}); Penutup Kepala 'Aneh' Jokowi Jadi Perdebatan Sengit di Media Sosial | BeritaSimalungun
Home » , , , » Penutup Kepala 'Aneh' Jokowi Jadi Perdebatan Sengit di Media Sosial

Penutup Kepala 'Aneh' Jokowi Jadi Perdebatan Sengit di Media Sosial

Written By Beritasimalungun on Tuesday, 23 August 2016 | 18:29

Penutup Kepala 'Aneh' Jokowi Jadi Perdebatan Sengit di Media SosialBeritaSimalungun.com, Medan-Gaya busana Presiden Joko Widodo menjadi perdebatan di dunia maya usai memakai penutup kepala yang aneh saat mengenakan pakaian adat Budaya Batak sub etnis Toba saat melakukan kunjungan di Tobasa, Sumut.

"Jokowi dengan tutup kepala gaya 'kontemporer' di Danau Toba sore ini," tulis Rizaldi Siagian di dalam akun Facebooknya.

Rizaldi yang kini menjadi dosen di Universitas Sumatera Utara (USU) jurusan Etnomusikologi mengaku selama melakukan penelitian budaya Batak tidak pernah melihat motif penutup kepala yang 'aneh' itu. 

Bermaksud untuk menghormati Jokowi dengan memberikan kehormatan seperti raja Batak, justru panitia kedatangan presiden menyuguhkan gaya busana yang memalukan dan akhirnya di-bully  oleh netizen.

"Masa orang batak mempermalukan presidennya sendiri di rumahnya," katanya.

Terlihat Jokowi seperti mengenakan wig dengan warna blonde. Lihat videonya saat Jokowi mengenakan penutup kepala yang 'aneh' di sini:

Tidak hanya Jokowi yang terlihat aneh, Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi juga mengenakan penutup kepala yang sama. 

Hanya saja rambut dari penutup kepala yang dikenakan Erry tidak menjutai sempai ke bahu seperti yang dikenakan Jokowi.

Rizaldi yang dihubungi via seluler mengatakan ikat kepala yang dipakai Jokowi tidak benar, memperlihatkan panitia tidak siap menyambut Jokowi.

"Dia harus memakai pakaian yang benar, merepresentasikan adat dan budaya yang ada di Indonesia. Ikat kepala itu merupakan simbol budaya batak Toba. Harus dihormati, tidak asal-asal begitu," ungkapnya.

Sementara itu Torang Sitorus kolektor kain tenun, termasuk tenun ulos Batak menyebut ikat kepala yang dipakai Jokowi masuk kategori 'aneh'.

Dia mengaku belum pernah melihat gaya ikat kepala yang digunakan Jokowi saat di Balige, Kabupaten Tobasa.

Katanya tidak seharusnya kepala negara mengenakan pakaian adat yang salah dari budaya Batak.

"Cara melipat kain/ikat kepalanya aneh, salah rumbainya harus keluar dri atas ke arah bawah," katanya di dalam akun media sosialnya.

Menurutnya kain yang dipakai Jokowi merupakan kaun ulos Pinuncaan dari Toba, bukan Ragidup. "Kelihatan dari motif ikat nya, motif Kepala /tumpal kain nya juga," katanya.

Pada hari ke-4 sekaligus hari terakhir kunjungan kerja ke Sumatera Utara, Presiden Joko Widodo (Jokowi), Senin (22/8) pagi, diagendakan meninjau kawasan yang akan dijadikan objek wisata di Kabupaten Humbang Hasundutan.

Dalam peninjauan ini, Presiden akan didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, serta Gubernur Sumatera Utara Erry Nuradi.

Sebagaimana diketahui, komitmen Presiden Jokowi dalam mengembangkan sektor pariwisata telah ditunjukkan dengan mengembangkan 10 destinasi wisata prioritas, di antaranya kawasan wisata Danau Toba.

Sebagai tindak lanjut, Presiden juga telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 49 Tahun 2016 tentang Badan Otorita Pengelolaan Kawasan Pariwisata Danau Toba pada awal Juni lalu.

Badan ini bertugas mempercepat proses pembangunan Danau Toba yang masuk ke dalam 10 destinasi prioritas nasional.Dalam kunjungan ke kawasan Danau Toba kali ini, PresidenJokowi juga melakukan pertemuan dengan Gubernur Sumatera Utara dan 7 Bupati di kawasan Danau Toba (20/8), guna membahas pengembangan potensi kawasan ini.

Presiden juga meninjau secara langsung potensi yang ada, salah satunya adalah ke Pulau Samosir.

Usai meninjau ke Humbang Hasundutan, Presiden akan langsung menuju Bandar Udara Silangit, Tapanuli Utara untuk terbang menggunakan pesawat CN-295 TNI AU menuju Bandar Udara Kualanamu, Deli Serdang.

Dari Bandara ini, Presiden akan melanjutkan perjalanan ke Jakarta menggunakan pesawat kepresidenan Indonesia-1.

Ini Penjelasan Desainer Merdi Sihombing


Presiden Joko Widodo dinilai mengenakan kostum yang salah saat melakukan kunjungan ke Tobasa, Sumatera Utara.

Jokowi diberikan ikat kepala yang menjadi simbol raja Batak. Bukannya memberikan penghormatan, justru sebaliknya, dia terlinat konyol karena tampak mengenakan wig.

Kesannya jika terlihat dari jauh dia terlihat sedang ubanan berambut panjang hingga menjadi bahan lelucon dalam media sosial.Kontan saja kostum ini dihujat habis-habisan di media sosial yang menyebutnya memakai kostum kontenporer, buka kostum adat Batak yang telah menjadi warisan turun-temurun.

"Hahaha. Mungkin dimaksud agar lucu, ya tertawa tadi melihat banyak hal. Saya melihat Presiden seperti ubanan rambut panjang," tulis seorang netizen Monang Naipospos dalam akun Facebooknya.

"Semoga bapak presiden tidak tau bahwa ini talitali kontemporer modelnya, atau sudah mendengar langsung dari kuratornya sehingga diterima digunakan. Yang saya heran, kelapa pak Luhut Panjaitan pake talitali dengan sebenarnya ya..."

Merdi Merdi Hahaaaa...kesalah dr EO yg mempercayakan kpd pihak FEMINA utk menunjuk fesyen desainer tanpa melihat rekam jejak mungkin karena group atau suka dan tdk suka.

Merdi Sihombing desainer Indonesia yang kerap menggunakan bahan tenun seperti kain ulos sebagai karyanya menjelaskan kronologi penggunaan motif pakaian yang digunakan Presidan.

Dia sempat dihubungi panitia 10 hari sebelum kunjungan Jokowi ke Sumut.

"10 hari sblum hari H saya dihubungi pihak majalah Femina, mereka minta saya utk membuat desain khusus buat 7 menteri."
"Setelah kami bertemu (saya,femina dam EO) diskusi pun dilakukan dan menurut saya permintaan dr mereka tdk sesuai dg visi dan misi yg kami laukan thd pengembangan kain2 tenun khas BATAK (Toba,Pakpak,Simalungun,Karo,Sipirok)." tulis Merdi di dalam akun Facebooknya.

Selanjutnya esok Merdi mengaku bertemu dengan panitia dengan Jay selaku ketua kordinator karnaval di hotel Dharmawangsa Jakarta.

"Dari dia saya mengetahui bahwa FEMINA menunjuk Edward Hutabarat utk mendandani Presiden dan ibu negara."

"Dgn bbrp pertimbangan kami menawarkan apakah bisa kolaborasi saya dgn Edo (saya yg buat tekstilnya ,edo utk fashinnya.) dgn pertimbangan selama ini Edo jarang bahkan tdk berbuat Comunity Devrlopment para penenun Ulos."

"Tapi rupanya kami tdk dipercaya utk tugas negara..dan bersikap positif adalah langkah yg tepat..kami tidak menerima tawaran kerja sama utk mendandani menteri tsb. Tp rupanya ada rencana lain dr Tuhan ...kami dipercaya utk mendandani kelompok Horas Halak Hita dan Horas Halak Hita Ladies."

"langkaha yg kami lakukan adalah membawa aneka gaya TALI TALI bukan hanya dr Toba tp dr etnis yg lain utk dipakai oleh para pria H3.Dan juga kelompok PARSANGGUL NAGANJANG lengkap dgn gaya BAJU KURUNG ,SONGKET TOBA dgn hiasan benang metalik serta kristal dipadankan dgn perhiasan SIMATA GODANG."

Kami sadar apa yg kami ketengahkan pasti akan menjadi Pro dan Kontra..tapi setidaknya sejarah budaya harus diluruskan dan dikembalikan ketempatnya semula.Jalan masih panjang tp paling tidak kita sudah memulainya.

Sementara itu sebelumnya Rizaldi Rizaldi Siagian yang merupakan dosen di Universitas Sumatera Utara (USU) jurusan Etnomusikologi mengaku selama melakukan penelitian budaya Batak tidak pernah melihat motif penutup kepala yang 'aneh' itu.

Bermaksud untuk menghormati Jokowi dengan memberikan kehormatan seperti raja Batak, justru panitia kedatangan presiden menyuguhkan gaya busana yang memalukan dan akhirnya di-bully oleh netizen."Masa orang batak mempermalukan presidennya sendiri di rumahnya," katanya. (Tri)
Share this article :

Post a Comment