}); "Semangat Indonesiaku" | BeritaSimalungun
Home » , » "Semangat Indonesiaku"

"Semangat Indonesiaku"

Written By Beritasimalungun on Tuesday, 17 March 2020 | 13:57

Pedagang. Foto FB Oni
Oleh: Anita Martha Hutagalung (Oni) 

Beritasimalungun-Aku bersyukur setiap kali menyaksikan wajah-wajah polos orang-orang dipasar/dipajak. Dimanapun mereka berada sama saja. Baik di kota kecilku Binjai, baik itu di Pajak Horas atau Parlu di Siantar Bahkan di pasar tradisional di Kupang NTT. Mereka gak sempat mikirin situasi negara ini. Yang ada di otaknya mikir besok anakku makan apa?

Dengan demikian aku merasa hidup Oni ternyata begitu sejahtera.
Saat aku mikir bulan depan mau liburan kemana? Mereka mikirnya masih urusan perut dan cicilan hutang atau sewa rumah.

Mikir mau ngirim biaya kos anaknya yang lagi sekolah di kota Mikirin uang kuliah anaknya di luar daerah. Pemerintah paham betul kenapa mengambil keputusan tidak memberlakukan lock down.

(Sampai saat ini) Tetapi Presiden Jokowi menganjurkan untuk memperkecil mobilisasi. Seperti meniadakan pertemuan yang melibatkan keramaian orang. WFH (Work From Home) tak perlu keluar rumah bisa melalui on line. Meliburkan sekolah dll.

Tau gak sih apa itu lock down ? Artinya itu terkunci , adalah suatu protokol darurat yang biasanya mencegah orang meninggalkan suatu area. Dan hanya dapat diprakarsai oleh seorang dalam posisi otoritas.

Jadiiii....sistem terkunci itu. Semua orang berdiam dirumah , berdiam itu bukan berarti diam membisu yaa gaess. Tapi tinggal dirumah dan beraktifitas dirumah saja. Kau tak bisa sukak-sukakmu keluar rumah. Begitu kau keluar pintu rumahmu.

Sudah ada petugas yang berwenang bertanya mau ngapain loe keluar? Dan belum tentu diizinkan. Karena apa, Karena seluruh kebutuhan pokok disupply pemerintah dan ada petugas yang mendistribusikan kerumah-rumah. Emang kamu pikir gampang ?
Segampang mengucapkan lockdown.

Sekolah, tempat umum, perkantoran, pabrik, semua tutup. Lalu transportasi udara, laut, dan darat apapun itu tutup. Ini jangankan tutup, transportasi dikurangi aja di Jakarta udah kacau. Jadi jangan harap seenakmu bisa kesana-kemari karena "libur"

Toko atau supermarket yang buka juga terbatas, hanya yang menjual kebutuhan pokok sehari-hari. Dan gak bisa sukak-sukakmu belanja. Semua diibatasi. Dijatah.

Dan tentu tak ada masalah buatmu yang rumahmu nyaman , dilengkapi segala peralatan elektronik. Ada WiFi , kulkasmu penuh.
Kau tak kekurangan makan , bahkan dianjurkan dokter buat diet , karena obesitas dan banyak penyakit lainnya akibat keseringan makan enak. Tabungan ada.

Pernah mikir gak orang-orang yang hidupnya kerja mocok-mocok.
Bekerja dulu baru makan. Ada puluhan juta orang yang hidup dari keramaian. Hidup dari pasar/pajak , terminal , stasiun , pelabuhan dll.

Mereka gak punya tabungan. Gak punya WiFi, punya tipi tapi gak punya kulkas. Jangankan KULKAS , isi kulkas kayak yang di rumahmu mereka ngk ada.

Pedagang garam , kalau dikunci (lockdown) maksudmu dia cukup makan garam stok jualannya aja getoh..???

Lalu tukang becak kayuh yang di Jogja dia ngasi makan keluarganya masak sadel becaknya getoh??

Tukang bangunan, batu bata, pasir, semen yang tiap hari dipegangnya itu bukan punya dia. Lagian batu gak bisa dimakan.
Sedangkan pemain debus saja, mereka butuh nasi.

Kita dukung pemerintah kita. Anjuran untuk langkah preventif.
Awasi keluarga masing-masing. Kalau ada yang sakit segera berobat ke dokter. Jangan panik , pakai nalar.

Penduduk Indonesia 260 juta jiwa. Menurut data Bapennas angka kematian thn 2019 adalah 1,8 juta orang 0,65%. Jadi sekitar 5000 orang mati setiap hari.

Lalu data dari kepolisian Indonesia. 3 orang meninggal setiap jam karena kecelakaan. Tiap jam yaa gaesss. Jadi kalikan aja sehari ada 24 jam.

Lalu data dari BNN RI. 1 orang mati setiap 25 menit karena narkoba. Bayangkanlah itu. Bisa saja salah satunya adalah anggota keluarga kita.

Bandingkan dengan yang mati karena virus Corona. Yang sudah sekian lama "menghantui pikiranmu". Sampai saat ini tercatat meninggal 5 orang. Berarti 4,30% dari 117 pasien terinfeksi virus Corona. Atau 0,0000019 % dari 260 juta jiwa.

Saya bukan "menyepelekan" atau menganggap kematian karena virus Covid 19 itu hal biasa saja. Hanya ingin mengurangi rasa khawatir yang over berlebihan. Sehingga melemahkan semangat.

Sementara kematian saudara2 kita yang karena kecelakaan dan narkoba , kita abaikan begitu saja. Kita seolah tak pernah khawatir tentang itu. Merasa itu bukan urusan kita.

Bagi Oni dalam hidup kita harus bisa berarti. Tak bisa bagi orang lain , setidaknya bagi diri sendiri. Kalau tak bisa membangun motivasi. Setidaknya jangan membuat orang jadi frustrasi. Oni memang kek gitu orangnya. (Penulis Adalah Pegiat Sosmed)
Share this article :

Post a Comment