}); Gual, Gonrang, Tor-tor, Taur-taur Simalungun belum Punah | BeritaSimalungun
Home » , , , » Gual, Gonrang, Tor-tor, Taur-taur Simalungun belum Punah

Gual, Gonrang, Tor-tor, Taur-taur Simalungun belum Punah

Written By Beritasimalungun on Tuesday, 28 July 2020 | 15:50

Foto tangkapan layar Facebook.
Oleh: J Bachtiar Sihaloho
Beritasimalungun-Adalah memang sungguh menjadi sebuah tanda tanya selama ini dalam setiap insan Simalungun dimanapun berada, kemana budaya Simalungun yang original dengan Gonrang Sipitu-pitu, Sarunei, Ming-mong dan Ogung.

Bahkan status sang Dosen Etnomusikologi sekaligus Budayawan Senior di Tanoh Bumi Habonaron Do Bona, Tondong awak Setia Dermawan Purba, sempat menjadi VIRAL di Medsos Facebook dengan beratus-ratus komentar, yang mempertanyakan seperti apa Gonrang Sipitu-pitu yang Asli milik Nenek Moyang atau Leluhur Simalungun?

Terjawab sudah....!!

Adalah Sanggar sayur matua, yang berdiri bulan Februari 2020, di Desa Nagori Dolog, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun, besutan sang Guru Besar Fredy Poerba,

Dalam perform Live Streaming yang disiarkan langsung dari Account Facebook milik SANGGAR_BUDAYA_SAYURMATUA tadi malam, hingga saat ini sudah ditonton oleh 24.500 x Tayang (1#2.200 tayang, 2#22.500tayang, Biasa masalah Jaringan Internet, yang sempat error') adalah sebagai jawaban, "Kita" masih mencintai budaya Simalungun, dari generasi sampai ke generasi berikutnya.

Dengan motto Namaposo Namarbudaya, adalah menjadi hal yang istimewa, dan perlu menjadi perhatian seluruh elemen masyarakat Simalungun, dimanapun berada, agar Sanggar Sayur Matua, tetap eksis dan bisa memberikan pertunjukan yang terbaik dalam melestarikan budaya, tidak berhenti sampai disini saja.

Ayo mari secara bersama-sama untuk Supporting mereka, agar attitude yang mereka lakukan terhadap budaya, menjadi modal dan bahkan skill bagi generasi muda Simalungun kedepan.
Ai........langgggg on.....ma

Dan terimakasih kepada Tokoh Masyarakat, Tokoh Gereja dan Partuha Maujana Kecamatan Silaukahean, yang sudah mendukung mereka hingga mampu melakukan acara LS yang pertama ini dengan baik.

Adalah menjadi tanda tanya besar, ketika perbincangan saya dengan sang Ketum pagi ini by Phone, #Belum_Ada# Perhatian Pemerintah Kabupaten Simalungun, Cq Dinas Pariwisata Kabupaten Simalungun, hingga Kecamatan Silau Kahean, untuk mengarahkan mereka apalagi untuk Supporting dalam acara ini.

Aihhhhhhhhh Tene. Ija do ham JR Saragih? Mase Lang Tardeteksi Nassiam, Anak Muda Yang Potensi Membangun Budaya Simalungun, Maningon Hadir ma Pamarentah Bai sisongon on. Boisssss Nari Hita.......Anggo Pamarentah pe Lang tanggap.

Tor-tor Marittak Hotang dan Balang Sahua hingga Tor-tor Sombah.

Marritak Hotang, adalah sebuah tarian atau tor-tor sudah saya sukai 40tahun silam, ketika saya bertetangga dengan Gonrang Simalungun SITALASARI Pematang Siantar, pimpinan Alm. Nokah Sinaga.

Tarian Rakyat ini, menceritakan, bagaimana kegigihan orang Simalungun pada zaman itu, dalam berburu mencari Rotan di Hutan, hingga digigit Serangga dan hama, ia lakukan untuk mendapatkan Rotan, sebagaimana yang kita ketahui, bisa dipergunakan untuk berbagai macam kebutuhan menjadi meubel, dan bisa dibarter kepada barang yang lain.

Simalungun, adalah masyarakat yang penuh kegotong Royongan, dengan tatakrama yang lemah lembut. Lihatlah sebagai mana yang digambarkan dalam tarian Balang Sahua (Belalang), gerakan tangan dan mata yang peduli, disekitar. 

Lambaian kaki yang panjang, menari-menari begitu indah, dan peduli, dan tak pernah menggigit ketika kita bercengkrama dengannya, itulah gambarannya, tentang balang Sahua yang begitu indah.

Inilah jawaban untuk menjawab chatting Tondong awak Jabenson Mangatas Purba sang lawyer muda dari Simalungun saat LS, "adakah riwayat atau legenda Balangsahua, sehingga sampai dibuat sebuah tor-tor"?

Simalungun memang tidak terlepas dari Budaya, bahkan Gerejapun berawal dari mempersatukan Budaya dan Injil, dan hingga kini Gereja GKPS sebagai gereja suku yang pertama di Simalungun, selalu memadukannya.

Dan sangat terlihat jelas, bagaimana Tarian Tor-tor Sombah, Orang Simalungun begitu saling menghargai dan saling menghormati, tertuang dalam tor-tor Sombah, untuk menghormati setiap tamu yang datang, apalagi Tondong.

Selamat dan Sukses Sanggar Sayur Matua, semoga pelestarian budaya, yang dilakukan, dengan latihan rutin setiap hari Jumat Sabtu, mampu dipertahankan dari kalangan muda Simalungun, yang mayoritas mereka dari Anak SD hingga SLTA.

Diateitupa Tondong Fredy Purba, atas sharingnya pagi ini, salam hubani Botou Boru Sipayung tene. Mattin MarSimalungun. Horassss  Photo By Sanggar Sayur Matua. (Penulis Pemerhati Seni Budaya Simalungun)








  








Share this article :

Post a comment