Home » , , » Pdt Dr Robinson Butarbutar: Perempuan Harus Berpartisipasi Penuh di Gereja

Pdt Dr Robinson Butarbutar: Perempuan Harus Berpartisipasi Penuh di Gereja

Written By Beritasimalungun on Thursday, 15 September 2016 | 12:12

Pdt Roida Situmorang DMin, Calon Kadep Koinonia (tengah), didampingi Pdt Lilis Siregar STh, Pendeta Resort Payung Sekaki Distrik Riau (kiri) dan Pdt Santawaty Sirait, Kabiro Perempuan HKBP (kanan), foto bersama di arena Sinode Godang HKBP, Sipoholon, Tarutung, Rabu (14/9). IST SIB

Tiga Pendeta Perempuan Harapkan Ephorus yang Memberi Peluang dan Jalan Bagi Perempuan

Pdt Dr Robinson Butarbutar Posisikan Perempuan Sebagai Calon Kadep Koinonia

BeritaSimalungun.com, Tarutung-Pdt Dr Robinson Butarbutar memastikan jika dirinya terpilih hari ini menjadi Ephorus HKBP, maka akan memberi peluang dan jalan bagi perempuan dalam pelayanan, termasuk fungsi dan struktur gereja. 

Baginya perempuan tak bisa diabaikan, dan mesti dimohon, bukan diberikan, menduduki posisi strategis. Itu sebabnya, Pdt Roida Situmorang DMin diposisikannya sebagai calon Kepala Departemen (Kadep) Koinonia.

"Latarbelakang saya selama ini, secara istimewa di VEM, itu saya ditugasi, memimpin departemen, pertama di Asia, lalu kemudian di internasional. Salah satu bagian utama programnya, adalah memberdayakan perempuan, sehingga mereka sedemikian rupa diberi wewenang untuk memimpin. Artinya mengambil keputusan. Itu sudah mendarah daging dalam jiwa saya, di teologi saya, dan juga di iman saya. Sebab, kita ini gereja protestan, yang mengatakan imamat am rajani, berarti semua harus berpartisipasi melaksanakan misi Tuhan. Itulah latar belakang teologisnya,"ujarnya kepada SIB, di Sipoholon Tarutung, Rabu (14/9). 

Perempuan menurutnya harus berpartisipasi penuh. Karena itu, sekarang dalam aturan peraturan HKBP, sudah diberi posisi-posisi strategis bagi perempuan untuk menduduki komisi-komisi yang sangat strategis. Komisi pemberdayaan sumber daya manusia, komisi teologi, juga di MPS dan sinode.  

Masalahnya, HKBP harus lebih memberdayakan perempuan, supaya bisa secara yakin melakukan tugasnya. Itu harus dilakukan lewat pelatihan-pelatihan, leadership (kepemimpinan), yang secara sengaja, kepada diakoness, bibelvrow, pendeta perempuan, sehingga secara natural, ataupun intensif, supaya bisa diangkat mereka menjadi pemimpin. 

"Itu sebabnya, kalau saya diizinkan menjadi Ephorus, seorang perempuan diposisikan menjadi Kadep Koinonia, yakni Pdt Roida Situmorang DMin. Koinonia karena kebanyakan jemaat HKBP yang aktif di gereja adalah perempuan. Mereka harus dimohon, bukan diberi, untuk berperan besar, bersama Ephorus yang mau memajukan perempuan. Posisi Koinonia yang sangat strategis harus dimanfaatkan memberdayakan perempuan, bukan hanya penuh waktu, termasuk penatua-penatua perempuan, karena mereka juga memiliki peran strategis di jemaat-jemaat kita", katanya.

Harapan Pendeta Perempuan

Pdt Roida Situmorang DMin, Calon Kadep Koinonia mendukung pimpinan yang memberi jalan dan peluang bagi pendeta perempuan dan pelayan perempuan lainnya berpartisipasi aktif dalam fungsi dan struktur HKBP. 

"Kalau mau jujur, banyak sebetulnya karya-karya perempuan, yang mengukir perjalanan HKBP, mulai dari hadirnya misionaris perempuan. Sungguh sangat mendidik kaum perempuan Batak, sehingga dia bisa berkarya besar di gereja, dan kalau kita lihat, tiada hari dan tiada minggu, tanpa perempuan berkumpul di gereja. Selain minggu, ada di hari biasa, dengan tekun belajar Firman Tuhan dan berdoa, bukan hanya untuk keluarganya, tetapi juga untuk pelayanan di gereja,"ujarnya.

Menurutnya, walau banyak karya perempuan, dalam dua periode terakhir, hanya satu perempuan yang menjadi praeses. Ke depan diharapkan lebih terbuka dan lebih banyak perempuan masuk struktur. Memang ada latar belakang mengapa masih minim perempuan, karena untuk menjadi utusan sinode godang harus pendeta resort. 

Sayangnya, kesempatan perempuan menjadi pendeta resort masih minim dibandingkan pendeta pria. "Bagaimana HKBP bersikap jujur dan penuh pertimbangan yang sangat teologis, melihat pelayanan secara adil yang dilakukan laki-laki dan perempuan,"katanya.

Memang, walau belum maksimal, kehadiran perempuan telah disejajarkan dengan laki-laki di fungsi-fungsi dan struktur di HKBP. "Mungkin karena mindsetnya belum menghargai kesetaraan gender. Diharapkan ada kesengajaan dari pimpinan, untuk memberi peluang bagi perempuan menjadi pendeta resort. Saat ini hanya ada dua perempuan calon praeses, dan satu menjadi calon Kadep Koinonia,"ujarnya.

Diharapkan peserta Sinode Godang mempertimbangkan keterwakilan pendeta perempuan di struktur HKBP. Sayang sekali jika tak diakomodir, sebab sudah 155 tahun HKBP, dan sejak awal sudah ada peran perempuan. Untuk berpartisipasi penuh dalam mengambil keputusan masih sangat minim.

Hal senada disampaikan Pdt Lilis Siregar STh, Pendeta Resort Payung Sekaki Distrik Riau yang berharap Pimpinan HKBP melihat status pendeta, bukan jenis gendernya. "Tohonan (jabatan gerejawi) supaya ada pemerataan dan keadilan terhadap perempuan. Jangan nomorduakan perempuan dalam pelayanan,"serunya.

Pdt Santawaty Sirait, Kabiro Perempuan HKBP menyebutkan perempuan mesti terbuka untuk mencari dukungan dari laki-laki, bukan hanya dari kaumnya. 

Kemampuan perempuan dalam pelayanan jangan diukur dari suaminya, misal pekerjaan. Keadilan gender diharapkan ada di HKBP. Amandemen juklak tentang utusan sinode jangan hanya memakai istilah mempertimbangkan gender, tetapi dengan tegas, satu pria dan satu perempuan. (SIB)
Share this article :

Post a Comment