. Payung Jokowi di Tengah Sawah Sumba Tengah NTT | BeritaSimalungun
Home » , , » Payung Jokowi di Tengah Sawah Sumba Tengah NTT

Payung Jokowi di Tengah Sawah Sumba Tengah NTT

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 24 February 2021 | 07:56

Payung Jokowi di Tengah Sawah Sumba Tengah NTT.(IST)

Sumba, BS
-Di Sumba Tengah, NTT, kemarin Presiden Jokowi disambut hujan lebat. Di lahan sawah menghijau itu, ada ratusan orang petani sedang menunggu kedatangan Jokowi. Mereka para warga desa yang tadinya hidup sebagai petani musiman di desanya. Setelah bendungan dibangun, kini mereka bisa menanam padi tanpa takut kekeringan.

Sejak pagi warga desa sudah berduyun2 menunggu kedatangan Jokowi. Mereka berdiri di pematang sawah, berkelompok di ujung sawah menjauh dari tempat lokasi panggung Jokowi bersama pejabat Pemda NTT.

Rombongan Presiden Jokowi tiba di pematang sawah. Langit menghitam. Awan menebal. Kilat dan petir bersahut2an. Hujan turun dengan lebatnya.  Hujan lebat itu tidak membuat warga desa itu berlarian mencari tempat berteduh. Mereka tetap berdiri menunggu Jokowi.

Jokowi turun dari mobil. Ia memegang payung hitam. Dengan tenang Jokowi membelah pematang sawah. Ia berjalan sendirian ke arah petani yang berjarak sepelemparan batu.

Paspampres tidak menyangka panglima tertingginya berjalan ke tengah sawah. Paspampres tampak pontang panting berlari mengejar Jokowi. Jokowi tetap melangkah tenang di tengah hujan deras membasahi bumi. Sendirian saja. Tanpa pengawalan. 

Baju lengan panjang putih yang dikenakannya tampak basah terpercik air hujan.  Di ujung sana, para warga desa bertepuk tangan, bersorak memanggil nama Jokowi. Mereka senang sekali.

Tidak lazim seorang presiden memegang payungnya sendiri. Biasanya ada ajudan yang memayunginya. Tapi Presiden Jokowi memang berbeda. Ia bersikap biasa saja di depan rakyatnya. 

Ia tidak membuat jarak. Jokowi tidak menunjukkan kasta dan level seorang penguasa di sana. Ia seperti pelayan sejati. Mendatangi rakyatnya seorang diri. Dengan sebuah payung di tangannya.

Mungkin sepanjang sejarah Indonesia, baru kali  pertama ini seorang presiden berjalan sendirian menemui rakyatnya dengan payung di tengah hujan lebat.

Payung itu sesungguhnya bukan sekadar payung biasa. Bukan sekadar payung untuk  melindungi tubuh Jokowi dari air hujan. Bukan sekadar mencitrakan presiden sebagai sosok pelayan rakyat. Namun, ada pesan kebangsaan yang hendak disampaikan Presiden Jokowi.

Payung yang dipegang Presiden Jokowi itu menegaskan bahwa orang NTT dipayungi cinta mendalam dari seorang Jokowi. Cinta yang tulus. NTT seperti anak kandung yang didatangi ayahnya. Seperti seorang ayah mengejar anaknya yang kehujanan. 

NTT tidak lagi kekeringan dan terlupakan. Dan, itulah jaminan Presiden Jokowi. Jokowi membangun embung, waduk hingga sumur bor agar air bisa mengalir ke persawahan petani. Petani NTT hidup sejahtera. Tidak miskin lagi. 

Momen Jokowi berjalan sendirian di pematang sawah adalah pesan humble dan hormat Presiden Jokowi. Jokowi tidak banyak bicara untuk merangkul anak bangsa di Indonesia Timur itu. 

Jokowi tak banyak memberikan nasihat bagaimana cara untuk setia pada Pancasila dan Merah Putih.
Jokowi veni, vidi, vici. Jokowi datang, melihat, dan memenangi hati rakyat NTT. Memenangi bukan dengan pintarnya mengolah kata2. Jokowi memenangi dengan memanusiakan orang Sumba Tengah. Ngewongke.

Jokowi merangkul mereka agar berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Membangun apa yang mereka perlukan. Apa yang mereka butuhkan. Kesetiaan negara untuk memajukan bumi NTT akan membuat orang NTT serasa anak kandung republik.

Selamat, Pak Presiden Jokowi. Kami bangga dan hormat padamu. Kesetiaanmu untuk rendah hati dan menjadi bapak bagi semua anak bangsa benar-benar menyentuh batin terdalam kami.

Salam bangga sebagai orang Indonesia. (FB-Birgaldo Sinaga)
Share this article :

Post a comment

Mengucapkan

Mengucapkan
KLIK Benner Untuk Beritanya

DANRINDAM I BB/ Mengucapkan

DANRINDAM I BB/ Mengucapkan
DIRGAHAYU TNI ' Semoga TNI Selalu di Hati Rakyat, Menjadi Kebanggaan Ibu Pertiwi, Sinergi, dan Maju Bersama Negeri, AMIN

Kaldera Toba Akhirnya Diakui UNESCO Global Geopark

Pdt Dr Deddy Fajar Purba dan Pdt Dr Paul Ulrich Munthe (Ephorus dan Sekjen GKPS)

Pdt Dr Deddy Fajar Purba dan Pdt Dr Paul Ulrich Munthe (Ephorus dan Sekjen GKPS)
Selamat Natal dan Tahun Baru

Kabar Hun Simalungun

Mengucapkan

Mengucapkan
Selamat Natal 25 Desember 2020

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Rental Mobil di Pematangsiantar

Rental Mobil di Pematangsiantar
Ada Executive Tiomaz Trans. KLIK Gambar Info Lengkapnya

Tinuktuk Sambal Rempah Khas Simalungun Dari Devi Damanik

Tinuktuk Sambal Rempah Khas Simalungun Dari Devi Damanik
Tinuktuk adalah Sambal Rempah Khas Simalungun yang berkhasiat bagi tubuh dan enak untuk sambal Ikan Bakar atau sambal menu lainnya. Permintaan melayani seluruh Indonesia dengan pengiriman JNT dan JNE. Berminat hubungi HP/WA Devi Yusnita Damanik 0815 3445 0467 atau di Akun Facebook: Devi Damanik.

Peletakan Batu Pertama Pembangunan “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba)

Peletakan Batu Pertama Pembangunan “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba)
Hinalang- Pdt Jhon Rickky R Purba MTh melakukan peletakan batu pertama pembangunan Pusara “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba) di Desa (Nagori) Hinalang, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, Selasa (22/10/2019). Acara Peletakan Batu Pertama dilakukan sederhana dengan Doa oleh Pdt Jhon Rickky R Purba MTh. Selengkapnya KLIK Gambar

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba
Sakit Bertahun Tanpa Pelayanan Medis

Catatan Kecil Lomba Cover Lagu Simalungun “Patunggung Simalungun”

Catatan Kecil Lomba Cover Lagu Simalungun “Patunggung Simalungun”
“Lang jelas lagu-lagu Simalungun sonari on. Tema-tema pakon hata-hata ni lagu ni asal adong. Irama ni pe asal adong, ihut-ihutan musik sonari. Lagu-lagu Simalungun na marisi podah lang taridah.” (Semakin kurang jelas juga lagu-lagu Simalungun belakangan ini. Tema dan syairnya asal jadi. Iramanya pun ikut-ikut irama musik zaman “now” yang kurang jelas. Lagu-lagu Simalungun bertema nasehat pun semakin kurang”.