Home » » Pengantin Baru Menjelma Menjadi Ular di Tarutung

Pengantin Baru Menjelma Menjadi Ular di Tarutung

Written By Berita Simalungun on Thursday, 16 June 2016 | 14:26

DANAU TOBA DESA HUTAIMBARU SIMALUNGUN

BERITASIMALUNGUN.COM-Warga Desa Hutabarat Tarutung, geger dan heboh. Sepasang anak manusia yang baru saja melangsungkan pernikahannya menjelma berwujud ular. Warga kampung-kampung sekitarnya ikut-ikutan dibuat heboh. Bahkan kabar itu segera beredar dan berkembang sampai-sampai ke kawasan Pahae, Humbang Habinsaran (Sipahutar, Pangaribuan, Garoga dan Siborongborong).

“Ini bukan berita sensasi. Betul-betul terjadi”, ujar Nyonya Silalahi Boru Hutabarat atau yang lebih dikenal bernama Nai Pordin , penduduk Kelurahan Partali Toruan, Kecamatan Tarutung. Sesungguhnya, nama anak sulung Nai Pordin adalah Ferdinand Silalahi. Tapi sudah kebiasaan Orang Batak merubah-rubah lafal nama seseorang. William disebut Billem, Wilson disebut Bitcon, Robinson disebut Gitcon, Washinton disebut Itcon.

Penjelasan Nai Pordin dibenarkan Daulat Hutabarat, seorang warga Huta Bagasan juga di Kelurahan Partali Toruan. Laki-laki yang sehari-hari bekerja sebagai sais kuda (sado) yang sudah uzur dan sepuh itu mengatakan, pasangan pengantin yang menjelma menjadi ular itu merupakan Boru Hutabarat bernama Natumandi. Sedang mempelai laki-lakinya, tidak dijelaskan Daulat nama dan marganya.

Seperti dituturkan Nai Pordin dan dibenarkan Daulat, di Desa Hutabarat dan sekitarnya Natumandi Boru Hutabarat dikenal luas sebagai perempuan berparas ayu, cantik dan menarik. Matanya sayu merayu, dengan pandangan atau tatapan yang sendu. Kulit tubuhnya halus dan mulus, tanpa cacat setitik pun. Rambutnya panjang dan terurai, dan tingginya semampai.

Sehari-hari, Natumandi menghabiskan waktunya untuk bertenun ulos Batak yang antik menarik serta mengikat dan memikat. Dia mahir menjalin satu benang dengan benang lainnya menjadi tenunan adat yang sarat makna. Ayahandanya membuatkan semacam pendopo di bahagian depan rumah mereka untuk tempat bertenun sang putri. Hasil tenunannya dijual ke Onan Tarutung setiap Sabtu. Di Tarutung memang, sejak dulu kala hari Sabtu dijadikan sebagai hari pekan.

Kabar kecantikan Boru Hutabarat ini memang sudah menyebar kemana-mana. Mulai Luat Pahae, Kawasan Hullang di Tapanuli Tengah, Humbang Hasundutan, Humbang Habinsaran. Bahkan sampai ke Toba, Samosir, Dairi dan Karo serta Tanah Alas. Juga ke Sipirok, Mandailing dan Angkola.

“Bahkan di Timur, banyak orang yang mengetahui kecantikan Boru Hutabarat ini”, kata Nai Pordin sambil mengunyah sirihnya. Kata Timur, maksud Nai Pordin adalah Tanah Deli, Labuhan Batu, Simalungun serta Asahan.

Karena itu, masih kata Nai Pordin, banyak laki-laki gagah perkasa yang sudah pernah mencoba meminang Natumandi. Dari kawasan mana saja mereka datang. Ada yang datang menunggang hoda sihapas pili, lengkap dengan sorsor dan tali-tali.

“Akka anak ni raja. Pinompar ni na mora”, kata Nai Pordin.
Tapi entah mengapa, Natumandi tidak pernah bergeming. Dia tidak tertarik terhadap laki-laki mana pun yang pernah datang, meski dengan cumbu rayu dan janji-janji akan setia sampai mati. Dan kondisi ini kata Nai Pordin, membuat ayahanda Natumandi gelisah resah. Sementara usia Natumandi terus saja merambat hingga hampir kepala tiga.

Sampai suatu masa - masih penjelasan Nai Pordin - seorang laki-laki berpenampilan sederhana datang ke Desa Hutabarat. Dia mencoba mendekati Natumandi dengan kesederhanaan yang bersahaja. Menjadi aneh, sebab Natumandi lekas dan cepat tergoda. Kepada ayahandanya, Natumandi berkata ingin segera dinikahkan dengan laki-laki ini. Pesta adat perkawinan keduanya pun diselenggarakan dengan meriah.

“Bodari nai, pintor dibahen Amana ma gondang hasampuran tu Boru nai dohot helana i”, kata Nai Pordin.

Segera setelah pesta adat pernikahan mereka usai setelah mamalu gondang sabangunan tolu ari tolu borngin padodot, pasangan pengantin baru ini pamit. Mempelai laki-laki itu menyampaikan kepada simatua dan segenap hula-hulanya Marga Hutabarat, akan membawa istrinya ke kampung asalnya. Mereka bermaksud tinggal dan bermukim disana, sebuah daerah yang kaya dan makmur di Tepian Danau Toba.

Pagi yang cerah, kedua pasangan pengantin baru itu diberangkatkan segenap handai taulan menuju tanah leluhur suaminya. Mereka mengarah ke Aek Situmandi, sebuah sungai di Desa Hutabarat yang airnya mengalir tenang bermuara ke Aek Sarulla dan menjatu di hulunya pada Aek Puli di Luat Pahae. Gondang dan uning-uningan ikut memeriahkan keberangkatan mereka. Sementara Ibunda Natumandi menangis terisak meneteskan air mata. Terbayang, mereka akan lama sekali berpisah. Dipisahkan jarak dan waktu.

Tapi di tengah perjalanan menuju Aek Situmandi, laki-laki suami Natumandi itu mengarah ke sebelah kiri jalan setapak yang mereka lintasi. Di bibir sebuah gua kecil yang ada disana, di kawasan Aek Rangat Partali Toruan, laki-laki itu berhenti sejenak. Dia memandang istrinya dengan beribu makna dan sarat arti. Rombongan yang mengantar mereka hingga ke mulut desa bagai terbengong serta terhipnotis.

Dalam suasana begitu, Natumandi mendekati dan menghampiri sang suami. Orang banyak menanti dengan harap-harap cemas apa yang bakalan terjadi. Pelan dan perlahan serta pasti, tubuh laki-laki itu berubah menjelma menjadi ular. Kondisi itu diikuti oleh tubuh Natumandi. 

Dalam hitungan menit, tubuh kedua pasangan suami istri ini sudah berwujud ular sungguhan. Keduanya merayap perlahan memasuki gua kecil itu hingga lenyap dari pandangan mata seluruh keluarga dan handai taulan yang mengantar mereka.
Kabar peristiwa itu pun cepat menyebar. Ada pasangan suami istri di Hutabarat yang menjelma berwujud menjadi ular ! (Cerita Oleh-Siantar Estate, 16 Juni 2016-Ramlo R Hutabarat)
Share this article :

Post a Comment