. Mengunjungi Dewi “Welas Asih” di Kota Pematang Siantar | BeritaSimalungun
Home » , » Mengunjungi Dewi “Welas Asih” di Kota Pematang Siantar

Mengunjungi Dewi “Welas Asih” di Kota Pematang Siantar

Written By Beritasimalungun on Saturday, 4 November 2017 | 10:45

Patung Dewi Kwan Im yang ada di Vihara Avalokitesvara, Siantar, merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Vihara ini menjadi destinasi wisata religi di Siantar (Jones Gultom).

Pematang Siantar merupakan kota terbesar keduadi Provinsi Sumut setelah Medan. Penduduknya beragam etnis, suku dan agama. Sejak lama, Siantar dikenal sebagai kota dengan destinasi wisata yang lengkap. Selain dekat dengan Danau Toba, kota ini juga dikenal dengan kuliner khasnya. Apalagi kalau bukan Roti Ganda dan roti ketawa.

Namun tulisan ini bukan hendak mengulas kuliner-kuliner itu. Namun pesona lain yang ada di Siantar, salah satunya Vihara Avalokitesvara.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, vihara yang terletak di Jalan Jane ini, ramai didatangi pengunjung. Baik wisatawan regional, domestik maupun mancanegara. Pengunjung akan membludak, terutama saat-saat menjelang Imlek.

Suasana vihara yang tenang dan penataan lokasi yang asri memberikan kenyamanan tersendiri bagi para pengunjung yang datang untuk beribadah maupun berwisata. Kolam ikan yang mengelilingi komplek vihara menambah suasana terasa semakin tenang dan damai. Untuk memasuki vihara ini tidak dipungut biaya.

Yang menarik dari Vihara Avalokitesvara ini adalah keberadaan patung Dewi Kwan Im yang disebut juga Dewi “Welas Asih”. Patung ini merupakan patung Dewi Kwan Im tertinggi yang ada di Asia Tenggara, yakni 22, 8 meter.

Menurut sejarahnya, patung ini dibuat langsung dari China dengan bahan dasar batu granit. Dewi Kwam Im adalah seorang dewi cinta kasih sayang yang selalu dipuja oleh umat Buddha. Pembangunan patung ini berlangsung selama 3 tahun dan menghabiskan dana kurang lebih Rp 9 miliar. Patung ini diresmikan pada 2005, dan langsung mendapat penghargaan dari MURI sebagai patung Dewi Kwan Im, tertinggi di Indonesia.

Tidak hanya patung Dewi Kwan Im yang ada di vihara ini, terdapat sejumlah patung dewa-dewi lainnya dan juga replica shio yang diakui dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa.

Patung-patung itu, antara lain, ayam, tikus, kerbau, ular, kuda, macan, kelinci, naga, monyet, babi, anjing dan kambing.

Vihara ini pernah terbakar pada 2008. Perlu bertahun-tahun untuk merenovasi kembali viraha tertua dan bersejarah di Kota Siantar ini.

Patung Dewi Kwan Im terletak di lantai dua vihara. Di pintu masuk tangga Anda akan disambut oleh dua buah patung yang terletak di dua sisi tangga yang merupakan patung catur mahadewa-raja atau disebut patung malaikat pencatat kebaikan dan keburukan. Terdapat juga lampion-lampion yang menghiasi dan menambah keindahan dari patung Dewi Kwan Im tersebut.

Dewi Welas Asih

Hampir di setiap vihara di Indonesia memiliki patung Dewi Kwan Im. Beberapa di antaranya menarik perhatian pengunjung. Baik dikarenakan kemegahannya maupun keindahannya.

Antara lain yang ada di Kepulauan Batam. Patung Dewi Kwan Im di Batam adalah patung merupakan tertinggi kedua. Tingginya mencapai 22,3 m dan berat 112 ton.

Begitu juga dengan di Klenteng Sanggar Agung, Surabaya. Di klenteng ini terdapat patung Dewi Kwan Im setinggi 20 meter yang dikawal dua penjaga Shan Nan dan Tong Nu serta empat Maharaja Langit, juga sepasang patung naga raksasa meliuk berhadapan.

Begitu juga yang ada di Kelenteng Dewi Kwan Im, Belitung Timur setiggi 12 meter, di Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang. Di vihara ini patung Dewi Kwan Im bahkan berjumlah 20 buah.

Bedasarkan berbagai literatur, Dewi Kwan Im adalah penjelmaan Buddha Welas Asih di Asia Timur. Kwan Im sendiri adalah dialek Hokkian dan Hakka yang dipergunakan mayoritas komunitas Tionghoa di Indonesia.

Nama lengkap dari Kwan Im adalah Kwan She Im Phosat, yang merupakan terjemahan dari nama aslinya dalam bahasa Sansekerta, Avalokiteśvara. Valokita (Kwan / Guan / Kwan Si / Guan Shi), yang bermakna melihat ke bawah atau mendengarkan ke bawah.

Bawah di sini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam (lokita). Svara (Im/Yin) berarti suara, yaitu suara dari makhluk-makhluk yang menjerit atas penderitaan yang dialaminya.

Oleh karena itu, Kwan Im adalah Bodhisatva yang melambangkan kewelas-asihan dan penyayang.(BS)

Sumber: Medanbisnisdaily.com.  
Share this article :

Post a Comment

Halaman FB Media Lintas Sumatera

Mengucapkan

Mengucapkan
KLIK Benner Untuk Beritanya

DANRINDAM I BB/ Mengucapkan

DANRINDAM I BB/ Mengucapkan
DIRGAHAYU TNI ' Semoga TNI Selalu di Hati Rakyat, Menjadi Kebanggaan Ibu Pertiwi, Sinergi, dan Maju Bersama Negeri, AMIN

Kaldera Toba Akhirnya Diakui UNESCO Global Geopark

Kabar Hun Simalungun

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Tinuktuk Sambal Rempah Khas Simalungun Dari Devi Damanik

Tinuktuk Sambal Rempah Khas Simalungun Dari Devi Damanik
Tinuktuk adalah Sambal Rempah Khas Simalungun yang berkhasiat bagi tubuh dan enak untuk sambal Ikan Bakar atau sambal menu lainnya. Permintaan melayani seluruh Indonesia dengan pengiriman JNT dan JNE. Berminat hubungi HP/WA Devi Yusnita Damanik 0815 3445 0467 atau di Akun Facebook: Devi Damanik.

Peletakan Batu Pertama Pembangunan “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba)

Peletakan Batu Pertama Pembangunan “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba)
Hinalang- Pdt Jhon Rickky R Purba MTh melakukan peletakan batu pertama pembangunan Pusara “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba) di Desa (Nagori) Hinalang, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, Selasa (22/10/2019). Acara Peletakan Batu Pertama dilakukan sederhana dengan Doa oleh Pdt Jhon Rickky R Purba MTh. Selengkapnya KLIK Gambar

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba
Sakit Bertahun Tanpa Pelayanan Medis

Catatan Kecil Lomba Cover Lagu Simalungun “Patunggung Simalungun”

Catatan Kecil Lomba Cover Lagu Simalungun “Patunggung Simalungun”
“Lang jelas lagu-lagu Simalungun sonari on. Tema-tema pakon hata-hata ni lagu ni asal adong. Irama ni pe asal adong, ihut-ihutan musik sonari. Lagu-lagu Simalungun na marisi podah lang taridah.” (Semakin kurang jelas juga lagu-lagu Simalungun belakangan ini. Tema dan syairnya asal jadi. Iramanya pun ikut-ikut irama musik zaman “now” yang kurang jelas. Lagu-lagu Simalungun bertema nasehat pun semakin kurang”.