. Eksistensi Lamser Girsang Ditengah Industri Musik Digital | BeritaSimalungun
Home » , » Eksistensi Lamser Girsang Ditengah Industri Musik Digital

Eksistensi Lamser Girsang Ditengah Industri Musik Digital

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 15 April 2020 | 18:03

Foto Kolase Youtube
Bage, BS-Siapa yang tak kenal Seniman Legend Lamser Girsang. Lagunya berjudul “Sandiwara” dan “Tolu Sahundulan” membuta namanya terkenal, khususnya bagi masyarakat Simalungun. Lamser Girsang yang meniti karier didunia seni selama puluhan tahun, kini tetap eksis ditengah dunia musik digital.

Lamser Girsang menyadari, bahwa industry musik kini sudah masuk era digital, yang mengharuskan Seniman Simalungun harus bisa menggelutinya. Menyadari era digital musik saat ini, Lamser Girsang membuat Chanel Youtube Lamser Girsang.

Lagu “Jodoh Tergantung Tulang” yang diposting pada 3 Desember 2019 lalu, kini sudah ditonton 24.602 kali. Lagu “Jodoh Tergantung Tulang” ini kembali mengobati penggemarnya akan karya-karya terbaik Lamser Girsang.

Chanel Youtube Lamser Girsang memposting Video pertamanya pada 22 Mei 2018 lalu dengan Lagu “Ho Do Na Lao” Ciptaan Nevo Marpaung dan Lamser Girsang dan telah ditonton hingga 15 April 2020 sebanyak 3.541 kali.


Chanel Youtube Lamser Girsang kini sudah memposting 55 Video sejak Mei 2018 dengan jumlah 1,74 Ribu Subscriber. Sedangkan Lagu Sandiwara (New Version 2016) yang diposting Chanel Youtube Horas Simalungun sudah ditonton 72.594 kali sejak 30 September 2016.

Dunia Youtube kini memberikan Seniman untuk mengembangkan industry musik era digital dan bila digeluti serius bisa menghasilkan uang. Tentunya para Seniman harus mengelola konten Youtubenya secara professional.

Hal itulah yang dijalankan Lamser Girsang dengan menggeluti Chanel Youtube ditengah lesunya industry Lagu-Lagu Simalungun dalam album VCD dan DVD. Kini sudah saatnya berevolusi ke era digital yakni Youtube dan kepada seniman juga agar mendaftarkan Karya Ciptanya secara resmi ke pihak Youtube agar bisa menghasilkan royalty. 

Karier Lamser Girsang

Lamser Girsang juga kini terus aktif mengisi panggung ke panggung. Seperti acara Marsombuh Sihol Parsadaan Girsang Boru Panagolan Indonesia usai seminar akbar sejarah dan silsilah Girsang pada Sabtu, 25 Januari 2020 lalu di Le Polonia Hotel Kota Medan.
Chanel Youtube Lamser Girsang
Sejak tahun delapan puluhan, Lamser Girsang sudah berkarir sebagai penyanyi. Ketika itu Lamser Girsang masih bernaung di bawah bendera Budilas Trio, salah satu Trio Batak yang sempat meramaikan khasanah Pop Tapanuli. 

Lamser Girsang lama bermukim di ibukota Jakarta. Pria asal Bage, Simalungun ini akhirnya “pulang kampung” kembali ke Sumut. Coba-coba untuk bersolo karir, ternyata ia bisa mengharumkan namanya sendiri diblantika musik Simalungun. 

Siapa yang tak kenal lagu Sandiwara ? Lagu sendu mendayu yang bisa menggugah kenangan masa lalu itu, atau lagu Tolu Sahundulan yang acapkali terdengar disetiap acara pesta Simalungun dan Tapanuli itu sudah akrab ditelingan orang Batak.

Kemudian ada pula kisah nyatanya yang dikemas dalam sebuah lagu berjudul “Iluh Ni Niombah”. Lagu yang disebut terakhir ini bisa mengundang haru bahkan mampu menguras air mata pendengar. 

Semua dinyanyikan Lamser Girsang dengan penuh perasaan plus suara yang tidak diragukan lagi. Lamser Girsang memang seniman serba bisa. Sebagai penyanyi, dia oke, sebagai pencipta lagu pun juga sungguh mumpuni.

Lagu-lagu ciptaanya selalu hits. Dan masih banyak karya ciptanya yang lain yang berhasil menjadi hits diblantika musik Pop Daerah Simalungun.

Tidak ingin disebut vacum, putra dari J. Girsang (+) dan D Br Saragih kelahiran Bage, Simalungun 10 Oktober 1963 ini juga telah menghadirkan karya berjudul “Manombah Tondong”. 

Lagu “manombang Tondong” sangat diterima masyarakat Simalungun sebagaimana lagu “Tolu Sahundulan. “Saya sudah curahkan seluruh jiwa dan pikiran untuk lagu yang satu ini,” kata kala itu.

Memang benar. Jika disimak mulai dari penggunaan syair maupun misi lagu itu sendiri, secara keseluruhan cukup positif dan mendidik. Di sinilah salah satu kelebihan Lamser Girsang bila dibandingkan dengan pencipta lagu Simalungun lainnya. 

Penggunaan kata-kata baku dalam syair lagu menempatkannya di posisi lebih terhormat. Bandingkan dengan karya-karya baru yang banyak bermunculan akhir-akhir ini. Bahasa gaul yang juga disebut bahasa prokem banyak digunakan. 

Bukan saja bisa merusak bahasa, tapi juga lagunya hanya mampu bertahan di satu episode tertentu. Kata-kata yang terdapat pada lagu itu akhirnya jadi ketinggalan karena kata-kata baru akan tetap muncul mengikuti zamannya.

Simalungun boleh berbangga karena memiliki seniman yang tangguh. Ratusan lagu berhasil diciptakan suami dari Herida br. Silalahi (+) / S. br. Sitepu ini. Semua itu, Lamser Girsang persembahkan untuk daerahnya tercinta, Simalungun. 

Lamser Girsang telah mencatatkan namanya disetiap sanubari pecinta musik Simalungun. Dan salah satu kepiawaian Ayah dari Nada Fernandes, Lola Monika, Ruth, dan Naima ini adalah mampu mencipta lagu Tapanuli yang sudah dipopulerkan oleh Trio Santana. 

Ini juga menunjukkan bahwa Lamser Girsang bukan hanya ‘jago kandang’. Dukungan masyarakat Simalungun juga sangat dibutuhkan, demi kelangsungan budaya itu sendiri. 

Coba bandingkan, betapa jauhnya perbedaan antara artis Simalungun dengan artis daerah lain. Dan betapa maraknya lagu-lagu daerah lain dikancah permusikan negeri ini. Kenapa itu bisa terjadi? Semuanya terpulang pada diri kita masing-masing sebagai Pecinta Seni Budaya Simalungun.

Kini Lagu “Jodoh Tergantung Tulang” kembali membuktikan Lamser Girsang tetap eksis berkarya diera digital saat ini. Semoga Sukses Selalu. Jangan Lupa Subscribe Chanel Youtube Lamser Girsang sebagai penghargaan seluruh karyanya. (Berbagaisumber/Asenk Lee Saragih) 
Share this article :

Post a comment