Info Terkini

10/recent/ticker-posts

"Putri Uskup” Itu Telah Pergi, RIP Pdt Enida Girsang MTh


Oleh: Pdt Bonar H Lumbantobing

Beritasimalungun-Enida Girsang, Pendeta Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Saya mengenalnya tahun 1982 ketika Enida masih mahasiswi di STT Jakarta, saat saya sedang study lanjutan di sana. Teman-temannya satu angkatan berpencar di mana-mana di Indonesia ini, bahkan ada di Jerman dan Amerika Serikat. Saya tidak terlalu dekat dengannya, tetapi tidak jauh, karena kami dua sering berantam beda pendapat maka terpaksa dekat. 

Setelah saya ditempatkan di STT HKBP Pematangsiantar, tidak lama kemudian Pdt Enida lulus dan menjadi pendeta GKPS. Rumah kami di Siantar berdekatan, dan sering berjumpa dalam kegiatan oikumene. Kemudian dalam beberapa kegiatan yang agak khusus, dimana Pdt Enida sangat giat dalam melatih banyak orang untuk ‘membaca Alkitab dari mata perempuan’ (kira-kira demikian dia sebut).

Dalam beberapa kesempatan, saya mendengar Pdt Enida berkhotbah dalam bahasa Simalungun. Pada dasarnya bahasa Simalungun sangat halus, tetapi saat dia berkhotbah, saya mendapat kesan pemilihan kata dan ungkapan yang dia gunakan membuat kehalusan bahasa itu semakin halus lagi. 

Saya heran, karena Enida yang saya kenal begitu kocak, terkadang ketus untuk mengeritik dan lawannya sering menyebutnya jutek. Tetapi nyatanya dia begitu halus menggunakan kehalusan bahasa Simalungun.

Lama saya tidak bisa mengikutinya lagi, terutama sesudah bertugas di PGIW Sumut di Medan dan kemungkinan sesudah itu pindah ke Jakarta, atau ke tempat lain lagi yang saya tidak bisa mengingatnya.
Postingannya dalam FB kemudian mencuri perhatian saya, ketika Pdt Enida akan pindah ke suatu jemaat di Sumatera Utara meninggalkan Jakarta. Saya tidak mengerti kejadian apakah apakah di balik itu. Tetapi saya memperoleh kesan, dia ingin menunjukkan ketaatannya pada tugas ke-Pendetaan-nya di GKPS. 

Tiba-tiba, muncul cerita yang indah, di mana Pdt Enida membeberkan sebuah peristiwa yang dugaan saya agak rahasia baginya. Cerita itu muncul terkait dengan berpulangnya Mgr Anicetus B Sinaga, yang dipanggil oleh lintas agama dengan ‘Ompung’. 

Saya punya hubungan dan perhatian dekat dengan ‘Ompung’ ini dan sangat sedih karena kepergian beliau, lalu muncul kesedihan Pdt Enida dalam postingannya atas kepergian ‘Ompung’ Uskup. Rupanya Pdt Enida dikenal oleh ‘Ompung’ Uskup dan memanggil Pdt Enida dengan ‘Bunda’, dan kemudian Pdt Enida berubah posisi menjadi putri Uskup.

Cerita indah, yang seolah rahasia itu adalah sebagai berikut, yang Pdt Enida tuliskan tanggal 10 November 2020:
Aku bergumul lama untuk menulis pengalamanku ini di Medsos ini atau tidak. Tapi akhirnya kuputuskan untuk menuliskannya sebagai rasa banggaku jadi " putri" Uskup Agung Medan ini kala itu. Aku mengenal Uskup Mgr Anicetus B. Sinaga ini ketika aku menjadi Sekretaris Umum PGI Wilayah Sumut.

Sebagai orang yang menjabat lembaga resmi keumatan maka kami sering sekali bertemu dalam acara-acara resmi kenegaraan dan pesta gerejawi sepert Natal, Paskah, Tahun baru, dll. Suatu hari tahun 2015, pada saat acara open house di rumah Gubernur Sumatra Utara, kami bertemu dan beliau memanggil saya, serta berkata di depan banyak orang: " bunda (demikian dia dulu memanggil saya), saya mau berdoa untekmu agar kau bisa menjadi Sekjend GKPS. Karena kudengar Klian tahun ini periodesasi". Dengan malu-malu di hadapan meja bundar tempat ia duduk, saya menjawab: " Terimakasih Uskup".

Beberap bulan kemudian, kami bertemu lagi diacara serah terima Pangdam BB Medan, kembali lagi Uskup Mgr Anicetus Sinaga ini, menyapa saya dan mengatakan hal yang sama: "bunda, saya mau berdoa untuk mu, agar kau bisa menjadi Sekjend GKPS". Saya kemudian menjawab lagi: " Terimakasih Ompung Uskup".

Tetapi Wakil Sekum PGI W SU Pdt Hotman Hutasoit yang kebetulan bersama saya lansung mengatakan: "pastikan saja ito, buatlah janji kapan dan dimana". Ompung Uskup ini langsung memberi respon: " Betul. Kita bertemu nanti hari Senin jam 10.00 wib di kantorku". Saya setuju dan mengangguk.( Saya lupa Senin tanggal berapa waktu itu).

Pada hari Senin sesuai waktu yang km sepakati, saya datang ke kantornya ( Jln.Imam Bonjol - Medan dekat RS Elisabeth) bersama suami. Kami berbincang-bincang. Sangat terekam dalam ingatan saya apa yang dia sebutkan tentang saya. Beliau mengatakan kepada saya: 

"Saya sangat terkesan dengan ibu, saya salut dengan cara kerjamu sebagai Sekum di PGI W SU. (Saya tidak tau dari mana dia tau, cara kerjaku). Saya baru bertemu dengan seorang perempuan yang gigih dan ulet tanpa rasa sungkan bertemu dengan banyak laki-laki atau bapak-bapak dalam banyak kegiatan bersama. 

Kau perempuan hebat yang membuatku merasa dekat dan sayang padamu. Karena itu aku mau berdoa untukmu, agar kau bisa dipilih Tuhan menjadi Sekjend GKPS. Karena GKPS yang rugi jika kau tidak mereka pilih. Karena kau mampu, sedang jadi Sekum PGIW-SU, kamu orang luar saja melihat kemampuan itu", ungkap beliau.

Saya katakan pada Uskup: " Ompung, hal itu sulit, karena aku merasa tidak mampu dan kami masih kental dengan budaya patriarki". Jawab beliau: " Untuk itulah maka saya merasa harus berdoa untukmu.
Saya yang merasa terbeban, untuk memberangkatkanmu dalam doa. Karena aku melihat dalam kerjasama kita selama ini, ada kedekatan yang terasa tanpa sekat antara Protestan dan Katolik. Dalam dirimu saya melihat sekat itu hilang". Maka dengan sukacita sekali saya bersedia di doakan oleh Uskup ini. 
Beliau langsung mengatakan: "bersediakah kau kalau saya doakan dengan cara Katolik"? Saya langsung mengangguk dan mengatakan: "bersedia Ompung Uskup". Beliau melanjutkan mengatakan: "Kalau begitu tunggu sebentar." 

Ternyata beliau mengambil pakaian resmi sebagai Uskup, tidak lupa topi dan Stola, lengkap berpakaian seperti hendak melayani di gereja. Saya terkesima melihat beliau saat itu.

Beliau langsung meminta saya untuk didoakan secara Katolik dan meminta saya untuk berlutut di tempat yang beliau tunjukkan, dan meminta suami saya ( yang dari tadi hanya diam mendengar dialog kami dengan Uskup), agar ikut berlutut di belakang saya. 

Setelah kami berlutut, beliau mengatakan: “Maaf ya, sebagai Uskup, saya mau mengurapimu, karena itu saya mau berdoa dengan cara Katolik dan menumpang kan tangan atas kepalamu, walau kamu bukan anggota gereja atau pengikut ajaran Katolik". 

Dengan mengangguk saya mengatakan: setuju dan sangat bahagia. Ketika Uskup berdoa dengan tumpang tangan di atas kepalaku, aku merasa ada cahaya dari langit dan seperti seekor burung, bersama cahaya putih itu masuk ke sekujur tubuhku, aku segera merasakan urapan Ilahi, kemudian aku lansung menangis sampai tersedu- sedu, tetapi Uskup terus mendoa kan ku, seolah tanpa menyadari tangisanku. Beliau terus mengurapiku dengan kata-kata dalam doa seolah aku sedang diurapi sebagai seorang abdi Tuhan dihadapan umat Katolik.

Dalam doanya beliau menyerahkanku untuk dipakai Tuhan secara luar biasa dan juga memohon agar dipilih oleh Tuhan sebagai Sekjend GKPS. Sampai aku berpeluh karena lamanya doa dan bersatu dengan air mata karena merasakan urapan Ilahi, kekuatan doa yang begitu agung. 

Sungguh pengalaman spiritual seperti ini belum pernah aku alami selama ini. Sudah beberapa kali aku menerima tumpangan tangan di kepala: ketika angkat Sidi, pernikahan, penahbisan sebagai Pdt. Tapi aku tidak mengalami hal supranatural seperti saat ini.

Setelah Uskup selesai berdoa, ia mengangkat tanganku, dan menuntunku duduk kembali ke kursi dimana kami berdiskusi tadi. Setelah duduk beberapa saat, Ompung Uskup ini mengatakan: “Runtuh sudah sekarang tembok pemisah antara Katolik dan Protestan. Aku tidak lagi menyebutmu dengan sapaan "bunda" seperti selama ini, tetapi mulai sekarang: kau menjadi anak rohani ku, yang akan terus kupelihara dan kudoakan". Maka mulai sekarang aku akan memanggilmu: "Putri".

Mendengar perkataannya itu, aku kembali menangis, Karena perkataan beliau itu, bagi-ku, seolah deklarasi Ilahi. Bahwa dalam diriku tidak ada lagi tembok yang membedakan Katolik dan Protestan.

Aku menjawab dengan spontan kepad Ompung Uskup: “Ompung, aku tidak perduli lagi, dipilih atau tidak menjadi Sekjen GKPS, tapi aku sudah kuat dan siap menerima terpaan apapun dalam menjalani kesetiaan sebagai Pdt GKPS, sebab aku sudah mengalami urapan Ilahi dengan merasakan ada Roh Tuhan masuk ke dalam diriku.

Ompung Uskup ini menjawab: "Saya pun mengalami sesuatu ketika mendoakanmu tadi. Pergilah dengan setia menjalani tanggungjawabmu dimanapun kau berada!” 

Aku mengangguk dan mengatakan: "Iya Ompung". Dia kemudian bercerita dan bercengkerama dengan suamiku sampai kami mohon ijin pamit pulang.

Kepergian "bapa rohani" ku: Mgr A.B. Sinaga, membuat ku terluka dan sangat kehilangan. Hanya doa dan tetesan air mataku memberangkatkanmu kembali kepada keabadian Ilahi. Pergilah bapa.

Doa mu akan terus terpatri dalam dalam hati dan sanubariku. Walau aku tidak pernah jadi Sekjend GKPS. Tapi janji kesetiaan sebagai abdi Tuhan kan ku pegang terus hingga ku berada dalam jalanmu sekarang.
Pdt Bonar H Lumbantobing (FB)

Memang sesudah 2015, Pdt Enida tidak pernah menjadi SekJend GKPS, tetapi dalam cerita ini Pdt Enida menunjukkan bahwa ternyata bukan itu yang kemudian menjadi penting. Pdt Enida menyebut di atas: “Ompung, aku tidak perduli lagi, dipilih atau tidak menjadi Sekjen GKPS, tapi aku sudah kuat dan siap menerima terpaan apapun dalam menjalani kesetiaan sebagai Pdt GKPS.” 

Walau pun Uskup sungguh-sungguh mendoakannya supaya menjadi Sekjend, tetapi di akhir pembicaraan malah Uskup berkata: “Pergilah dengan setia menjalani tanggungjawabmu dimanapun kau berada!” 

Karena memang saya kurang mengikuti perjalanan tugasnya, maka saya kurang bisa memahami arti ‘terpaan’ itu. Dan melihat postingan sebelumnya, saya menduga Pdt Enida, putri Uskup ini, mencoba  untuk  mengikuti pesan Uskup pada putrinya: “Pergilah dengan setia menjalani tanggungjawabmu dimanapun kau berada!” 

Tetapi yang paling mengherankan bagi saya adalah kalimat terakhir: “Walau aku tidak pernah jadi Sekjend GKPS. Tapi janji kesetiaan sebagai abdi Tuhan kan ku pegang terus hingga ku berada dalam jalanmu sekarang.……..”.Putri Uskup itu, sudah berada ‘dalam jalan Uskup itu’ sekarang.

Beristirahat dalam damai, Enida. Kristus, yang telah naik untuk menyediakan tempat bagimu, sekarang bersamamu dan Uskup itu juga.(Tulisan Ini Dikutip dari FB Bonar H Lumbantobing)

Berita Lainnya

Post a Comment

0 Comments