}); HBB Bentangkan Spanduk Tolak Wisata Halal Syariah di Danau Toba | BeritaSimalungun
Home » , , » HBB Bentangkan Spanduk Tolak Wisata Halal Syariah di Danau Toba

HBB Bentangkan Spanduk Tolak Wisata Halal Syariah di Danau Toba

Written By Beritasimalungun on Thursday, 29 August 2019 | 16:53

HBB Bentangkan Spanduk Tolak Wisata Halal Syariah di Danau Toba.(Kolase WA)
Beritasimalungun, Medan-Ketua DPP Organisasi Masyarakat (Ormas) Horas Bangso Batak (HBB) Lamsiang Sitompul SH MH mengajak masyarakat Batak untuk membentangkan spanduk penolakan Wisata Halal dan Syariah di Kawasan Danau Toba seperti yang diwacanakan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi.

Donasi dari simpatisan HBB untuk membuat spanduk terus mengalir ke Rekening Ormas HBB Pusat yakni Bank Mandiri An. Horas Bangso Batak No 105.001.3772.763. Donasi dari Rp 50 Ribu hingga Rp 200 Ribu juga secara transparan dipublikasikan di Group WA HBB. 

Donasi itu diperuntukkan untuk mencetak dan biaya pemasangan spanduk penolakan Wisata Halal dan Syariah di Kawasan Danau Toba. 

Lamsiang Sitompul SH MH juga telah mengundang semua Anggota Bidang Hukum HBB terkhusus kepada rekan-rekan advokat dalam rapat hari Jumat, 30 Agustus 2019 Pukul 14.00 WIB di Kantor DPP Horas Bangso Batak Jala Setia Budi Pasar I Perumahan Classic II No 77 Pukul 14.00 WIB. Materi rapat 1  Pendirian LBH HBB, 2. Masalah ujaran kebencian, hoaks, intoleransi dan Radikalisme, 3. Kebebasan beragama, 4. Lingkungan Hidup, 5. Advokasi terhadap masyarakat umum dan hal lain yang timbul dalam rapat . 

Sementara Zainal Nainggolan, penggiat Peduli Danau Toba mengatakan, Danau Toba terletak di Sumatera Utara. Daerah ini adalah icon sejarah dan pusat budaya suku Batak. Masuknya agama Kristen menjadikan masyarakat Batak di daerah ini memeluk agama Nasrani kurang lebih 99%.

“Ketika saya membaca berita program Gubernur Sumatera Utara tentang pembangunan Danau Toba, saya banyak merenung dan gelisah. Gelisah karena pernyataan rencana Gubernur Sumut Edy Rahmayadi ingin menertibkan potong daging babi dan mendirikan beberapa Mesjid,” ujarnya. 

“Mungkin pak Gubernur Edy tidak paham bahwa di kawasan Danau Toba itu, masyarakatnya penganut agama Nasrani kurang lebih 99%. Kedua, pembangunan Danau Toba itu seharusnya bukan bertujuan untuk memiskinkan perekonomian warga disana, tetapi harus meningkatkan pertumbuhan perekonomian rakyat dan pemda. Kalau bapak Edy ingin menertibkan ternak babi, tertibkanlah dan tutup perusahaan ternak yang beroperasi di Kawasan Danau Toba itu. Selama ini, perusaan ternak yang mengotori Danau Toba tetapi ekonomi dan kebutuhan rakyat yang bapak kebiri,” kata Zainal Nainggolan seperti dituliskannya di linimasa sosial miliknya. 

Disebutkan, membangun beberapa Mesjid, Pak Edy juga tidak paham bahwa warga di kawasan Danau Toba itu kurang lebih 99% penganut agama Nasrani. Di kawasan sentral wisata Danau Toba sudah ada mesjid di setiap kabupaten 1 hingga 3 mesjid. 

“Pak Edy juga tidak paham bahwa kawasan wisatawan itu adalah tempat untuk liburan bukan untuk tempat beribadah. Kalau tujuannya untuk beribadah tempatnya bukan di kawasan Danau Toba. Terkusus, Danau Toba adalah tempat wisata adat bahkan pusat icon budaya dan sejarah Batak maupun agama Nasrani,” ujarnya. 

Zainal Nainggolan menambahkan, masyarakat ingin kawasan industri Danau Toba dihiasi tradisi Kekristenan dengan Nuansa Nasrani untuk menarik wisatawan ditingkat Internasional dan Nasional. Sama halnya selama ini, di Bali tidak ada aturan wisatan HALAL Syariah namun Bali begitu populer di luar negari karena keindahan dan keramahan warga Bali selain unik. Unik karena wisatawan budaya Bali. 

“Mari kita lihat berbagai tempat wisatan umum yang bertarap Internasional, seperti Bali dan di benua Eropa sana. Mereka mempercantik alam wisatawan dengan berbagai seni dan budaya bahkan tradisi keaganaan setempat menjadi dayatarik wisatawan Bali. Di Eropa, selain alamnya cukup indah yang diberikan Tuhan, mereka menghiasi berbagai bangunan seni dan tempat hiburan. Tempat hiburan dan tempat bersantai yang sangat unik yang mampu menarik wisatawan. Bahkan sampai di dalam laut mereka mendirikan restoran,” terang Zainal Nainggolan.

“Saat ini, Presiden Jokowi Widodo telah bekerja keras untuk membangun infrastruktur dan itu memang program yang paling penting. Selanjutnya, kita tinggal melanjutkan membangun gaya mempercantik Danau Toba dan tempat hiburan yang tidak berlawanan dengan norma agama,” katanya.

“Empat tahun yang lalu, saya banyak membagikan artikel-artikel tentang pembangunan mempercantik Danau Toba. Saya rasa jika itu deterapkan sungguh luar biasa indahnya Danau Toba selain hemat anggaran,” ujar Zainal Nainggolan. 

Zainal Nainggolan juga menekankan, jangan bawa agenda agama untuk pembangunan Danau Toba,  namun bagaimana kawasan ini mampu menjadi kawasan industri tujuan destinasi wisatawan bertaraf Internasional yang mampu menarik wisatawan dari dunia Internasional. 

“Kedua, bagaimana bapak mampu untuk membangun industri kreatif sebagai soufenir wisatawan  yang berkunjung ke kawasan Danau Toba sehingga meningkatkan pertumbuhan perekonomian rakyat dan menciptakan lapangan kerja. Salam Danau Toba. Ayo siapa lagi yang terbeban silahkan mendaftar. Mari berjuang bersama-sama,” kata Zainal Nainggolan.
Obyek Wisaya Danau Toba.(Istimewa)
Pengembangan Wisata Halal

Mengutip https://www.republika.co.id, Badan Pelaksana Otorita Danau Toba terus mengoordinasikan proses pelaksanaan wisata halal di kawasan Danau Toba, Provinsi Sumatra Utara.

Usai menyambut wisatawan yang tiba di Pelabuhan Kuala Tanjung, Kabupaten Batubara, April 2019 lalu, Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) Arie Prasetyo mengatakan, wisata halal yang menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan kawasan strategis nasional itu.

Apalagi mayoritas wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Danau Toba berasal dari Malaysia yang mayoritas beragama Islam. "Sekitar 50 persen wisatawan mancanegara di Danau Toba itu berasal dari Malaysia," katanya.

Secara umum, kata Arie Prasetyo, lokasi yang dikunjungi wisatawan ketika berwisata ke Danau Toba adalah Parapat dan Samosir. Untuk kawasan Parapat, fasilitas wisata halal tersebut cukup banyak, termasuk rumah ibadah dan restoran yang menyediakan makanan halal.

Namun pihaknya mengakui fasilitas tersebut masih minim di Samosir, terutama di Tomok yang menjadi salah satu lokasi utama kunjungan wisatawan. Karena itu, BPODT terus berkoordinasi dengan Pemkab Samosir untuk mendukung penyediaan fasilitas halal di berbagai lokasi wisata.

BPODT juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Agama untuk menyiapkan dan membangun fasilitas ibadah di Samosir.

Dengan keberadaan fasilitas wisata halal dan rumah ibadah tersebut, wisatawan yang beragama Islam dapat beristirahat sejenak ketika memasuki waktu sholat.

Jika tidak ada fasilitas wisata halal dan rumah ibadah tersebut, dikhawatirkan wisatawan yang beragama Islam tidak dapat berlama-lama di Samosir karena harus mencari makanan halal atau tempat beribadah.

“Jadi, rumah ibadah itu bisa menjadi semacam rest area. Kalau tidak ada, kunjungan mereka hanya sebatas makan siang atau sampai masuk saat ibadah," katanya didampingi Humas BPODT Ondo Ria Simatupang.

Menurut dia, berbagai fasilitas wisata halal tersebut sangat mendukung kenyamanan wisatawan yang beragama Islam sehingga long of stay mereka menjadi lebih lama.

Dari koordinasi yang dilakukan selama ini, Pemkab Samosir juga mendukung dan memberikan respons positif mengenai keberadaan fasilitas wisata halal tersebut. Namun ada beberapa masyarakat yang masih belum menerima. "Itu perlu terus disosialisasikan," ujar Arie Prasetyo.(Asenk Lee Saragih)
 
Share this article :

Post a Comment