}); Ada Ketulusan di Huta Tinggi Saribu | BeritaSimalungun

Ada Ketulusan di Huta Tinggi Saribu

Written By Beritasimalungun on Monday, 20 March 2017 | 11:16

Perjalanan Pelayanan Pdt Defri Judika Purba STH/ Inang Br Sinaga menuju GKPS Tinggi Saribu. Foto IST

Perjalanan Pelayanan Pdt Defri Judika Purba STH/ Inang Br Sinaga menuju GKPS Tinggi Saribu. Foto IST

Perjalanan Pelayanan Pdt Defri Judika Purba STH/ Inang Br Sinaga menuju GKPS Tinggi Saribu. Foto IST

Perjalanan Pelayanan Pdt Defri Judika Purba STH/ Inang Br Sinaga menuju GKPS Tinggi Saribu. Foto IST

Perjalanan Pelayanan Pdt Defri Judika Purba STH/ Inang Br Sinaga menuju GKPS Tinggi Saribu. Foto IST

Perjalanan Pelayanan Pdt Defri Judika Purba STH/ Inang Br Sinaga menuju GKPS Tinggi Saribu. Foto IST

Perjalanan Pelayanan Pdt Defri Judika Purba STH/ Inang Br Sinaga menuju GKPS Tinggi Saribu. Foto IST
BeritaSimalungun.com, Tinggi Saribu-Semalam saya melayani ke GKPS Tinggi Saribu. Ini adalah pelayanan perdana saya kesana. Jam masih menunjukkan jam delapan pagi ketika kami berangkat dari rumah.

Sengaja memang kami berangkat agak cepat agar di perjalanan sedikit santai. Saya mengajak si Borsin, isteriku, Remiel serta dua orang anak kecil. Satu anak tante, dan satu lagi anak jemaatku dulu sewaktu melayani di Tambun Raya.

Hari Jumat kemarin dia datang ke Bahapal setelah pulang sekolah. Rindu kepada Remiel itulah alasannya datang. Jadi perjalanan kami lumayan ramai. Sebenarnya saya tidak sampai hati untuk mengajak isteriku si Borsin.

Di usia kehamilannya yang sudah umur lima bulan, perjalanan menuju Desa Tinggi Saribu pasti sesuatu yang sangat melelahkan baginya. Tapi karena pertimbangan bahwa akan lama nantinya dia akan mendampingi saya ke sana setelah usia kehamilan yang sudah semakin tua dan setelah bersalin. Jadi kunjungan semalam ke Tinggi Saribu, adalah usaha untuk menjawab kekawatiran kami tersebut. Biarlah dia berangkat, tidak enak juga nanti, tidak ada jemaat yang mengenalnya.

Jam sudah menunjukkan jam sembilan kurang setelah kami sampai di Desa Talun Kahombu. Memang perjalanan dari Bahapal ke Desa Talun Kahombu jalan agak rusak setelah melewati Desa Raya Humala.

Jadi kami agak hati-hati menghindari batu-batu lepas. Setelah sampai di Desa Talun Kahombu kami pun meninggalkan kereta di gubuk persinggahan milik jemaat Tinggi Saribu. Ada satu gubuk kecil tempat mereka menitipkan barang.

Perjalanan pun kami lanjutkan dengan rute pertama jalan batu menurun. Dalam perjalanan ini sengaja kami tidak memakai baju gereja. Cukup dengan celana ringan dan kaos oblong. Di dalam tas tidak ada agenda dan jas yang sengaja saya bawa.

Hanya jubah dan almanak. Kami berpikir barang-barang itu agak sedikit memberatkan perjalanan kami. Sepatu kami masukkan ke dalam plastik putih. Jadi dari segi perjalanan kami tidak terlalu banyak membawa beban. Hanya perlengkapan Remiel yang lengkap. Ada termos, air dingin, susu, baju ganti dll.

Di awal perjalanan ini, kami sedikit harus berhati-hati. Hujan yang turun hari Sabtu kemarin, membuat jalan batu dan tanah agak sedikit licin. Sayalah yang menuntun Remiel. Dua anak kecil yang bersama kami membawa barang sementara si Borsin cukup melenggang kangkung.

Di tengah perjalanan sebelum sampai di jembatan, kami bertemu dua orang jemaat Tinggi Saribu. Mereka menjemput barang dari Desa Talun Kahombu. Ada beras dan kebutuhan rumah tangga yang mereka bawa.

Pada mulanya mereka sabar berjalan bersama kami. Tapi karena jalan kami ibarat jalan siput, saya pun dengan hati senang mempersilahkan mereka berjalan dahulu. Tidak enak rasanya dengan beban yang berat seperti itu, mereka mendampingi kami.

Sampai di jembatan ada bonus dalam perjalanan ini. Sungai Bahapal yang mengalir dibawahnya, ibarat seorang gadis yang menggoda seorang laki-laki. Tidak tahan rasanya mendengar godaannya. Tidak lengkap rasanya sebelum menyentuh airnya yang mengalir keras dan jernih.

Karena itu, kami memanfaatkan godaan Sungai Bahapal untuk beristirahat sejenak. Dua orang anak kecil yang bersama kami -Dobel, Diman- serta Remiel berenang ria menikmati segarnya Sungai Bahapal. Saya bertugas menjaga Remiel.

Puas berenang kami pun melanjutkan perjalanan kami kembali. Ketika kami mau berangkat kami dikejutkan dengan kedatangan Porhanger Tinggi Saribu. Beliau datang menjemput kami. Sudah menjadi kebiasaan rupanya di jemaat itu, kalau ada tamu yang datang mereka datang menjemput, secara khusus full timer.

Mereka datang untuk membantu perjalanan. Kalau menurut cerita penginjil dua orang anaknya selalu dibawa porhanger tersebut. Bahkan beliau tidak segan untuk ikut membawa tas bawaan yang berisi pakaian dan sepatu. 

Hanya penginjil saja yang agak sungkan memberi. Begitu juga dengan saya. Porhanger itu menawarkan dirinya untuk membawa tas dan anak kami Remiel. Segan karena terlalu merepotkan hanya tas yang beliau bawa. Remiel biarlah saya yang membawa.

Perjalanan selanjutnya adalah mendaki. Remiel rupanya sadar akan itu. Karena itu dia minta digendong. Jadi perjalanan ini semakin berat dengan beban di pundak. Padahal dulu sejak kami pertama sekali kesini, Remiel bisa jalan pulang pergi. Mungkin berenang di Sungai Bahapal membuat badannya menjadi capek.

Sepanjang perjalanan, Bapak Porhanger menceritakan bagaimana susahnya pengalaman mereka melewati jalan tersebut. Apa pun hasil tani, terasa berat untuk menjualnya. Semua hanya mengandalkan tenaga pundak.

Saya mendengarnya dengan sangat prihatin. Tapi cerita beliau itu sepertinya tidak akan terjadi lagi. Ada angin segar untuk masyarakat disana. Saya mendengar jalan menuju tinggi saribu dalam waktu dekat akan dibuka dengan dana add. Ketika saya mengkonfirmasi berita tersebut, Beliau hanya pasrah seraya berharap, semogalah itu terjadi.

Jam sudah menunjukkan lewat jam sepuluh ketika kami sampai di gereja. Jam masuk di gereja tersebut adalah jam tengah sebelas. Karena belum ada jemaat yang datang kami pun menyiapkan diri kami untuk berpakaian. Bapak Porhanger melanjutkan perjalanannya ke rumah. kebetulan gereja ini agak di luar komplek perkampungan.

Gereja adalah bangunan pertama sebelum memasuki Desa Tinggi Saribu. Bapak Porhanger sebenarnya mengajak langsung ke rumah, tapi kami memilih untuk menunggu di gereja saja sambil persiapan.

Setelah menunggu beberapa saat, jemaat pun mulai berdatangan. Ibadah baru dimulai setelah jarum jam menunjuk angka sebelas. Molor setengah jam. Tapi tidak apa-apalah. Sebelum masuk ibadah, saya mengajar sedikit bagaimana menyanyikan lagu dalam ibadah. Supaya nanti ibadah agak sedikit bergairah.

Selesai ibadah minggu, kami melanjutkan lagi ibadah partonggoan. Ibadah ini adalah ibadah perdana setelah lebih sepuluh tahun tidak ada partonggoan di jemaat ini. 

Saya mendorong majelis nya lewat bapak porhanger, agar diadakanlah ibadah partonggoan. Untuk waktu dan tempat, biarlah disesuaikan dengan jadwal kunjungan kami full timer. Ide itu bisa langsung diterima. Syukur, terpujilah namaNya.

Ibadah partonggoan perdana ini di rumah jemaat yang sudah lansia dan janda. Beliau membuka pintu rumah, membuat tikar dan menyediakan snack kue dan bandrek. Damai rasanya ada di antara mereka.

Setelah ibadah partonggoan selesai, Bapak Pengantar Jemaat membawa kami ke rumahnya untuk makan siang. Sudah menjadi tradisi juga di jemaat ini, siapa pun tamu yang datang berkunjung, harus makan siang dulu sebelum pulang. 

Setelah makan siang, kami pun permisi mau pulang. Alasan karena awan hitam yang mulai menggantung ditambah dua orang anak kecil yang bersama kami harus pulang karena mau sekolah.

Sebelum meninggalkan kampung tersebut, beberapa jemaat menitip barang bawaan kepada kami. ada durian dan sukun. Karena tidak sanggup membawa, durian itu pun kami belah dan isinya dipindahkan ke satu wadah. Ada juga durian yang langsung kami bawa, karena durinya sudah dipotong habis.

Perjalanan pulang pun dimulai. Dengan ransel di pundak, kami pun bernyanyi ria menirukan acara khusus anak-anak di salah satu tv nasional, si Bolang. Baru sepuluh menit meninggalkan kampung tersebut, hujan pun mulai turun. 

Sadar hujan itu tidak bisa ditembus, kami pun berteduh di gereja. setelah menunggu setengah jam lebih, kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Sepucuk pohon pisang melindungi kami dari gerimis yang masih turun.

Kami sampai di desa talun kahombu ketika jam sudah menunjukkan hampir jam lima. Kami berhasil menjalani pelayanan kali ini. Tidak ada hambatan yang berarti. Anak kami remiel pun sangat kuat dalam perjalanan pulang. Hanya sebentar saja digendong, sisanya jalan sendiri walau jalan menanjak curam. anakku remiel benar-benar kuat dan tangguh.

Isteriku si borsin pun lumayan kuat juga. Walau kami berjalan siput jauh di belakang, dengan tongkat ditangan, tantangan itu pun telah berhasil kami lewati bersama. Semogalah isteriku tetap kuat sampai persalinannya.

Semoga juga apa yang telah kami lewati dan alami dalam pelayanan kami ke Tinggi Saribu, semata-mata untuk kemuliaanNya dan sebagai ucapan syukur bagiNya yang masih memberi kesempatan bagi kami untuk melayani. Solideo Gloria. (Pdt Defri Judika Purba STh-Bahapal Raya, 20 Maret 2017).


Share this article :

Post a Comment