Home » , , » Cerita Panjang tentang Samosir (4)

Cerita Panjang tentang Samosir (4)

Written By Berita Simalungun on Thursday, 7 July 2016 | 20:43

Duhai Samosir,tubuhmu yang terbakar pada jahilnya tangan anak negerimu. Duhai Samosir, pada batas kaki langkit di Desa Singkam.

Ruas jalan menuju Desa Singkam Kecamatan Sianjur Mulamula, Kabupaten Samosir, sekarang sedang diperlebar dengan mengikis dinding bukit di sisi kanannya. Seorang anak negeri mengatakan, pelaksanaan pekerjaannya sudah di mulai sejak Desember tahun lalu. Tapi, sudah beberapa waktu pelaksanaan pekerjaannya katanya, terhenti tanpa diketahui apa sebabnya dan kenapa. Satu unit alat berat, terlihat tengah istirahat di bibir Desa Singkam. Pasti ada yang tidak beres disini, pikirku. 
BeritaSimalungun.com-Mengitari Samosir mulai dari Ambarita hingga ke Pangururan pada ruas jalan Tomok - Onanrunggu, kesan yang muncul adalah betapa keringnya bumi asal leluhur Orang Batak itu. Tanam-tanaman umumnya kurus bagai tak diurus. Bahkan di beberapa tempat terlihat tanah yang merekah hampir retak-retak. Kering kerontang berhiaskan pebukitan yang botak dan gundul.

Dari Aek Natonang di Tanjungan hingga Pangururan, pemandangan yang hampir sama terlihat jelas. Tanaman jagung yang rakus air pun terlihat sengsara dan merana bagai kerakap tumbuh di batu. 

Tanaman keras seperti kopi, menderita pilu diserang hama yang mengganas. Tak ada anak negeri yang tahu apa nama dan jenis penyakit yang menyerang tanaman kopi itu. Sebagaimana umumnya orang desa, mereka bersikap pasrah dn nrimo pada apa yang mereka alami.

Nyanyian Pulo Samosir ciptaan komponis nasional almarhum Nahum Situmorang akhirnya bagai bohong belaka. “ ............gok disi hansang, nang eme nang bawang - rarak nang pinahan di dolok i .......................” Sungguh, aku dan Dahlia Hutabarat tak menyaksikan kondisi seperti yang ditulis dalam untaian lagu itu.

Penyakit atau hama yang menyerang berbagai tanaman seperti kopi dan bawang, agaknya merupakan sebuah PR yang dalam waktu sesegera mungkin diantisipasi Pemkab Samosir. 

Entahlah bagaimana caranya. Yang penting, Pemkab Samosir tak elok kalau seolah buta dan tuli atas peristiwa itu. Negara, memang wajib hadir di tengah kesulitan anak negerinya dan itulah kewajiban negara. Boleh jadi misalnya, dengan mendatangkan akhli-akhli untuk mengenali sekaligus memberantas hama tadi.

Dulu, cerita Benger Sinaga Sekretaris Desa Tanjungan, tanaman kopi di desanya tumbuh subur dan menghasilkan biji yang baik. Hasilnya dijual ke kota, dan uangnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam arti luas. 

Termasuk, untuk membiayai pendidikan putra-putra mereka. Tapi saat serangan hama membahana, segalanya punah dan sirna. Harapan tinggal harapan, dan tak satu pihak pun yang pernah memberikan perhatian.

Panorama alam sepanjang jalan Ambarita - Pangururan, betul teramat menakjubkan. Tak berlebihan kalau orang mengatakan, Samosir merupakan kepingan yang jatuh dari sorga. Melepaskan pandangan mata ke arah permukaan danau, betapa menyejukkan dan terasa damai. 

Apalagi ruas jalan Ambarita - Pangururan terbilang mulus kecuali 3 atau 4 kilometer di kawasan Onanrunggu.

Tapi ternyata, kehidupan anak negeri Samosir secara umum masih dililit kemiskinan yang papa. Terutama mereka yang bermukim di pegunungan, di balik-balik punggung pebukitan yang gundul, tandus dan gersang. 

Pada 1980-an lalu saat melakukan KKN di Samosir, aku menemukan masih banyak anak negeri yang cuma makan ubi dan kadang jagung disana. Dan kondisi itu, masih juga terdapat di bumi yang disebut-sebut sebagai kepingan yang jatuh dari sorga itu.

Mengitari Samosir, mau tidak mau aku membanding-bandingkannya dengan Humbang Hasundutan, juga Pakpak Bharat. Ketiga daerah ini merupakan saudara kembar yang ‘dilahirkan’ secara bersamaan. 

Tapi di berbagai hal, kondisi dan keadaannya jauh berbeda kalau tak bisa disebut paradoksal. Nyaris tak berbeda kondisi Samosir saat daerah itu masih menjadi bagian dari Kabupaten Tobasa bahkan saat menjadi bagian Tapanuli Utara.

Ruas-ruas jalan antar desa, di Samosir belum bisa disimpulkan memadai kalau bandingannya adalah jalan antar desa di Kabupaten Humbang Hasundutan. Perhatian dan kepedulian pemdanya terhadap anak negerinya dibandingkan dengan Pakpak Bharat juga jauh panggang dari api. Coba saja. 

Di Pakpak Bharat pemdanya bahkan menyediaan bus sekolah untuk mengantar jeput pelajarnya. Anak negeri yang ingin mengusahakan lahan pertaniannya diberikan pemdanya kemudahan berupa traktor bahkan pinjaman modal usaha pertaniannya.

Paling-paling yang berubah di Samosir adalah kondisi perekonomian anak negerinya di bagian pesisir Palipi - Pangururan saja, di pinggiran jalan raya. Itu terlihat dari bentuk dan tipe rumah-rumah penduduk yang permanen mengarah mentereng. 

Tapi, tentu saja bangunan-bangunan rumah itu dananya berasal dari anak rantau mereka yang sukses dan berhasil di perantauan. Membangun rumah di Bona Pasogit dari hasil di perantauan.

Sepanjang perjalanan di tepi-tepi ruas jalan Ambarita - Pangururan pada kedai-kedai minuman, masih terlalu banyak terlihat terutama kaum lelaki yang ongkang-ongkang. Entah membicarakan apa saja, entah memikirkan apa saja. 

Boleh jadi mereka mandele setelah terus menerus dililit kemiskinan, dan akhirnya pasrah pada keadaannya. Dan, Pemkab Samosir misalnya melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat-nya tidak berbuat apa saja.

Sepuluh tahun di bawah kepemimpinan Mangindar Simbolon sebagai Bupati Samosir, aku tidak melihat perubahan yang nyata di tanah asal leluhur Orang Batak ini. Perubahan seperti yang dimaksudkan dari ulat menjadi kepompong hingga akhirnya menjadi kupu-kupu. Padahal, Manghindar sepengenalanku adalah seorang yang cerdas dan pintar. Selain itu, dia terbilang tenar apalagi berpenampilan necis, rapi dan ganteng pula.

Akan halnya Bupati Samosir sekarang Rapidin Simbolon, agaknya memang sudah memulai langkah-langkah untuk membangun Samosir dengan tulus dan ikhlas serta profesional dan dengan itikad baik. 

Itu ditandai misalnya, dengan upayanya belum lama ini yang membawa Rancangan RPJMD ke Jakarta, untuk mendapat masukan dari putra-putri Samosir di perantauan. Dalam pertemuan antara Pemkab Samosir dengan Perantau Jabodetabek dan Bandung belum lama ini di Hotel Sari Pacifik Jakarta memang, diyakini akan tercipta RPJMD yang mendarat dan sangat mungkin untuk diwujudnyatakan.

Tapi tentu saja, membangun Samosir - membangun anak negerinya - tidak cuma menjadi kewajiban Orang-orang Samosir belaka. Semua Orang Batak mengaku berasal dari Samosir. 

Sebagai negeri asal leluhurnya, tentunya semua Orang Batak berkewajiban membangun Bona Pasogitnya. Tidak sekadar manis di bibir :”Pulo Samosir do/ haroroan hu Samosir do/ ido asal hu/ sai tong ingoton hu/ saleleng ni ngolung hu puji ho ..........................”
- B e r s a m b u n g -(Patarias Coffeshop, 7 Juli 2016
Share this article :

Post a Comment