Home » » Aku, Budi dan Abdi Saragih

Aku, Budi dan Abdi Saragih

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 1 February 2017 | 18:07


Oleh : RAMLO R HUTABARAT

BeritaSimalungun.com-Pagi ini pikiranku melayang-layang. Melayang-layang ke masa lalu yang sudah berlalu. Sudah lama. Ketika aku tinggal di Tebingtinggi. Tebingtinggi - Deli, di Tanah Melayu yang akrab dan dekat dengan Simalungun. Kota yang penuh kenangan buatku. Kenangan manis yang tak terlupakan. Sampai denyut terakhir nadiku.

Pada masa lalu, di Tebingtinggi berkuasa Sultan Padang. Bahagian dari Kerajaan Melayu. Konon, masih punya hubungan keluarga dengan Raja Raya, Rondahaim. Waktu melawan Belanda dulu, Sultan Padang pernah membantu Rondahaim, cerita yang pernah kudengar. 

Soalnya, Rondahaim adalah kemenakan Sultan Padang.Sayangnya, aku lupa siapa yang menceritakan itu kepadaku, dan kapan diceritakan.

Waktu aku tinggal di Tebingtinggi, kota itu masih sempit sekali. Belakangan, diperluas dengan mengambil bahagian-bahagian Kabupaten Deli Serdang. 

Juga dengan mengambil Bahagian arah ke Indrapura di Asahan. Bahagian Deli Serdang yang diambil kemudian, adalah arah ke Rambutan, arah Dolok Masihul dan arah Pabatu. Jadilah Kota Tebingtinggi sekarang sebagai sebuah daerah otonomi yang terbilang cukup luas.

Aku tinggal di Tebingtinggi karena bekerja di Depot Buku dan Percetakan Methodist (DBM), di Jalan Kartini persis di Simpang Jalan Cempaka. Waktu itu, Direktur DBM adalah Pdt Marx Lontung Hutabarat, yang pernah menjadi Distrik Superitendent Gereja Methodist Indonesia di Asahan. Pendeta ini hebat dan jago sekali. Almarhum merupakan pendeta tamatan Sekolah Teologia di Yokyakarta. Pernah menjadi Anggota DPRD Asahan, juga sekalian Guru SMA PKMI di Kisaran.

Teman-temanku sesama karyawan di DBM itu ada almarhum Pantas Purba, putra almarhum Pdt Benyamin Purba, asal Bangun Doloq. Juga, Tulbas Sirait dan Minar Sirait, putra-putri Pdt Sirait yang istrinya Boru Manurung orang asal Pardembanan. 

Ada juga Mansen Purba Orang Negeri Dolog putranya Pdt Mentan Purba. Juga Boru Simanjuntak yang aku tak tahu namanya, Mamak Linda istri Artiaden Saragih yang bekerja di Pemko Tebingtinggi.

Lantas, ada juga Boru Simanjuntak lain yang juga aku nggak tahu siapa namanya. Tapi dia istri seorang Marga Sianturi, dan diberi gelar Mamak Made karena putri sulungnya bernama Made. Selanjutnya, Boru Gultom yang sudah balu Ito kandungnya Bishop GMI Pdt J Gultom. 

Ada juga Pak Simon, seorang Jawa yang berpenampilan gemulai. Terakhir, seorang perempuan berkaca mata minus setebal pantat botol bernama Rempina Manurung. Dia Orang Tanahjawa, dan sekarang bekerja di Toko Buku Geminta, pimpinan kawan dekatku Drs. Naurat Silalahi di Medan sana.

Kami mulai bekerja setiap hari kecuali Minggu, mulai pukul 07.30 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Pada Sabtu, memang cuma setengah hari saja. Hingga pukul 12.00 WIB. Karenanya, terbilang banyak waktu luangku terutama pada sore hingga malam hari. Hari-hariku kuhabiskan dengan beraktifitas di Gereja. 

Aku selalu menemani Pdt Motto Situmorang untuk melakukan pelayanan ke rumah-rumah Anggota Jemaat GMI Tebingtinggi. Dan dalam rangkaian pelayanan itu, aku dan Pdt Motto Situmorang selalu disuguhi makanan yang lezat-lezat cita rasanya. Terkadang, diajak makan pansit di Jalan Bedagai.

Selain itu, aku juga melakukan pelayanan sebagai Pengurus P3MI (Persekutuan Pemuda Pemudi Methodist Indonesia) Cabang Tebingtinggi. Sepertinya, waktu itu P3MI tidak seperti sekarang yang hampir berkegiatan latihan koor semata dan sesekali PA (Penelaahan Alkitab) P3MI saat itu, selalu bersama-sama Majelis berkunjung ke rumah-rumah Anggota Jemaat. 

Atau melakukan kunjungan pastoral bersama Pimpinan Jemaat. Zamannya waktu itu, semua dilakukan dengan berjalan kaki mengitari kota. Kalau sekarang masih berjalan kaki juga, tentu banyak orang yang tertawa-tawa. Tertawa-tawa sampai terbahak-bahak dan terkekeh-kekeh. Dan kawanku Drs. Naurat Silalahi, memang selalu begitu.

Waktu-waktu senggangku, kadang aku gunakan juga mengangkut ampas singkong dari Sungai Sigiling di pinggiran Kota Tebingtinggi. Ampas singkong dari pabrik tapioka disana, milik Cina. 

Digunakan untuk makanan ternak babi milik Boru Simanjuntak Mamak Made yang dipeliharanya untuk menambah pendapatan mereka. Kalau aku mengangkut ampas itu apalagi sekalian memandikan babi-babi milik Mamak Made, wajahnya akan cerah. Aku segera disuguhi pisang goreng atau ubi rebus sekalian teh manis. Bisa makan pisang goreng saja waktu itu, sudah syukur sekali.

Terbilang acap juga aku bertandang ke Jalan Nangka, ke rumah Boru Simanjuntak, istri almarhum Artiaden Saragih, Mamak Linda. Artiaden yang Orang Nagaraja itu, menjadi Keurmaster di Rumah Potong Tebingtinggi. 

Belakangan, dia menjadi Kepala Rumah Potong Tebingtinggi. Sebagai Keurmaster, dia selalu mendapatkan daging dari Rumah Potong. Oh ya, Keurmaster berasal dari Bahasa Belanda yang artinya Juru Periksa. 

Setiap hewan yang akan disembelih, sebelumnya diperiksa dengan seksama hingga dagingnya terjamin aman dari segala kuman untuk dikomsumsi.

Pasangan Artiaden Saragih dan Boru Simanjuntak waktu itu dikarunia Tuhan empat putra-putri. Seperti sudah kusebutkan tadi, yang sulung seorang putri diberi nama Linda. 

Belakangan, aku mendapat kabar Linda meninggal setelah menderita sebuah penyakit terbilang langka. Barangkali l u p u s . Setelah dewasa Linda bekerja di Jakarta, tapi segera dipanggil Tuhan saat dia belum menikah.

Lantas dua adik Linda namanya Budi dan Abdi. Usia keduanya waktu itu empat dan lima tahun. Sedang lasak-lasaknya dan pintar serta cerdas. Keduanya, acap sekali aku bawa naik sepeda entah kemana-mana. 

Namanya anak-anak. Ada-ada saja dan macam tingkah keduanya menjurus nakal dan bandal. Dan aku, suka pada anak nakal serta bandal tapi cerdas serta bisa diatur. Aku suka membuat kedua anak ini agar bandal dan nakal, meski Mamak mereka marah-marah.

“Ramlo ................. ! Jangan kau ajari anakku itu menjadi bandal !”, kata Mamak Linda suatu hari. Aku tertawa-tawa saja menanggapinya. 

Meski tidak sampai terbahak-bahak apalagi terkekeh - kekeh seperti kawanku Drs. Naurat Silalahi. Sudah tertawa-tawa sampai terbahak-bahak dan terkekeh-kekeh, di kandang-kandang pula.

Karena acap bersama-sama, akhirnya aku sangat menyayangi Budi dan Abdi. Aku jadi ingin selalu bersama kedua anak ini sepanjang hari. 

Tapi tentu saja kami dibatasi ruang dan waktu. Pagi hingga sore aku harus bekerja, dan kadang melakukan kunjungan pastoral bersama Pdt Motto Situmorang yang waktu itu masih menjadi Guru Injil (GI) Tapi begitu ada waktu, aku segera ke Jalan Nangka, menjemput Budi dan Abdi. Kubawa entah kemana-mana. Entah kemana-mana.

Hampir setiap malam di peraduanku, aku akan ingat Budi dan Abdi. Pada tawa keduanya, pada ragam tingkah polah keduanya. Juga pada bandal dan nakalnya yang memang aku bina dan tumbuhkembangkan. Aku tersenyum-senyum sendiri, dan aku pun terlelap dalam tidurku dengan penuh senyum. Senyum bahagia dan ceria.

Tapi segalanya memang, ada waktunya. Oleh Bishop Hermanus Sitorus Pimpinan Pusat GMI waktu itu, aku diberi bea siswa untuk melanjutkan pendidikanku. 

Karenanya, aku dipindahtugaskan dari DBM ke Kantor Pusat GMI, menjadi staf di Departemen Pendidikan yang waktu itu Ketuanya almarhum Ferdinan Hutagalung dan Sekretarisnya Pdt Simon Doloksaribu, ayahanda Bishop Humala Doloksaribu. Belakangan, aku dipercaya menjadi Kepala Biro Komunikasi Kantor Pusat GMI menggantikan Pdt Jhon Wesly Napitupulu yang mendapat tugas belajar ke Inggris.

Aku berangkat ke Medan dengan penuh haru. Aku sadar, dengan begitu aku tidak lagi bisa bersama-sama Budi dan Abdi sesuka kami kapan saja. Malam sebelum berangkat ke Medan, aku menangis di peraduanku. Ingat Budi dan Abdi. 

Aku harus akui, aku sayang pada kedua anak itu. Bahkan, tak terlalu keliru barangkali kalau aku menyebut aku sangat mencintai keduanya. Aku menangis bukan karena harus meninggalkan Rosdiana Tobing kekasihku anak Jalan Thamrin itu.

Waktu terus bergulir. Berlalu dan berlalu. Semuanya berlalu dan berlalu, sampai dua tiga tahun lalu aku Kebaktian di GMI Sentiong Jakarta Pusat.

“Ini Budi, Pak. Ini Abdi”, kata putra sulungku Marco Hutabarat mengenalkanku pada dua pemuda yang ganteng dan perkasa.

Aku terkejut. Kaget luar biasa. Pertemuan yang tak pernah kuduga dan tak pernah kusangka. Spontan aku memeluk keduanya bergantian, mendekap mereka.

“Tuhan ! Betapa Maha Baiknya Kau”, jeritku dalam hati. Setelah puluhan tahun kemudian, aku bertemu dengan kedua anak itu. Budi dan Abdi sudah menjadi Pelayan Tuhan di LadangNya. 

Sekarang, Abdi menjadi Pendeta dan melayani di salah satu GMI di Bekasi. Selintas aku terbayang banyaknya puisi yang kutulis untuk keduanya dalam kesendirianku di Medan puluhan tahun lalu.


Aku ingat (lagi) ada yang bertuliskan :” ...............kupeluk kau dalam keharuan, kudekap kau dalam kepiluan ..........................”. (Siantar Estate, 1 Pebruari 2017)
Share this article :

Post a Comment