Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Ini Dua Jenis Ikan Penghuni Baru Danau Toba yang Ditabur Pemerintah


BeritaSimalungun.com, Parapat-Gubernur Sumatera Utara (Sumut) H Tengku Erry Nuradi menabur 45 ribu benih ikan di Perairan Danau Toba sebagai upaya pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan nelayan. Dua jenis ikan itu yakni Ikan Nilem dan Ikan Tawes.

Ikan Nilem dan Tawes merupakan hasil penangkaran Dinas Perikanan dan Kelautan Provsu tersebut bagian dari target restocking satu juta benih di perairan Danau Toba untuk tahun 2017.

Hadir mendampingi Gubsu Ketua Komisi E DPRD Sumut Zahir, sejumlah Bupati se-kawasan Danau Toba diantaranya Simalungun, Samosir, Tobasa, Humbahas, Karo dan Wakil Wali Kota Pematang Siantar. 

Sementara Gubernur didampingi Kepala Dinas Perikanan Kelautan Zonny Waldi, Kepala Bappeda Irman, Kadis Perhubungan Anthony Siahaan, Kadis Pariwisata E Marbun, Plt Kabiro Otda Basarin Tanjung, Plt Kabiro Humas Ilyas Sitorus serta sejumlah pejabat lain pekan lalu.

Gubsu Tengku Erry mengatakan penaburan benih ikan tersebut sejalan dengan banyaknya pengaduan masyarakat bahwa jumlah hasil tangkapan nelayan semakin berkurang dari sebelumnya. Sehingga program ini adalah bagian dari upaya melestarikan lingkugan Danau Toba, khususnya perbaikan kualitas air juga peningkataan perekonomian nelayan.

“Jadi kami lakukan penaburan benih sebanyak 15ribu benih ikan tawes dan 30ribu benih ikan nilem (paitan). Mudah-mudahan apa yang kita tabur ini bisa berkembang biak dengan baik,” ujar Tengku Erry.

Tidak hanya itu, setelah menabur benih ikan yang sudah dilakukan beberapa kali di kota wisata tersebut lanjut Erry, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut berharap seluruh masyarakat dan pihak terkait bersama menjaga lingkungan Danau Toba. Dengan begitu, ikan akan mendapatkan tempat yang baik untuk berkembang biak.

“Makanya kalau kualitasnya jelek, tentu akan membuat habitat ikan ini menjadi terganggu. Makanya kalau bicara perikanan, tidak terlepas dari isu lingkungan,” kata Tengku Erry.

Selain itu, Erry juga berharap setelah aksi yang dilakukan Pemprov Sumut ini menjadi stimulus kepada pemerintah kabupaten se-kawasan Danau Toba untuk melakukan kegiatan serupa untuk menambah jumlah ikan endemic sekaligus meningkatkan penghasilan nelayan yang mencari kehidupan dari menangkap ikan di danau Supervplcano tersebut. 

“Karena kondisinya sekarang kita tahu, ikan pora-pora yang sebelumnya banyak sekarang sudah banyak berkurang. Sehingga mudah-mudahan apa yang kami lakukan ini bisa diikuti kabupaten lain,” sebutnya.

Sementara Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Zonny Waldi menjelaskan bahwa ikan tawes dan bukan nilem (paitan) merupakan jenis ikan asli Danau Toba yang keberadaannya sudah hampir mendekati punah. 

“Jadi kami ambil induknya, kami tangkarkan, jinakkan dan kembang biakkan. Ikan ini adalah pemakan plankton. Dan ikan ini juga pemakan muntahan ikan budidaya KJA (Kerambah Jaring Apung),” ujar Zonny yang menyebutkan keberadaan pora-pora sebelumnya juga sama.

Dikatakannya, dengan upaya pengembalian habitat ikan endemik Danau Toba tersebut, pihaknya berharap masyarakat tidak lagi menangkap dalam jumlah banyak menggunakan sulangat atau bahan. Dijelasannya, ikan yang ditebar merupakan asli yang keberadaannya sudah hampir mendekati punah.

Dinas Perikanan dan Kelautan Provsu mengambil indukan untuk ditangkarkan dan kembangbiakkan. Jenis ikan endemic tersebut adalah pemakan plankton dan juga menjadi pemakan muntahan ikan budidaya KJA sehingga dapat memperbaiki kualitas air Danau Toba.

“Tahun 2017 ini kami sudah ditebar sebanyak 56ribu ditambah lagi hari ini 45ribu. Sementara untuk target kita ada 1 juta benih. Maka UPT kita di Kerajaan (Simalungun) dan pusat pembibitan di Ambarita itu kita berdayakan untuk produksi benih,” katanya.

Zonny menjelaskan saat ini pemerintah sedang berupaya memperbaiki kualitas lingkungan perairan Danau Tob dalam upaya mendukung pengembangan KSN Danau Toba. Salah satu persoalan yang dihadapi tingginya produksi KJA di periran danau toba yang menyebabkan kualitas perairan menurun atau tercemar.

Untuk itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Kementerian Perikanan dan Kelautan, LIPI dan BLH Sumut serta beberapa pakar sudah menyepakati tingkat produksi perikanan KJA tahun 2017 yang diizinkan maksimum 50ribu ton ikan per tahun.

“Pada 2015 itu hasil produksi ikan (KJA) mencapai 84ribu ton, menurun pada 2016 menjadi 63ribu ton per tahun. Jadi tahun ini harus ditekan menjadi sama atau lebih kecil dari 50ribu ton per tahun,” jelasnya.


Untuk itu katanya, saat ini hingga pada April mendatang, Diskanla Sumut dan Pemkab terkait melakukan pendataan serta penataan keberadaan KJA guna menekan hasil produksi ikan hingga 50ribu atau kurang. Hasilnya akan dirapatkan dengan tim terkait baik pusat, provinsi dan kabupaten se-kawasan serta stakeholder yang berhubungan dengan produksi ikan KJA. (Rel)

Berita Lainnya

Post a Comment

0 Comments