Home » , , » JR Saragih Bantah Ada Lintah di Danau Toba

JR Saragih Bantah Ada Lintah di Danau Toba

Written By Berita Simalungun on Thursday, 23 February 2017 | 07:57

Bupati Simalungun JR Saragih (paling kanan) saat melakukan peninjauan perairan Danau Toba di Parapat, Rabu (22/2/2017). Foto Silverius Bangun (FB).

BeritaSimalungun.com, Parapat-Bupati Simalungun Jopinus Ramli (JR) Saragih menampik adanya pencemaran limbah dan lintah di perairan Danau Toba, khususnya di Parapat. JR Saragih juga membantah peryataan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Utara Hidayati yang mengatakan sejak 2012 sudah ada lintah di perairan Danau Toba.

“Itu kan menurut dia (Hidayati Kadis LH Sumut). Tapi yang punya wilayah ini saya. Saya mengatakan tidak ada lintah di Perairan Danau Toba. Apalagi sampai ada yang mengatakan ada korban. Gak ada itu,” kata JR Saragih saat melakukan peninjauan perairan Danau Toba di Parapat, Rabu (22/2/2017).

JR Saragih memastikannya setelah stafnya di Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Simalungun melakukan pengujian baku mutu air dan temuan limbah. Selain menunggu stafnya bekerja, JR Saragih juga mengunjungi Danau Toba di Parapat. Dia bersama rombongan juga akan mandi di pinggiran Danau Toba itu.

“Saya sudah mandi Parapat. Kita yang pertama, kita juga punya BLH, sudah kita cek korbannya siapa gak ada. Di sana lintahnya juga gak ada. Itu lah kami upayakan. Satu lintah pun gak ada kami temukan,”katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumut, Hidayati, tak memungkiri munculnya hewan jenis lintah dan kutu di perairan Danau Toba yang ramai diberitakan belakangan ini. Ia mengaku sudah menemukan lintah di perairan Danau Toba pada 2012 lalu, tepatnya di kawasan Ajibata. Menurut Hidayati, kondisi itu membuktikan kondisi air yang sudah tercemar.

“Karena lintah itu merupakan jenis hewan yang bisa hidup di tempat tercemar, jadi memang kondisi Danau Toba itu sudah tercemar,” kata Hidayati di Medan, Senin (20/2/2017) lalu. Menurut Hidayati, mirisnya kondisi lingkungan di sekitar Danau Toba saat ini bukan semata tanggung jawab instansi yang dipimpinnya.

Semua pihak, termasuk masyarakat, harus bersinergi dan berkomitmen membenahi kondisi lingkungan di kawasan yang digadang bakal menjadi Monaco of Asia tersebut. Menurut Hidayati, pencemaran di perairan Danau Toba terjadi di sejumlah titik tertentu dengan kondisi oksigen terlarut yang sangat minim.

Sumber utama pencemaran adalah limbah yang berasal dari pakan ikan dan industri lainnya di sekitar danau. Namun, limbah domestik dari masyarakat juga memiliki andil.


Selanjutnya juga akan ditetapkan daya tampung produksi ikan, yang untuk sementara ini ditetapkan sebanyak 50 ribu ton per tahun oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI melalui surat nomor S.555/MENLHK/PPKL/PKL.2/12/2016 tentang Daya Dukung dan Daya Tampung (DDDT). (BS-1)
Share this article :

Post a Comment