. 2 Pelaku Bom Kampung Melayu Diduga Terkait Jaringan ISIS | BeritaSimalungun
Home » , , , » 2 Pelaku Bom Kampung Melayu Diduga Terkait Jaringan ISIS

2 Pelaku Bom Kampung Melayu Diduga Terkait Jaringan ISIS

Written By Beritasimalungun on Thursday, 25 May 2017 | 13:28

Kombes Awi Setiyono
 BeritaSimalungun.com, Jakarta-Polisi tengah menelusuri lebih jauh jaringan 2 pelaku teror bom bunuh diri di Kampung Melayu. Keduanya terkait dengan jaringan Islamic State of Iran and Syria (ISIS).

"Ya kalau ditanya jaringan ISIS, kemungkinan besar ada hubungan," ujar Kabag Mitra Biro Penmas Divhumas Polri Kombes Awi Setiyono di kantornya, Jl Trunojoyo, Kamis (25/5/2017).

Bom dengan daya ledak kategori kuat itu meledak di sekitaran halte busway Kampung Melayu pada Rabu (24/5/2017) malam. Bom meledak dua kali pukul 21.00 WIB dan 21.05 WIB.

Lima orang tewas akibat bom ini. Terdiri dari tiga petugas polisi yang menjadi korban, dan dua orang pelaku bom bunuh diri. Selain itu, 10 orang lainnya mengalami luka-luka.

Awi mengatakan, dua pelaku memang diduga terkait dengan jaringan internasional. Berkaitan dengan teror-teror di negara-negara lain.

"Karena ini jaringan internasional. Teror global. Bisa jadi ada hubungan," ujar Awi.  

Cerita Penugasan Bripda Yogi Sebelum Insiden Bom Kampung Melayu

Ayah Bripda Yogi Aryo.
Salah satu anggota polisi korban ledakan di Terminal Kampung Melayu, Bripda Yogi Aryo mengalami luka berat. Keluarga menyatakan Yogi seharusnya libur, namun tetap masuk untuk mengamankan pawai obor.

"Sebenarnya dia dinas di Polda Metro, tapi biasa sebagai Sabhara harus siap ditugaskan dimana saja. Kemarin saat libur, sore-sore di perintah komandan untuk mengamankan perkiraan mau ada kirab," ujar ayah Yogi, Yuli Hari Utomo, di RS Premier Jatinegara, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (25/2/2017).

Yuli mengatakan saat ini komandan Yogi telah menghubungi dirinya menanyakan kondisi anaknya. Dia berpesan ke kelompok teroris agar tidak melakukan serangan di tempat umum karena menyebabkan warga yang tak berdosa menjadi korban.

"Teroris itu kalau mau membalas dendam atau melakukan tindakan jangan sembarang di tempat umum. Di tempat umum itu sangat tidak bertanggung jawab. Nanti korbannya orang-orang umum yang tidak berdosa," ungkapnya.

Ia menceritakan, sosok anaknya masih polos meskipun berusia 22 tahun. Ia mengatakan anaknya masih perlu banyak bimbingan karena masih dianggap polos.

"Contoh anak saya itu masih polos walau umurnya sudah 22 tahun. Masih kecil saya anggap masih kecil karena walau jadi polisi beli jajanannya sama kaya adiknya yang SD permen gulali," kata Yuli.(BS)


Sumber: Detik.com
Share this article :

Post a comment