terbuka Sarido Ambarita Buat Bapak Presiden Jokowi | BeritaSimalungun
Home » , , , , , » Surat Terbuka Sarido Ambarita Buat Bapak Presiden Jokowi

Surat Terbuka Sarido Ambarita Buat Bapak Presiden Jokowi

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 2 March 2016 | 07:26

Kecewa! Kecewa! Ternyata bapak Jokowi tidak mengunjungi satu tempat pun di Parapat. Rencananya beliau akan mengunjungi Istana Presiden Bung Karno. Beliau sudah pulang ke Medan, hanya singgah sebentar di hotel Niagara. Padahal rakyat Parapat sudah siap menyambut termasuk patung Sigale2 ini. Yang kek mananya protokoler beliau?. Foto Ist Sarido Ambarita.

(Dalam rangka kunjungan ke Parapat Danau Toba)


Horas!

Sebagai "wong cilik". saya tidak punya kapabilitas untuk bisa bertemu dengan bapak. Oleh karena itulah saya menulis surat terbuka ini, dengan harapan bisa terbaca bapak atau pun staf.

Yang mulia tuan presiden,


Hingga saat ini saya masih merasakan betapa masih kuatnya akar feodalisme yang ditinggalkan kolonialis Belanda ke dalam tubuh para pejabat kita di negeri tercinta ini. 

Sense of belongs semacam ini terlihat manakala agenda kunjungan kerja bapak salah satunya mengunjungi kota kami Parapat tercinta. Perlu saya jelaskan sejenak, bahwa kota Parapat yang dikenal sebagai kota pariwisata, selama ini sudah mengalami keterpurukan. 

Keadaan ini mulai terjadi ketika negeri kita mengalami krisis moneter dan ditambah berbagai peristiwa lain seperti teroris dan pembakaran hutan yang mengancam keselamatan dunia penerbangan.

Singkat cerita, pariwisata Parapat seperti berjalan tanpa arah. Ibarat biduk tanpa nahkoda. Tentu bisa ditebak apa nasibnya. Terombang-ambing diterpa gelombang.

Keadaan ini makin memprihatinkan dimana pemerintah seolah menutup sebelah mata dan membiarkan Parapat berjalan sendiri tanpa arah yang jelas. Kondisi ini semakin parah di mana masyarakat sudah mulai ikut pula mengambil sikap tidak perduli. 

Di tengah kondisi inilah Parapat sudah tak makin layak lagi menyandang predikatnya sebagai kota Pariwisata-padahal dulu, hingga dekade 1980-an merupakan Pintu Gerbang Pariwisata Danau Toba dan masa booming pariwisata. 

Jika tuan Presiden diam-diam datang berkunjung ke Parapat, barangkali tuan akan meneteskan air mata melihat kondisinya. Jelas akan berbeda dengan kapasitas tuan yang datang dan diatur protokelar negara. 

Maka itulah Parapat seketika berubah wajah. Sarana jalan yang selama lima tahun ini berlobang-lobang, kupak-kapik di sana-sini, tiba-tiba saja mulus. Sampah yang menimbulkan aroma tak sedap membuat udara Parapat seperti mendapat semprotan minyak wangi sekelas guci. Bangunan yang mengganggu pemandangan segera ditertibkan. Amboi...wajah Parapat nan cantik rupawan seperti terlihat kembali. 

Hebat! Ternyata pesulap hebat bukan David Corferfield atau Dedy Corbuzier dan Limbat di negeri kita. Tapi justru pejabat daerah yang bisa menyulap wajah Parapat bisa menjadi "cantik" seketika. Luar biasa. Inilah barangkali bagian dari ajaran mental feodalis yang saya maksud di atas tadi. Bukan revolusi mental. 

Jika memang harus begini maka kami sangat berharap tuan Presiden bisa mengunjungi kota kami dua kali setahun. Tapi kami sadar, yang mulia banyak tugas yang lain lagi mengurus negeri gemah ripah loh jinawe ini. Masih banyak yang harus tuan kunjungi, dari Sabang hingga Merauke.


Yang Mulia Tuan Presiden,


Kami mendengar bahwa tuan punya dua agenda kegiatan di Parapat. Pertama, mengunjungi Psanggarahan istana Presiden Marihat yang dikenal sebagai tempat tawanan Bung Karno. Kedua, meninjau pembangunan pekan tigaraja.

Baiklah, saya akan bercerita sekilas tentang gedung bersejarah itu, yang saya peroleh dari para orangtua terdahulu. Banyak yang beranggapan bahwa gedung tersebut adalah peninggalan kolonial Belanda. Memang, sejak awal tahun 1900 Belanda sudah masuk ke Parapat dan mendirikan tangsi atau pos militer di hotel Inna Parapat sekarang. 

Patut ditelusuri lagi bahwa gedung itu adalah milik seorang annemer perkebunan di Marihat (Siantar) berkebangsaan Jerman. Pada masanya, hampir setiap minggu ia liburan membawa keluarganya ke Parapat. Karena itulah ia berniat membangun rumah sebagai tempat plesiran. 

Karena itu pula ia menyebut kawasan itu dengan nama Marihat. Tapi setelah pendudukan Jepang, sang annemer tersebut pulang ke negerinya. Dan setelah Belanda berkuasa kembali, gedung-gedung peninggalan diambil alih kembali oleh Belanda.

Tahun 1948, bung Karno ditawan di gedung ini. Tak lama memang, hanya sekitar tiga bulan. Tentunya beliau banyak meninggalkan benda-benda bersejarah. Mulai dari ranjang, lemari, rak buku dan lain sebagainya. Tapi saat ini isinya sudah tak utuh lagi. 

Raib entah kemana. Kini hanya tinggal kapstok atau tempat menggantungkan topi atau jas. Bahkan beberapa bentuk bangunan sudah direhab dan meninggalkan bentuk aslinya.

Terbetik pula kabar, entah beredar dari mana, bahwa kedatangan tuan Presiden akan melanjutkan pembangunan monumen Patung Bung Karno yang dicanangkan sewaktu pemerintahan ibu Megawati. Melihat maketnya, secara pribadi, saya kurang setuju jika tempat tersebut jadi lokasinya. 

Mengapa? Hemat saya, ini akan semakin meninggalkan wajah sejarahnya. Kalau pun dibuatkan patung, tidak akan terlihat dari berbagai penjuru. Belum lagi konstruksi air yang belum begitu kita kuasai. 

Nah, saya hanya bisa menganjurkan jika sebaiknya monumen tersebut dibangun di atas bukit Dolok Siboru Manggohi atau bukit di atas gedung confrensi hall. Selain lebih tinggi, areal tersebut juga jauh lebih luas.



Yang kedua, kami mendengar bahwa tuan Presiden akan meninjau pekan Tigaraja yang pembangunannya terkesan amburadul.

Pekan tersebut sudah lama berdiri dan merupakan pasar tradisional. Tigaraja sesungguhnya adalah padanan kata Tiga dan Raja. Dalam bahasa Batak, tiga artinya pajak atau pekan. Raja sama dengan bahasa Melayu. 

Menurut cerita para orangtua, awalnya pekan tersebut menjadi Tigaraja adalah disebabkan seringnya para raja-raja di seputar Danau Toba maronan atau berbelanja. Kesempatan itu pun dijadikan para raja tersebut ubtuk bertemu. Bahkan Raja Sisingamaraja XII dari desa Bakkara datang bersama pasukannya dengan mengayuh Solu Bolon atau perahu tradisionil terbesar di Danau Toba.

Seiring waktu berjalan, pasar tradisional itu berkembang dan tak hanya di bangunan lama lagi. Tapi makin meluas hingga ke luar bangunan. Makin menarik. 

Sebab, pengunjungnya tak hanya masyarakat Parapat dan sekitarnya tapi juga dari luar daerah seperti penduduk Pulau Samosir dan Balige. 

Seiring Parapat kota wisata, ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan khususnya mancanegara. Namanya pasar tradisional, ada semraut memang. Tapi ini justru daya tarik.

Macetnya jalan yang kesimpulannya diakibatkan oleh kesemrautan para pedagang membuat pemerintah merenovasi pasar tersebut dengan bangunan modren. Secara pribadi sesungguhnya saya kurang setuju karena ini jelas menghilangkan satu asset pariwisata. Apakah pasar modren menarik minat wisatawan yang justru di negerinya jauh lebih hebat? 

Kita jangan hanya menilai sisi ekonomis semata tapi juga budaya dan sebagainya. Soal macet sebetulnya bisa diatasi bila kita tegas. Tapi sudahlah, semoga pasar tersebut bisa menjadikan Parapat semakin maju dari sisi ekonomis. Saya hanya sekedar mengingatkan agar master plan kota Parapat bisa lebih baik dan terarah ke depan.


Tuan Presiden Yang Mulia,


Masih banyak sebetulnya yang ingin saya sampaikan. Tapi cukup di sinilah curhat saya ini bisa saya sampaikan. Dan segala kekurangannya mohon maaf. Semoga kiranya tuan Presiden bisa membaca keluhan hati kami warga wong cilik ini. Terima kasih, mauliate, salam Horas Danau Toba. (Penulis Sarido Ambarita/Pemerhati Kebijakan Publik dan Lingkungan di Parapat)
Share this article :

Post a Comment