}); Menjadi Pendoa yang Militan | BeritaSimalungun
Home » , , » Menjadi Pendoa yang Militan

Menjadi Pendoa yang Militan

Written By Beritasimalungun on Sunday, 26 May 2019 | 06:27

Foto Kolase Youtube
Oleh: S. Sahala Tua Saragih

Beritasimalungun-Ini kisah lama. Adalah seorang perjaka bernama Robin. Marganya tak perlu kusebut. Dia siswa SMA, anak Pendeta HKBP Parluasan Kotamadya Pematang Siantar. Sejak masuk SMAN 2 Siantar tahun 1970 Robin dan kedua orangtuanya terus mendoakan Robin dengan tekun dan optimistis (penuh pengharapan) agar bisa kuliah di ITB.

Pada akhir tahun 1972 Robin lulus SMA, Jurusan Paspal (Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam). Menjelang Natal 1972 dia berangkat ke Bandung, naik kapal Tampomas di Belawan. Setelah doa pemberangkatan yang dipimpin ayahandanya sendiri, Robin berjanji, tak ‘kan pulang ke Siantar sebelum lulus dari ITB.

Pada Januari 1973 mendaftarlah Robin ke ITB. Dia memilih Jurusan Teknik Perencanaan (Planologi). Dia bercita-cita menjadi ahli perencanaan kota dan wilayah. Ketika tiba masa pengumuman, ternyata dia tidak lulus. Kecewa? Pastilah. Robin dan keluarganya sangat kecewa. Ternyata doa mereka selama tiga tahun tak dikabulkan Tuhan.


Baca: Lilin Kecil Bersinar Abagi (Buku Sahala Tua Saragih) 
Video: St Sahala Saragih Dosen Legendaris Jurnalistik UNPAD

Lalu Robin terpaksa mendaftar ke sebuah Akademi Teknik swasta di Bandung agar tak berstatus penganggur. Dia diterima sebagai mahasiswa angkatan 1973. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari Robin bukannya sibuk belajar materi kuliah melainkan terus mempelajari materi pelajaran SMA tertentu yang relevan dengan materi ujian masuk ITB.

Pada Januari 1974 Robin kembali mendaftar ke ITB. Ternyata doanya dan doa kedua orangtuanya juga tak dikabulkan Tuhan. Robin lagi-lagi gagal masuk ke PTN yang mereka idam-idamkan.

Akan tetapi mereka tak pernyah berhenti berdoa. Mereka pendoa yang militan (gigih) nian. Mereka tak mengenal kata menyerah, bosan, jenuh, dan pesimistis dalam berdoa. Robin terus didorong, diberi semangat, diberi harapan oleh keluarganya yang jauh di seberang lautan.

Pada Januari 1975 Robin kembali mendaftar ke ITB, tetap ke jurusan yang sama. Itu kesempatan terakhir mendaftar ke PTN tersebut. Sebulan kemudian keluarlah pengumuman. Ternyata Robin lulus. 

Dia langsung sujud berdoa sambil meneteskan air mata. Lalu cepat-cepat dia mencari selembar kertas tulis, dan menulis sepucuk surat sukacita dan bahagia, dan mengirimkannya kepada orangtuanya melalui Kantor Pos ITB, pakai perangko Kilat.

Setelah membaca surat sang anak terkasih, kedua orangtuanya di Siantarpun saling berpelukan bahagia. Mereka langsung sujud berdoa dengan saling bergenggaman tangan. Ibundanya mencucurkan air mata sukacita dan bahagia besar. Akhirnya doa mereka selama lima tahun dikabulkan Tuhan.

Indah pada waktunya, kata Amsal Raja Salomo (Sulaiman). Itulah buah doa para pendoa yang militan, optimistis, dan bersabar menanti jawaban doa. Alamat doa mereka benar dan pasti, yakni Allah Bapa. Mereka percaya 100 persen kepada Sang Alamat doa.
Ayah Robin segera menulis surat balasan kepada anaknya di Bandung melalui Kantor Pos Besar di Jl. Sutomo Siantar. Di awal suratnya Pak Pendeta mengutip ucapan Tuhan Yesus Kristus dahulu kala ketika mengajar murid-murid-Nya berdoa.

Kata-Nya, “… Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Lukas 11: 9-10).

Dalam suratnya Pak Pendeta meminta Robin untuk membaca kembali kisah pengajaran Yesus tentang berdoa tersebut, baik yang dicatat oleh Lukas maupun yang dicatat Matius. Menurut catatan Lukas, ketika itu Yesus membuat sebuah ilustrasi (perumpamaan) tentang kegigihan dalam meminta. Dalam kitab Lukas memang tidak digunakan kata gigih atau mengotot. Dia memakai frasa “yang tidak malu itu”.

Lukas menulis demikian, “Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.” (Lukas 11: 8).

Tentu banyak nian contoh nyata seperti kisah Robin yang pernah kita baca atau langsung kita alami atau saksikan sendiri, entah menyangkut pendidikan, pekerjaan, entah soal jodoh, anak (keturunan), rumah, jabatan, dan lain-lain. 

Dalam ilustrasi Yesus tersebut, keluarga yang kedatangan tamu pada malam hari itu sama sekali tak memiliki roti atau makanan untuk disuguhkan kepada para tamu yang sudah lapar. Rupanya mereka tidak hanya berdoa kepada Tuhan agar diturunkan (disiapkan) dari langit makanan bagi tamunya, namun sang kepala keluarga keluar rumah, berusaha keras mencarinya ke manapun.

Meski telah tengah malam, si bapak mengetuk pintu rumah sahabatnya (bukan temannya semata) untuk meminjamkan tiga roti. Ia mengetuknya dengan penuh harapan. Memang pada awalnya sang sahabat yang merasa sangat terganggu tidurnya enggan membuka pintunya dan mengabulkan permintaan sahabatnya. Akan tetapi karena sahabatnya terus mengetuki pintunya, akhirnya dia mau membuka pintunya, dan memenuhi pinjaman tiga roti bagi tamu sahabatnya.

"Ora et labora" (berdoa dan bekerja). Kita tak cukup hanya berdoa terus menerus dengan sangat gigih dan penuh harap dengan berbagai cara, namun kita juga mesti bekerja keras. Tuhan niscaya mengabulkan doa orang-orang yang beriman, benar, jujur, tulus, serius, dan rendah hati, yang benar-benar belajar/bekerja keras. Selamat ber-"ora et labora"! ***(Penulis Adalah Dosen Senior FIKOM Unpad-Bandung)
 
Share this article :

Post a Comment